NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — Jawaban untuk Pak Hartono

“Pak Hartono, boleh saya jawab satu per satu?”

Raras berdiri di antara tumpukan karung yang masih berbau tinta. Ponsel menempel di telinga, sementara tangan kirinya mencengkeram kotak kayu berisi cap. Di belakangnya, Bram diam tanpa bergerak. Pak Hadi pura-pura menghitung ulang struk, padahal pensilnya tak kunjung bergerak.

“Silakan, Mbak. Saya mendengarkan.”

“Pertama, saya tidak menurunkan harga untuk Pak Danang, dan tidak menaikkannya. Syaratnya sama untuk semua orang: tunai, jaminan bank, atau antre.”

“Itu saya sudah tahu.”

“Kedua, saya tidak pernah meminta pemasok berhenti menjual kepada siapa pun. Pak Kasdi menjual ke CV itu, dan saya tidak menagih uang mukanya.”

“Anda tahu soal Pak Kasdi?”

“Beliau sendiri yang datang bilang, Pak. Beliau menangis.” Raras menelan ludah. Tenggorokannya kering. “Ketiga, saya tidak pernah menjelekkan Pak Danang kepada siapa pun. Kalau Bapak bertanya kepada orang pasar, mereka akan bilang saya diam.”

“Dan dendam?”

Kuku ibu jari Raras menekan kotak kayu. Di belakangnya, Bram bergeser setengah langkah, tetapi tetap diam.

“Pak, saya tidak bisa membuktikan bahwa saya tidak dendam. Itu isi hati, dan Bapak hanya bisa menilainya dari yang saya lakukan.” Suaranya sedikit pecah di ujung kalimat. Ia berhenti sejenak, menunggu suaranya kembali tenang. “Yang bisa saya buktikan, saya mencap karung milik Pak Danang tadi pagi dengan tangan saya sendiri. Bapak boleh bertanya kepada lima puluh orang di gudang ini.”

“Mbak mencap sendiri?”

“Ya, Pak.”

“Padahal Mbak bisa menyuruh orang lain, atau tidak mencapnya sama sekali.”

“Kalau tidak dicap, kontrak itu gugur. Saya tidak mau jadi alasan gugurnya.”

Hening menyelimuti sambungan telepon. Raras mendengar kertas dibalik, disusul bunyi sendok beradu dengan gelas. Ia menggeser ibu jari di tepi kotak kayu, berusaha mengendurkan cengkeramannya tanpa mengalihkan perhatian dari percakapan.

“Mbak Raras.”

“Ya, Pak.”

“Orang yang dendam biasanya tidak mau repot.”

“Saya repot sekali pagi ini, Pak.”

Pak Hartono tertawa pendek. “Baiklah. Sampelnya sudah di truk?”

“Berangkat jam tujuh, Pak. Siang ini sampai.”

“Saya akan membukanya sendiri. Tidak lewat staf.” Nada Pak Hartono kembali datar. “Pak Surya ingin saya memutus kontrak hari ini. Saya tidak suka diburu-buru oleh orang yang tidak punya kontrak dengan saya.”

“Itu hak Bapak.”

“Karena itu, hari Kamis saya undang tiga pihak ke kantor saya di Semarang. Pak Surya, Pak Danang, dan Mbak. Kita duduk bersama, bicara di depan saya.”

“Saya hadir, Pak.”

“Mbak tidak ingin tahu alasannya?”

“Pak Hartono pasti punya pertimbangan.”

“Pertimbangan saya, Mbak, saya ingin dengar tiga orang bicara tanpa perantara.” Pak Hartono berdeham. “Sampai Kamis.”

Telepon terputus. Raras menurunkan ponsel dan baru menyadari telapak tangannya basah. Jemarinya bergetar hingga ponsel itu hampir terlepas. Ia menggenggamnya dengan kedua tangan, lalu menarik napas pelan sebelum berbalik menghadapi orang-orang di gudang.

“Mbak,” kata Hadi lirih. “Kula ngertos, Mbak sampun cukup (saya mengerti, Mbak sudah cukup). Monggo lenggah rumiyin (silakan duduk dulu).”

