hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 15
Damian terlihat sedang fokus menatap layar laptopnya dari sofa di dalam kamar. Mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang terbuka, pria itu tampak serius mengikuti rapat daring bersama beberapa orang penting dari perusahaan yang bekerja sama dengannya.
Sesekali, ia mengetik sesuatu di laptop, memeriksa dokumen, lalu memberikan tanggapan atas pembahasan yang sedang berlangsung.
“Untuk proyek ini, saya ingin laporan akhirnya diselesaikan sebelum akhir pekan. Pastikan tidak ada kesalahan dalam perhitungan anggarannya,” ujar Damian dengan nada tegas.
Salah satu kliennya mengangguk dari layar.
“Baik, Tuan Damian. Kami akan memeriksanya kembali dan mengirimkan laporan terbaru kepada Anda.”
“Bagus. Jangan sampai saya harus meminta hal yang sama untuk kedua kalinya,” balas Damian dingin.
Di tengah kesibukannya, Damian sesekali melirik ke arah ranjang.
Emma masih berbaring di sana sejak tadi. Perempuan itu memang sudah terbangun, tetapi tubuhnya masih terasa lemas akibat demam yang belum sepenuhnya reda.
Awalnya, Emma hanya memperhatikan Damian dari kejauhan. Tatapannya mengikuti setiap gerakan pria itu, mulai dari jemarinya yang sibuk mengetik hingga bibirnya yang bergerak ketika berbicara dengan orang-orang di layar laptop.
Entah kenapa, melihat Damian yang begitu serius bekerja membuat Emma ingin mendekatinya.
Biasanya, ia tidak akan peduli dengan apa yang dilakukan pria itu. Namun, saat sedang sakit seperti sekarang, Emma merasa ingin selalu berada di dekat seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman.
Dan kebetulan, orang itu adalah suaminya sendiri.
Emma menggeser tubuhnya perlahan, lalu menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Ia sempat berhenti sebentar karena kepalanya terasa sedikit pening, tetapi setelah merasa cukup kuat, ia bangkit dan berjalan pelan menuju sofa.
Damian sebenarnya sempat melihat pergerakan dari sudut matanya. Ia mengira Emma hanya ingin mengambil sesuatu di dekat meja, sehingga ia kembali memusatkan perhatian pada rapatnya.
Namun, beberapa detik kemudian—
Bruk!
Damian mendadak merasakan sesuatu menyandarkan diri ke tubuhnya.
Ia menoleh dan mendapati Emma sudah menjatuhkan tubuhnya di sofa, dengan kepala bersandar tepat di bahunya.
Mata Damian sedikit membesar.
Perempuan ini sedang apa?
Emma sama sekali tidak memedulikan ekspresi terkejut suaminya. Dengan wajah lemas, ia justru menggeser kepalanya, mencari posisi yang menurutnya paling nyaman.
Awalnya, ia bersandar di bahu Damian.
Namun, beberapa detik kemudian, ia merasa posisi itu kurang nyaman.
Emma pun bergerak lagi, membuat Damian terpaksa menghentikan gerakan tangannya di atas papan ketik.
“Emma,” panggil Damian pelan, berusaha mengingatkan istrinya bahwa ia sedang mengikuti rapat penting.
“Hm?” sahut Emma tanpa mengangkat kepala.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Cari posisi nyaman,” jawab Emma polos.
Damian menatapnya tidak percaya.
“Memangnya sofa itu kurang besar sampai kau harus menempel padaku?”
Emma menggeleng pelan. “Sofanya memang besar, tapi kau lebih nyaman.”
Damian terdiam.
Untuk beberapa detik, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Sementara itu, Emma kembali bergerak. Ia menurunkan kepalanya dari bahu Damian, lalu membaringkannya di pangkuan pria itu. Namun, sepertinya posisi tersebut juga belum sesuai dengan keinginannya.
Ia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya berbalik menghadap perut Damian, kemudian memeluk pinggang suaminya dengan kedua tangan.
Kini, wajahnya benar-benar tersembunyi di balik kemeja Damian.
Damian membeku.
Jemarinya berhenti di atas papan ketik, sementara tatapannya tertuju pada perempuan yang dengan santainya menjadikan tubuhnya sebagai bantal.
