kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Kusangkal tiap getar yang hadir menyapa, kusebut namamu hanya sebagai angin lalu. Kama mulai menenun benang-benang asmara, tapi ego ini bersikeras meneriakkan kata ragu.
...----------------...
Sora seketika memucat, tangannya yang terangkat di udara jatuh lemas ke samping tubuhnya. "Dan-Dante... kau.. kau sudah pulang?"
Dante tidak menjawab pertanyaan Sora. Langkah kakinya yang lebar memangkas jarak di antara mereka. Pria itu langsung memposisikan tubuh besarnya di depan Kiara, menyembunyikan istrinya di balik punggungnya, persis seperti yang ia lakukan di pesta malam itu.
"Siapa yang memberimu izin untuk menginjakkan kaki di mansionku dan mengancam istriku?" desis Dante, suaranya rendah penuh ancaman yang membuat bulu kuduk Sora meremang.
"Dante, dengarkan aku dulu!" Sora mencoba memegang lengan jas Dante dengan wajah yang sengaja dibuat memohon, air mata buatan mulai menggenang di matanya. "Aku datang ke sini karena aku peduli padamu! Kiara... dia tidak pantas untukmu! Dia hanya menggunakan uangmu! Dia tidak mencintaimu, Dante! Aku mendengar sendiri bagaimana dia merendahkanmu tadi!"
Dante menepis tangan Sora dengan kasar hingga wanita itu hampir tersungkur di atas sofa beludru.
"Aku tidak peduli apakah dia mencintaiku atau tidak, Sora!" bentak Dante, membuat Sora terlonjak ketakutan. "Dan aku tidak peduli ke mana dia membuang uangku! Tugasmu bukan untuk menilai kelayakan istriku di rumah ini!"
Dante memalingkan wajahnya ke arah Marcus yang berdiri tegak di dekat pintu. "Marcus!"
"Ya, Tuan?"
"Bagaimana bisa wanita ini masuk ke dalam rumahku tanpa persetujuanku? Di mana para penjaga gerbang depan?!" tanya Dante dengan penuh amarah.
"Nona Sora memanfaatkan hubungan persaudaraan antara dirinya dengan nyonya Kiara untuk menekan penjaga baru di gerbang depan, Tuan. Saya mohon maaf atas kelalaian ini," jawab Marcus sambil membungkuk hormat.
"Pecat penjaga gerbang itu hari ini juga," perintah Dante tanpa ampun.
"Dan untuk wanita ini... seret dia keluar dari sini sekarang! Jika dia berani menampakkan wajahnya lagi di mansion ini atau tempat di mana Kiara berada, kau tahu apa yang harus kau lakukan Leo!?" Ucap Dante kepada sang asisten, Leo.
Sora membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Dante! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku kakak Kiara!"
"Bawa dia keluar, Marcus."
...----------------...
Setelah Sora diseret keluar oleh Marcus dan anak buahnya, keheningan di ruang tamu mansion Belmont terasa begitu pekat. Di atas lantai marmer putih, genangan air teh yang masih mengepulkan uap tipis tampak berceceran, bercampur dengan pecahan cangkir porselen yang hancur.
Di dinding ruangan, aroma manis teh yang berpadu dengan ketegangan masih tertinggal. Beberapa menit yang lalu, saat Dante melangkah masuk, dia menyaksikan adegan teh panas yang dilemparkan Kiara tepat ke wajah kakaknya itu. Sebuah tindakan yang nekat, berani, dan sama sekali tidak terduga dari seorang Kiara. Dan Dante menyukainya.
Kiara masih berdiri mematung di tempatnya, napasnya naik turun. Jemari tangan kanannya yang iya gunakan untuk menyiram wajah Sora tadi masih bergetar samar.
Dante menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan sisa-sisa amarah. Pemimpin mafia itu membalikkan tubuh tegapnya perlahan menghadap Kiara. Sepasang mata elang Dante kini dipenuhi oleh kilatan kepanikan.
"Kiara..."
Tanpa aba-aba, Dante memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Kiara sempat memundurkan tubuhnya untuk menjauh, Dante sudah berlutut dengan satu kaki di atas lantai, tepat di hadapan tempat Kiara berdiri. Dengan gerakan yang sangat lembut, kedua tangan besar Dante yang biasanya menggenggam senjata api kini meraih tangan kanan Kiara.
"Lepaskan, Dante!" Kiara tersentak, mencoba menarik tangannya kembali dengan wajah terkejut. "Apa yang sedang kau lakukan?!"
"Diamlah sebentar, Kiara," potong Dante. Suaranya begitu pelan.
Dante mengabaikan penolakan istrinya. Ia membalikkan telapak tangan kecil Kiara, memeriksa setiap jengkal kulit mulus itu dengan sangat teliti di bawah cahaya lampu kristal ruangan. Matanya fokus, memindai apakah ada bercak kemerahan atau kulit yang melepuh akibat cipratan teh panas tadi.
"Kau menyiramnya dengan teh yang baru saja disajikan, kan?" tanya Dante, suaranya terdengar serak saat jemari telunjuknya yang kasar dengan sangat lembut mengusap punggung tangan Kiara yang bergetar. "Apakah airnya mengenai kulitmu? Katakan padaku, bagian mana yang terasa perih? Apakah tanganmu terkena uap panasnya?"
