Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketinggian, Kopi, dan Kejujuran
Angin sore berhembus cukup kencang menyambut katangan mereka di rooftop kafe minimalis tersebut. Tempat itu tampak lengang karena jam operasional kantor baru saja dimulai dan belum memasuki jam makan malam. Damien memilih meja bundar di sudut luar yang langsung menghadap ke bentangan lanskap kota dari ketinggian.
Ponsel dan kunci mobil diletakkan Damien di atas meja sebelum ia memesan dua cokelat panas dan seporsi camilan pada pelayan yang datang menghampiri.
Clyrine menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu, menikmati udara terbuka yang langsung mendinginkan sisa-sisa emosinya di sekolah tadi. Ia menatap cangkir uap yang baru saja disajikan, lalu melirik pria di hadapannya yang duduk tenang dengan sebelah tangan menopang dagu.
"Kenapa bawa gue ke sini, Kak?" tanya Clyrine pelan, memecah keheningan yang nyaman. "Lo nggak takut nanti Alaric ngomel-ngomel karena adiknya diculik jam pelajaran sekolah?"
"Alaric lagi ada kelas praktikum sampai sore," jawab Damien tenang, lalu menyesap cokelat panasnya. "Dan soal kenapa gue bawa lo ke sini... jawabannya gampang. Karena lo butuh tempat buat nge-reset kepala lo sebelum balik ke rumah."
Clyrine tersenyum tipis. Ia memainkan ujung cangkirnya, matanya menatap lurus ke arah jalan raya di bawah sana yang tampak seperti garis-garis cahaya yang sibuk.
"Kak..." panggil Clyrine ragu-ragu.
"Hm?"
"Kalau semisal suatu hari nanti... gue bener-bener capek pura-pura nggak peduli sama semua drama di rumah, terus gue milih buat pergi jauh dari sana, menurut lo aneh nggak?" suara Clyrine mendadak melunak, menyiratkan kerapuhan kecil yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Damien terdiam sejenak. Netra gelapnya menatap lurus ke arah Clyrine, menangkap kilat lelah di balik sorot mata oranye-tembaga gadis itu.
"Nggak aneh," jawab Damien tegas. "Setiap orang punya batas sabar. Tapi pergi tanpa arah bukan solusi, Clyrine. Kalau lo mau keluar dari bayang-bayang itu, lo harus bikin diri lo kuat—bukan cuma secara fisik lewat latihan di sasana, tapi juga secara mental dan masa depan."
Clyrine mendongak, menatap pria 21 tahun itu dengan lekat. "Masa depan... gue bahkan nggak tahu mau jadi apa setelah lulus nanti. Mommy sama Daddy udah nyiapin jalur buat Claire, sementara masa depan gue dianggap berantakan."
Damien meletakkan cangkirnya perlahan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan jarak di antara mereka.
"Masa depan lo bukan ditentukan sama apa kata orang tua lo, tapi dari apa yang lo bangun sendiri mulai sekarang," ujar Damien dengan suara berat yang menghipnotis. "Gue di umur lo dulu juga nggak tahu mau jadi apa, sampai akhirnya gue mutusin buat belajar bisnis dan ngebangun perusahaan kecil gue sendiri secara diam-diam."
Clyrine membelalakkan matanya kaget. "Hah? Lo udah punya perusahaan sendiri, Kak? Tanpa sepengetahuan om dan tante?"
Damien mengangguk kecil, menyunggingkan senyum tipis penuh rahasia. "Belum besar, baru konsultan investasi skala kecil. Tapi setidaknya, itu bukti kalau lo bisa ambil kendali atas hidup lo sendiri kalau lo mau berusaha."
Pengakuan itu membuat Clyrine terpana. Di balik sosok Damien yang dingin dan kaku, pria itu ternyata menyimpan tekad dan kemandirian yang luar biasa besar. Rasa kagum di dada Clyrine mendadak berlipat ganda, berubah menjadi sebuah dorongan kuat untuk membuktikan diri bahwa ia juga bisa bangkit.
"Kalau gitu..." Clyrine menyunggingkan senyum miring penuh keyakinan, menepis seluruh rasa lelahnya. "...mulai sekarang, gue bakal serius belajar sama Kakak. Biar nilai gue bagus, biar Daddy ngasih hadiah, dan yang paling penting... biar Claire tahu kalau dia nggak bakal bisa nginjak-nginjak gue lagi."
Damien menatap binar penuh semangat yang kembali terpancar di mata Clyrine. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat yang tulus.
