Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
***
Suasana di dalam kamar utama apartemen Lyn baru saja mereda pasca-pertemuan intim yang membakar. Pendar lampu malam yang remang menyinari gaun tidur sutra Lyn yang berantakan dan Wiliam yang sedang merapikan kancing kemeja hitamnya di tepi ranjang.
BEEP... BEEP... BEEP... KLIK.
Suara mekanisme kunci elektronik pintu utama di ruang depan mendadak berbunyi nyaring.
Darah di dalam tubuh Lyn seketika berhenti mengalir. Matanya membelalak sempurna, wajahnya memucat bagaikan mayat. Hawa dingin merambat cepat dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Hanya satu orang di dunia ini yang memegang kartu akses serta kode sandi cadangan untuk memasuki apartemen mewahnya tanpa mengetuk pintu.
"C-Clara..." bisik Lyn panik setengah mati. Suaranya gemetar hebat, dadanya naik turun mengandungi napas yang tertahan. "Wiliam... itu Clara! Dia datang!"
Berbeda dengan Lyn yang nyaris hilang kendali, Wiliam tidak menunjukkan sedikit pun riak kepanikan. Pria paruh baya itu berdiri tenang, membetulkan letak jam tangan mewahnya seraya menatap Lyn dengan mata sehitam jelaga yang tenang namun tajam.
"Ssshh... tenang, Little Lady," bisik Wiliam amat rendah di depan wajah Lyn. Jarinya mengusap bibir Lyn yang gemetar. "Rapikan gaunmu. Aku akan berada di dalam kamar mandi utama. Segera selesaikan urusanmu dengannya."
Tanpa menunggu balasan, Wiliam melangkah tenang tanpa suara memasuki kamar mandi berlantai marmer di sudut kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat.
"Ev! Lyn! Kamu di dalam kan?!" suara tangisan dan teriakan cemas Clara sudah menggema dari arah ruang tengah, kian mendekati lorong kamar.
Dengan tangan gemetar tak terkendali, Lyn menyambar jubah tidur sutra panjangnya, membelitkannya ke tubuh untuk menutupi jejak-jejak kemerahan di leher dan dadanya. Ia mengatur napasnya yang menderu cepat, lalu terburu-buru membuka pintu kamar.
Di ambang pintu, Clara berdiri dengan mata yang membengkak merah dan hidung yang memerah akibat menangis. Riasan wajahnya luntur oleh derai air mata. Begitu melihat sosok Lyn, Clara langsung menjatuhkan tas mewahnya ke lantai dan menghambur memeluk sahabatnya itu erat-erat.
"Ev... hiks... kenapa teleponku tidak diangkat?!" isak Clara pecah di atas bahu Lyn. Tubuh gadis itu gemetar hebat. "Aku panik banget... aku pikir kamu kenapa-napa di apartemen!"
Sensasi merengkuh tubuh Clara yang sedang hancur seketika menghantam dada Lyn dengan gumpalan rasa bersalah yang teramat pekat. Lidah Lyn terasa kelu. Ia membalas pelukan sahabatnya dengan jemari yang masih dingin dan gemetar, mengelus punggung Clara di tengah kepungan udara yang terasa sangat mencekik.
"M-maafkan aku, Clara... hiks, maafkan aku..." bisik Lyn serak, kalimat permohonan maaf yang terselubung dosa besar. "Baterai ponselku mati tadi... aku sedang tertidur."
"Aku butuh kamu, Ev... aku bingung banget," tangis Clara makin sesenggukan, menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Lyn. "Mami... Mami meneleponku sore tadi. Dia bilang dia mau pulang ke Jakarta... dia mau rujuk dengan Papa!"
DEG.
Dada Lyn rasanya dihantam oleh batu besar. Napasnya tersedak di tenggorokan. Niat ibu Clara untuk kembali membina keluarga bersama Wiliam bergema bagaikan petir di dalam benaknya. Sementara itu, hanya beberapa meter di belakang mereka—di balik pintu kamar mandi yang tertutup—pria yang dimaksud Clara sedang berdiri menyimak setiap kata yang terucap.
