NovelToon NovelToon
Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri prisella

"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."

Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.

Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.

Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?

Ikuti kisah Kaia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 19 ingin bercerai

Kaia menutup pintu mobil perlahan. Tatapannya terangkat pada rumah besar bergaya Eropa modern yang berdiri megah di hadapannya.

Ia sedikit menyipitkan mata di balik bingkai kacamatanya, menghalau silau sinar matahari sore yang memantul hangat.

Rumah keluarga besar Hadinata. Rumah tempat ia tumbuh dan dibesarkan. Tempat ia mengenal kasih sayang tulus dari Hardja dan Farida, juga Kiara.

Namun, di rumah yang sama pula ia belajar bahwa seorang ayah bisa memandang anak kandungnya sendiri seolah sebuah kesalahan yang tidak pernah seharusnya lahir ke dunia.

Kaia mengembuskan napas perlahan. Hari ini ia datang bukan sekadar untuk berkunjung. Ia datang membawa keputusan terbesar dalam hidupnya.

Secara tak sadar, jemari kanannya bergerak perlahan, merengkuh lembut permukaan perutnya yang masih rata.

Ada nyawa kecil yang kini bersembunyi di sana. Nyawa yang harus ia lindungi dengan harga apa pun.

Seorang ART yang sedang menyapu halaman menghentikan pekerjaannya begitu melihat Kaia.

"Sore, Non Kaia..." sapa Simbok dengan senyum hangat.

Kaia membalas senyum tipis. Senyum yang ia paksakan agar terlihat baik-baik saja.

"Sore, Mbok. Papa sudah pulang?"

"Sudah, Non. Dari siang malah." Simbok mengangguk. "Katanya dari semalam tenggorokannya sakit."

Mendengar itu, Kaia terdiam sesaat. Sejak kecil, setiap kali Fadlan jatuh sakit, diam-diam ia selalu membuatkan wedang jahe hangat.

Namun gelas itu tak pernah ia antar sendiri. Ia menitipkannya kepada Simbok. Sebab Fadlan akan marah besar jika tahu Kaia yang membuatnya.

"Kalau Kakek sama Nenek?"

"Ibu sama Bapak belum pulang, Non. Katanya lagi reuni sama teman kuliah."

Senyum kecil akhirnya muncul di bibir Kaia. Hardja dan Farida memang tidak pernah berubah.Di usia mereka yang tak lagi muda, keduanya masih senang menghabiskan waktu bersama, seperti sepasang kekasih yang baru jatuh cinta. Pasangan yang selalu membuat siapapun iri melihatnya.

"Ya sudah, Mbok. Aku mau ketemu Papa dulu."

"Iya, Non."

Kaia melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Simbok memandangi punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu utama.

Dadanya terasa sesak. Sejak Kaia kecil, ia menjadi saksi bagaimana gadis itu selalu berusaha mencari perhatian ayahnya.

Namun setiap harapan yang Kaia gantungkan, selalu berakhir dengan kekecewaan. Kini setelah menikah pun, mata yang dulu masih menyimpan sedikit cahaya itu tampak semakin redup.

Senyumnya semakin jarang terlihat. Seolah kehidupan perlahan merampas seluruh kebahagiaan dari gadis yang selalu bersikap lembut kepada siapa pun.

Simbok menggeleng pelan. "Semoga Gusti Allah segera kasih kebahagiaan buat Non Kaia...."

Sementara di dalam rumah, langkah Kaia berhenti tepat di depan kamar Fadlan. Tangannya terangkat, namun sempat menggantung beberapa saat di udara.

Entah mengapa... Meski usianya sudah dewasa, bahkan telah menjadi seorang istri, setiap hendak bertemu ayahnya rasa takut itu selalu kembali.

Sama seperti saat ia masih menjadi gadis kecil yang berharap dipeluk setelah pulang sekolah.

Ia menarik napas panjang. Rasa mual naik begitu cepat karena kehamilan trimester pertama ditambah rasa cemas yang berlebihan. Namun ia menahannya kuat-kuat.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukannya pelan. Tak lama kemudian terdengar suara berat yang sedikit serak dari balik pintu.

"Masuk."

Kaia memutar gagang pintu lalu melangkah masuk.Pandangannya langsung menemukan Fadlan yang sedang bersandar di headboard ranjang. Sebuah laptop masih menyala di atas pangkuannya.

Kaia menghela napas pelan.Ayahnya memang tidak pernah berubah. Sejak kepergian Ivanka, pekerjaan seolah menjadi tempat pelariannya.

Bahkan ketika tubuhnya mulai sakit, ia tetap memaksa diri bekerja, seakan kesibukan mampu menghapus semua penyesalan yang ia simpan selama bertahun-tahun.

"Sore, Pa."

Fadlan mengangkat wajah sekilas. Ia menutup laptop, lalu meletakkannya di samping ranjang. Jarang sekali Kaia datang menemuinya seperti ini.

