NovelToon NovelToon
Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.

"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."

​Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegasan Nyonya Valora

Suasana di dalam mobil Rolls-Royce milik Arka yang membelah jalanan malam Jakarta, terasa jauh lebih santai. Keanggunan dan ketegasan yang baru saja dipamerkan Elara di depan Siska, seketika menguap, berganti dengan cengiran lebar khasnya, begitu pintu mobil tertutup rapat.

Elara menyenggol lengan Arka, menatap suaminya dengan mata berbinar-binar.

"Mas Arka! Gimana tadi? Keren banget, kan, Ara?" seru Elara dengan nada bangga yang kekanak-kanakan. "Si Siska langsung kicep! Kakinya sampai mundur-mundur gitu kayak kepiting."

Arka yang tadinya sedang fokus menatap pekerjaan di layar iPad, seketika tertawa geli. Gelengan kepalanya menandakan betapa gemasnya dia pada perubahan sikap istrinya yang secepat kilat.

"Iya, Nyonya Valora," ujar Arka seraya merengkuh bahu Elara dan menariknya mendekat. "Kamu keren sekali. Saya sampai takjub melihat istri saya bisa bicara sepedas itu."

"Hehe! Kan, Ara belajar dari Mas Arka," sahut Elaranya, seraya menyandarkan kepalanya di dada Arka. "Lagian Ara capek dihina terus. Ara cuma mau pamer kalau suami Ara itu pria paling hebat di dunia."

Arka tersenyum pekat, mengecup puncak kepala Elara, seolah tak mau sudah. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama, saat tiba-tiba telepon genggam Arka bergetar. Nama Bagas kembali muncul di layar.

"Ada perkembangan baru, Bagas?" tanya Arka begitu mengangkat panggilan. Suaranya berubah dalam hitungan detik, menjadi CEO yang dingin.

"Pak Arka, Raymond Wijaya sudah mengonfirmasi kehadirannya di RUPSLB besok pagi," lapor Bagas di balik telepon. "Dia membawa tim kuasa hukum internasional dan sudah berhasil memengaruhi beberapa pemegang saham independen. Mereka berencana melakukan voting untuk membekukan hak suara Mbak Elara, atas saham mayoritas Valora."

"Mereka pikir mereka bisa menyentuh posisi Elara?" desis Arka dingin, kilatan amarah tampak di mata tajamnya.

Elara yang mendengar percakapan itu mendongak. Dia mengusap lembut rahang Arka yang mengetat keras. "Mas Arka, rapat besok soal saham milik Ara, kan?"

Arka mematikan teleponnya, lalu menatap Elara dengan lembut. "Iya, Sayang. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Kamu cukup tinggal di penthouse besok, biar saya dan tim hukum yang membereskan manusia bernama Raymond itu."

Elara menggeleng cepat. "Nggak mau! Pokoknya besok Ara mau ikut!"

Arka mengernyitkan dahi. "Elara, rapat besok akan sangat panas. Orang-orang seperti Raymond tidak punya etika. Saya tidak mau kamu merasa tertekan atau terluka."

"Mas..." Elara memegang kedua pipi Arka, menatap mata suaminya dengan tatapan paling meyakinkan. "Tadi di tempat reuni, Mas Arka bilang Ara punya keberanian. Kalau Ara cuma sembunyi di balik punggung Mas Arka, orang-orang jahat itu bakal makin mikir Ara ini lemah dan cuma manfaatin Mas Arka. Ara mau berdiri di samping Mas Arka. Ara mau tunjukkan kalau saham itu memang warisan yang pantas Ara jaga."

Arka terpaku. Ditatapnya wajah polos yang kini terpancar keteguhan luar biasa. Ada kebanggaan yang meletup-letup di dalam dadanya. Pria itu akhirnya tersenyum tipis sambil mengangguk perlahan.

"Baiklah. Tapi ada satu syarat," bisik Arka di depan bibir Elara.

"Apa syaratnya?"

"Nanti malam kamu harus turuti semua kemauan suamimu tanpa alasan malu lagi."

Mata Elara membelalak kaget. "Mas Arka! Ambil kesempatan dalam kesempitan banget, sih!" teriak Elara seraya menutupi wajahnya yang merah padam. Membuat tawa Arka lepas mengisi seluruh ruangan mobil.

Keesokan harinya, lantai paling atas Gedung Valora Group dipenuhi oleh atmosfer yang mencekam. Puluhan wartawan media bisnis berkumpul di lobi luar. Sementara, di dalam ruang rapat utama, puluhan pemegang saham dan jajaran direksi sudah duduk memadati meja oval besar.

