Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Setelah Badai Berlalu
Suasana ruang rapat utama perlahan lengang setelah dua petugas keamanan mengawal Devan Aristha keluar dari gedung Aristha Tower. Wajah sepupu Reynand itu pucat pasi, tak mampu lagi melontarkan kata-kata ancaman seperti sebelumnya. Para anggota dewan komisaris yang sempat terpengaruh kini menunduk segan, bergantian menyampaikan permohonan maaf serta dukungan penuh mereka kepada Reynand dan Aira sebelum akhirnya membubarkan diri.
Pintu ganda ruang rapat tertutup rapat kembali. Kini hanya tersisa tiga orang di ruangan megah itu: Reynand, Aira, dan Nyonya Rosalinda.
Aira menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Kakinya terasa lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras habis menghadapi ketegangan beberapa jam terakhir. Tanpa sadar, tubuhnya sedikit limbung.
Dengan sigap, lengan kekar Reynand merengkuh pinggang Aira, menahan tubuh gadis itu agar tetap tegak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reynand pelan. Nada suaranya yang tadinya bak es membeku saat menghadapi Devan, kini berubah hangat dan dipenuhi rasa cemas yang tak bisa ia sembunyikan.
Aira menengadah, menatap manik mata hitam Reynand yang tepat berada di dekatnya. "S-saya tidak apa-apa, Pak Reynand. Hanya sedikit kaget..."
"Panggil Reynand saja kalau sedang tidak ada klien atau pegawai lain," sela Nyonya Rosalinda yang melangkah mendekati mereka berdua dengan senyum tipis yang anggun.
Aira dengan cepat memperbaiki posisinya dan berdiri tegap, melepaskan pegangan Reynand walau pria itu tampak enggan menjauhkan tangannya.
"Terima kasih banyak, Nyonya Rosalinda," ucap Aira tulus, membungkukkan badannya penuh rasa hormat. "Jika Nyonya tidak datang membawa bukti audit forensik itu, saya tidak tahu bagaimana nasib nama baik saya dan posisi Pak Reynand."
Nyonya Rosalinda menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan matanya yang dulu penuh selidik kini memancarkan rasa bangga dan hangat seorang ibu. Ia mengulurkan tangannya, mengelus lembut bahu Aira.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Aira. Kamu adalah calon bagian dari keluarga Aristha," ujar Nyonya Rosalinda tegas. "Ibu tahu ketulusanmu sejak pertama kali kita berbicara. Devan hanya memanfaatkan celah untuk menghancurkan Reynand, dan Ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh calon menantu Ibu."
Kata-kata itu bagaikan penyejuk yang menyiram dada Aira. Keraguan dan ketakutan yang sempat menghantuinya belakangan ini menguap tanpa sisa.
Nyonya Rosalinda lalu beralih menatap putra tunggalnya. "Reynand, jaga Aira baik-baik. Bawa dia istirahat. Hari ini sudah cukup melelahkan untuk kalian berdua. Soal sisa administrasi pencopotan Devan, biarkan tim hukum yang menyelesaikan."
"Baik, Bu. Terima kasih," jawab Reynand singkat namun sarat makna.
Setelah Nyonya Rosalinda pamit meninggalkan ruangan, Reynand menggenggam jemari Aira secara alami, menuntun gadis itu kembali ke ruang kerja pribadinya. Begitu pintu ruangan terkunci rapat, Reynand membawa Aira duduk di sofa empuk dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.
Reynand berlutut dengan satu kaki di hadapan Aira yang terduduk. Pemandangan seorang CEO dingin yang disegani di dunia bisnis kini berlutut di depannya membuat Aira terpaku.
"Maafkan saya," bisik Reynand pelan, menangkup kedua tangan Aira dalam genggamannya yang hangat. "Karena posisi saya, kamu harus terlibat dalam bahaya dan tuduhan keji dari Devan."
Aira menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca menatap kesungguhan di wajah Reynand. "Tidak, Pak—maksud saya, Reynand. Ini bukan salahmu. Justru saya yang berterima kasih karena kamu dan Ibu selalu mempercayai saya."
Reynand menatap bibir dan mata Aira lekat-lekat. Senyum tipis mengembang di wajah tampannya—sebuah senyuman tulus yang sangat langka yang hanya ia persembahkan untuk Aira.
"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani meremehkanmu di Aristha Tower," tegas Reynand, mengikis jarak di antara mereka. "Karena seluruh dunia harus tahu... kamu adalah milikku."