NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panik

Arsen terus mencium Keira dengan intens, seolah enggan memberikan kesempatan bagi perempuan itu untuk menjauh darinya.

Napas Keira mulai tersengal. Dadanya terasa sesak karena ia hampir kehabisan udara. Apa dia mau membunuhku?! Aku bahkan sudah hampir tidak bisa bernapas! gerutunya dalam hati.

Kali ini, Keira tidak lagi menahan diri. Ia mendorong dada Arsen sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung dan mundur beberapa langkah. Napasnya memburu, wajahnya memerah, sementara sorot matanya memancarkan kemarahan yang tak lagi mampu ia bendung.

"Berani banget kamu mencium bibir aku!" bentaknya.

Tanpa menunggu jawaban, Keira kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi ke dada pria itu.

Arsen mengernyit, berusaha menangkis tangan Keira yang terus menghujaninya dengan pukulan.

"Akh! Keira, sakit!" serunya sambil meringis.

Namun, Keira sama sekali tidak berniat menghentikan aksinya. Baginya, perbuatan Arsen bukan sekadar tindakan semena-mena. Pria itu telah melewati batas dan menginjak harga dirinya, sesuatu yang selama ini selalu ia perjuangkan mati-matian.

Tiba-tiba—

"Keiraaa!"

Sebuah suara terdengar dari luar kamar. Suaranya memang terdengar samar, tetapi cukup jelas untuk membuat Keira tersentak.

Tubuhnya seketika menegang. Tangan yang semula terangkat untuk memukul Arsen langsung terhenti di udara. Ia menoleh ke arah pintu dengan mata membulat.

"Itu... suara mereka?" bisiknya nyaris tak terdengar.

Keira kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arsen. Wajahnya berubah panik, membayangkan apa yang akan terjadi jika teman-temannya mengetahui keberadaannya di tempat itu.

"Mereka lagi nyari aku! Gimana kalau mereka tahu aku ada di sini?" tanyanya gelisah.

Berbeda dengannya, Arsen justru tampak begitu santai. Bahkan, tidak terlihat sedikit pun kekhawatiran di wajah pria itu.

"Biarkan saja mereka tahu," jawabnya datar.

Keira mengernyit, tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu. "Tahu apa?"

Arsen menatapnya lekat-lekat sebelum menjawab dengan tenang, "Kalau kamu itu istri aku."

Mendengar jawaban tersebut, kemarahan Keira kembali tersulut. "Gak sudi!" sahutnya spontan.

Ia segera berbalik dan bergegas menuju pintu, berniat keluar sebelum teman-temannya menemukan tempat itu. Namun, belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, Arsen lebih dahulu meraih pergelangan tangannya.

"Jangan keluar!" perintahnya.

"Lepasin aku! Kamu sudah gila, ya?! Kalau mereka sampai melihat kita, gimana?!" Keira meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman pria itu.

Akan tetapi, Arsen tak menghiraukan nya. Cengkeramannya tidak mengendur sedikit pun.

"Kamu tetap di sini. Biar Pak Salim yang mengurus semuanya," ujarnya tegas.

Suaranya terdengar rendah, tetapi mengandung ketegasan yang sulit dibantah. Arsen seolah sudah memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Baginya, situasi di luar sana bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Sementara itu, di luar kamar, Pak Salim berdiri tidak jauh dari pintu. Sesekali, telinganya menangkap suara samar dari dalam ruangan. Namun, ia sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan.

Sebaliknya, pria itu justru menyunggingkan senyum tipis yang menyimpan makna tersendiri.

Di satu sisi, keadaan justru semakin kacau.

"Keira!" teriak Rina dengan suara yang mulai dipenuhi kepanikan.

Kevin ikut berlarian ke berbagai sudut, berusaha menemukan keberadaan teman mereka.

"Keira! Kamu di mana?! Jawab, Kei!"

Mereka memeriksa setiap tempat yang memungkinkan untuk didatangi Keira. Namun, hasilnya tetap nihil. Perempuan itu benar-benar tidak ditemukan.

Kecemasan yang sejak tadi mereka rasakan perlahan berubah menjadi ketakutan. Mereka mulai memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin menimpa Keira.

Di tengah kebingungan tersebut, mereka akhirnya berpapasan dengan Pak Salim.

