Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diantara Keheningan Malam
Suara dengkur halus Azka yang tertidur lelap menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan kontrakan kecil itu. Bocah tiga setengah tahun itu tampak begitu damai, memeluk boneka beruang lusuhnya dengan tangan mungil yang perlahan tak lagi mencengkeram erat.
Sedikit demi sedikit Alea melonggarkan pelukan tangan Azka di lengannya. Ia bergerak sangat perlahan agar tidak membangunkan sang putra, lalu membetulkan letak selimut tipis yang menutupi tubuh mungil itu.
Alea kemudian memutarkan tubuhnya sedikit, menatap sosok Adrian yang masih duduk bersandar di dinding semen kusam dekat tepi kasur.
"Dia sudah tidur. Kalau kamu ingin pulang, silahkan," ucap Alea kepada Adrian dengan suara berbisik, amat pelan agar tidak mengusik lelapnya Azka.
Adrian mengalihkan pandangannya dari wajah lelap Azka menuju mata Alea. Ada ketenangan yang begitu asing di matanya—jauh berbeda dari raut dingin nan tegas yang biasa menyelimuti dirinya di dunia luar.
"Aku menyewa penginapan di dekat sini, anak buahku ada di sana," balas Adrian lirih, menjawab keraguan Alea akan keberadaannya malam ini.
Alea mengangguk pelan. Momen itu terasa sangat canggung, namun beban berat yang menggantung di dadanya selama bertahun-tahun perlahan terasa sedikit terangkat.
"Terima kasih... karena sudah menolongnya di kolam tadi pagi," bisik Alea tulus, menyapu sisa rasa trauma yang sempat membayangi pikirannya sewaktu Azka menghilang.
Adrian mengulas senyum tipis—sebuah senyuman langka yang hampir tak pernah dilihat oleh siapa pun di dunia bawah tanah. "Aku hanya menjalankan kewajibanku yang terlambat empat tahun, Alea. Kamu tidak perlu berterima kasih."
Adrian perlahan berdiri, menyesuaikan tinggi tubuhnya di dalam ruangan yang serba terbatas itu. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut, lalu membungkuk sebentar untuk mengecup lembut dahi Azka yang sedang bermimpi indah.
Ia menatap Alea sekali lagi dengan tatapan penuh kepasrahan dan komitmen yang tak tergoyahkan.
"Istirahatlah. Besok pagi aku akan datang lagi untuk mengantar Azka ke sekolah," ucap Adrian pelan sebelum melangkah keluar dengan sangat hati-hati, menutup pintu kayu kontrakan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Alea merebahkan tubuhnya kembali di samping Azka di atas kasur tipis. Di tengah kegelapan malam pinggiran kota, Alea menatap langit-langit kontrakan dengan perasaan campur aduk. Babak baru di hidupnya dan Azka telah dimulai, dan untuk pertama kalinya setelah empat tahun penuh kesendirian, Alea merasa tidak lagi bertarung sendirian.
Adrian melangkah keluar dari kontrakan kecil itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Udara malam pinggiran kota yang dingin mengusap wajahnya, namun hangat di dalam dadanya tak jua padam. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, belenggu penyesalan yang menyiksa jiwanya perlahan terurai.
Adrian merasa lega dan kemudian kembali ke penginapan.
Langkah kakinya yang mantap menyusuri gang sempit membawanya menuju homestay tempat Rian dan beberapa anak buahnya telah bersiap. Di luar penginapan sederhana itu, Rian berdiri sigap menyambut kedatangan sang atasan. Tangan kanannya itu sempat tertegun melihat raut wajah Adrian—tak ada lagi aura dingin nan muram yang biasanya pekat menyelimuti sang ketua mafia, melainkan ketenangan yang amat langka.
"Bos..." panggil Rian pelan sembari membukakan pintu penginapan.
"Siapkan semuanya untuk besok pagi, Rian," perintah Adrian dengan suara berat yang kini memancarkan kepastian mendalam. "Aku akan mengantar putraku ke sekolah secara pribadi."
"Baik, Bos. Semua kebutuhan dan pengawalan jarak jauh sudah disiapkan," jawab Rian patuh.
Memasuki kamar homestay, Adrian melepas jasnya dan melemparkannya ke atas kursi. Ia melangkah ke dekat jendela, menatap ke arah pemukiman padat di mana Alea dan Azka sedang terbuai dalam mimpi. Malam ini, di atas tempat tidur sederhana penginapan itu, Adrian memejamkan mata dengan damai—menanti datangnya fajar untuk memulai perannya yang baru sebagai seorang ayah.