NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Rahasia dan Penjara Langit

​DONG! DONG! DONG!

​Dentang lonceng Sekte Pedang Awan kembali bergema di antara puncak-puncak gunung yang diselimuti kabut tebal, membangunkan ribuan murid luar.

​Di sudut halaman asrama yang sepi, Lu Mingseng sudah bangun sejak fajar belum muncul.

​Ia berdiri tegak dengan pedang kayu di tangannya. Pakaiannya sederhana dengan beberapa tambalan. Wajahnya yang penuh bekas luka tampak kusam karena kurang tidur, dan kedua lengannya bergetar tiap kali ia mengangkat pedang.

​Namun, ia terus mengayunnya.

​Satu kali... Sepuluh kali... Seratus kali...

​Keringat membasahi punggungnya. Telapak tangannya yang lecet kembali perih akibat gesekan gagang pedang.

​"Seratus satu..."

​Wus! Ayunannya sedikit melenceng.

​Mingseng merapatkan gigi, mengatur napas, lalu mengulanginya dari awal.

​Di dalam kesadarannya, suara tua Kaisar Keabadian bergema datar: 'Gerakanmu terlalu kaku. Kau mengandalkan bahu, bukan putaran pinggang. Jika terus begitu, lenganmu akan hancur.'

​"Kalau begitu, ajari aku cara yang benar!" bisik Mingseng tegas.

​'Aku sudah mengatakannya tiga kali.'

​"Dan aku sudah gagal tiga kali," balas Mingseng. "Bantu aku untuk keempat kalinya!"

​Mingseng memusatkan perhatian. Kaki kirinya bergeser sedikit, pinggangnya berputar, dan pedang kayu itu melesat lurus ke depan.

​WUSSH!

​Lintasannya jauh lebih presisi dan bertenaga!

​Sang jiwa tua akhirnya terkekeh pelan. 'Lumayan. Setidaknya otakmu tidak sepenuhnya tumpul.'

​Plak! Plak! Plak!

​Suara tepuk tangan mengejek mendadak terdengar dari arah pintu halaman.

​"Menarik sekali! Sampah ternyata bisa bangun pagi cuma buat berpura-pura jadi pendekar!"

​Mingseng menghentikan gerakannya.

​Di pintu halaman, Qian He berdiri menyilangkan tangan. Di belakangnya, dua murid luar yang sering mengintilnya tertawa sinis.

​"Sudah berapa kali kau mengayunkan kayu itu?" ejek Qian He mendekat, lalu menepuk-nepuk pipi Mingseng dengan punggung tangannya yang kasar. "Hei, aku sedang bicara padamu!"

​Tep!

​Mingseng menepis tangan Qian He dengan gerakan cepat dan dingin. "Jangan sentuh aku."

​Senyum di wajah Qian He seketika menghilang. "Apa katamu?!"

​"Aku bilang, jangan sentuh aku," ulang Mingseng. Tatapan matanya menatap lurus, tanpa ada ketakutan—hanya ada ketenangan dingin.

​Hal itu justru menyulut amarah Qian He. Ia merebut pedang kayu Mingseng, lalu melemparnya ke tanah!

​"Bagus! Kau mulai merasa tangguh?" desis Qian He. "Datanglah ke lapangan latihan setelah ini! Hari ini Instruktur Ma mengadakan ujian duel dasar. Kita lihat apakah kau sanggup memegang pedang saat bertarung!"

​Setelah melontarkan gertakan itu, Qian He berbalik pergi. Mingseng menunduk, memungut pedang kayunya yang tergores tanah.

​'Senior...' panggilnya dalam batin. 'Berapa lama lagi sampai aku bisa membalas mereka?'

​Suara Kaisar Keabadian menjawab dingin: 'Kau bahkan belum mencapai Pengumpulan Qi. Menghadapi murid yang sudah memiliki energi spiritual sama saja dengan menyerahkan nyawamu. Keberanian tanpa kekuatan hanyalah kebodohan.'

​Mingseng menggenggam gagang pedang lebih erat. "Aku paham."

​Lapangan Latihan — Ujian Duel Dasar.

​Ratusan murid luar memadati arena batu di tengah lapangan. Instruktur Ma Zhen berdiri di depan dengan raut tegas.

​"Ujian hari ini adalah duel berpasangan!" seru Ma Zhen nyaring. "Ujian ini mengukur kuda-kuda, pengamatan gerakan, dan daya tahan kalian!"

​Di tepi lapangan, Fang Rui berdiri dengan senyum angkuh. Saat melihat Mingseng melangkah masuk, ia menyengir mencemooh. "Ah, si Muka Buruk akhirnya berani menampakkan diri!"

​Mingseng berjalan melewatinya tanpa mengubah raut wajahnya.

​"Hei! Kau tuli, ya?!" bentak Fang Rui murka karena diabaikan.

​Mingseng berhenti, menoleh pelan. "Aku mendengarmu."

​"Lalu kenapa tidak menjawab?!"

​"Karena tidak semua suara tidak berguna layak ditanggapi," jawab Mingseng datar.

​Suasana di sekitar mereka seketika senyap. Wajah Fang Rui mendadak memerah padam. "Mulutmu berani juga untuk ukuran sampah!"

​"Fang Rui! Simpan tenagamu untuk arena!" bentak Instruktur Ma Zhen memotong dari jauh. "Aku tidak butuh murid yang lebih lihai mengagungkan lidahnya daripada pedangnya!"

​Arena Duel.

​Beberapa pertarungan berlangsung cepat hingga akhirnya Ma Zhen menyerukan nama Mingseng.

