NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 28] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Di dalam kegelapan garasi yang sunyi, Dereta diposisikan di depan, duduk di atas jok kemudi dengan tubuh yang terpaksa condong ke depan. Kedua tangannya mencengkeram erat karet setang motor Ninja milik suaminya. Di belakangnya, Wil menempel rapat tanpa celah, bertindak seolah ia adalah penumpang yang siap mengambil alih kendali penuh atas tubuh dan motornya.

"Mas... kumohon, jangan di sini... motornya bisa tumbang," bisik Dereta dengan napas yang mulai tidak beraturan.

kini wanita itu sudah bertelanjang dada dan begitu khawatir.

Permukaan logam dingin dari tangki bensin yang menempel di perutnya terasa kontras dengan dada bidang Wil yang membakar punggung polosnya.

Wil tidak menyahut dengan kata-kata. Kedua lengan kekarnya yang dipenuhi urat menegang bergerak maju, menangkup jemari Dereta yang sedang memegang setang, mengunci cengkeraman wanita itu di sana agar Dereta tidak bisa melepaskan pegangannya untuk kabur.

Dari belakang, Wil merendahkan tubuhnya, membiarkan bibirnya menyapu ceruk leher Dereta sembari berbisik tepat di telinganya dengan suara serak yang berat.

"Pegang setangnya yang kuat, sayang. Jangan pernah dilepas. Kalau tanganmu lepas, kita berdua jatuh," tuntut Wil ,memberikan perintah mutlak yang langsung disusul oleh satu sentuhan presisi yang menuntut dari belakang.

Memasukan semuanya utuh kedalam sana tanpa aba aba apapun

"Ahhh— Mas!" Dereta mendesah hebat, kepalanya terlempar ke belakang, bersandar pada bahu kokoh Wil

Tubuhnya seketika menegang hebat. Cengkeramannya pada karet setang motor mengerat begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Skenario gila ini benar-benar membuat Dereta kelimpungan. Setiap kali Wil bergerak

Jleb

Jleb!

Begitu menuntut dari belakang dengan stamina perkasa yang seolah tak ada habisnya, beban tubuh mereka membuat suspensi belakang motor Ninja itu tertekan turun dan sedikit membal, menciptakan getaran halus yang konstan.

"Lihat ke depan, Sayang. Lihat kaca spion nya," bisik Wil lagi, suaranya terdengar sangat seksi dan mendominasi di keheningan garasi.

Dengan mata yang mengabur oleh gairah dan raungan setiap desahan, Dereta terpaksa mendongak dan melirik ke arah kaca spion kecil di setang kanan. Melalui pantulan cermin itu, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah tampan Wil yang sedang mengencang menahan nikmat,memasuki miliknya menatapnya balik dengan sorot mata gelap penuh kepemilikan mutlak.

"Aggh! Sialan!... padahal sudah sering ku masuki,tapi milik mu selalu ketat!"

"Ahhhk,pe..pelan pelan mas ~"

Wil seolah tuli,setiap cengkraman Kuat nya pada payudara wanita itu,dan setiap hentakan kuat dari Wil membuat motor besar itu sedikit bergoyang, memaksa Dereta untuk semakin menunduk, menekan perutnya pada tangki bensin yang dingin demi menahan guncangan yang membakar seluruh sarafnya.

Ia tidak punya pilihan selain terus bertahan pada setang besi itu, membiarkan suaminya mengemudikan seluruh ritme kegilaan mereka dari belakang hingga ia benar-benar lemas tak berdaya di atas kemudi.

hingga Pria itu memulainya dengan ritme yang sengaja dibuat lambat, lembut, namun menghujam begitu dalam. Kelembutan yang menuntut itu justru membuat Dereta tersiksa ia kelimpungan karena setiap desiran halus yang menjalar dari bawah sana terasa begitu pekat dan berdenyut, menguji kesabarannya.

"M..mas... pelan-pelan... ahhhk!," rintih Dereta, kedua tangannya meremas karet setang Kawasaki dengan gemetar.

Namun, begitu mendengar lenguhan manja istri pertamanya, sudut bibir wil terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya. Lengan kiri Wil yang kekar merayap naik, jemarinya mencengkeram rahang Dereta dengan tegas namun hati-hati, memaksa wajah Dereta untuk menoleh ke belakang.