Apa-apaan ini?
Ia ingin sekali mengangkat Emma dan mengembalikannya ke ranjang. Bukan hanya karena perempuan itu mengganggu pekerjaannya, tetapi juga karena beberapa orang penting sedang menunggunya memberikan tanggapan.
Namun, sebelum Damian sempat mengatakan apa pun, salah satu kliennya tiba-tiba membuka suara.
“Tuan Damian, apakah Anda tidak apa-apa?”
Pertanyaan itu membuat Damian kembali menatap layar laptopnya.
Rupanya, ekspresinya yang mendadak berubah tadi cukup terlihat oleh orang-orang dalam rapat.
Damian segera memasang wajah datar seperti biasa.
“Saya tidak apa-apa,” jawabnya tenang. “Silakan lanjutkan pembahasannya.”
“Baik, Tuan. Kami hanya ingin memastikan karena Anda tiba-tiba terdiam.”
“Tidak ada masalah. Lanjutkan saja.”
Damian kembali memperhatikan presentasi di layar, berusaha bertindak seolah-olah tidak ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.
Padahal, di pangkuannya, Emma justru semakin nyaman.
Perempuan itu menggesekkan pipinya sedikit ke kemeja Damian sebelum akhirnya memeluk pinggangnya lebih erat.
Damian menunduk sekilas.
“Emma,” bisiknya dengan suara rendah.
“Apa?” sahut Emma pelan.
“Kau sedang mengganggu pekerjaanku.”
“Maaf,” gumam Emma.
Damian sempat terdiam, tidak menyangka Emma akan meminta maaf secepat itu.
Namun, belum sampai lima detik, perempuan itu kembali berbicara.
“Tapi aku masih mau di sini.”
Damian mengembuskan napas perlahan.
“Kalau begitu, diam dan jangan banyak bergerak.”
Emma langsung mengangguk kecil, kemudian kembali menyandarkan wajahnya di perut Damian.
Anehnya, kali ini Damian tidak berusaha menyingkirkannya.
Ia bahkan menggeser sedikit posisi duduknya agar Emma bisa berbaring lebih nyaman. Setelah memastikan kepala istrinya tidak berada di posisi yang membuatnya kesulitan bernapas, Damian kembali menghadap laptop.
Salah satu kliennya mulai menjelaskan perkembangan proyek berikutnya.
“Untuk rencana kerja sama tahap kedua, kami sudah menyiapkan beberapa opsi yang ingin kami ajukan kepada perusahaan Anda.”
“Silakan kirimkan dokumennya setelah rapat ini selesai. Saya akan memeriksanya bersama tim saya,” jawab Damian.
“Baik, Tuan Damian.”
Rapat kembali berjalan seperti biasa.
Namun, konsentrasi Damian kini terbagi dua. Sebagian pikirannya tertuju pada laporan dan pembicaraan bisnis, sedangkan sebagian lainnya terus memperhatikan Emma yang berbaring manja di pangkuannya.
Sesekali, ia melirik wajah perempuan itu.
Pipi Emma tampak sedikit memerah karena demam. Matanya terpejam, dan napasnya terdengar lebih teratur daripada sebelumnya.
Sepertinya, setelah menemukan posisi yang nyaman, Emma mulai mengantuk lagi.
Damian mengerutkan kening.
Bukankah tadi dia sudah tidur cukup lama?
Ia mengangkat tangan, lalu menyentuh dahi Emma dengan punggung jarinya secara perlahan.
Masih hangat.
Wajah Damian berubah serius. Ia mengambil termometer yang terletak di meja kecil, kemudian memeriksa suhu tubuh Emma tanpa banyak bergerak agar tidak mengganggu kenyamanan perempuan itu.
Setelah memastikan hasilnya, ia meletakkan kembali termometer tersebut.
Demam Emma belum sepenuhnya turun.
Damian menatap wajah istrinya beberapa saat sebelum akhirnya menarik selimut tipis yang terlipat di ujung sofa. Ia menyelimuti tubuh Emma dengan hati-hati, kemudian kembali melanjutkan rapatnya.
Di layar, seorang klien sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjukkan beberapa dokumen.
“Tuan Damian, apakah Anda setuju dengan usulan tersebut?”