Di ujung meja, seorang pria berambut perak dengan garis wajah keras dan tatapan angkuh duduk dengan tenang. Raymond Wijaya. Senyum kemenangannya terkembang, saat melihat beberapa investor independen mengangguk setuju pada draf tuntutan yang disiapkannya.

Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar.

Seluruh ruangan mendadak hening. Arka melangkah masuk dengan aura dominan yang membekukan udara, mengenakan setelan jas hitam elegan. Namun yang membuat seluruh hadirin menahan napas adalah sosok wanita anggun yang berjalan di sampingnya.

Elara melangkah dengan tegap, mengenakan blazer formal berwarna abu-abu elegan yang dipadu dengan rok senada. Rambutnya disanggul rapi, memancarkan pesona pimpinan wanita yang berwibawa namun tetap anggun. Tidak ada lagi raut gadis polos yang ketakutan. Yang ada hanyalah pemegang saham mayoritas mutlak Valora Group.

Raymond menyipitkan matanya, tatapannya menancap tajam pada Elara. "Ah, selamat datang, Pak Arka... dan gadis kecil yang kebetulan beruntung memiliki nama Valora."

Arka hendak maju membalas, namun Elara memegang lembut lengan suaminya, memberinya isyarat bahwa kali ini dialah yang akan mengambil kendali.

Elara menarik kursi utama di kepala meja rapat, kursi khusus pemilik saham terbesar, dan duduk dengan anggun. Dipandangnya Raymond tepat di manik matanya dengan senyuman tipis yang tenang.

"Terima kasih atas sambutannya, Tuan Raymond Wijaya," ujar Elara dengan suara jernih yang bergema tegas di seluruh ruangan. "Saya dengar, Anda sangat bernafsu bertemu dengan saya, sampai-sampai harus membeli sisa-sisa saham minoritas di pasar bebas demi mengadakan rapat ini?"

Raymond terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jangan bersikap seolah Anda paham bisnis, Anak Muda. Kepemilikan saham lima puluh lima persen di tangan seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara membaca laporan keuangan, adalah ancaman besar bagi masa depan Valora. Kami di sini menuntut pembekuan hak suara Anda!"

Para investor yang terpengaruh Raymond mulai berbisik-bisik mendukung.

Elara tidak panik sedikit pun. Dia meraih sebuah map dokumen tebal dari tangan Bagas yang berdiri di belakangnya. Lalu segera melemparkannya tepat ke tengah meja di hadapan Raymond.

"Sebelum Tuan Raymond berbicara soal masa depan Valora," potong Elara dingin, tatapannya berubah tajam seketika, "mungkin ada baiknya Tuan menjelaskan dulu aliran dana ilegal Aegis Group dari Singapura, sebesar lima ratus miliar yang digunakan untuk memanipulasi harga saham Valora minggu lalu. Termasuk berkas sabotase kebakaran klinik persalinan tiga puluh tahun lalu yang baru saja diajukan tim hukum kami ke markas kepolisian."

Wajah angkuh Raymond seketika pucat pasi. Senyum kemenangannya lenyap tanpa sisa saat membaca judul dokumen tebal berstempel kepolisian di hadapannya.

Seluruh ruang rapat gempar seketika.

Arka menyunggingkan senyum puas, melipat tangannya di dada seraya menatap Raymond yang mendadak gemetar.

"Persetan dengan gertakanmu!" geram Raymond, berdiri dari kursinya. "Kamu cuma anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa!"

"Saya memang anak kemarin sore, Tuan Raymond," balas Elara tenang, berdiri dari kursinya dengan dada tegap. "Tapi saya adalah pemilik sah Valora Group. Dan sebagai pemegang saham mayoritas, detik ini juga, saya membatalkan seluruh tuntutan Anda dan mencabut hak akses Aegis Group dari seluruh lini bisnis Valora."

Elara menatap pengawal yang bersiap di pintu. "Bawa Tuan Raymond keluar. Pihak kepolisian sudah menunggu beliau di lobi bawah."

1
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
gadis bucin: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rian Moontero
lanjooott👍😍
gadis bucin: pantengin terus updatenya, ya, kak. 🤗❤️
total 1 replies
Putry Chan
untung dia masih waras ya walaupun kaya raya tapi dia udh tua punya bini lagi , ogah lah 🤣
gadis bucin: iyaa bener 🤣🤣🤣
total 1 replies
Putry Chan
buset pria kaya tua bangka pengen nikah
gadis bucin: nikah lagi tepatnya, kak 🤭
total 1 replies
gadis bucin
Kalau suka jangan lupa like dan komen, ya. Terima kasih untuk dukungannya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!