Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Malam berlalu berganti pagi, dan hampir tidak ada anggota keluarga Kim yang tidur nyenyak. Mereka semua beristirahat lewat tengah malam dan bangun ketika fajar bahkan belum menyingsing.
Apalagi Alexander.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia tertidur tanpa mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Tapi lupakan soal tidur. Menutup mata selama satu setengah jam saja rasanya bahkan tidak pantas disebut tidur.
Alexander merasa mungkin dirinya saja yang berlebihan. Dia terus menekan perasaan yang muncul, perasaan yang membuatnya merasa Soraya menganggap sepele dirinya.
Ya, Alexander menekan perasaan itu agar dirinya tidak semakin gusar setelah mencoba menghubungi Soraya sepanjang malam tanpa balasan. Namun, ketika akhirnya dibalas, wanita muda itu hanya mengatakan bahwa dirinya sudah mengantuk dan perlu beristirahat.
Membuat Alexander tidak bisa mengatakan apa-apa.
Kini, pada pagi-pagi benar, dia sudah bangun dan bersiap.
Bersiap untuk menghadapi masalah yang sudah pasti akan memenuhi harinya, sekaligus bersiap memesan makanan untuk Soraya secara daring agar ketika pagi tiba di tempatnya, makanan itu sudah sampai dan bisa langsung disantap.
Dengan rambut yang masih basah, mengenakan rajut turtleneck berwarna cokelat dan celana kain berwarna krem, Alexander keluar dari dalam kamar.
“Ibu...”
Jiah berhenti sebentar untuk menatap putranya, tetapi itu benar-benar hanya sesaat. Setelahnya, dia langsung berlalu pergi dengan wajah tertunduk.
Alexander pun tidak mengejarnya.
Dia tahu betapa ruwet dan kecewanya sang ibu saat ini.
Namun begitu, tidak bertingkah macam-macam, Alexander memilih menuju meja makan untuk sarapan seperti kebiasaannya.
Di ruangan tempat marmer cokelat yang indah terbentang, ada Barack yang duduk di sana bersama tabletnya.
Jika biasanya pria tua itu akan menghadap koran, kini dia justru menatap layar tablet yang berisikan bagian-bagian pekerjaan yang Alexander tinggalkan belakangan ini, dan mungkin akan semakin banyak yang ditinggalkan untuk beberapa waktu ke depan.
“Selamat pagi, Ayah.”
“...”
Alexander tetap duduk dengan tenang meskipun tidak mendapatkan jawaban.
Berdua mereka berada di meja makan tanpa suara selama sekitar lima belas menit.
Alexander juga tidak mau menyentuh makanan yang belum disentuh Barack. Jadilah dia hanya diam-diam tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Eehhm.”
Barack tidak memanggilnya. Dia hanya berdeham cukup keras ketika mulai mengambil sarapannya.
Sebelum menjadi seorang ayah, dia juga adalah seorang pria.
Jadi, hanya dengan melihat guratan-guratan lelah disertai mata sayu Alexander, dia tahu putranya itu tidak kalah stres.
Maka, meskipun sedang marah, dia tetap harus memastikan anaknya makan dengan benar.
Alexander akhirnya ikut meneguk air ketika kegiatan makan di antara mereka dimulai.
Ya, hanya di antara mereka, karena ibunya sarapan di dalam kamar.
Dengan tambahan waktu tiga puluh menit tanpa sepatah kata pun selama makan, mereka akhirnya selesai pada pukul tujuh lewat lima belas.
Barack sebagai orang tua akhirnya bersikap realistis juga.
Tidak mungkin dia tidak berbicara dalam masalah yang begitu penting ini.
“Jadi, bagaimana... apa rencanamu?” tanya Barack untuk pertama kalinya.
Alexander tidak begitu percaya diri. Kedua tangannya bahkan berada di bawah meja.
“Aku berencana bertanggung jawab. Berencana menjadi ayah.”
Cukup lama Barack kembali tidak bergeming.
“Ayah... mm.”
Barack menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Tapi bagaimana dengan rencanamu yang lain? ... Bagaimana dengan rencanamu yang telah melibatkan banyak orang di dalamnya?”
