Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: CLARISSA MAU DEKETIN VION DI PENTHOUSE
Di lantai bawah Vantec Tower, Clarissa menatap bayangan dirinya di pantulan pintu kaca lift. Seragam cleaning service abu-abu kini melekat di tubuhnya, kontras dengan masa lalunya yang dulu selalu pakai gaun designer tiap injak gedung pencakar langit.
Tapi tekad di kepalanya jauh lebih gelap dari rasa malu di dadanya.
"Aku tidak boleh selamanya jadi pesuruh rendahan di sini," batin Clarissa penuh ambisi licik. "Vion... Presdir Vion Mahardika yang kaya raya dan berkuasa mutlak itu, dulu nyaris bertekuk lutut di hadapan ku sebelum dia balik lindungi Alesha. Kalau aku bisa rebut perhatiannya sekali saja malam ini di penthouse, posisi ku akan balik. Alesha bisa tersingkir!"
Sore itu, jadwal bersih rutin bawa dia naik ke koridor eksklusif lantai 85 sampai 99, area privat kediaman Presdir. Dengan keranjang alat pel di tangan dan senyum palsu di bibir, Clarissa nunggu celah.
Peluang itu datang menjelang pukul sembilan malam. Lift pribadi dengan pengaman biometrik berdenging pelan. Pintu terbuka di lantai 99. Clarissa ngintip dari balik dinding pantry, Vion terlihat jalan sendiri keluar dari ruang kerja pribadinya menuju balkon kaca raksasa, lepas jas hitamnya dan sampirkan di sofa kulit putih. Rupanya Alesha sudah tidur duluan di kamar utama karena kelelahan hamil muda.
Jantung Clarissa berdegup kencang. Ini kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan. Dengan langkah sepelan mungkin, ia taruh alat pelnya di dekat pintu koridor, rapikan sedikit kerah seragam kerjanya biar lehernya tampak lebih terbuka, lalu ambil segelas air es dingin di nampan kecil.
Ia jalan dekati pintu kaca balkon dengan senyum paling memikat yang bisa ia buat.
"Permisi, Tuan Vion..." suara Clarissa sengaja dibuat semanis dan sekecil mungkin, sarat getaran pura-pura rapuh. "Saya bawakan air dingin untuk Anda. Anda pasti kelelahan urus rapat direksi seharian."
Vion yang lagi tatap kerlap-kerlip lampu Jakarta dari ketinggian 99 lantai noleh perlahan. Sorot matanya sangat tajam, dingin, seperti es batu baru diangkat dari freezer. Tanpa ekspresi sedikit pun, ia pandang wanita di depannya dari ujung kepala sampai kaki.
Clarissa merasa dapat angin. Ia sengaja melangkah lebih dekat, buat gestur seolah kakinya kepleset, lalu jatuhkan tubuhnya tepat ke arah lengan Vion. "Ah—!" desisnya manja.
Tapi, bukan sambutan yang ia dapat. Vion justru mundur satu langkah dengan gerakan refleks penuh jijik.
Bruk!
Clarissa tersungkur hantam lantai marmer dingin penthouse tanpa ada tangan yang tahan jatuhnya. Gelas di tangannya terpental, air es tumpah basahi lantai bersih.
"Tuan Vion...?" rintih Clarissa dongak dengan mata berkaca-kaca dibuat-buat, pasang ekspresi paling menyedihkan. "Saya... saya cuma ingin bantu... Kenapa Anda begitu kejam pada saya? Padahal dulu kita..."
Vion rendahkan tubuhnya separuh, tatap rendah ke arah Clarissa dari atas dengan tatapan penuh jijik yang menusuk.
"Jangan pernah sebut masa lalu, dan jangan pernah kotori udara di lantai ini dengan napas murahan mu," suara Vion dingin seperti algojo, rendah tapi menggema telak di ruangan sunyi itu. "Kau pikir aku tidak tahu apa niat busuk di balik otak kotor mu? Datang menyusup ke lantai privat dengan pakaian setengah terbuka?"
Wajah Clarissa pucat pasi seketika. Tubuhnya gemetar hebat dengar bentakan itu.
"Tuan... Anda salah paham... saya cuma—"
"Cukup!" Vion tegakkan tubuhnya, lalu tekan interkom di dinding. "Hendra! Naik ke lantai 99 sekarang juga."
Tidak sampai dua menit, Hendra bersama dua petugas keamanan bertubuh tegap sudah berdiri siaga di depan pintu lift lantai 99. Vion tunjuk ke lantai tempat Clarissa masih bersimpuh.
"Seret perempuan ini keluar dari area privat Vantec Tower. Turunkan pangkatnya langsung malam ini juga. Jangan biarkan dia injak kaki di atas lantai 50 ke atas seumur hidupnya. Dan pastikan kamera pengawas rekam semua tingkah menjijikkan ini sebagai arsip pelanggaran etik berat."
"Baik, Tuan!" seru Hendra sigap.
Dua petugas keamanan langsung tarik kedua lengan Clarissa tanpa ampun. Clarissa jerit histeris sambil meronta-ronta, air matanya tumpah deras karena malu dan hancur yang teramat sangat.
"Lepaskan aku! Alesha! Alesha, tolong aku! Vion, kamu jahat—!"
Suara jeritan Clarissa teredam ketika pintu lift tertutup rapat, bawa dia turun meluncur bebas menuju lantai paling bawah, ninggalin Vion yang kembali berdiri di balkon dengan tatapan dingin tanpa sedikit pun iba.