Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Interogasi Asmara
Aroma dupa cendana menguar pelan di dalam Paviliun Teratai Merah, kediaman pribadi Permaisuri Lin Yue. Sinar matahari sore menyusup dari balik tirai bambu, menciptakan bayangan keemasan di atas meja teh kayu gaharu.
Lin Chen duduk bersila dengan punggung tegak lurus. Cangkir teh di tangannya sudah kosong sejak sepuluh menit yang lalu, namun ia terus menatap dasar cangkir itu seolah sedang memecahkan formasi tingkat surga yang paling rumit.
Di seberang meja, Lin Yue bertopang dagu. Senyum di wajah sang Permaisuri begitu manis, sangat kontras dengan tatapan matanya yang tajam menguliti setiap gerak-gerik putranya.
"Jadi," Lin Yue memecah keheningan, suaranya mengalun merdu penuh godaan. "Apakah Penguasa Keheningan yang menakutkan ini akan terus membisu, atau kau akan menceritakan pada Ibu... siapa sebenarnya gadis bernama Su Qingyue ini?"
Uhuk!
Lin Chen yang tidak sedang minum teh tiba-tiba terbatuk keras. Wajah pucatnya yang biasanya sedingin es abadi, kini perlahan memunculkan semburat merah di sekitar telinga. Sang tiran yang bisa membunuh dewa tanpa berkedip itu tiba-tiba terlihat seperti pemuda desa yang tertangkap basah menyimpan surat cinta.
"I-Ibu... itu..." Lin Chen meletakkan cangkirnya dengan canggung, menghindari kontak mata.
"Jangan mencoba mengelak, Chen'er," Lin Yue tertawa kecil, menuangkan teh baru ke cangkir putranya. "Malam itu di pelataran, Ibu melihat bagaimana Niat Membunuhmu meledak tak terkendali hanya karena mendengar namanya. Sebagai mantan kultivator, Ibu tahu itu adalah reaksi seseorang yang wilayah hatinya disentuh. Tapi sebagai seorang ibu, Ibu hanya ingin tahu... gadis beruntung mana yang berhasil mencuri hati putra bungsuku yang sombong ini?"
Mendengar nada suara ibunya yang dipenuhi kehangatan dan rasa penasaran murni, kekakuan di bahu Lin Chen perlahan mengendur. Ia menghela napas panjang, menatap pantulan wajahnya di permukaan teh.
"Dia... dia adalah seseorang yang sangat bodoh di masa laluku," bisik Lin Chen, suaranya berubah menjadi luar biasa lembut dan dipenuhi nostalgia yang menyayat hati.
Lin Chen mulai bercerita. Ia tidak menceritakan detail pembantaian atau perangnya di Sektor Langit, melainkan menceritakan tentang seorang wanita yang tidak pernah memandangnya sebagai monster. Ia bercerita tentang malam-malam di mana Qingyue merawat luka-lukanya tanpa banyak bertanya, dan tentang senyumnya yang bisa mencairkan hawa dingin di hatinya.
"Saat seluruh alam semesta memburuku, dia memilih berdiri di sampingku," Lin Chen mengepalkan tangannya di bawah meja, matanya berkaca-kaca mengingat momen terakhir itu. "Dan saat pedang kematian itu jatuh... dia mengorbankan jiwa dan raganya untuk melindungiku. Ibu pecahan cermin yang kini ia bawa di Sekte Teratai Es... itu adalah sisa dari artefak yang mengikat jiwanya agar tidak lenyap sepenuhnya."
Ruangan itu menjadi sangat hening.
Lin Chen menundukkan wajahnya, bersiap menerima ceramah atau mungkin peringatan dari ibunya bahwa cinta masa lalu bisa menjadi kelemahan dalam kultivasi.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
BRAAAAK!
Meja teh gaharu itu nyaris terbelah dua akibat hantaman tangan Lin Yue.
Lin Chen tersentak kaget dan mendongak. Ia melihat ibunya berdiri dengan mata yang menyala-nyala oleh amarah keibuan yang jauh lebih mengerikan dari Niat Membunuh mana pun.
"Beraninya mereka!" raung Lin Yue, aura Kaisar Langit-nya nyaris bocor saking marahnya. "Gadis sebaik dan seberani itu, yang telah menyelamatkan nyawa putraku, malah diasingkan di Puncak Hukuman oleh sekte rendahan?! Beraninya anjing-anjing Teratai Es itu mengurung menantuku?!"
"I-Ibu... menantu?" Lin Chen terbata, wajahnya semakin memerah.
"Tentu saja dia menantuku!" Lin Yue memelototi putranya, lalu berjalan memutari meja dan memeluk kepala Lin Chen dengan penuh kebanggaan. "Gadis yang rela menentang dunia demi orang yang ia cintai adalah wanita yang paling pantas mendampingimu, Chen'er. Mulai sekarang, ini bukan lagi urusan masa lalumu. Ini adalah urusan keluarga Lin!"