Dan melihat nya!

Sebelum Dereta sempat menarik napas, Wil sudah menunduk dan mengunci bibirnya dalam sebuah ciuman yang panas, dalam, dan menuntut. Ciuman itu tidak hanya membakar gairah Dereta, tetapi juga sengaja dilakukan Wil untuk meredam suara desahan Dereta agar tidak menggema di garasi yang sunyi.

Lidah mereka bertautan dalam ritme yang sehati dengan guncangan di belakang sana.

Begitu melepaskan tautan bibir mereka, wil mendadak mengubah permainan. Tanpa peringatan, kelembutan tadi menguap, digantikan oleh hentakan yang intens, kuat, dan cenderung kasar.

Perubahan ritme yang drastis ini seketika membuat Dereta benar-benar kehilangan kendali. Tubuhnya terlonjak ke depan, terpaksa menekan perut dan dadanya lebih keras pada logam tangki bensin yang dingin.

Krieeek...

Berat dan tekanan dari gerakan intensif Wil dari belakang membuat suspensi motor sport itu berdecit halus, bergoyang mengikuti ritme konstan yang mendominasi.

"AGGHRH WILGARDI!... HENTIKAN SAYANG~"

Dereta kelimpungan setengah mati matanya memejam rapat, air mata gairah menggenang di sudut kelopak matanya karena kombinasi rasa takut motor itu tumbang dan kenikmatan luar biasa yang menghantamnya tanpa ampun.

Tidak ada lagi ruang untuk menghindar. Kedua tangan Dereta yang lemas kini tidak lagi kuat menahan beban tubuhnya di setang. Pipi dan dahinya yang basah oleh keringat tipis akhirnya terkulai pasrah, bersandar pada area dasbor di dekat kunci kontak motor, sementara bagian bawah tubuhnya sepenuhnya dipasrahkan untuk menerima klaim kepemilikan mutlak dari suaminya yang luar biasa perkasa dari belakang hingga tuntas.

Masuk semua sepenuhnya

Setelah badai gairah di atas motor Ninja itu mereda, Wil menarik dirinya perlahan. Namun, sebelum Dereta sempat membetulkan posisi rok kasualnya, Wil mencengkeram pinggulnya dengan tatapan menuntut yang pekat.

"Tahan itu di dalam, sayang. Jangan biarkan benihku lolos atau menetes ke lantai garasi sedikit pun," bisik Wil dengan suara berat yang serak, memberikan ancaman dominan yang seksi. "Kalau sampai ada yang keluar sebelum kita masuk rumah, kamu tahu hukumannya."

Dereta menelan ludah, wajahnya memerah padam.

Sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan desiran hangat yang masih bergejolak di dalam dirinya, ia terpaksa turun dari motor dengan kaki yang luar biasa lemas. Langkah kakinya sempoyongan dan gemetar saat berjalan mengekor di belakang Wil yang melangkah santai menuju pintu penghubung rumah.

Begitu pintu garasi terbuka, mereka langsung berhadapan dengan Morgan yang rupanya sedang berada di ruang tengah. Alina menghentikan langkahnya, matanya terbelalak menatap kondisi Dereta Kaka nya yang acak-acakan dan cara berjalannya yang aneh. Sebelum Morgan sempat membuka suara untuk menginterogasi, Wil sudah bergerak secepat kilat.

Dengan kekuatan fisiknya yang perkasa, wil menyambar pinggul Morgan dan Dereta menariknya dalam satu sentakan mudah.

Pria itu mendudukkan dirinya dengan angkuh di atas sofa panjang, lalu dengan paksa menarik Dereta dan Morgan sekaligus untuk duduk di atas pangkuan kanan dan kirinya.

"Ma..mas mau ngapain lagi?!!"pekik panik nya Dereta

"Lepas, Mas kamu mau ngapain" protes Morgan panik dengan pipi merona hebat.

"Kakakmu justru sedang menahan milikku di dalam dirinya, Morgan sayang," potong Wil dengan kekehan rendah yang luar biasa maskulin. Tatapannya mendikte kedua istrinya bergantian.

"Sekarang, diam di sini. Aku mau jatah susuku."