“Sebentar, Pak.”

“Raras.” Bram melangkah maju satu langkah, lalu berhenti, tetap menjaga jarak. “Anda menjawab dengan baik.”

“Saya hampir menangis, Pak Bram.”

“Saya tahu. Tapi Anda tidak.”

“Itu penting?”

“Dalam kasus begini, ya.” Bram membuka bukunya. “Tolong catat tanggal dan jam telepon tadi, siapa yang bicara, dan apa yang diucapkan. Bukan untuk menyerang. Hanya untuk berjaga-jaga.”

“Pak Bram, saya bukan sedang berperkara.”

“Anda sedang dituduh, Raras.” Suaranya rendah dan lugas. “Tuduhan seperti itu tidak perlu dibantah dengan marah. Cukup dengan catatan.”

“Pak Hadi, tolong ingatkan saya menulis ini nanti.”

“Sampun kula tulis, Mbak (sudah saya tulis).” Hadi mengangkat buku catatannya dengan wajah polos. “Jam enem lewat patang puluh pitu (jam enam lewat empat puluh tujuh). Kula mboten mireng punapa-punapa (saya tidak mendengar apa-apa), nanging kula nyathet (tapi saya mencatat).”

“Pak Hadi.”

“Nggih, Mbak?”

“Kamu mulai mirip Eyang.”

Hadi tersenyum malu dan menunduk menyembunyikan wajah. Bram tertawa singkat, lalu merendahkan suaranya agar hanya Raras yang mendengar.

“Soal pertanyaan saya tadi, Raras. Jangan dijawab karena merasa terpaksa.”

“Saya tidak terpaksa.” Raras meletakkan kotak cap di atas karung. Jemarinya masih bertahan di tutup kayu itu. “Dia suami saya, Pak. Sidang cerai kami baru mulai, dan belum ada putusan.”

“Saya sudah menduga.”

“Anda tidak kaget?”

“Kaget, sedikit. Tapi bukan karena itu.” Bram menutup bukunya. “Saya kaget karena Anda mencap karungnya sendiri, dengan tangan yang tadi hampir gemetar.”

“Itu mengurangi penilaian Pak Bram?”

“Itu menambahnya. Dan karena itu saya tidak akan melangkah satu inci pun sebelum suratnya selesai.”

Raras menahan napas. Ia ingin menjawab, tetapi tak menemukan kalimat yang pas. Akhirnya, ia hanya mengangguk.

“Saya bukan sedang pamit,” sambung Bram. “Saya hanya menyebut batasnya supaya Anda tidak perlu menebak.”

“Saya menghargai itu.”

“Sekarang Anda boleh duduk.”

“Saya berdiri saja.”

“Itu juga boleh.”

Raras baru hendak tersenyum ketika langkah berat terdengar dari arah gerbang.

“Ras.”

Danang berdiri di bawah kusen pintu gudang, kunci truk di tangan, wajahnya pucat. Ia pasti mendengar sebagian percakapan tadi. Tubuhnya terpaku, sementara matanya langsung tertuju pada ponsel di tangan Raras.

“Itu Pak Hartono?”

“Ya.”

“Bapak menelepon dia, kan?”

Raras tidak menjawab.

“Dia bilang apa?”

“Mas, itu urusan antara Mas dan Pak Hartono.”

“Dia bilang kamu dendam, ya?” Suara Danang serak. “Bapak bilang begitu.”

“Kamu mau aku bohong?”

“Tidak.” Danang maju satu langkah, lalu berhenti ketika menyadari Bram ada di sana. Ia mengangguk singkat kepada pengacara itu sebelum kembali menatap Raras. “Boleh aku telepon Pak Hartono sekarang? Tanpa kamu perlu bicara.”

“Mas...”

“Sepuluh detik, Ras. Aku cuma mau satu hal.”

Raras menyerahkan ponselnya. Danang menekan nomor Pak Hartono, menunggu sambungan tersambung, lalu memejamkan mata sebentar ketika suara di seberang terdengar.

