Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Semua terungkap
POV Lily Valley
Tubuh ayahku terlalu lemah untuk terus berada di ruang bawah tanah yang lembap dan dipenuhi bau obat-obatan. Luka-luka di tubuhnya belum mendapatkan perawatan yang layak, sedangkan wajahnya menunjukkan bahwa ia telah menanggung penderitaan selama bertahun-tahun.
Aku berdiri, kemudian menatap Gento yang masih berada di dekat pintu.
“Bawa Ayahku ke ruangan yang layak. Aku ingin dia mendapatkan perawatan medis yang benar.”
Gento mengangkat alisnya.
“Kau sedang memerintahku?”
“Aku sedang meminta sesuatu yang seharusnya sudah kau lakukan sejak awal.” Aku menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. “Kau boleh membencinya. Kau boleh menyalahkannya atas apa yang terjadi kepada keluargamu. Namun, membiarkannya menderita seperti ini tidak akan mengubah masa lalu.”
Gento terdiam.
Gento menoleh kepada dua penjaga di belakangnya.
“Panggil dokter. Pindahkan Suzuki ke kamar perawatan di lantai atas. Pastikan semua kebutuhannya tersedia.”
Kedua penjaga itu segera mengangguk.
Aku membantu Ayah berdiri. Tubuhnya masih terlalu lemah sehingga ia harus bersandar pada bahuku. Salah seorang penjaga berusaha mengambil alih, tetapi aku menolaknya dengan gerakan tangan.
“Aku bisa membantunya.”
Gento memperhatikanku beberapa saat sebelum memberi jalan.
Kami kemudian meninggalkan ruang tahanan tersebut.
---
Kamar perawatan yang disediakan Gento jauh lebih layak daripada ruang bawah tanah. Ada tempat tidur bersih, lemari obat, meja kecil, serta jendela lebar yang menghadap taman di sisi timur bangunan. Meskipun pintunya tetap dijaga, setidaknya Ayah tidak lagi harus duduk terikat di ruangan yang pengap.
Dokter yang dipanggil Gento segera memeriksa kondisinya. Ia membersihkan luka-luka yang belum sembuh, memberikan cairan untuk mengatasi dehidrasi, serta meresepkan obat untuk membantu mengendalikan rasa sakit.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil memperhatikan setiap gerakannya.
“Bagaimana keadaan Ayah saya?” tanyaku setelah pemeriksaan selesai.
Dokter melepas sarung tangannya.
“Kondisinya cukup lemah akibat kekurangan gizi, dehidrasi, dan luka-luka yang tidak mendapatkan perawatan memadai. Untuk sementara, beliau membutuhkan istirahat, makanan bergizi, serta pemantauan berkala. Saya belum dapat memastikan apakah ada kerusakan organ sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan.”
“Apakah beliau akan pulih?”
“Kita harus melihat perkembangannya. Namun, selama perawatan berjalan dengan baik dan tidak ada komplikasi serius, kondisinya berpeluang membaik.”
Aku mengembuskan napas lega.
“Terima kasih, Dokter.”
Setelah dokter pergi, aku duduk di samping tempat tidur Ayah. Ia telah mengenakan pakaian bersih dan berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya.
“Ayah harus beristirahat,” kataku pelan.
Ayah mengangguk, tetapi pandangannya justru tertuju kepada pintu yang baru saja ditutup.
“Nariku, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.”
Aku mendekat.
“Apa itu, Ayah?”
“Bagaimana Gento bisa menculikmu dari kediaman Katagiri dengan begitu mudah?”
Aku terdiam sejenak.
Sebelumnya, aku terlalu sibuk memikirkan keselamatan Ayah hingga tidak sempat mempertanyakan bagaimana para penculik menemukan tempat persembunyian kami. Aku hanya mengingat suara langkah para penyerang, teriakan para penjaga, dan tangan-tangan yang menarikku ketika aku berusaha melarikan diri melalui terowongan.
“Pasukan Gento lebih banyak daripada penjaga di kediaman itu,” jawabku.
Ayah mengerutkan kening.
“Itu saja yang dia katakan?”
Aku mengangguk.
Ayah menghela napas panjang, lalu berusaha duduk lebih tegak. Aku segera membantunya menyandarkan punggung pada bantal.
“Dengarkan Ayah baik-baik. Kediaman Katagiri bukan tempat biasa. Mahito membangun jaringan keamanan yang sangat ketat selama puluhan tahun. Ada pengawasan berlapis, jalur komunikasi khusus, penjagaan di setiap akses masuk, dan sistem pengamanan yang dirancang untuk menghadapi serangan terorganisasi.”
