Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Ia Begitu Sempurna
Di meja ruang makan, mereka bertiga sedang makan malam. Alika bagai burung beo kecil yang tak berhenti bicara. Di usianya yang masih belia, ia ingin tahu dan mengenal segalanya.
"Mama ketemu Papa gimana caranya?"
"Mama tidak begitu ingat," kata Salsabila.
"Kalau Papi ingat, tidak?"
Arkana masih mengingat betul gadis penjual mawar itu dan pertengkaran mereka malam itu.
"Ya, aku ingat. Waktu itu malam hari di sebuah restoran mewah. Mamamu menjual mawar terbaik, dan ia merangkai buket-buket yang paling indah."
"Papi beli bunga buat orang lain?"
Salsabila menyimak dengan saksama, berharap bisa mengingat sesuatu dari cerita Arkana.
"Tidak. Om Rendra-mu yang membeli bunga itu."
"Terus Papi langsung jatuh cinta sama Mama?"
Arkana menatap mata Salsabila. Ia tak boleh dan tak ingin membohonginya.
"Tidak."
Salsabila tak paham apa maksud kata "tidak" itu.
"Hari itu kami bertengkar, tapi beberapa jam kemudian kami saling jatuh cinta."
"Kayak dongeng?" tanya Alika.
"Aku dulu jatuh cinta padamu?" tanya Salsabila.
"Dalam sekali."
Salsabila ternganga. Mungkinkah ia pernah jatuh cinta pada pria itu? Ia tak bisa memercayainya. Yang paling membuatnya curiga adalah cara pria itu memandangnya dan senyum liciknya yang tampan. Ia benci melihatnya tersenyum seperti itu. Ia begitu sempurna.
"Papi, kalian sudah menikah? Mama tidak ingat?"
Alika sudah menyingkirkan piring makannya ke samping. Tangan-tangan kecilnya tak bisa diam, ingin tahu segalanya tentang hubungan kedua orang tuanya.
"Kami belum menikah, tapi aku ingin sekali menikahi Mamamu."
"Kalau Mama, mau tidak menikah sama Papi?"
Siapa yang bisa menang melawan dua orang sekaligus? Mungkinkah mereka benar-benar punya hubungan? Kalau begitu, pria itu benar-benar seorang gentleman, sebab sejak ia terbangun, pria itu tak pernah sekali pun memaksanya. Sebenarnya ia tak yakin apakah mereka memang memiliki sesuatu, tapi tampaknya ia harus memercayai pria itu.
"Jawab pertanyaan si kecil. Apakah kamu bersedia menikah denganku?"
"Entahlah..."
"Ayo, Mama. Semua teman-temanku di sekolah punya papa dan mama yang tinggal bersama."
Salsabila menyingkirkan piringnya dan memutuskan untuk melarikan diri tanpa menjawab.
"Nanti Mama pikirkan. Sekarang masing-masing ke kamarnya untuk tidur. Ayo, Mama antar kamu ke kamarmu, Nona."
"Tapi Maamaaa..."
"Tidak ada tapi-tapian. Ayo. Dan kamu, selamat malam ya."
Salsabila menggandeng lengan putrinya dan bergegas membawanya pergi. Ia amat takut ditinggal berdua saja dengan Arkana. Kalau mereka memang punya hubungan, ia harus memenuhi kewajibannya, dan membayangkannya saja membuatnya sangat takut, sebab ia tak pernah ingat pernah bersama pria mana pun.
Arkana geli melihat wanita itu begitu gugup, apalagi saat ia lari terbirit-birit darinya.
Setelah membantu si kecil membersihkan diri, Salsabila membaringkannya dan menceritakan sebuah dongeng sampai anak itu tertidur.
Sesudah putrinya terlelap, Salsabila termangu memandangi kamar itu. Mereka memang tak miskin, tapi hidup sederhana, dan ia belum pernah melihat kamar seindah ini, seolah keluar dari sebuah dongeng.