Lin Yue melepaskan pelukannya, menatap mata putranya dengan tekad yang bulat. "Jika Sekte Teratai Es berani menyentuh sehelai saja rambut Qingyue, Ibu sendiri yang akan menemanimu mendaki ke Alam Abadi. Kita akan bakar sekte mereka hingga tak bersisa, dan kita bawa pulang menantuku ke istana ini!"
Mendengar dukungan dari ibunya, rasa hangat yang luar biasa meledak di dada Lin Chen. Ia mengangguk mantap, senyum tulus akhirnya merekah di wajahnya. "Terima kasih, Ibu."
Sementara ibu dan anak itu menyatukan tekad di dunia fana, jutaan mil di atas mereka, melampaui batas ruang dan waktu, sebuah kepanikan massal sedang meletus di Alam Abadi.
Di puncak Gunung Bintang, gerbang utama Sekte Pedang Bintang yang megah dan terbuat dari batu giok putih tiba-tiba bergetar. Sebuah retakan dimensi yang sangat tidak stabil terbuka dengan paksa, memuntahkan sesosok tubuh manusia yang langsung menghantam pilar gerbang dengan suara memuakkan.
Para murid penjaga yang sedang berpatroli langsung berlari mendekat. Saat mereka membalikkan tubuh yang berlumuran darah kotor dan tanah itu, mereka membelalakkan mata tak percaya.
"T-Tuan Muda Jian Wu?!" jerit salah satu murid, wajahnya pucat pasi.
Jian Wu, sang jenius tak tertandingi yang selalu menjaga penampilan sucinya, kini terlihat seperti pengemis yang gila. Rambutnya rontok sebagian karena hawa dingin, kakinya membiru oleh sisa luka pembekuan absolut, dan yang paling mengerikan... tidak ada sedikit pun fluktuasi Qi yang memancar dari tubuhnya.
"I-Iblis hitam... sangkar hitam... dia mematahkan pedang langit... ugh!" Jian Wu menggumam histeris, air liurnya menetes, akal sehatnya telah hancur sepenuhnya oleh teror di dalam Sangkar Kekacauan.
Hanya dalam hitungan menit, Master Sekte Pedang Bintang dan para Tetua Tertinggi tiba di lokasi. Wajah sang Master Sekte berubah menjadi sehitam dasar kuali saat Niat Jiwanya memindai tubuh Jian Wu.
"Dantian-nya hancur total. Lautan jiwanya tercabik-cabik oleh hawa dingin yang tidak berasal dari hukum alam kita," suara Master Sekte itu bergetar karena murka yang mendidih. Ia menoleh ke arah Tetua Penjaga Aula Jiwa. "Bagaimana dengan Tetua Pelindung yang ikut bersamanya?"
"Lapor, Master Sekte!" Tetua itu berlutut dengan tubuh gemetar. "P-Pelat kehidupan Tetua Pelindung telah hancur menjadi debu satu jam yang lalu!"
DUAAARRR!
Puncak gunung itu retak akibat ledakan aura Master Sekte Pedang Bintang.
Hal yang persis sama terjadi di wilayah kekuasaan Klan Iblis Darah. Xue Tu dilemparkan dari celah dimensi di tengah altar darah klan mereka dalam keadaan cacat permanen, menangis ketakutan dan menggumamkan tentang kematian dimensi.
Di dalam Balai Pertemuan Klan Iblis Darah, sang Patriark meremukkan takhta tulang manusianya menjadi debu.
"Sebuah dunia fana rendahan yang bahkan Qi-nya baru saja bocor... menghancurkan Dantian jenius kita dan membunuh seorang pelindung di ranah Soul Formation?!" raung Patriark Klan Iblis Darah. "Ini bukan ulah manusia fana! Dunia sampah itu menyembunyikan seekor Naga Kuno yang sedang tertidur!"
Kemarahan dari dua faksi raksasa Alam Abadi ini mengguncang langit. Pesan yang ingin disampaikan Lin Chen berhasil dengan sempurna, namun alih-alih membuat mereka ketakutan dan mundur, arogansi dewa mereka justru tersulut.
Hari itu juga, dekrit perang diturunkan di Sekte Pedang Bintang dan Klan Iblis Darah.
"Kirimkan Formasi Bintang Eksekusi! Buka gudang pusaka dan keluarkan Paku Penahan Hukum Surgawi!" perintah Master Sekte Pedang Bintang kepada jajaran Tetua Tertingginya. "Jika dunia fana itu menekan kekuatan kita, kita akan menggunakan pusaka penahan hukum untuk mengirim pasukan elit kita di batas tertinggi! Kita akan turun secara langsung, menguliti Naga Kuno itu, dan menenggelamkan Kerajaan itu dalam lautan darah!"
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