Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: MANIPULATOR
VALENTINA SIERRA
Dorian menghajarku habis-habisan lewat latihan itu, sampai-sampai aku sempat berpikir untuk melaporkannya atas kekerasan fisik. Lebih menyebalkan lagi, aku tahu dia menikmati caranya membuatku naik pitam.
Aku memohon agar kami beristirahat, dan dia setuju. Setelah makan malam, kami akan menonton film—yang tak pernah kubayangkan ternyata film "kami" versi dewasa. Aku tak sanggup melihat bagaimana tingkahku sendiri, potongan-potongan kejadian yang selama ini kukira hanya khayalanku, kini terpampang jelas, langsung dan nyata. Mustahil dia melakukan hal-hal semacam itu padaku, dan aku malah pasrah sambil meminta lebih. Sungguh memalukan.
Syaratnya jelas kalau aku mau menghentikan semuanya: makan sepotong cokelat, untuk membuktikan apakah aku sanggup menahan efeknya. Aku tahu, kalau memang rencana mereka dulu adalah menjualku, bisa jadi mereka akan mencoba membiusku—lagi pula aku memang sudah pernah dibius saat semua ini bermula. Aku memilih bonbon yang paling kecil, karena dosis obatnya pasti lebih sedikit, sementara yang lebih besar sudah pasti mengandung takaran yang lebih banyak.
Aku berbaring dan memejamkan mata. Semua ini cuma soal fisik, dan pikiran mengendalikan tubuh—itulah semboyanku.
Sesekali aku membuka mata untuk melihat Dorian yang tampak tenang tanpa gejolak, sementara aku merasakan suhu tubuhku terus naik dan apa yang tadi kusaksikan di film mulai membangkitkan gairahku, berpadu dengan obat itu.
"Kepanasan?" Dia mendekat dan mengusap wajahku, membuatku bergidik.
"Sedikit, tapi aku baik-baik saja. Kamu?" Aku membencinya karena dia begitu tenang, seolah tak terjadi apa-apa.
"Sangat baik. Kita lanjut nonton?" Dia menatapku sambil tersenyum.
"Tidak." Sebenarnya rasa penasaranku makin besar, tapi mustahil aku mau mengakuinya.
"Aku akan tetap menontonnya. Kamu ingat apa yang terjadi malam itu atau belum?" Aku kembali memejamkan mata.
"Cuma sebagian. Berapa lama waktu itu kita melakukannya?" Aku harus tahu.
"Berjam-jam. Lihat yang ini, misalnya." Aku membuka mata dan melihat dia baru saja selesai lalu keluar dariku, kemudian menyentuhku lagi sampai pulih dan mulai dari awal lagi.
"Aku tak ingat yang itu, Dorian." Sungguh memalukan, teramat memalukan, aku tampak tak terbendung.
"Makanya kamu bisa lihat sendiri di video." Dia tertawa.
"Yang di sana itu tak seperti aku. Sebaiknya kamu lupakan dan hapus saja." Dia menatapku seolah aku sudah gila.
"Sekalipun kuhapus, aku takkan pernah melupakan malam penuh gairah terbaik dalam hidupku. Ternyata kamu punya energi luar biasa." Dia mendekat jauh lebih rapat dan menatapku dengan intens.
"Menjauh," pintaku dengan gugup.
"Cukup satu ciuman dan takkan terjadi apa-apa. Kamu takut tak sanggup menahan diri lalu menerkamku, kan? Tapi kalau kamu lebih suka begitu, akan kuikat tanganmu." Aku malah lebih memilih tanganku terikat—pikiranku menolak menyerah, sementara tubuhku sekarat menginginkan apa yang dibutuhkannya.
Dalam satu gerakan, dia menarik kedua tanganku ke atas kepalaku lalu memposisikan diri di atasku. Dia membuka kedua kakiku dan menempatkan diri di antaranya. Merasakan dia begitu keras dan menekan tepat di tempat yang sudah berdenyut nyeri menuntut, membuatku ingin menggesekkan diri ke tubuhnya atau mengapitnya erat agar bergerak dan menciptakan gesekan nikmat itu—yang sepertinya sedikit demi sedikit meredakan apa yang kubutuhkan.
"Tak mau lebih? Aku heran kamu masih bisa bertahan, padahal jelas sekali kamu membutuhkanku begitu dalam. Kamu menikmati ketika aku menekankan ini seperti ini." Aku menggigit bibir dan mengapit kedua pahaku, meski jelas dia merasakan apa yang kulakukan.
Dia menciumku sambil menggesekkan diri padaku, dan aku membalasnya. Pikiranku masih berjuang agar tak tenggelam dalam sensasi ini, tapi rasa didominasi dan tak berdaya di bawahnya justru sangat kusukai.
"Aku tak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku masih sadar penuh, kalau kamu tak menyadarinya," balasku begitu ciuman menuntut itu berakhir.
"Aku tahu kamu memang sadar, tapi kamu membutuhkan ini." Dia mendorong lebih dalam ke arahku, dan aku menahan sebuah d*sahan, tapi tak bisa mencegah diriku memejamkan mata dan menggigit bibir.
"Cuma gara-gara aku makan cokelat sialan itu. Kamu tak merasa jadi kurang jantan dengan memakai taktik semacam ini?" balasku dengan napas terengah tapi penuh keangkuhan. Aku tak mau sebutir bonbon kecil menguasaiku sepenuhnya, apalagi mengetahui ada kamera yang merekam segalanya.
"Sebenarnya tidak. Tapi kalau kamu mau aku membangkitkan gairahmu seperti ini saat tak ada apa pun di tubuhmu, aku tak keberatan sama sekali." Dia mengatakannya dengan sangat yakin.
"Mustahil kamu serius mengatakan semua ini. Kamu terbiasa dengan tipe perempuan yang lain, dan aku tahu betul itu." Aku mempertahankan pendirianku dengan defensif—boneka plastik itu sama sekali tak ada miripnya denganku, bahkan secara fisik sekalipun.
"Seleraku sudah berubah. Lagi pula, meraba yang alami seperti ini jauh lebih nikmat daripada meremas implan belaka." Dia meremas salah satu dadaku tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Hei," aku menegurnya, tapi dia tak berhenti. Caranya menyentuhku membuatku harus menahan beberapa d*sahan, apalagi dia terus menekankan kejantanannya yang keras ke pusatku.
"Kamu tak suka?" Bibirnya turun ke leherku dan mengisap, pasti akan meninggalkan bekas—tapi semua yang dilakukannya terasa begitu nikmat.
Aku tak sadar kapan dia melepaskan kedua tanganku, yang kutahu hanya dia terus mempermainkanku sesuka hatinya sementara aku diam saja, menikmati semuanya dengan tangan tetap terangkat di atas kepalaku, persis seperti posisi yang tadi dia buat.
Yang paling buruk, selain rasa malu ini, adalah besok aku akan sadar sepenuhnya atas semua yang telah terjadi dan mengingatnya sampai ke detail terkecil.