Setelah mencium putrinya, ia menuju kamarnya dalam diam, sebab kamar di sebelah Alika adalah kamar Arkana, sementara kamarnya berada di sisi lain rumah.
Ia membenamkan diri ke ranjangnya, ingin beristirahat, sebab kepalanya sangat pening. Sejak pagi ia sudah merasa tak enak badan, tapi ia tak mau mengambil pusing. Lagi pula dokter akan datang menjenguknya.
Arkana menunggu dengan sabar sampai Alika dan Salsabila tertidur agar ia bisa keluar untuk bekerja. Ia tak ingin mereka tahu tentang kehidupan gandanya.
Di klub
"Jadi ia tidak ingat apa pun tentang masa kininya?" tanya Rendra.
Arkana duduk bersama asisten dan sahabat terbaiknya, membicarakan situasi terkini. Mereka menikmati beberapa gelas minuman sambil bekerja.
"Begitulah. Ingatannya hanya sampai usia tujuh belas tahun."
"Hahaha, kamu memang luar biasa. Bersama wanita yang sama dua kali, dan di usia yang sama pula, hahaha."
"Sebaiknya kamu jaga mulutmu, atau aku sanggup memotong lidahmu jadi dua," ucap Arkana.
"Ohh, sekarang kamu bahkan membelanya. Jujur saja, dia itu kurus kering, tidak ada dagingnya sedikit pun, hahaha."
"Ia sempurna dan alami. Wanita sejati, tak seperti yang biasa kamu santap, yang plastiknya lebih banyak daripada tempat daur ulang, hahaha."
"Hahaha, kamu lagi senang rupanya, Bro. Tapi menurutmu ia sanggup meladenimu satu ronde?"
"Hahaha, sudah pernah, dan aku punya buktinya, hahaha."
Malam itu sempurna. Sudah lama kedua sahabat itu tak bercengkerama seakrab ini. Tawa dan lelucon menjadi tokoh utama malam itu, tapi seperti malam-malam biasa, mereka harus membicarakan urusan bisnis.
"Galih, kamu bisu hari ini?" tanya Arkana.
"Bos, saya hanya mendengarkan sambil bekerja."
"Kamu sudah menemukan pria itu?"
"Belum, Tuan, tapi ada tim yang saya kerahkan untuk melacak jejaknya."
"Kamu sudah menyelidiki pria yang berkeliaran mencurigakan itu?"
"Sudah, Tuan. Semua yang dikatakan pria itu benar. Sepertinya ia hanya berada di tempat dan waktu yang salah."
"Bantu dia, lalu lepaskan."
"Baik, Bos. Ada lagi? Atau saya boleh mengundurkan diri?"
"Kamu boleh pergi. Kita bertemu besok pagi-pagi sekali di kantor."
"Hahaha, jadi berangkat kamu?" ledek Rendra. "Para wanitamu punya kejutan baru?"
"Mati saja kamu."
Hari berakhir bagi pertemuan para pria terkuat di kota itu. Arkana, Sang Iblis, adalah orang yang mengendalikannya, tapi di belakangnya ada Rendra, rekannya, dan Galih, tangan kanannya, yang memiliki kuasa dan wibawa setara dengan mereka.
Arkana tiba di rumah yang sunyi senyap, siap merilekskan diri di ranjangnya yang nyaman. Sudah lewat pukul dua belas malam ketika ia hendak masuk ke kamarnya, sampai ia mendengar Salsabila meminta tolong.
Ia berlari secepat mungkin, tapi begitu masuk ke kamar, ternyata wanita itu hanya sedang bermimpi buruk. Ia penasaran tentang isi mimpi itu, jadi ia memutuskan untuk tinggal sebentar lagi, dan ternyata Salsabila memimpikannya.
Dalam mimpinya, wanita itu tengah mengingat kembali malam tragis itu.
Arkana tak peduli apakah wanita itu akan marah atau tidak. Toh, paling banter ia hanya akan menerima sebuah tamparan. Maka ia menanggalkan pakaiannya hingga tinggal celana dalam saja, lalu menyelinap ke balik selimut di samping wanita itu.