"Pak! Keira hilang!" seru Rina dengan napas terengah-engah.

Pak Salim menoleh, memperlihatkan ekspresi tenang seolah kabar tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

"Hilang bagaimana? Jangan-jangan kalian hanya terlalu panik," katanya santai.

Kevin segera menggeleng. "Kami sudah mencari ke mana-mana, Pak. Tapi dia benar-benar gak ada!"

Pak Salim mengembuskan napas perlahan, kemudian menatap mereka satu per satu.

"Sebaiknya kalian kembali ke kontrakan. Besok pagi, Keira pasti sudah kembali."

"Pak, ini bukan masalah sepele!" Kevin mulai kehilangan kesabarannya. "Teman kami menghilang malam-malam begini. Bagaimana kami bisa tenang?!"

"Saya juga tidak sedang bercanda," balas Pak Salim dengan nada serius. "Sekarang sudah malam. Kalian mau mengambil risiko dengan terus berkeliaran di luar?"

Salah seorang mahasiswa mengernyit, merasa penasaran sekaligus khawatir.

"Risiko apa, Pak?"

Pak Salim tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih kepada mereka satu per satu, seolah memastikan bahwa setiap orang benar-benar mendengarkan perkataannya.

"Penunggu desa ini tidak suka kalau ada orang yang berkeliaran pada malam hari."

Seketika, suasana berubah sunyi. Beberapa mahasiswa saling berpandangan. Bulu kuduk mereka meremang, membayangkan sesuatu yang tidak kasatmata tengah mengawasi mereka dari kegelapan.

"Pak... jangan menakut-nakuti kami, deh," gumam Rina dengan suara lirih.

"Saya tidak sedang menakut-nakuti kalian. Saya hanya memperingatkan."

Keseriusan yang terpancar dari wajah Pak Salim membuat mereka semakin sulit membantah. Pada akhirnya, mereka terpaksa mengurungkan niat untuk mencari Keira lebih jauh. Dengan perasaan tidak tenang dan pikiran yang dipenuhi berbagai pertanyaan, mereka kembali ke kontrakan.

Malam itu, tak seorang pun benar-benar merasa tenang. Karena Keira masih belum ditemukan.

....

Di dalam kamar—

"Aman," ucap Arsen singkat setelah memastikan keadaan di luar.

Keira langsung menoleh tajam ke arah Arsen. "Aman dari mana?! Mereka sedang mencari aku!"

"Sudah ada yang mengurusnya," jawab Arsen tanpa menunjukkan kekhawatiran.

"Aku gak mau berada di sini!"

Arsen mengembuskan napas panjang, seolah mulai kehabisan kesabaran menghadapi sikap istrinya.

"Atau kamu mau aku menelepon Mama kamu?"

Keira mendengus kesal. "Kamu itu hobinya ngadu, ya?!"

"Aku hanya menjalankan tanggung jawabku," balas Arsen tenang.

Keira terdiam selama beberapa detik. Ia tampak memikirkan sesuatu sebelum akhirnya kembali menatap pria di hadapannya.

"Terus... soal yang tadi?"

Arsen mengerutkan kening. "Soal apa? Ciuman tadi."

Suasana mendadak hening. Arsen tidak segera memberikan jawaban. Ia hanya menatap Keira sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya seolah enggan membicarakan kejadian tersebut.

Keira melangkah mendekat, menuntut penjelasan yang sejak tadi belum juga ia dapatkan.

"Katanya kamu jijik sama aku. Jadi, kenapa kamu mencium aku?"

Arsen memalingkan wajahnya. "Aku sedang terbawa emosi."

"Emosi?" Keira terkekeh sinis. "Jadi, kalau kamu sedang emosi, kamu boleh seenaknya mencium aku?"

Arsen memilih diam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada pula penjelasan yang mampu memuaskan Keira.

"Oh, masuk akal sekali," sindirnya dengan senyum getir.

Arsen mulai kehilangan kesabaran. Ia menatap Keira dengan raut wajah yang mengeras.

"Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?"

"Aku cuma ingin kamu sadar!" jawab Keira cepat, suaranya meninggi. "Sejak awal, kamu selalu menyakiti aku! Apa kamu gak pernah berpikir bagaimana perasaanku?!"

Ucapan itu membuat Arsen terbungkam. Untuk sesaat, ia tidak mampu menemukan kata-kata untuk membalasnya.