Kepala Alexander tertunduk. Dia menatap kedua kepalan tangannya yang sesekali membuka dan kembali mengepal.
Dia kembali diingatkan bahwa saat ini dia bukan hanya seorang pengusaha.
Dia telah terlanjur terjun ke dunia politik baru-baru ini dan menjadi salah satu anggota kongres yang paling potensial dalam masa pemilihan yang tidak lama lagi.
Dengan latar belakang keluarga serta kepopuleran adiknya sebagai seorang selebriti, Alexander memiliki semua kekuatan di belakangnya.
Ditambah lagi dukungan yang tidak main-main datang dari hubungannya dengan Hana yang telah diketahui publik, sementara Hana sendiri merupakan mantan model yang berasal dari keluarga politik.
Jadi, dengan semua itu, Alexander telah membentuk sebuah tim untuk pencalonannya nanti.
Semuanya sempurna.
Terdengar sangat sempurna sampai pada malam ketika dia bertemu Soraya.
Alexander menggigit bibir bawahnya, saking tidak berdayanya dia sekarang.
Beberapa orang menggantungkan pekerjaan mereka padanya dalam hal ini, dan dia pasti akan mengecewakan mereka.
Belum lagi dia semakin tidak berdaya karena sampai saat ini Soraya belum menyetujui permintaan pernikahannya.
“Ada apa? Tidak mampu menjawab? Segala sesuatu memiliki konsekuensi. Tidakkah aku selalu mengajarimu?”
Nada Barack dingin dan jauh, tetapi dia masih membiarkan Alexander mengambil keputusannya sendiri.
“Maaf...” ucap Alexander lirih akhirnya.
Pada akhirnya, dia hanya bisa meminta maaf.
Lagi dan lagi.
“Lalu bagaimana dengan wanita itu? Jika dia mau menikahimu, apa dia sudah tahu konsekuensinya? Apa dia sudah tahu bahwa dia bisa menjadi korban penolakan, karena satu negeri ini akan menganggapnya sebagai perusak hubungan?”
Alis Alexander bertaut mendengar hal ini.
Dia sedikit tidak suka dengan perkataan itu karena dia telah berjanji akan melindungi Soraya dan anak mereka jika mereka bersama.
Namun, memang benar, bullying tidak akan terelakkan di negara tempat dia secara tidak langsung telah menjadi idola.
“Belum lagi dengan budaya dan nilai-nilai kita. Apakah dia bisa menyesuaikan diri? Selalu ada alasan kenapa orang tua meminta pernikahan sesama etnis.”
Semua perkataan Barack jelas tidak salah.
Nyatanya, dia lebih peduli daripada yang terlihat.
Dia mungkin merasa bersalah dan berdosa kepada Hana sebagai calon menantunya yang terkhianati.
Namun, dia juga tidak bisa tidak peduli terhadap calon menantu yang ingin dinikahi anaknya.
Tentang siapa Soraya dan dari keluarga seperti apa dia berasal.
Juga tentang usia Soraya yang masih muda, yang menambah kekhawatirannya. Dia mengira-ngira, jangan sampai wanita muda itu belum cukup dewasa ketika menjalani pernikahan atau saat menjadi seorang ibu.
Apalagi jika dia harus menghadapi lingkungan sosial mereka yang begitu tinggi.
“Apapun itu, kamu bisa memutuskannya sendiri. Tapi bertanggung jawablah terhadap keputusanmu sampai akhir—sambil tetap mengetahui bahwa konsekuensi akan selalu ada.”
Suara kursi bergeser, menandakan Barack hendak beranjak untuk mengakhiri percakapan.
Sampai ayahnya itu tidak terlihat lagi, Alexander akhirnya mengangkat tangannya ke atas meja sebelum mulai memijat pelipisnya.
TING!
Alexander mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan mendapati ada notifikasi dari Hana di sana.
Mari bertemu di tempat biasa.
Sederhana isi pesan itu, tetapi cukup untuk membuat batin Alexander terasa semakin berat.
Sambil menutup matanya kuat-kuat, dia tahu dia harus mengatakan hal ini kepada Hana.
Tidak ada rasa apa pun selain rasa bersalah yang begitu hebat kepada wanita yang telah sangat baik kepadanya itu.