Damian mengangkat wajah.
“Saya setuju dengan sebagian besar poinnya. Namun, untuk tenggat waktunya, saya ingin ada penyesuaian. Tim Anda harus memastikan kualitas pekerjaan tetap terjaga.”
“Baik, kami akan mempertimbangkannya.”
Damian mengangguk singkat.
Sementara itu, Emma bergerak sedikit dalam tidurnya. Tangannya yang semula memeluk pinggang Damian kini menggenggam ujung kemejanya.
Damian menunduk.
“Jangan menarik kemejaku,” gumamnya pelan.
Emma tidak menjawab. Ia hanya semakin merapatkan tubuhnya.
Damian hendak melepaskan genggaman itu, tetapi ketika melihat wajah Emma yang tampak lelah, ia mengurungkan niatnya.
“Dasar merepotkan,” bisiknya.
Meski begitu, tangannya justru bergerak mengusap rambut Emma dengan lembut.
---
Hampir satu jam berlalu sebelum rapat itu akhirnya selesai.
“Terima kasih atas waktunya, Tuan Damian. Kami akan segera mengirimkan dokumen yang telah diperbarui,” ujar salah satu kliennya.
“Baik. Saya tunggu laporannya.”
Setelah berpamitan, Damian menutup panggilan rapat dan menurunkan layar laptopnya.
Ia akhirnya bisa mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Emma.
“Emma, rapatnya sudah selesai,” panggilnya pelan.
Perempuan itu hanya menggumam tidak jelas.
Damian menunduk, berusaha melihat wajahnya.
“Emma?”
Kali ini Emma membuka mata sedikit. Ia mendongak dengan ekspresi mengantuk, kemudian kembali menyembunyikan wajahnya di tubuh Damian.
“Jangan berisik,” keluhnya lirih. “Aku masih mengantuk.”
Damian mengangkat sebelah alisnya.
“Ini sofa, bukan ranjangmu.”
“Biarin.”
“Dan aku bukan bantal.”
Emma mengangkat wajahnya sebentar, menatap Damian dengan mata sayu, lalu menjawab tanpa rasa bersalah.
“Tapi kau bantal yang paling nyaman.”
Damian terdiam.
Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana perempuan yang biasanya selalu punya banyak bantahan itu bisa berubah menjadi semanja ini hanya karena sedang sakit.
“Kalau kau sudah sehat nanti, jangan berharap aku akan membiarkanmu melakukan ini setiap hari,” katanya sambil merapikan rambut Emma yang menutupi wajahnya.
Emma mengerjapkan mata.
“Kenapa?”
“Karena aku punya pekerjaan.”
“Aku tidak menyuruhmu berhenti bekerja.”
“Kau justru sedang berbaring di pangkuanku.”
Emma berpikir sejenak, lalu mengangguk seolah baru memahami sesuatu.
“Oh, iya juga.”
Damian menghela napas panjang.
“Sekarang kau sadar?”
Emma malah tersenyum kecil sebelum kembali memejamkan mata.
“Tapi hari ini saja, ya?”
Damian menatapnya cukup lama.
Ia seharusnya menyuruh Emma kembali ke ranjang. Ia masih memiliki banyak dokumen yang harus diperiksa, dan sebentar lagi ia juga perlu menghubungi Vandes untuk membahas perkembangan perusahaan.
Namun, melihat Emma yang tampak begitu lemah dan terus mencari kenyamanan di dekatnya, Damian akhirnya menyerah.
“Baiklah. Hari ini saja,” jawabnya.
Emma langsung tersenyum puas, meskipun matanya masih tertutup.
“Terima kasih, Damian.”
Pria itu tidak membalas. Ia hanya mengusap rambut Emma sekali lagi sebelum meraih ponselnya untuk menghubungi dokter dan memastikan apa yang perlu dilakukan agar demam istrinya segera membaik.
Sebab, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya dengan mudah, melihat Emma sakit seperti ini ternyata jauh lebih mengganggu pikirannya daripada tumpukan pekerjaan yang menunggunya.
Dan yang paling menyebalkan bagi Damian adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak keberatan ketika Emma memilih menjadikannya tempat paling nyaman untuk bermanja-manja.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