Ia berhenti sejenak karena kelelahan.
“Bahkan jika Gento memiliki pasukan yang lebih banyak, jumlah bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan serangan. Para penjaga seharusnya sudah mengetahui kedatangan mereka sebelum para penyerang mencapai gerbang.”
Aku mulai merasakan kegelisahan menjalar di dalam dadaku.
“Maksud Ayah, ada sesuatu yang tidak beres?”
“Bukan hanya tidak beres. Ada kemungkinan besar seseorang sengaja membiarkan mereka masuk.”
Aku menatap Ayah dengan mata membesar.
“Jika informasi yang bocor mencakup lokasi persembunyianmu, jalur terowongan, dan jadwal pergantian penjaga, berarti orang tersebut memiliki akses terhadap informasi penting.”
Ia kemudian menyebut sebuah nama.
“Mahito Katagiri.”
Aku terdiam.
“Kakek?”
Ayah mengangguk perlahan.
“Mahito mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini diperlihatkannya. Ia mengetahui rahasia mengenai orang tua Satoshi, mengetahui hubungan antara keluarga Katagiri dan penelitian DNA Abadi, serta mengetahui bahwa aku masih hidup. Jika ia benar-benar ingin menemukan keberadaanku, cara paling mudah adalah membiarkan seseorang membawamu pergi.”
Aku menggeleng pelan, berusaha memahami perkataannya.
“Tetapi, mengapa dia harus mempertaruhkan keselamatanku?”
“Karena kau bukan satu-satunya orang yang ingin ia temukan.”
Ayah menatapku lekat-lekat.
“Mahito mungkin ingin mengetahui lokasi p3nyekapanku. Selama bertahun-tahun, keberadaanku tidak diketahui. Jika ia menganggapku sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian anak dan menantunya, ia memiliki alasan untuk mencariku.”
Aku teringat cerita Ayah tentang kematian Shoto dan Luna.
“Jadi, Ayah menduga kakek sengaja membiarkan Gento menculikku agar dia bisa mengikuti jejak para penculik sampai ke tempat ini?”
“Itulah kemungkinan yang paling masuk akal.”
Ayah menarik napas berat.
“Jika dugaanku benar, Mahito tidak akan datang untuk menyelamatkanmu. Ia akan datang untuk menemukan aku.”
Aku merasakan jemariku menjadi dingin.
“Kalau begitu, kita harus segera pergi dari sini.”
“Tidak semudah itu, Nak. Kita belum mengetahui seberapa jauh jaringan Mahito menjangkau. Jika kita bergerak tanpa persiapan, kita justru bisa masuk ke perangkap yang telah disiapkannya.”
Aku menunduk. Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Ayah, aku merasa bahwa tempat ini bukan sekadar penjara, melainkan pusat dari sebuah permainan berbahaya yang telah berlangsung jauh sebelum aku dilahirkan.
Ayah menggenggam tanganku.
“Jangan panik. Kita harus tetap berpikir jernih."
---
POV Gento
Aku berdiri di balik pintu kamar perawatan ketika percakapan Suzuki dan Lily berakhir. Aku tidak berniat menguping pembicaraan mereka, tetapi nama Mahito Katagiri yang disebut berulang kali membuatku berhenti melangkah.
Semakin lama aku mendengarkan, semakin sulit bagiku mengabaikan kemungkinan bahwa aku telah melakukan kesalahan besar.
Aku memang memerintahkan anak buahku untuk menculik Lily. Aku telah mengirim pasukan ke kediaman Katagiri setelah menerima informasi mengenai lokasi persembunyiannya. Namun, aku tidak pernah menyangka operasi tersebut akan berlangsung semudah itu.
Sebagian penjaga di gerbang memang berhasil dilumpuhkan, tetapi sistem pengamanan yang seharusnya menjadi penghalang utama justru tidak memberikan perlawanan berarti. Beberapa jalur masuk bahkan terbuka tepat ketika pasukanku tiba.
Pada saat itu, aku mengira anak buahku telah melakukan pekerjaan dengan sempurna.
Sekarang, aku mulai mempertanyakan semuanya.
Aku berjalan menuju ruang kendali dan memanggil Mike.
“Aku ingin kau memeriksa kembali operasi penculikan Lily.”
Mike yang sedang membaca laporan segera mengangkat wajah.
