Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Terjun ke Nadi Thames
KLEK-KLEK-KLEK!
Suara puluhan senapan laras panjang dikokang menggema menuruni lorong besi. Sorot lampu minyak dari pasukan Scotland Yard mulai menyapu dinding ruang pompa.
"Mereka ada di bawah! Habisi siapa pun yang melawan!" Raungan Inspektur Hallowell memecah deru sisa uap.
Hans Lorte tidak menoleh ke arah tangga. Mata kelabunya menatap tajam ke arah lantai baja berlubang di bawah mesin boiler utama.
"Lady Finch, tuas kuning di dinding utara!" perintah Hans cepat, telunjuknya mengarah pada roda baja berkarat. "Itu katup pembuangan darurat!"
Evelyn menoleh ke arah yang ditunjuk. Matanya membelalak.
"Pembuangan darurat? Itu terhubung langsung ke gorong-gorong dasar Sungai Thames!" teriak Evelyn. "Arusnya bisa meremukkan tulang kita!"
"Tulang patah bisa disembuhkan. Peluru di kepala tidak," sahut Hans dingin. "Putar sekarang!"
Evelyn tidak membantah lagi. Ia berlari menerjang genangan air, melompat meraih tuas kuning raksasa itu.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan pertama meletus dari atas balkon baja.
Proyektil timah menghantam lantai tepat di sebelah sepatu Pip, memercikkan bunga api yang menyilaukan.
TRANG!
"Tuan Lorte!" Pip menjerit, meringkuk menutupi kepalanya dengan tas kain basah.
Hans melangkah maju, memosisikan tubuh jangkungnya sebagai tameng pelindung bagi Pip. Ia tidak repot-repot membalas tembakan. Rasionalitasnya tahu pistol revolver usang tidak akan menang melawan senapan runduk kepolisian.
"Tarik napas kalian dalam-dalam!" teriak Hans. "Kalkulasi paru-paru manusia sanggup bertahan dua menit di bawah air!"
Di sudut ruangan, Evelyn mengerahkan seluruh berat badannya. Ia menggantungkan tubuhnya pada roda kemudi kuning itu hingga terdengar bunyi patahan karat.
KRAAAK... BLAASSHH!!
Kisi-kisi lantai baja di bawah kaki mereka terbuka menjeblak.
Ribuan galon air sisa pendingin mesin uap tumpah ruah dari tangki reservoir di atas mereka. Air itu menerjang lantai seperti air bah raksasa, menyapu segala benda di jalurnya.
Hans menyambar kerah mantel Pip dengan tangan kirinya. Tangan kanannya meraih pinggang Evelyn tepat saat wanita itu tersapu arus.
BYUUURRRR!!
Ketiganya terseret masuk ke dalam lorong vertikal gelap gulita.
Dinding batu bata berlumpur menyapu tubuh mereka. Tekanan air menekan dada Hans hingga paru-parunya serasa mau pecah.
Di atas sana, tembakan Hallowell mereda, tertelan oleh gemuruh air bah yang menenggelamkan ruang pompa.
Hans menekan kepanikan fisiknya. Otaknya terus berhitung.
Kecepatan arus 15 knot. Sudut kemiringan 45 derajat. Durasi tempuh menuju muara Thames... 40 detik.
Gelap. Dingin. Mematikan.
Paru-paru Pip mulai kejang. Anak jalanan itu memberontak dalam air, nyaris melepaskan udara berharganya. Hans mencengkeram bahu anak itu lebih keras, menahan Pip agar tidak panik.
Tiga... dua... satu...
SYUUTTT... BRRASHH!!
Tubuh mereka dimuntahkan keluar dari mulut pipa raksasa.
Mereka terlempar melayang sesaat di udara sebelum menghantam permukaan air yang keruh, dingin, dan berbau amis lumpur mati.
BYAR!
Hans muncul ke permukaan. Ia menghirup udara fajar London dengan serakah.
Di sebelahnya, Evelyn terbatuk keras memuntahkan air sungai. Pip muncul dengan wajah sepucat mayat, terengah-engah mencari pegangan.
"Tepi sungai! Pegang tiang pilar itu!" perintah Hans, menunjuk pilar kayu berlumut di bawah jembatan dermaga.
Dengan sisa-sisa tenaga, ketiganya berenang melawan arus lambat Sungai Thames. Mereka menyeret tubuh basah kuyup mereka ke atas lumpur hitam di kolong jembatan yang tersembunyi dari pandangan jalan raya.
Napas ketiganya memburu keras. Suara detak jantung mereka serasa menyaingi derik kayu jembatan di atas kepala.
"Kita... kita selamat," bisik Pip dengan bibir biru bergetar. Anak itu tertawa pelan, tawa histeris penuh kelegaan.
Evelyn bersandar pada tiang kayu, menatap Hans dengan pandangan tak percaya. "Kalkulasi Anda... benar-benar iblis, Tuan Lorte."
Hans tidak tersenyum. Ia bangkit berdiri meski sekujur tubuhnya basah kuyup dan menggigil.
Tangan kirinya merogoh saku dalam mantel kusamnya. Ia mengeluarkan lempengan piringan kuningan inti kompas yang masih utuh.
Mata kelabu sang detektif menatap lempengan itu. Pagi ini mereka berhasil lari dari maut, tetapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Ayo bergerak," ujar Hans dingin. "Air sungai ini akan membunuh kita karena hipotermia lebih cepat daripada peluru Hallowell. Kita kembali ke Limehouse."