NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Setelah memastikan seluruh urusannya selesai, Dikta kembali ke sungai tempat Arini menghilang. Ia melangkah pelan, mengusap pangkal hidungnya yang terasa pening.

"Maafkan aku," lirihnya parau. Detik itu juga, seluruh pertahanan dan ego besarnya runtuh. Lututnya melemas begitu saja, membuat tubuh kekar yang biasanya ditakuti banyak orang kini bersimpuh tak berdaya di atas tanah.

***

Sementara di tempat lain, sosok wanita sedang terbaring lemah di atas ranjang. Sudah tiga hari aku hanya berbaring tanpa melakukan aktivitas seperti biasanya. Wanita tua yang membantuku begitu telaten mengurus ku.

"Bu, bisakah tolong bangunkan aku?" Tubuhku terasa sakit semua akibat dibawa arus beberapa hari lalu.

"Jangan Nak, kamu belum sembuh betul," pinta Bu Sumi menahannya. Wanita itu tersenyum sambil menahan lenganku agar tidak bergerak. Ia mengusap tubuh ku dengan air hangat agar peredaran ku lancar.

"Tapi aku sudah merepotkan Ibu?" lirihku tak terima. Aku pikir, malam itu menjadi malam terakhir aku melihat Dikta dan Arkan, ternyata tidak. Aku masih dipanjangkan umur lalu dipertemukan dengan sosok Bu Sumi yang begitu tulus merawat ku.

Beberapa hari ini, aku tak putus asa. Aku terus saja mencoba untuk melangkah. Tepat Bu Sumi pulang dari kerjanya, aku memperlihatkan jika aku sudah bisa menggerakkan kakiku.

"Ibu, lihatlah! Aku sudah bisa berjalan," teriakku.

"Alhamdulillah, Ibu senang melihatnya," ucapnya sambil meletakkan plastik berisi makanan yang dibelinya tadi hasil penjualan dari barang bekas.

"Terimakasih, Ibu sudah merawat ku," lirihku menatap wajahnya di penuhi rasa lelah.

Bu Sumi tersenyum tipis. Ia mengusap puncak kepala, seolah aku anak perempuannya. "Kamu tak perlu berterimakasih seperti itu. Ibu senang bisa membantu mu."

Aku menunduk, haru. Butiran manik menampung di kelopak mata ini. "Ibu adalah orang pertama yang tulus padaku," lirihku.

Bu Sumi tampak terkejut. Ia menatap manik mataku yang berkaca-kaca, seolah sedang membaca pikiran wanita muda di hadapannya. "Apa malam itu kamu dibunuh seseorang?"

Aku tidak bisa menjawab. Air mataku lolos seketika. Tubuhku bergetar hebat. "Sudah, jangan menangis lagi. Ibu tak tahu apa yang terjadi padamu malam itu. Kamu tak perlu menceritakan sekarang. Ibu akan tunggu, sampai kamu siap," pintanya mengusap air mataku dengan jarinya.

Sejak itu, aku merasa sosok Bu Sumi seperti malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untukku. Pagi ini aku berencana ingin ikut membantunya bekerja untuk mencari barang bekas di lorong-lorong jalan.

"Ibu.. lihat aku!" teriakku berlari ke arahnya.

"Kamu serius mau ikut Ibu?" Bu Sumi menarik lenganku. "Di sana itu banyak pria hidung belang. Ibu takut kamu diapakan oleh mereka," bisiknya.

Aku membulat mata, lalu menatap dalam wajahnya. "Ibu serius?"

"Iya Nak. Ibu tak ingin kamu jadi korban berikutnya. Orang lemah seperti kita tak punya kekuatan untuk melawan anak buah Carlos yang kejam itu," bisiknya lagi.

"Tapi bagaimana dengan Ibu?" Aku mengkhawatirkan kondisinya.

"Ibu sudah terbiasa. Sebaiknya kamu di rumah saja," pintanya lalu menarik ku masuk ke dalam rumah.

Baru saja aku ingin menutup pintu. Sekelompok orang mendekati Bu Sumi. "Hei wanita tua! Mana uang yang kamu janjikan kemarin?"

"Maaf. Aku belum punya uang, Bos Jon. Beri aku waktu lagi." Bu Sumi memelas, memohon Agar diberi kelonggaran.

"Dengarkan aku! Waktu mu sudah habis. Mana uangnya!" bentak salah satu dari mereka. Tanpa rasa kemanusiaan, pria berjaket hitam itu menolak tubuh Bu Sumi hingga bokongnya terhempas di tanah.

Jantungku berdetak kencang. Aku tak terima Bu Sumi diperlakukan kasar oleh mereka. Tanpa berpikir panjang, aku melangkah mendekati mereka. "Kenapa kalian tega memperlakukan Bu Sumi seperti itu?" ketus ku dengan amarah yang tak bisa ditahan.

"Siapa kau?" Pria bernama Jon itu melirik sekilas, lalu menatap Bu Sumi," Apa dia putrimu?"

Bu Sumi menggeleng kepala dengan mata yang berkaca. "Tolong jangan apakan dia!"

Jon tersenyum sinis. "Kalau kau punya berlian seperti ini, kenapa dianggurin? Setidaknya dia bisa menembus utangmu itu dengan... "

Plak

"Maksudmu berbicara seperti itu apa? Kau pikir aku wanita murahan?" Aku membentaknya lantaran ia kurang ajar. Bisa-bisanya ia merendahkan aku. Keberanian ku muncul bukan tanpa sebab, melainkan rasa trauma yang memaksaku untuk menjadi wanita yang kuat.

"Nak, jangan berbicara begitu pada mereka," pinta Bu Sumi langsung menarik lenganku agar tidak nekat melakukan hal yang buruk. Dan itu bisa memicu masalah baru.

Jon mengusap pipinya yang memerah. Ia merasa wanita ini sangat berbeda, hingga membangkitkan rasa penasarannya sebagai seorang pria.

"Santai saja, Bu Sumi. Aku bukan tipe pria yang membalas pada wanita lemah seperti dia. Baiklah, aku akan memberi kalian waktu lagi. Tiga hari! Jika dalam tiga hari, kau gagal melunasi utang Bu Sumi, maka aku tak kan segan melaporkan hal ini pada bos besar, bagaimana?" Jon tersenyum, ia ingin melihat reaksi ku.

"Aku setuju."

Aku menerobos masuk ke dalam rumah. Di sana, Bu Sumi langsung menunduk lemas. Ia merasa menyesal karena mengeretku dalam kehidupannya."Kamu tahu, Nak? Tiga hari tidak akan mampu kamu melunasi utang Ibu."

"Apa maksud Ibu?" Aku memegang pundak, demi meyakinkan bahwa aku bisa menyelesaikan masalah ini. "Ibu meragukan aku?"

Bu Sumi mendongak," Bukan begitu maksud Ibu. Utang Ibu itu besar, Nak. Kamu tak kan mampu mencari uang dia juta dalam waktu tiga hari."

"Dua juta?" Aku terpaku mendengar nominal itu. Yang dikatakan Bu Sumi memang benar. Tubuhku langsung melemas. Rasa emosi yang sudah memuncak tadi, membuat aku tak berpikir panjang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!