“Bukankah operasi itu sudah selesai?”
“Aku ingin mengetahui bagaimana pasukan kita bisa masuk ke kediaman Katagiri dengan begitu mudah.”
Mike menutup berkas di tangannya.
“Aku juga merasa ada yang janggal. Berdasarkan laporan awal, beberapa sistem keamanan di sana tidak berfungsi tepat sebelum pasukan kita tiba. Awalnya aku mengira tim kita berhasil menembusnya.”
“Apakah kau menemukan bukti bahwa seseorang membantu kita?”
“Belum. Namun, aku sedang memeriksa jalur komunikasi yang digunakan selama operasi.”
Aku menatap layar besar di dinding.
“Periksa semua informasi yang kita terima sebelum penculikan. Aku ingin mengetahui siapa yang memberikan lokasi kediaman itu, siapa yang memastikan jalur masuknya aman, dan siapa yang mengirimkan jadwal penjagaan.”
Mike mengangguk, tetapi ekspresinya berubah serius.
“Gento, ada kemungkinan informasi itu sengaja diberikan kepada kita.”
“Aku tahu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Dan jika Suzuki benar, pihak itu mungkin Mahito Katagiri.”
Mike terdiam beberapa saat.
“Kalau begitu, kita harus menganggap kedatangan mereka sebagai ancaman. Jangan memindahkan Suzuki atau Lily tanpa rencana yang matang. Aku juga menyarankan agar seluruh akses masuk diperiksa ulang.”
Aku menatapnya tajam.
“Lakukan sekarang.”
Mike segera memanggil timnya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sepenuhnya mengendalikan situasi. Aku telah membawa Lily ke tempat yang kupikir aman untuk menjalankan rencanaku, tetapi kini aku mulai curiga bahwa tempat ini justru telah dipilih oleh seseorang yang ingin menjebakku.
Jika Mahito benar-benar berada di balik semua ini, maka aku bukan lagi pihak yang menentukan jalannya permainan.
Aku hanyalah salah satu bidak yang sedang digerakkan.
Dan aku tidak berniat membiarkan siapa pun mempermainkanku untuk kedua kalinya.
---
POV Mahito Katagiri
Di sisi lain kota, aku berdiri di depan jendela besar kantor utama Katagiri. Dari lantai tertinggi gedung itu, jalanan terlihat seperti garis-garis kecil yang membelah kota.
Sebuah laporan terletak di atas meja. Di dalamnya terdapat peta wilayah, daftar pergerakan kendaraan, serta sejumlah foto yang diambil dari jaringan pengawasan milik perusahaan.
Aku membaca laporan itu sekali lagi sebelum tersenyum tipis.
“Dua hari,” gumamku. “Dalam dua hari, semuanya akan berakhir.”
Pintu kantor terbuka. Seorang pria berpakaian hitam masuk, kemudian membungkuk hormat.
“Semua persiapan sudah dilakukan sesuai perintah Anda.”
Aku meletakkan laporan tersebut.
“Bagaimana dengan jalur menuju persembunyian Gento?”
“Sudah dipetakan. Tim pengintai telah memastikan lokasi penjagaan dan akses masuk. Kami juga menemukan beberapa jalur yang dapat digunakan untuk mengepung bangunan tanpa menarik perhatian dari jalan utama.”
“Bagus.”
Pria itu ragu sejenak sebelum bertanya, “Apakah Anda yakin ingin turun langsung dalam operasi ini, Tuan?”
Aku menatapnya dingin.
“Apakah kau mempertanyakan keputusanku?”
“Tidak, Tuan. Saya hanya ingin memastikan bahwa semua risiko sudah dipertimbangkan.”
Aku berdiri, berjalan menuju meja, lalu mengambil sebuah foto lama yang telah menguning di bagian tepinya.
Foto itu memperlihatkan Shoto dan Luna ketika mereka masih muda.
Anakku.
Menantuku.
Keduanya telah mati, sementara dunia selama bertahun-tahun percaya bahwa mereka masih hidup.
Aku mengepalkan foto itu.
“Selama ini, aku membiarkan Suzuki Yahiko hidup dengan tenang tanpa jejak."
Aku meletakkan foto tersebut kembali ke meja.
“Sekarang, aku sudah mengetahui cara untuk menemukannya.”
Pria itu menunduk.
“Apakah tujuan utama operasi ini adalah menyelamatkan Nona Lily?”
Aku tertawa pendek.
“Menyelamatkan?”
Aku menatapnya tanpa senyum.