"M-Mamimu... mau rujuk?" cicit Lyn terbata-bata, matanya melirik liar ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Iya, Ev... Mami menyesal sudah meninggalkan kami dulu," ujar Clara seraya melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipinya secara kasar. "Di satu sisi aku benci banget sama Mami karena sudah menelantarkan kami... tapi di sisi lain, Ev, aku mendambakan rumah kita utuh lagi. Aku mau Papa tidak kesepian lagi... Aku mau punya keluarga yang hangat seperti orang-orang..."
Setiap kata yang keluar dari bibir Clara terasa bagaikan sembilu yang menyayat nurani Lyn. Rasa bersalah membuat kepala Lyn terasa pening luar biasa. Wanita yang kini menjadi penghalang terselubung bagi kembalinya keutuhan keluarga Clara... adalah dirinya sendiri.
"Clara... kita... kita bicara di ruang tamu saja ya?" ajak Lyn panik, mencoba mengarahkan Clara keluar dari kamar utama.
Namun Clara yang sedang kelelahan secara emosional menggelengkan kepala. "Tidak, Ev... kepalaku sakit banget, badanku lemas. Aku mau tiduran di kasurmu sebentar saja..."
Sebelum Lyn sempat mencegahnya, Clara sudah melangkah masuk ke dalam kamar utama dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang king size milik Lyn.
Jantung Lyn rasanya berhenti berdetak. "Clara, jangan—!"
"Hah... kasurmu empuk banget, Ev..." gumam Clara seraya menarik selimut kasmir tebal hingga ke dadanya. Namun saat wajahnya terbenam di atas bantal, dahi Clara mendadak berkerut halus. Gadis itu menghirup udara di sekelilingnya secara perlahan.
"Lho... Ev? Kamarmu pakai pengharum ruangan aroma apa?" tanya Clara bingung, menoleh menatap Lyn yang berdiri mematung di tepi ranjang. "Aromanya... kok seperti wangi sandalwood kayu yang biasa dipakai Papa?"
Wajah Lyn seketika pucat pasi. Keringat dingin menetes di pelipisnya. "A-ah... itu... aku baru beli diffuser aroma terapi baru, Clara. Katanya aroma sandalwood bagus untuk meredakan stres..."
"Oh... begitu ya," sahut Clara pelan, tidak begitu menaruh curiga.
Namun, saat Clara menggeser posisi duduknya dan menyusupkan jemarinya ke bawah lipatan selimut kasmir demi mencari posisi nyaman, jemari tangannya mendadak menyentuh sebuah benda keras dan dingin yang terselip di antara dua bantal utama.
Clara mengernyit. "Eh? Benda apa ini?"
Dengan gerakan santai, Clara menarik benda itu keluar dari balik selimut.
DEG.
Pemandangan di depan matanya membuat Lyn nyaris pingsan di tempat. Seluruh darah di dalam tubuhnya terasa membeku total.
Di dalam genggaman tangan Clara, bertengger sebuah jepitan dasi berbahan emas putih berukirkan inisial huruf eksklusif yang amat khas: W.A.
Itu adalah aksesoris kemewahan pribadi milik Wiliam yang terlepas saat pria itu menanggalkan pakaiannya semalam.
Mata Clara membelalak sempurna. Ia mengangkat jepitan dasi emas itu ke depan matanya, mengamati ukiran inisial tersebut dengan raut wajah yang mendadak berubah drastis—dari kebingungan menjadi kejutan yang teramat dalam.
"I-inisial W.A...?" bisik Clara dengan suara yang mendadak bergetar hebat. "Ini... ini jepitan dasi punya Papa..."
Atmosfer di dalam kamar utama seketika membeku bagaikan es. Keheningan mencekam mengurung mereka berdua. Lyn berdiri kaku, bibirnya bergetar tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Napasnya tercekat, dan matanya menatap jepitan dasi di tangan Clara dengan rasa panik yang berada di puncak tertinggi.
Clara perlahan mendongak, menatap lurus ke dalam mata Lyn yang pucat dan dipenuhi rasa takut.
"Ev..." suara Clara terdengar tercekik, matanya membelalak menuntut jawaban. "Kenapa... kenapa jepitan dasi milik Papaku bisa ada di dalam selimut kamar tidurmu?!"
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