“Pak Hartono, saya Danang.”

Raras tak mendengar jawaban dari seberang. Ia hanya melihat jakun Danang bergerak naik turun.

“Saya tahu Bapak tidak punya waktu. Saya cuma mau bilang satu hal.” Danang membuka mata. “Yang dendam bukan Raras, Pak. Yang dendam Bapak saya. Dan saya minta maaf karena sampai hari ini saya belum menyuruhnya berhenti.”

Hadi menahan napas. Bram menunduk membaca catatannya.

“Ya, Pak. Saya akan datang Kamis.” Danang mengangguk beberapa kali. “Ya. Saya sendiri. Baik.”

Ponsel itu dikembalikannya dengan kedua tangan. Jari-jarinya dingin dan basah ketika menyentuh punggung tangan Raras, lalu segera menjauh.

“Mas, kamu tidak perlu...”

“Perlu, Ras.” Danang tersenyum lelah. “Itu pertama kali aku membantah Bapak di depan orang lain.”

“Pak Hartono bilang apa?”

“Dia bilang, ‘Baru kali ini saya dengar anak membantah bapaknya tanpa teriak.’” Danang tertawa pendek. “Lalu dia tutup telepon.”

“Itu pujian.”

“Atau peringatan.” Danang menoleh kepada Bram. “Pak Bram, tadi Anda menulis sesuatu. Boleh saya tahu?”

“Catatan jam dan isi telepon, Pak Danang. Untuk berjaga-jaga.”

“Berjaga-jaga dari Bapak saya?”

“Dari siapa pun yang bisa memutarbalikkan cerita.”

Danang mengangguk. Pandangannya sempat jatuh pada kotak cap di atas karung sebelum kembali kepada pengacara itu.

“Ras bilang Anda tidak suka mengorek.”

“Saya tidak suka memaksa orang menjawab.”

“Aku dulu begitu juga, kalau lagi baik.” Danang mengusap tengkuk, tampak canggung. “Sayangnya aku lebih sering memaksa.”

Bram tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Sikap itu justru membuat Danang menunduk lebih dalam daripada jika ia dimaki.

“Kamis, Ras,” kata Danang akhirnya. “Kamu mau berangkat bareng?”

“Aku naik kereta dengan Pak Hadi.”

“Bapak akan membawa pengacara. Pak Haryanto.”

“Aku tahu.”

“Kamu mau Pak Sumarno ikut?”

“Aku datang sebagai pemasok, Mas, bukan sebagai pihak yang berperkara.” Raras merapikan ujung kebayanya. “Kalau Pak Hartono bertanya, aku jawab. Kalau tidak, aku diam.”

“Pak Bram?” Danang menoleh ragu. “Kalau Anda...”

“Saya hanya penasihat dokumen tanah keluarga, Pak Danang. Urusan Semarang bukan wilayah saya, kecuali Raras memintanya.”

“Saya tidak meminta,” jawab Raras cepat. Ia kemudian melunakkan suaranya. “Tapi saya akan menelepon kalau bingung.”

“Itu cukup.”

Danang melirik mereka bergantian. Ia tidak berkomentar. Kunci truk diselipkannya ke saku, lalu ia mengangguk sekali dengan kaku, seperti orang yang baru memahami bahwa ia berdiri di tempat yang sudah bukan miliknya.

“Truknya siap, Pak Danang!” teriak Pak Broto dari halaman. “Dados mangkat sakmenika (jadi berangkat sekarang)?”

“Sebentar, Pak.” Danang kembali memandang Raras. “Ras, kamu sudah sarapan?”

“Belum.”

“Makan dulu. Jangan seperti aku kemarin.”

“Aku akan makan.”

“Janji?”

“Janji, Mas.”

Ponsel Danang sendiri bergetar di saku. Ia mengeluarkannya, melihat layar, lalu mengatupkan rahang. Satu kata tertera di sana: Bapak.

Danang memperlihatkan layar itu kepada Raras, kemudian menekan tombol merah.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!