Biasanya hanya ketika ada sesuatu yang benar-benar penting.Seperti dulu, saat masih SD, Kaia pernah beberapa kali memohon agar Fadlan datang menghadiri pembagian rapor atau pentas seni di sekolah.

Namun kursi yang seharusnya ditempati ayahnya... selalu kosong. Yang datang hanya Hardja dan Farida.

"Ada apa?" tanya Fadlan datar.

Kaia menarik kursi yang berada di dekat meja kecil, lalu duduk perlahan di samping ranjang. Tangannya saling bertaut di atas pangkuan.

Telapak tangannya terasa basah oleh keringat. "Ada... yang ingin Kaia bicarakan sama Papa."

"Hm." Fadlan hanya berdeham pelan.

Keheningan menyelimuti kamar beberapa detik. Kaia menundukkan kepala. Ia berulang kali menarik napas, berusaha mengumpulkan keberanian yang terasa begitu sulit.

Ia teringat dinginnya sikap Elio. Ia teringat tuduhan perselingkuhan yang melukainya. Dan yang paling menakutkan... ia teringat ancaman Elio tentang bila terjadi kehamilan maka ia yang akan menghilangkannya.

Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya, Kaia memberanikan diri menatap mata ayahnya.

"Kaia..." suaranya lirih, hampir pecah. "...ingin bercerai."

Fadlan langsung tersentak, alisnya berkerut tajam. "Apa?!"

Kaia mengangguk pelan. Bola matanya mulai dipenuhi air mata, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegar. "Kaia... ingin bercerai dari Kak Elio, Pa."

"Kamu sadar apa yang sedang kamu katakan?" Suara Fadlan meninggi. Tatapannya mengeras. "Baru beberapa bulan menikah, lalu sekarang kamu ingin bercerai? Kamu ingin membuat keluarga ini jadi bahan tertawaan?"

Kaia menunduk sesaat.Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.

Dada yang sejak tadi terasa sesak kembali dipenuhi keraguan. Namun tidak. Kali ini ia tidak boleh mundur.

Ia mengangkat wajah perlahan. Tatapannya jauh lebih tegas dari pada biasanya.

"Pernikahan ini..." suaranya lirih, tetapi mantap. "Hanya membuat aku dan Kak Elio saling menyakiti, Pa. Kami tidak saling mencintai."

"Tidak!" potong Fadlan cepat. "Papa tidak mengizinkan.Kiara ingin kamu menggantikannya sebagai istri Elio. Papa tidak akan membiarkan keinginan terakhir kakakmu sia-sia."

Dan untuk pertama kalinya, Kaia tidak menundukkan kepalanya. Tatapannya lurus menembus kedua mata ayahnya.

"Maaf, Pa." Kalimat itu keluar pelan, tetapi penuh ketegasan. "Kali ini Kaia tidak bisa menuruti keinginan Papa."

Ia menggeleng perlahan."Tekad Kaia sudah bulat. Kaia akan berpisah dengan Kak Elio."

"Kamu...!" Rahang Fadlan mengeras. Nada suaranya mulai bergetar menahan emosi.

Namun Kaia tidak lagi menghentikan ucapannya. Kali ini ia berani memotong ucapan Fadlan.

"Setelah itu..." bibirnya bergetar. "Kaia juga akan pergi." Ia menjedah sesaat. "Kaia akan menjauh dari Papa."

Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. "Papa tidak perlu lagi melihat wajah Kaia. Papa juga tidak perlu lagi mengingat kepergian Mama setiap kali melihat Kaia."

Suasana kamar mendadak hening.

Deg.

Kalimat itu menghantam dada Fadlan begitu keras.Bukankah selama ini... kalimat itulah yang selalu ia lontarkan kepada putri bungsunya?

"Kalau bukan karena kamu, Ivanka tidak akan meninggal."

"Kamu penyebab semuanya."

Selama dua puluh tiga tahun, tanpa sadar ia telah menanamkan luka itu begitu dalam hingga kini Kaia memilih menghilang dari hidupnya.

Kaia mengusap pipinya kasar. "Tolong bantu Kaia..." Suaranya pecah. "Untuk terakhir kalinya. Bantu Kaia mengurus perceraian ini."

Ia berhenti beberapa saat, seolah kalimat berikutnya jauh lebih sulit diucapkan. Lalu dengan napas yang bergetar, ia kembali bersuara. "...dan bantu Kaia mendapatkan identitas baru."

Fadlan langsung mengangkat wajah. "Apa?"

"Kaia ingin menghilang."

Tatapannya kosong. "Bukan hanya dari Kak Elio. Tapi... dari semua orang."

Kalimat itu membuat Fadlan terdiam.

Kaia tahu permintaannya terdengar mustahil. Namun ia juga tahu siapa ayahnya. Selama puluhan tahun, Hardja dan Fadlan membangun kerajaan bisnis ekspor, impor, pelayaran, pergudangan, hingga distribusi internasional.

Bisnis yang membuatnya memiliki relasi di berbagai negara dan mengenal banyak orang berpengaruh, mulai dari pejabat, pengacara, konsultan imigrasi, hingga orang-orang yang mampu mengurus berbagai dokumen secara cepat.