“Jangan salah memahami perintahku. Aku tidak sedang mengirim pasukan untuk menyelamatkan siapa pun. Aku ingin menemukan Suzuki dan menuntut pertanggungjawaban atas kematian anak serta menantuku.”
“Lalu, bagaimana dengan Nona Lily?”
Untuk beberapa saat, aku tidak menjawab.
Wajah Lily muncul dalam ingatanku. Ia adalah anak yang seharusnya tidak pernah terlibat dalam dosa orang tuanya. Namun, keberadaannya telah menjadi bagian dari rahasia yang selama ini kusembunyikan.
Aku mengetahui bahwa ia memiliki hubungan dengan eksperimen yang dilakukan Shoto dan Luna. Aku juga mengetahui bahwa darahnya mungkin menyimpan jawaban atas sesuatu yang belum sepenuhnya kupahami.
Namun, ada alasan lain yang tidak pernah kuakui kepada siapa pun.
Aku ingin melihat Suzuki kehilangan sesuatu yang paling disayanginya, sebagaimana aku kehilangan anakku sendiri.
“Lily akan menjadi bagian dari operasi ini,” jawabku akhirnya. “Namun, jangan biarkan siapa pun bertindak di luar perintah. Aku ingin Suzuki ditemukan hidup-hidup sampai aku sendiri yang berhadapan dengannya.”
“Baik, Tuan.”
Pria itu membungkuk, kemudian meninggalkan ruangan.
Aku kembali menatap kota di balik jendela.
Dua hari lagi, pasukanku akan mengepung persembunyian Gento. Aku akan menemukan Suzuki, menghadapi masa lalu yang selama ini berusaha kuhindari, dan memastikan bahwa tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi di balik nama keluarga Yahiko.
Setidaknya, itulah yang kupercaya.
Aku tidak menyadari bahwa di tempat lain, cucuku sendiri telah mulai mencurigai gerak-gerikku.
---
POV Satoshi Katagiri
Sejak kembali ke kantor pusat, aku tidak pernah berhenti memeriksa laporan mengenai penculikan Lily.
Semakin banyak data yang terkumpul, semakin jelas bahwa operasi tersebut bukanlah serangan biasa. Para penculik mengetahui jadwal penjagaan, posisi kamera, jalur terowongan, bahkan waktu yang diperlukan bagi tim cadangan untuk mencapai kediaman.
Informasi itu tidak mungkin diperoleh hanya dengan mengamati bangunan dari luar.
Seseorang telah membocorkan rahasia keamanan keluarga Katagiri.
Aku berdiri di depan layar komputer ketika kepala bagian keamanan menyerahkan laporan terbaru.
“Kami menemukan akses tidak sah ke berkas pengamanan kediaman, Tuan. Data itu dibuka menggunakan kredensial internal perusahaan beberapa jam sebelum penculikan terjadi.”
“Siapa pemilik kredensialnya?”
“Secara administratif, akses tersebut terdaftar atas nama divisi keamanan khusus. Namun, perintah pembukaan berkas berasal dari terminal yang terhubung dengan kantor pimpinan.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Kantor pimpinan?”
“Benar, Tuan.”
Aku mengambil laporan itu dan membacanya dengan saksama. Terdapat beberapa bagian yang telah dihapus dari catatan digital, tetapi jejak aksesnya masih tertinggal. Seseorang telah berusaha menghilangkan bukti, tetapi tidak cukup teliti untuk menghapus seluruh jejak.
“Jangan beri tahu siapa pun bahwa kita menemukan ini,” perintahku. “Pulihkan salinan berkas yang tersisa dan telusuri semua akses yang terjadi sebelum penculikan. Batasi penyelidikan ini hanya kepada orang-orang yang benar-benar dapat dipercaya.”
“Bagaimana jika pihak yang terlibat memiliki kedudukan tinggi?”
Aku menatapnya.
“Terutama jika kedudukannya tinggi.”
Setelah ia pergi, aku kembali duduk dan mengamati data di layar.
Aku tidak memiliki bukti yang cukup untuk menyebut nama pelakunya. Namun, satu hal mulai terasa jelas: penculikan Lily telah dimudahkan oleh seseorang dari dalam keluarga Katagiri.
Dan orang itu mengetahui bahwa aku akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menemukannya.
Aku teringat kakek.
