NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam harinya, Bianca tengah berada di kamarnya. Ia duduk di bangku, dengan sebuah laptop yang sudah berada di atas meja. Ia menatap layar laptop dari siang hingga pagi.

"Ini maksudnya apa? kenapa tiba-tiba semua lowongan menjadi tutup, arghhh sial sekali aku." Bianca mengacak-acak rambutnya kesal.

“Apa aku harus pergi dan tanyakan langsung?" Ide itu bagus juga, karena Bianca belum pernah mencobanya. Bianca pun menutup laptopnya, ia kemudian menyiapkan semua berkas yang harus ia bawa untuk melamar kerja besok.

***

Keesokan harinya, Bianca benar-benar mengunjungi sebuah perusahaan. Gadis itu kini berdiri di area depan kantor. Tampak gedung tinggi menjulang ke atas, membuat Bianca semangat untuk semakin mengumpulkan tekatnya.

"Semangat Bianca, kau pasti bisa." Ucapnya, meyakinkan diri sendiri.

Dengan penuh percaya diri, gadis itu kini masuk ke dalam kantor. Di percobaan pertama ini, ia berhasil masuk, membawa surat lamarannya ke bagian Administrasi. Namun di tolak.

Bianca tak menyerah, ia mencobanya lagi, kini mencoba peruntungan di perusahaan yang lain.

Perusahaan kedua, Bianca kembali berdiri di depan sebuah perusahaan. Bangunannya bagus, tidak terlalu besar seperti sebelumnya.

Dengan senyumannya yang lebar, kini gadis itu kembali mencoba melamar pekerjaan. Ia berjalan masuk, namun terhalang oleh para satpam yang berjaga.

Bianca di suruh menujukkan kartu identitasnya oleh satpam, karena Bianca bukan bagian dari perusahaan dan baru akan melamar jelas ia tak punya.

Ia lalu menunjukkan sebuah amplop coklat yang berisikan berkas data diri. Ia menunjukkan surat lamaran itu, namun dan lagi-lagi ia tetap di tolak oleh satpam atau bagian keamanan. “Apa, apaan semua ini. Padahal aku hanya ingin melamar pekerjaan, tapi kenapa susah sekali, seharusnya mereka terima dulu saya." Batin Bianca.

Bianca kini duduk di pinggir jalan, ia menatap keramaian kota yang sangat ricuh di siang hari.

"Harus cari kemana lagi aku ini?"

“Tapi Bianca, jangan menyerah. Ayo kita tetap semangat”

Kini adalah perusahaan yang ke tiga, kali ini Bianca sudah terlihat lemas, mendapat tolakan sebanyak dua kali. Membuatnya menjadi mulai goyah, dan benar saja, lagi dan lagi. Ia gagal.

“Maaf, lowongan kami sudah ada yang mengisi”

Perusahaan ke 4 dan 5 juga memberikan jawaban yang sama. “Bianca, bagaimana ini. Dasar kakak sialan, kau menganggur dan memberikan semua beban hutang itu kepada ku”

Renzo kini berada di dalam mobil, ia rupanya tengah mengawasi Bianca jauh dari jalanan seberang. “Kayaknya prediksi mu benar, dia benar-benar mencari pekerjaan” Ucap Renzo kepada atasannya melalui telepon.

“Sesuai dugaan ku, dia tidak betah menganggur. Karena dia sempat curhat pada ku bahwa dia masih punya banyak hutang,” ucap Arsen dari balik telepon.

“Mau kirim sekarang, atau nanti?" tanya Renzo.

“Sekarang! kalau bisa buat dia langsung kerja besok!”

“Kau sepertinya sangat ingin Bianca bekerja untuk mu ya”

Dari ruang kerjanya Arsen tersenyum, ia menggenggam foto Bianca yang ia pajang di atas meja kerjanya.

“Renzo, jika aku ingin Bianca Bersama ku, maka aku harus menghilangkan sumber masalahnya”

“Apa maksudmu?”

“Ada orang di balik ini semua yang membuat Bianca ketakutan, jika dia Bersama ku aku bisa tetap melindunginya dan dia tak akan bisa menekan Bianca” ujar Arsen seolah dia telah tahu semuanya.

*****

Bianca membuka pintu rumah, kini ia telah pulang. Ia pulang dengan wajah yang begitu lesu. “Kau kenapa?,” tanya abangnya dan di jawab ketus oleh Bianca.