Di atas sofa itu Wil memiringkan kepalanya bergantian, menyesap dan meminum jatah hangat dari dada kedua istrinya dengan sedotan yang menuntut namun manja, mengunci pergerakan mereka seperti memeluk dua bantal guling yang empuk hingga Dereta dan Morgan benar-benar pasrah kelimpungan.

Namun

Setelah puas menuntaskan dahaganya di sofa, binar mata Wil kembali menggelap oleh gairah yang tak ada habisnya.

Ia tidak ingin menyelesaikannya di ruang tengah.

Tanpa membuang waktu, Wil menyelipkan kedua lengan kekarnya yang kokoh di bawah tubuh Dereta dan Morgan secara bersamaan.

Dengan satu hentakan napas yang mantap, Wil mengangkat tubuh kedua istrinya sekaligus ke dalam gendongannya (double bridal style)! Ini adalah pembuktian mutlak atas stamina dan kekuatan fisiknya yang sangat ideal sebagai seorang pria muda sejati.

Ia melangkah mantap menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai atas, mengabaikan cicitan panik yang tertahan dari Dereta dan Morgan yang hanya bisa memeluk leher suaminya erat-erat karena takut jatuh.

Begitu sampai di kamar atas, Wil menurunkan mereka di atas ranjang king-size. Namun, sebelum mereka sempat menjauh, Wil merangkak naik dan mengurung mereka dalam dominasinya. Matanya mengunci tatapan Dereta, mengingatkan wanita itu pada ancamannya di garasi tadi.

Kini, saatnya memulai skenario pamungkas

Dereta mengira sesi melelahkan manja suaminya itu telah usai. Namun, saat punggungnya menyentuh seprai, ia merasakan sesuatu yang asing tersembunyi di dalam dirinya sejak sesi sebelumnya.

Klik.

Detik berikutnya, sebuah getaran hebat yang intens mendadak menyengat dari dalam, membuat tubuh Dereta seketika menegang dan napasnya terputus. Matanya terbelalak menatap wil yang berdiri di tepi ranjang, memegang remote kecil dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi.

"M-mas!... se..sejak kapan kamu—ah! Matikan, kumohon..." rintih Sarah, mencoba merapatkan kedua pahanya untuk meredam sensasi yang menyiksa itu.

Klik!

Klik!

Klik!!!

"AHHHK!"

"ka..Kaka! Kaka kenapa!"pekik panik Morgan melihat Kaka nya terlihat begitu tersiksa memegangi area keintiman nya.

Alih-alih mendengarkan, Wil justru membuka laci meja rias, mengambil seutas dasi sutra hitam miliknya. Dengan gerakan yang tenang namun tak terbantahkan, ia menarik kedua tangan Dereta ke atas kepala ranjang dan mengikatnya kuat-kuat di sana.

"Diam di tempatmu, sayang," bisik Wil dengan suara berat yang menuntut kepatuhan mutlak. "Jangan bergerak sebelum aku selesai."

Wil tidak membiarkan Dereta menikmati sensasi itu sendirian. Ia menarik Morgan yang sudah lemas ke tengah ranjang, memosisikannya tepat di atas nya Dereta yang terikat. Di bawah tatapan mata Dereta yang mengabur oleh gairah, Wil menunduk, langsung mengulum dan memanjakan Morgan dengan intensitas yang kian memuncak.

Krek

Krek

Wil memaksa setiap kancing baju Morgan terhempas jatuh, hingga menampilkan sepenuhnya buah dadanya yang dominan lebih besar dari saudari nya itu.

"Ngh... Kak Dereta!... Ahhk! mas, hentikan..." Morgan mendesah kewalahan, memeluk kepala Wil dengan sisa tenaganya, sementara tubuhnya gemetar hebat menerima rangsangan langsung dari suaminya.

Wil berniat memaksa memasukan miliknya nya sepenuhnya setelah dengan sengaja ia merobek rok nya Morgan

"hooh...kamu sengaja tidak pakai dalaman ya~"goda nya Wil di tengah tengah desahan Dereta yang semakin menjadi-jadi.

"Bu..bukan begitu mas...mas tolong jangan di lanjutin,dan tolong hentikan dulu mesin itu!"Morgan benar-benar memohon pada suaminya karena tak kuasa melihat Kaka nya kelimpungan di hadapannya.

