Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peran yang Terbuang di Halaman Sekolah
Hari itu, matahari jam istirahat sedang terik-teriknya membakar halaman Sekolah Dasar kami. Angin siang berembus tipis membawa bau tanah kering dan debu yang berterbangan terdorong oleh langkah anak-anak yang berlarian.
Di antara riuhnya suara anak laki-laki yang mengejar bola plastik dan jeritan bocah-bocah yang bermain bentengan, aku—Tia—bersama empat orang temanku berkumpul di pojok lapangan dekat pohon mangga. Kami sedang berdiskusi dengan antusias untuk merencanakan sebuah permainan simulasi yang saat itu sedang sangat populer di televisi: acara hiburan Uang Kaget.
Semua orang tampak sibuk menentukan skenario. Wajah kawan-kawanku berbinar-binar memikirkan peran mana yang paling keren untuk dimainkan. Di dalam benakku, permainan ini pasti akan sangat seru jika dilakukan bersama-sama. Aku membayangkan betapa asyiknya berlari mengelilingi area sekolah sambil berpura-pura menjadi pedagang atau warga lokal yang sibuk melayani pembeli dengan heboh. Dari hitungan kami, total ada lima orang di dalam kelompok kecil ini.
Pembagian tugas pun mulai dibahas secara mendadak tanpa ada musyawarah yang benar-benar adil.
Satu temanku langsung menyambar peran sebagai sosok beruntung yang mendapatkan Uang Kaget, lengkap dengan gaya akting kaget dan haru yang berlebihan. Teman yang lain langsung menunjuk dirinya sendiri sebagai pembawa acara—mbak-mbak pembawa papan target dan uang yang bertugas mengintai serta mengarahkan target dengan penuh semangat.
Satu orang lagi dengan sigap mengambil peran sebagai sosok dermawan yang menyerahkan selembar demi selembar uang mainan. Tersisa dua peran yang belum terisi dengan jelas: penjual barang dan sosok pendamping lainnya.
Aku yang sejak awal memperhatikan antusiasme mereka langsung mencoba mengusulkan ide. Aku merasa kalau yang menjadi penjual hanya satu orang, permainan akan terasa sepi dan kurang menantang. "Gimana kalau yang jualan ada dua orang? Biar makin rame, biar kayak pasar beneran!" seruku dengan nada gembira, berharap mereka menyambut baik ide segar tersebut.
Namun, bukannya tanggapan hangat yang kudapatkan, suasana di antara mereka mendadak berubah dingin dan aneh. Tatapan mata mereka saling beradu, diiringi senyum samar yang menyiratkan penolakan. Tanpa menunggu persetujuanku, salah satu dari mereka langsung menunjukku dengan wajah malas dan keputusan sepihak yang sangat tidak menyenangakan. "Halah, kamu jadi polisinya aja deh. Kamu kan cocoknya jadi pengawal atau polisi yang lari-lari di belakang!" cetusnya.
Mendengar ucapan itu, dadaku langsung terasa sesak. Kenapa harus aku yang dilempar ke peran yang sama sekali tidak kuinginkan? Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk memilih atau ikut merasakan peran yang menyenangkan seperti mereka? Belum sempat aku mencerna kekecewaan itu, ucapan lanjutan dari mereka makin menyayat hati. Alasan di balik penunjukan peran itu mulai keluar satu per satu dari mulut mereka tanpa rasa bersalah. Mereka mulai mengomentari tubuhku, bentuk wajahku, hingga tekstur rambutku.
"Lagian kamu kan gemoy, badannya gede, pantesnya jadi polisi bodyguard gitu biar pas!" celethuk salah satu dari mereka sambil tertawa kecil. Tawa itu dengan cepat menular ke kawan-kawan yang lain. Mereka mulai melemparkan kata-kata ejekan fisik yang rasanya sangat tajam menghujam perasaanku.
Padahal, bentuk tubuhku yang berisi ini adalah garis keturunan dari keluargaku, sesuatu yang alami dan sama sekali bukan alasan untuk dijadikan bahan tertawaan atau penghinaan di depan umum.
Kata-kata hinaan itu terus mengalir. Mereka mengomentari rambutku yang dianggap tidak selurus rambut mereka, serta mengoreksi lekuk wajahku seolah-olah aku adalah objek salah rupa yang pantas diremehkan. Suara tawa mereka yang renyah terdengar bagaikan dentang lonceng yang memekakkan telingaku.
Di tengah halaman sekolah yang ramai itu, aku merasa sangat kecil, terisolasi, dan tidak berharga sama sekali. Kenapa mereka begitu tega menyisihkanku hanya karena penampilan fisikku berbeda?
Rasa panas menyengat langsung menjalar dari dada hingga ke belakang mataku. Air mata sudah menumpuk di pelupuk mata, siap menetes kapan saja. Aku tahu jika aku bertahan satu detik saja di lingkaran itu, tangisku akan pecah di hadapan mereka.
Dengan sisa kekuatan dan rasa harga diri yang tersisa, aku membalikkan badan, menolak ikut serta dalam permainan kekanak-kanakan yang jahat itu. Aku melangkah dengan berat menuju tempat dudukku di sudut teras kelas.
Aku duduk sendirian di bangku kayu yang dingin. Jariku saling meremas rok seragam merahku, menahan gigilan di dada akibat menahan tangis yang ingin melonjak keluar.
Aku menunduk dalam-dalam, berharap rambutku bisa menutupi mataku yang mulai memerah dan basah. Dari kejauhan, aku bisa mendengar mereka tetap melanjutkan permainan Uang Kaget itu. Mereka berlarian, berteriak gembira, dan tertawa-tawa seolah tidak ada peristiwa buruk yang baru saja terjadi.
Yang makin membuat hatiku hancur adalah respons mereka saat menyadari aku memilih mundur dan diam. Bukannya datang menghampiri atau merasa bersalah karena telah melukai perasaanku, mereka justru melirik ke arahku dengan tatapan menyebalkan.
Salah satu dari mereka bahkan berteriak dengan nada mengejek yang cukup keras agar terdengar olehku, "Deym, gitu aja baperan banget sih! Cuma becanda juga!"
Kata "baperan" itu terlempar begitu saja tanpa beban, seolah-olah seluruh kesalahan atas rasa sakit ini ada pada diriku yang dianggap terlalu sensitif. Mereka bertindak seolah-olah mereka adalah korban dari suasana canggung ini, padahal merekalah yang baru saja melemparkan tombak hinaan ke arah fisikku.
Merekalah yang seharusnya sadar, bahwa bercandaan yang merendahkan ciptaan Tuhan dan menyakiti perasaan teman sama sekali bukanlah sebuah humor yang lucu.
Hari itu aku belajar satu hal yang sangat pahit tentang pertemanan di masa SD.
Bahwa tidak semua orang yang bermain bersamamu memiliki empati yang cukup untuk menjaga hatimu. Mereka bisa main dengan ceria, tertawa lepas tanpa dosa, sementara di sudut lain ada seorang teman yang duduk terdiam menahan luka emosional yang bekasnya mungkin akan terbawa hingga dewasa.
Aku berjanji pada diriku sendiri saat itu, bahwa fisik seseorang pernah dan tidak akan pernah boleh dijadikan bahan lelucon, karena kata-kata yang diucapkan sebagai becandaan bisa menjadi racun yang mematikan bagi jiwa orang lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pesan Ku
"Bercanda itu boleh, tapi tolong jangan membawa fisik sampai menghina begitu. Pas kita marah, dengan gampangnya kalian bilang 'baperan'. Padahal, seharusnya kalian yang minta maaf karena sudah menyakiti hati orang lain."