Kiara membeku seketika. Lidahnya mendadak kelu.
Ia menatap ke bawah, memandangi sosok pria paling ditakuti di seluruh kota ini yang kini sedang berlutut di bawah kakinya hanya untuk memeriksa tangannya. Di kehidupan pertama, Dante tidak pernah berlutut untuk siapa pun. Pria itu adalah definisi dari keangkuhan. Namun sekarang, Dante tidak peduli jika harga dirinya jatuh di lantai marmer demi memastikan seujung kukunya tidak terluka.
"Dante... aku yang menyiram wajah Sora," bisik Kiara, mencoba mengembalikan hatinya yang mulai goyah. "Dia yang menjerit kesakitan, bukan aku. Kulitku sama sekali tidak terkena air panas itu."
Dante tidak langsung melepaskan genggamannya. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Kiara dengan tatapan yang begitu hangat, dalam, dan dipenuhi rasa bersalah.
"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada wajah wanita itu, Kiara," ucap Dante tulus. "Jika dia terluka, itu adalah konsekuensi karena dia berani mengusikmu di rumah ini. Yang kupedulikan hanyalah dirimu. Aku... aku takut kau terluka. Kulitmu sangat sensitif, Kiara. Sedikit saja terkena air panas, bekasnya tidak akan hilang selama berminggu-minggu."
Deg.
Jantung Kiara berdegup kencang, hingga ia takut Dante bisa mendengarnya. Pipinya yang semula pucat pasi kini mendadak terasa panas, rona merah menjalar cepat hingga ke daun telinganya.
Bagaimana bisa dia tahu kulitku sensitif?
'Di kehidupan lalu, aku pernah disiram air sup panas oleh pelayan dapur dan kulitku melepuh parah selama sebulan, tapi saat itu dia bahkan tidak ada dirumah! Apakah ini hanya kebutulan, atau.... tidak, jangan buat dirimu guyan, Kiara! Ini pasti bagian dari rencana busuknya! Seorang Dante Belmont, mudah saja kan mencari informasi setiap target yang dia incar.'
"Aku... aku bilang aku baik-baik saja!" Kiara berteriak kecil, menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman hangat Dante. Ia membalikkan badannya dengan cepat, memunggungi suaminya agar Dante tidak bisa melihat wajahnya yang kini sudah merah padam seperti kepiting rebus. "Berhentilah bersikap berlebihan, Tuan Belmont. Perilakumu ini terlihat aneh."
Dante perlahan bangkit berdiri, menatap punggung Kiara yang tampak tegang. Sebuah senyuman tipis, senyuman yang sangat langka terukir di bibirnya yang tegas. Pria itu tahu, reaksi ketus Kiara kali ini bukan karena ketakutan atau kebencian, melainkan karena wanita itu sedang salah tingkah. Benteng yang dibangun istrinya perlahan mulai menunjukkan celah kecil, dan itu sudah lebih dari cukup bagi Dante untuk merasa bersyukur di kehidupan kedua ini.
"Baguslah jika kau tidak terluka," kata Dante pelan, melangkah mundur satu langkah untuk memberikan ruang bagi Kiara bernapas. "Aku akan meminta Siska membersihkan kekacauan di lantai ini. Dan aku akan meminta pelayan menyiapkan kompres es di kamarmu, berjaga-jaga jika tanganmu mulai terasa hangat nanti malam."
"Tidak perlu! Aku tidak butuh kompres apa pun!" sahut Kiara setengah berbalik, matanya melotot tajam namun kilatan salah tingkah tidak bisa disembunyikan. "Urus saja urusanmu, tidak usah sok peduli!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Kiara langsung melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Langkah kakinya terdengar terburu-buru, nyaris seperti seseorang yang sedang melarikan diri dari medan perang.
Begitu tiba di dalam kamarnya, Kiara langsung menutup pintu dengan bantingan pelan dan menguncinya dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu, meletakkan kedua telapak tangannya di atas pipinya yang masih terasa sangat panas.
"Sialan..." bisik Kiara, napasnya terengah-engah. Jantungnya masih berkhianat, berdegup kencang di dalam dadanya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu? Kenapa tatapannya... kenapa dekapannya semalam dan sentuhannya tadi terasa begitu nyata? Aku tidak boleh goyah. Aku harus mengingat bagaimana caraku mati di kehidupanku yang pertama!"
Kiara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menghalau rasa hangat yang perlahan merayap di hatinya. Ia berjalan menuju meja riasnya, menatap layar laptop yang masih menampilkan grafik pergerakan pasar saham. Tanda runtuhnya BioTech Global sudah semakin jelas, dan fokusnya harus kembali pada rencana pelariannya.
Sementara itu, di lantai bawah, Dante masih berdiri di tempat yang sama, menatap ujung tangga tempat Kiara menghilang. Sisa kehangatan dari tangan kecil istrinya masih terasa di telapak tangannya sendiri.
"Kau masih sangat pintar menyembunyikan perasaanmu saat malu, sayang," bisik Dante dengan senyum tipis yang perlahan berganti dengan kilatan dingin.
Ia membalikkan tubuhnya, menatap genangan teh di lantai. Marcus melangkah masuk kembali ke dalam ruangan setelah memastikan Sora telah dibuang jauh dari area Mansion.