“Kau meninggalkan banyak utang dan kau masih bertanya aku kenapa? setidaknya carilah kerja”

“AAAAAAGGGGGHHHHHH,” Teriak abangnya pecah, saat Bianca memukulnya dengan sebuah tas.

“Setidaknya carilah kerja, kau hanya mengandalkan ku dan ibu, sedangkan aku juga harus membayar kuliah Lucia, sampai kapan kau akan terus seperti ini, apa kau gila?”

“Bagaimana aku bisa bekerja jika keluar saja sudah ada orang yang memukul dan menagih ku hutang”

“Aishhhhh, dia benar-benar sangat menyebalkan. Lucia memang benar, dia abang yang tak berguna. Aishhhh dasar kau.” Bianca pun ingin memukul, namun tangannya di tahan oleh sang abang yang tengah nyemil kacang.

“Anak baik tidak boleh memukul orang oke”

“Aishhhhh ini benar-benar sangat menjengkelkan”

“Ting” Sebuah pesan masuk ke ponsel Bianca. Bianca pun membaca notif pesan itu . “Kepada saudari Bianca Renata Putri, kami sudah melihat potensi Anda dan kami ingin memberikan kesempatan kepada saudari untuk mengisi kekosongan di salah satu departement kami. Dengan posisi sebagai Asisten direktur di Perusahaan Wiratama Grub. Jika Anda berminat tolong jawab pesan ini dan datang besok pada pukul 07.30 WIB”

“Astaga, kakak, aku dapat tawaran jadi asisten direktur.” Bianca sangat kegirangan saat itu juga, tak hanya Bianca, Nando yang mendengar hal itu langsung sujud syukur.

"Ya Tuhan, terima kasih. Kau kabulkan doa anak soleh ini."

Bianca kemudian menarik lengan tangan Nando, keduanya kini saling berpegangan dan memutar badan mereka lalu berpelukan.

Nando yang senang, memeluk adiknya dengan sadar erat. "Akhirnya, penyelamat kakak ini bisa kerja. Akhirnya ada yang bayar hutang.” Cetus Nando, dan Bianca yang mendengar ucapan itu. Seketika langsung melepaskan pelukannya dan memiringkan mulutnya dengan tatapan sinis mencibir sang kakak.

“Dasar pengangguran stress” cibir Bianca yang kemudian masuk ke dalam rumah.

“Ayolah, jika aku bisa bekerja juga pasti aku tidak akan menganggur. Kau faham.”

Bianca masuk ke dalam rumah, Nando hendak menyusul. Namun saat pria itu ingin masuk. Dengan cepat Bianca langsung menutup pintu dengan keras.

BRAAAAKKKK!

Kepala Nando mengenai pintu, kejadiannya begitu cepat, hingga membuatnya jatuh terpental ke lantai teras.

"Sialan kau Bianca. Buka pintunya, bagaimana jika wajahku yang tampan rupawan bagai mega bintang ini jadi hancur."

Nando terus menggedor pintu, ia mencoba masuk, namun Bianca sudah menguncinya dari dalam.

Bianca sudah naik ke lantai dua kamarnya, ia kini berdiri di pinggir jendela kamar untuk melihat kelakuan Nando yang menurutnya kurang ajar.

"Siapa yang peduli pada mukamu, jangan kau dobrak pintu itu Kak, Kalau pintunya lepas apa kau mau ganti?"

Nando yang mendengar itu, kini langsung berjalan mundur, ia lalu mendongak ke atas dan benar saja. Adiknya yang kurang ajar itu sudah ada di lantai atas tengah mengejeknya.

"Kurang ajar kau bocah." Ucap Nando sambil bekacak pinggang.

"Cih, apa peduliku, kau jauh lebih kurang ajar. Wuuuuuu." Bianca mengejek Nando, menjulurkan lidahnya dan memberikan ekspresi ejekan yang membuat Nando semakin geram.

Pria itu kini melepaskan sendal miliknya, "Semoga Headshot."

Nando mengambil ancang-ancang, Bianca yang tengah sibuk mengejek Nando sebari makan kuaci tak sadar.

PLAKKKK!

Lemparan sendal itu tepat mengenai wajah Bianca, Nando yang melihat hal itu sangat merasa puas.

"Kena juga kan kau. Juara lempar sendal di lawan."

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!