Sejak Lily menghilang, Mahito tidak pernah menunjukkan kepanikan yang sebanding dengan situasi ini. Ia memang beberapa kali menanyakan perkembangan penyelidikan, tetapi pertanyaannya selalu berfokus pada informasi tertentu—jalur keluar dari kediaman, waktu kedatangan para penyerang, dan kendaraan yang digunakan untuk membawa Lily pergi.
Saat itu, aku menganggapnya sebagai bentuk perhatian seorang anggota keluarga.
Sekarang, pertanyaan-pertanyaan tersebut terasa berbeda.
Aku tidak ingin menuduh kakek tanpa bukti.
Namun, aku juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa orang yang paling kupercaya justru menyimpan rahasia terbesar.
Aku mematikan layar komputer, mengambil mantel, lalu meninggalkan ruang penyelidikan.
Malam itu, aku tidak akan langsung menghadapi kakek. Jika ia memang terlibat, tuduhan terburu-buru hanya akan membuatnya semakin berhati-hati. Aku harus mengamati gerak-geriknya, mencari tahu siapa yang ia hubungi, dan mengikuti setiap petunjuk yang mungkin membawaku kepada Lily.
Aku akan membiarkannya percaya bahwa aku masih sibuk mencari penculik dari luar.
Sementara itu, aku akan mencari kebenaran dari dalam rumahku sendiri.
---
Malam semakin larut ketika aku tiba di kediaman utama Katagiri. Lampu di ruang kerja kakek masih menyala.
Aku tidak langsung masuk. Dari ujung lorong, aku melihat seorang pria keluar membawa sebuah map hitam. Ia berjalan cepat menuju lift pribadi, kemudian menghilang tanpa menyadari keberadaanku.
Aku mengenali pria itu sebagai salah satu petugas yang memiliki akses ke jaringan keamanan keluarga.
Aku menunggu beberapa saat sebelum mendekati pintu ruang kerja.
Suara kakek terdengar dari dalam.
“Pastikan semua persiapan selesai dalam dua hari. Jangan ada kesalahan. Aku tidak ingin Suzuki kembali lolos.”
Aku membeku.
Suzuki?
Nama itu tidak pernah muncul dalam laporan resmi mengenai penculikan Lily. Tidak ada pula bukti yang menunjukkan bahwa kakek mengetahui lokasi pasti orang yang menahannya.
Aku mendekat beberapa langkah, tetapi suara kakek kembali terdengar.
“Begitu lokasi itu dikepung, semua akses harus ditutup. Tidak seorang pun boleh keluar sebelum aku memberikan perintah.”
Aku mengepalkan tangan.
Jadi, kakek mengetahui tempat Lily dibawa.
Namun, mengapa ia tidak memberitahuku?
Aku mundur perlahan sebelum seseorang menyadari keberadaanku. Pikiranku dipenuhi pertanyaan yang semakin sulit diabaikan.
Jika kakek mengetahui lokasi persembunyian Gento, berarti ia mungkin telah membiarkan penculikan itu terjadi. Jika benar demikian, maka keselamatan Lily bukanlah prioritasnya.
Aku memejamkan mata sejenak, menahan kemarahan yang mulai menguasai pikiranku.
Aku tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu dengan bertindak hanya berdasarkan emosi. Kali ini, aku membutuhkan bukti yang tidak dapat dibantah.
Aku akan mengawasi kakek, mengikuti rencananya, dan mencari tahu apa yang sebenarnya ingin ia lakukan terhadap Ayahnya istriku.
Namun, ada satu hal yang tidak akan kubiarkan terjadi.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan Lily sebagai alat untuk membalas dendam, termasuk keluargaku sendiri.
Jika kakek memang merencanakan sesuatu yang dapat membahayakannya, aku akan menghentikannya.
Bukan karena aku menganggap Lily masih menjadi milikku.
Aku telah kehilangan hak untuk berpikir seperti itu sejak lama.
Aku hanya tidak ingin perempuan itu kembali menjadi korban dari kebohongan dan ambisi orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Aku menatap pintu ruang kerja kakek untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi.
Dua hari lagi, Mahito Katagiri akan mengerahkan pasukannya untuk mengepung persembunyian Gento Kabura pemimpin organisasi terkuat dijepang.
Aku harus tiba di sana lebih dahulu.
Sebab kini aku memahami bahwa pencarian Lily bukan sekadar perlombaan melawan para penculiknya.
Aku sedang berpacu dengan waktu untuk menghentikan seseorang yang telah menyembunyikan kebenaran selama bertahun-tahun.
Dan orang itu adalah kakekku sendiri.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