Sementara itu, Keira sudah terlalu lelah untuk melanjutkan pertengkaran mereka. Tanpa menunggu tanggapan Arsen, ia berbalik, menaiki kasur, lalu membaringkan tubuhnya membelakangi pria itu.

Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, berusaha menyembunyikan wajah yang mulai dibasahi air mata.

Namun, isak tangisnya tetap terdengar di tengah kesunyian kamar.

Pelan. Tertahan. Tetapi cukup untuk membuat Arsen menyadari betapa hancurnya perasaan perempuan itu.

Arsen berdiri mematung, menatap punggung Keira tanpa tahu harus berbuat apa.

Kalau dia sampai mengetahui semuanya...

...

Di luar sana, Kevin masih terus berjalan menyusuri jalanan desa.

Langkahnya semakin cepat, sementara matanya sibuk mengamati setiap sudut yang dilewatinya.

"Keira! Kamu di mana?!"

Ia terus memanggil nama perempuan itu, berharap mendapatkan jawaban dari arah mana pun.

Peringatan Pak Salim mengenai larangan berkeliaran pada malam hari sama sekali tidak lagi dipedulikannya.

Baginya, menemukan Keira jauh lebih penting daripada memikirkan bahaya yang mungkin mengintai.

Namun, semakin jauh Kevin melangkah, semakin sunyi pula keadaan di sekitarnya. Tidak ada suara manusia. Tidak ada pula tanda-tanda keberadaan mahasiswa lain.

Hanya jalanan gelap dan pepohonan yang berdiri menjulang di sepanjang jalan. Kevin terus berjalan tanpa menyadari satu hal penting.

Ia telah tersesat.

...

Pagi akhirnya tiba, membawa cahaya matahari yang perlahan menyusup melalui celah-celah jendela.

Suasana kamar yang semula sunyi mendadak dipecahkan oleh suara ketukan pintu.

Tok! Tok! Tok!

"Pak Arsen..."

Suara Pak Salim terdengar dari luar, memanggil penghuni kamar dengan sopan.

Di atas kasur, Keira mulai membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadaran setelah tidur semalaman.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal. Tubuhnya terasa hangat, bahkan sedikit terlalu hangat untuk ukuran udara pagi itu. Keira mengernyit, kemudian perlahan menoleh ke samping.

Dan detik berikutnya—

"Aaaah!"

Teriakannya langsung memenuhi kamar. Arsen sedang memeluknya dengan erat! Bukan hanya itu, kepala pria tersebut bahkan bersandar nyaman di dadanya, seolah itu merupakan tempat ternyaman di dunia.

Wajah Keira seketika memerah. Dengan gerakan refleks, ia segera mendorong kepala Arsen menjauh.

"Bangun!"

Arsen membuka matanya perlahan. Alih-alih merasa bersalah, pria itu justru menatap Keira dengan ekspresi mengantuk yang menyebalkan.

"Kenapa, sih?" tanyanya santai.

Keira hampir tidak percaya dengan sikapnya. "Kenapa?! Kamu masih berani bertanya kenapa?!" serunya sambil menunjuk posisi mereka.

Arsen melirik sekilas ke arah tubuh mereka yang masih berdekatan, lalu kembali menatap Keira tanpa merasa ada sesuatu yang salah.

"Memangnya kenapa? Biasa saja."

"Biasa saja katamu?!"

"Iya." Arsen menjawab singkat, kemudian menarik selimutnya sedikit lebih tinggi.

"Dingin."

Keira melotot tak percaya. "Jangan mengarang alasan!"

Sebelum Arsen sempat membalas, ketukan pintu kembali terdengar.

Tok! Tok! Tok!

"Pak Arsen? Apa Bapak sudah bangun?" panggil Pak Salim dari luar.

Keira langsung panik. Ia menoleh ke arah pintu, kemudian buru-buru menatap Arsen.

"Jangan dijawab dulu!" bisiknya penuh kecemasan.

Namun, Arsen sama sekali tidak mengindahkan permintaannya. Dengan santai, ia mengangkat kepalanya dan bersiap menjawab panggilan dari luar.

Keira langsung membelalakkan mata. Pria itu benar-benar membuatnya ingin meledak karena kesal!

.....

Like

Komen

Vote

Love you all

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!