"etss tidak semudah itu Bulan sabit kuh~"

Di sisi lain, Dereta hanya bisa menyaksikan pemandangan intim itu sambil menggigit bibir bawahnya. Setiap kali Morgan melenguh, Wil sengaja menekan tombol remote di tangannya, menaikkan volume getaran di dalam diri Dereta satu tingkat lebih tinggi.

"Aaahhh! Mas hentikan mesin nya!"

jleb jleb jleb!

"aghh!, Ughh! Ma...mas tolong... tolong aku tidak mau pingsan lagi!"sebanyak apapun Morgan memohon suami nya tak akan dengan dan akan terus memasukan miliknya di sana

Rasa panas menjalar ke seluruh perut Dereta, membuatnya frustrasi karena tangannya yang terikat dasi sama sekali tidak bisa bergerak bebas untuk mencari pelepasan.

Begitu Morgan mencapai batasnya!

"AHHHK! MAS!"

Dan tersungkur lemas di atas dada Dereta, Wil akhirnya menarik diri. Napas pria itu memburu, namun matanya yang gelap menunjukkan bahwa ia belum selesai.

Wil bergeser ke ujung kaki Dereta. Dengan satu tekanan tombol, ia mematikan alat tersebut dan membiarkannya keluar dari keintiman Dereta. Dereta mengembuskan napas lega yang panjang, mengira siksaannya berakhir di sana.

Namun, tatapan Wil berkata lain. Ia membuka sedikit kedua kaki Dereta, merangkak naik dan memosisikan dirinya.

"mas Wil... kumohon, aku sudah tidak kuat..." bisik tangis kecil Dereta pasrah, air mata gairah menggenang di sudut matanya.

Wil tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menunduk, mengecup bibir Dereta sekilas sebelum memberikan satu hentakan kuat yang presisi ke dalam diri istri pertamanya itu.

"AHH—!" Lenguhan Dereta, bergema di keheningan kamar.

Hentakan tunggal itu bukan untuk memulai ronde baru yang panjang, melainkan tanda ketuntasan Wil. Dalam satu dorongan penuh itu, Wil melepaskan seluruh benihnya, membiarkan kehangatan cair itu masuk dan membasahi seluruh isi perut Dereta, persis seperti apa yang ia berikan pada Morgan sebelumnya.

Beberapa saat yang hening mempertahankan milik nya dalam lubangnya Dereta, Wil akhirnya menariknya perlahan perlahan. Ia melepaskan ikatan dasi di tangan Dereta dengan lembut, mengecup pipi kedua istrinya yang kini sudah terpejam kelelahan

Setelah momen intim dan hangat bersama Dereta dan Morgan mereda, kedua istrinya telah tertidur lelap di atas ranjang dengan senyum damai.

Wilgard, mengenakan celana panjangnya, lalu melangkah ke balkon kamar

setelah berjam-jam mereka bercinta kini ternyata sudah malam.

Angin malam yang dingin menyapu dadanya yang telanjang. Wilgard menyulut batang rokoknya, membiarkan asap tipis membumbung ke langit malam yang temaram.

Di antara hembusan asap rokoknya, pikiran Wilgard melayang pada fakta medis yang selalu menghantuinya selama dua tahun terakhir. Pengakuan dokter bahwa ia memiliki masalah kesuburan—bahwa ia adalah seorang pria yang sulit, atau bahkan mustahil, memberi Dereta dan Morgan seorang buah hati. Ada rasa bersalah yang teramat dalam saat ia menatap kedua istrinya yang begitu tulus menyayanginya.

Namun, bayangan obrolan masa lalunya bersama Edwardo Carlous hadir memeluk pikirannya yang gundah

"Hey... tidak apa-apa. Kenyataannya memang tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar menurunkan darah keluarga Carlous, kan? Bahkan aku sendiri bukanlah anak kandung asli keluarga Carlous. Tapi... kita para Carlous tidak ada untuk membeda-bedakan sesuatu yang bersangkutan dengan darah atau keturunan. Kita ada karena kasih sayang keluarga dan solidaritas saudara. Apa pun yang terjadi ke depannya, kita tetaplah satu keluarga."

Wil menyesap rokoknya untuk terakhir kali sebelum mematikannya di asbak. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa syukur. Beban di dadanya perlahan terangkat. Ia berbalik melangkah masuk, kembali ke dalam selimut hangat untuk memeluk kedua "bulan"-nya yang amat ia cintai.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!