"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kara langsung mengernyitkan dahinya. Ia sengaja berpura-pura bingung dan terkejut atas tuduhan pria di hadapannya ini.
"Lo ngomong apa sih? Gue benar-benar nggak ngerti!" sahut Kara. Suaranya sengaja dibuat naik satu oktav demi menutupi kepanikan yang mulai menjalar di dadanya. "Gue ke sini tuh tulus, beneran mau minta maaf sama lo, Erlangga!"
Erlangga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kara dengan tatapan yang menyelidik. Sepasang matanya seolah bisa membaca setiap kebohongan yang tersembunyi di balik wajah wanita itu.
Setelah beberapa detik, Erlangga akhirnya menghela nafasnya pelan. "Berhenti bermain drama, Kara. Gue nggak suka," ucapnya.
"Siapa sih yang bermain drama?!" sembur Kara. Kini ia tidak lagi menutupi nada ketus yang menjadi ciri khasnya. "Lo nyangka gue akting cuma karena gue nangis-nangis di lobi tadi? Ya emang gue sedih dan emosi! Satpam kantor lo itu kurang ajar banget, berani-beraninya mereka ngusir gue ke trotoar pinggir jalan! Mana gue udah susah payah nungguin lo selama dua jam lagi. Panas tahu nggak!"
Mendengar rentetan keluhan yang menggebu-gebu itu, Erlangga hanya menangggapinya dengan pandangan malas.
"Hmm," gumam Erlangga pelan.
Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah meja dan kembali mengambil tabletnya, jemarinya mulai bergerak lincah di atas layar.
"Gue masih ada kerjaan. Lo boleh pulang sekarang," usir Erlangga.
Mata Kara langsung terbelalak. Ia sedikit syok saat mendengar pengusiran yang begitu blak-blakan itu.
"Kok lo malah ngusir gue sih?!" sentak Kara.
Erlangga langsung menghentikan gerakan jarinya di atas layar tablet. Tanpa mengubah posisi duduknya, ia mendongak perlahan, menatap Kara.
"Terus lo maunya apa? Gue udah maafin lo," sahut Erlangga pendek, lalu kembali menunduk menatap layar tabletnya dengan raut wajah tanpa dosa.
Kara langsung mengepalkan tangannya erat saat melihat respon Erlangga yang tetap acuh padanya. "Seenggaknya, lo harus marahin atau pecat satpam lo, Erlangga!"
"Kenapa gue harus pecat mereka?" tanya Erlangga, nadanya begitu tenang, kontras dengan Kara yang sudah meledak-ledak.
"Mereka udah ngusir gue! Gue ini istri lo!" pekik Kara sambil menunjuk dirinya sendiri.
Erlangga langsung menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Kara dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. "Wajar mereka ngusir lo," ucapnya dingin, sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman yang mengejek. "Emangnya lo udah minta izin gue dulu sebelum kesini?"
Sialan!
Kara langsung mengumpat habis-habisan di dalam hati. Wajahnya kian memanas menahan malu dan amarah yang bercampur aduk. Otaknya langsung berputar cepat. Ia harus mencari cara agar posisinya sebagai nyonya besar di rumah Erlangga tidak terancam.
"Emangnya gue kesini harus minta izin lo?!" cecar Kara dengan mata yang memicing tajam.
"Ya."
Kara langsung terkekeh sinis. "Termasuk selingkuhan lo yang ada di luar itu?"
Erlangga langsung mengerutkan keningnya. Ia menatap Kara dengan pandangan bingung. "Selingkuhan?"
Belum sempat Kara menjawab, pintu ruangan itu mendadak terbuka secara tiba-tiba.
Ceklek!
Kimberly melangkah masuk dengan wajah yang cemberut sambil terus mengusap-usap puncak kepalanya yang masih terasa nyeri akibat jambakan Kara tadi.
"Erlanggaaa..." rengeknya dengan bibir yang mengerucut manja.
Erlangga langsung menoleh ke arah pintu. Sementara Kara langsung menatap tajam wanita bule itu yang kini melangkah anggun dan berdiri tepat di sampingnya.
"Wah, nggak bisa dibiarin nih. Ini cewek bule pasti mau menggeser posisi gue sebagai istri sah nya Erlangga? Enak aja!" batinnya yang mendadak di landa kepanikan yang luar biasa.
"Kamu harus hati-hati sama wanita ini. Masa dia tadi tiba-tiba jambak aku sih?" adu Kimberly sambil menunjuk Kara dengan tatapan penuh drama.
Kara yang tidak terima dengan tuduhan itu langsung menghadap ke arah Kimberly dengan mata yang melotot. "Lo yang nabrak pundak gue duluan, ya! Jangan membolak-balikkan fakta!"
Kimberly tidak membalas ucapan Kara. Wanita itu justru sengaja mengabaikannya, dan memilih menatap Erlangga dengan mata yang mendadak berkaca-kaca, untuk mencari simpati pria di depannya ini.
"Erlangga... Aku takut. Dia kasar banget."
Melihat reaksi Kimberly, Erlangga langsung mengalihkan pandangannya kepada Kara. "Kara, lo..."
"Oh... Jadi lo mau belain dia?" potong Kara cepat. Hatinya panas bukan main. Bukan karena ia cemburu melihat Erlangga bersama wanita lain, tapi karena ia merasa posisinya sedang terancam oleh si bule ini. Sebelum Erlangga sempat menyelesaikan kalimatnya, Kara langsung berbalik dengan sentakan kasar.
"Fine! Gue pulang sekarang!" ucapnya ketus.
Ia langsung menghentakkan kakinya lebar-lebar, bersiap untuk pergi meninggalkan ruangan laknat itu dengan perasaan dongkol.
"Ra..." Erlangga langsung bangkit dari kursi kebesarannya, berniat melangkah cepat untuk mengejar langkah Kara yang sudah hampir mencapai pintu.
Namun, gerakan Erlangga terhenti seketika saat pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal erat oleh Kimberly.
"Kamu bisa nggak nemenin aku di sini dulu sampai Rafael datang?" pinta Kimberly.