Kaia tidak pernah bertanya bagaimana ayahnya membangun semua jaringan itu.

Ia hanya tahu... Jika ada satu orang yang mampu memuluskan jalannya pergi tanpa meninggalkan jejak, orang itu adalah Fadlan Hadinata.

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Jarum jam di dinding terdengar berdetak pelan.Fadlan memandang putrinya tanpa berkedip. Anak yang selama ini selalu diam.

Selalu menuruti semua keinginannya.

Selalu menerima setiap kata-kata tajam yang ia lontarkan. Tapi hari ini,putrinya itu berdiri di hadapannya dengan keberanian yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Kaia janji..." suaranya kembali bergetar. "Ini terakhir kalinya Kaia meminta sesuatu sama Papa. Setelah itu Kaia tidak akan mengganggu Papa lagi."

Ia tersenyum tipis di tengah air mata yang terus mengalir. "Papa tidak perlu lagi melihat wajah yang selalu membuat Papa terluka."

Fadlan memejamkan mata, dadanya terasa semakin sesak.Entah sejak kapan... Ia mulai kehilangan kemampuan untuk memarahi putrinya sendiri.

Ia mengembuskan napas panjang yang sangat lama, sampai akhirnya berkata pelan, "...Baik. Papa akan mengurus semuanya."

Kalimat itu terdengar begitu berat keluar dari bibir Fadlan. Ia sendiri tidak tahu mengapa akhirnya memilih mengabulkan permintaan putrinya.

Mungkin... karena pertama kalinya, ia melihat Kaia benar-benar menyerah.

Kaia perlahan mengangkat wajahnya, senyum kecil terukir di bibir itu. Meski pipinya masih basah oleh jejak air mata.

"Terima kasih, Pa."Tubuh Fadlan membeku. Baru hari ini ia benar-benar memperhatikan wajah putri bungsunya.

Lengkungan senyum itu...Sorot mata yang lembut itu...Bahkan lesung kecil yang samar ketika Kaia tersenyum...Semuanya begitu mirip dengan Ivanka.Dadanya mendadak nyeri.

Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.

"Hmm..." jawabnya singkat, berusaha kembali memasang wajah datar. "Kamu boleh keluar. Papa ingin istirahat."

"Iya, Pa."

Kaia bangkit dari kursinya.Ia menyelipkan rambut bobnya ke belakang telinga, lalu membungkukkan badan kecilnya dengan sopan.

"Terima kasih... sekali lagi." Setelah itu ia berbalik.

Klik.

Pintu kamar tertutup perlahan. Ruangan kembali sunyi. Fadlan masih menatap pintu yang telah tertutup itu cukup lama.

Setelah dua puluh tiga tahun... Sebuah pertanyaan muncul di dalam benaknya.

Apa selama ini... aku sudah terlalu kejam kepada Kaia?

...****************...

* Bersambung *

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR ☺️*

*ig@putri_miceela.*

1
Fadillah Ahmad
Sinopsis Novelnya bagus sekali Kak... Aku suka. 😂😂😂 Aku jadi penasaran di buatnya... 😂😂😂 Covernya juga bagus... 🙏🙏🙏😁

Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁
Putri Anggraini: boleh banget dong🤭
total 1 replies
Marini Suhendar
Elio dulu hanya mendengarkan dr 1 pihak tanpa dia cerna kembali..klo tau sebenarnya mungkin tak kan memperlakukan kaia seperti ini..kenapa kaira dulu ingin menikahkan mereka karena mungkin tau yg sebenarnya kaia
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kaia, sehat selalu buat si kembar
Ariany Sudjana
Neo sebaiknya jangan beritahu Elio, biarkan saja dia menanggung akibat dari perbuatannya sendiri
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sibuk mencari Kaia? bukannya selama ini Kaia selalu kamu acuhkan Elio? sudahlah biarkan Kaia memulai hidup baru di negara lain bersama si kembar
Ariany Sudjana
good decision Kaia, kamu akan memulai kehidupan baru di Slovenia dengan si kembar
Putri Anggraini
cerita sangat bagus sayang kalau gak di baca😍
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di Noveltoon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi September untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Kaia, segera kamu bercerai dengan laki-laki yang masih ga bisa move on dari masa lalunya, apalagi kamu lagi hamil dan Elio kan ga mau punya anak dari kamu, jadi lebih baik kamu pergi ke LN, kamu cari kerja di LN untuk menghidupi kamu dan juga bayi dalam kandungan kamu
Ariany Sudjana
pasti si tukang foto ini suruhan si Mak Lampir (mama kandung Kiara)
Ariany Sudjana
sebaiknya kamu tinggalkan saja Elio itu kaila, percuma mau kamu jungkir balik berusaha jadi istri yang baik, di mata Elio kamu tetap bukan siapa-siapa
falea sezi
lanjut bahaya jg elio😒
Putri Anggraini: MLM ini kita lanjut lagi ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!