​"Pertarungan berikutnya: Lu Mingseng melawan Lin Hao!"

​Lin Hao—pemuda bertubuh tegap yang sudah menguasai teknik dasar—melangkah naik ke arena batu membawa pedang kayu.

​"Mulai!" teriak Ma Zhen.

​Wus!

​Lin Hao melesat maju, menyabetkan pedangnya mendatar ke arah bahu Mingseng!

​TAK!

​Mingseng menangkis, namun benturan keras membuat pergelangan tangannya ngilu hebat. Sebelum sempat memulihkan posisi, pedang Lin Hao menyambar ke arah rusuknya!

​BUK!

​Mingseng terhuyung mundur dua langkah, memegangi rusuknya yang kesakitan.

​"Haha! Baru dua serangan saja sudah mau tumbang!" sorak murid-murid di tepi arena.

​Namun, di dalam kesadarannya, suara Kaisar Keabadian berbisik tajam: 'Jangan fokus pada pedangnya! Perhatikan pijakan kaki dan arah pergerakan bahunya!'

​Mingseng menahan napas. Matanya menyipit tajam.

​Lin Hao kembali menerjang! Kali ini, Mingseng melihat kaki kanan Lin Hao bergeser sedikit ke luar sebelum bahunya bergerak.

​Serangan mendatar lagi!

​Mingseng tidak menangkis. Ia menurunkan tubuhnya dan melangkah mundur setengah pijakan!

​Sreet!

​Pedang kayu Lin Hao menyabet udara kosong. Lin Hao tersentak kaget karena serangannya luput.

​Memanfaatkan celah sepersekian detik itu, Mingseng memutar pinggangnya dan mendesakkan ujung pedang kayunya tepat ke arah bahu Lin Hao!

​TAK!

​Pedang Mingseng mendarat telak!

​Arena seketika sunyi senyap. Lin Hao tertegun menatap bahunya, lalu menatap Mingseng tak percaya.

​Meski pada akhirnya Mingseng tetap kalah dalam duel itu setelah Lin Hao mengubah variasi serangannya, pertarungan tersebut membuka mata semua orang. Mingseng sanggup mendaratkan satu serangan bersih pada lawan yang jauh lebih berpengalaman!

​Siang Hari — Tepi Lapangan Latihan.

​Usai ujian, Instruktur Ma Zhen menghampiri Mingseng. "Fisikmu belum pulih, tapi kemampuan pengamatanmu sangat tajam. Mulai besok, kau wajib ikut latihan fisik tambahan bersamaku."

​Mingseng membungkuk hormat. "Terima kasih, Instruktur."

​Di bawah pohon pinus tak jauh dari sana, Fang Rui memperhatikan Mingseng dengan mata membara. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian abu-abu dengan wajah tirus.

​"Paman," bisik Fang Rui penuh dendam, "anak sampah itu makin melunjak. Aku ingin dia cacat!"

​Pria berbaju abu-abu itu tersenyum licik. "Dia bahkan belum Pengumpulan Qi. Kau tidak perlu mengotori tanganmu sendiri di dalam sekte. Serahkan padaku..."

​Malam Hari — Rahasia di Balik Sembilan Kunci.

​Malam semakin larut. Di sudut halaman asrama yang sepi, Mingseng duduk bersila di atas batu dingin, bermeditasi menyerap energi spiritual.

​Tiba-tiba, Meridian Pertama di dalam dadanya memancar hangat. Tulang Jari Emas di tubuhnya berdenyut hebat!

​Syuut...

​Sebuah penglihatan ghaib menyapu kesadarannya!

​Mingseng mendapati dirinya berdiri di tengah kehampaan ruang yang sangat gelap. Di hadapannya, berdiri Sembilan Pintu Gerbang Raksasa yang terbuat dari batu hitam kuno.

​Delapan pintu tertutup rapat terkunci rantai. Namun, Pintu Pertama perlahan terkuak, memancarkan celah cahaya keemasan yang menyilaukan!

​Di balik celah pintu pertama itu, sesosok wanita berjubah putih membelakanginya. Suara lembut namun memilukan bergema:

​'Jangan percaya pada mereka yang datang mencari darahmu... Ketika sembilan kunci terbuka, mereka yang bersembunyi di balik langit akan mulai bergerak...'

​BUM!

​Tiba-tiba, dari balik Pintu Kesembilan yang masih terkunci rapat, sebuah tekanan ghaib yang begitu masif dan mengerikan meledak! Kehampaan bergetar hebat.

​Sebuah mata raksasa berwarna merah darah tampak membuka sedikit di balik kegelapan pintu kesembilan, memancarkan tawa rendah yang dingin:

​"Fufu... Jadi, pewaris kecil itu akhirnya mulai terbangun...?"

​PRANG!

​Penglihatan itu meledak hancur!

​Mingseng membelalakkan mata, jatuh tersungkur di tanah halaman dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

​'Senior!' teriak Mingseng histeris dalam batinnya. 'Suara apa itu tadi?! Siapa yang ada di balik pintu kesembilan?!'

​Untuk pertama kalinya, roh Kaisar Keabadian diam cukup lama. Ketika ia akhirnya menjawab, suaranya dipenuhi oleh nada kecemasan yang belum pernah terdengar sebelumnya:

​'Mingseng... dengarkan aku baik-baik. Sembilan Meridian Terkunci milikmu bukan sekadar segel kekuatan...'

​Kaisar Keabadian menarik napas berat.

​'Itu adalah penjara... bagi sesuatu yang sanggup meruntuhkan Alam Semesta.'

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!