"Bagus," balas Damien pelan. "Mulai minggu depan, jadwal belajar kita di rumah lo bakal bener-bener gue tagih. Jangan harap bisa bolos."
"Siap, Bos!" tawa Clyrine renyah, merasakan beban di dadanya seolah terangkat terbang bersama angin sore di rooftop itu.
Langit di atas rooftop kafe perlahan berubah jingga kemerahan, menyisakan bias cahaya senja yang memantul indah di permukaan gelas cokelat panas mereka. Suasana yang semakin intim membuat obrolan di antara Clyrine dan Damien mengalir lebih santai dan penuh tawa ringan.
Clyrine yang sejak tadi merasa gemas melihat ekspresi serius Damien mendadak berniat melancarkan kejahilannya lagi—seperti kebiasaannya saat mengganti wallpaper ponsel pria itu beberapa waktu lalu.
"Eh, Kak..." panggil Clyrine dengan nada manis yang dibuat-buat, sengaja mencondongkan tubuhnya melintasi meja.
Damien mengangkat sebelah alisnya, menatap gadis di depannya dengan tatapan waspada. "Apa lagi? Jangan mulai berulah, Clyrine."
"Ih, nggak berulah kok. Cuma..." Clyrine tersenyum jahil. Dengan gerakan secepat kilat, ia meraih sedotan cokelat panas milik Damien, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir pria itu sambil menahan tawanya. "Nih, biar Kakak nggak stres mikirin perusahaan rahasianya. A a dulu sama murid kesayangan."
Damien tertegun sejenak. Alih-alih menerima uluran itu, ia mendengus pelan dan membuang muka. "Gue bukan anak kecil, Cly."
"Ayolah, Kak! Sekali aja, biar muka galak Kakak itu sedikit cair," desak Clyrine sambil terus mendekatkan sedotan tersebut, semakin memangkas jarak di antara mereka.
Merasa kesal karena Damien terus mengelak, Clyrine bangkit dari kursinya dan berpindah duduk di sebelah Damien, berniat menggoda pria itu lebih dekat lagi. Namun, karena terlalu bersemangat dan meja yang agak sempit, gerakan Clyrine membuat tubuhnya hampir terpeleset ke depan.
Refleks, tangan besar Damien bergerak cepat menangkap pinggang ramping Clyrine untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh menimpa meja.
Bruk.
Gerakan itu terjadi begitu cepat hingga tanpa disadari, posisi mereka kini berada dalam jarak yang sangat berbahaya. Clyrine terduduk terlalu dekat di sisi Damien, dengan tangan pria itu masih melingkar pas di pinggangnya.
Napas mereka beradu. Aroma maskulin dari tubuh Damien berpadu sempurna dengan wangi manis cokelat malam itu. Clyrine mendongak, mendapati netra gelap Damien terkunci tepat di manik mata oranye-tembaganya. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter saja—bibir Clyrine nyaris menyentuh bibir pria itu.
Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mendebarkan. Jantung Clyrine berdegup kencang tak beraturan, dadanya bergemuruh hebat merasakan kehangatan tubuh Damien yang begitu dekat. Untuk sesaat, ia melihat manik mata Damien menggelap, menatap bibirnya sebelum pandangan pria itu naik menatap matanya lagi.
Namun, tepat saat Clyrine memejamkan mata perlahan, menunggu sesuatu yang lebih jauh terjadi, Damien tiba-tiba menghela napas berat.
Dengan gerakan tegas namun tetap lembut, Damien memegang kedua bahu Clyrine, menjauhkan tubuh gadis itu perlahan-lahan dari jarak intim di antara mereka.
Clyrine mengerjap pelan, pipinya merona merah padam karena salah tingkah sekaligus bingung. "Kak...?" bisiknya lirih.
Damien memalingkan wajahnya sejenak, merapikan kerah kemejanya dengan rahang yang mengeras samar, berusaha menetralisir napasnya sendiri yang sempat memburu. Ia menatap Clyrine dengan sorot mata yang sarat akan peringatan dan kendali diri yang kuat.
"Lo baru berumur enam belas tahun, Clyrine," ucap Damien dengan suara serak yang tertahan, mengingatkan batasan usia di antara mereka. "Jangan suka main-main dengan hal kayak gini kalau lo belum tahu risikonya."
Mendengar ucapan itu, pipi Clyrine makin terasa panas membakar. Ia buru-buru menegakkan duduknya, merapikan rok seragamnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Rasa malu bercampur debaran aneh bergemuruh di dadanya, menyadari bahwa di balik sikap dingin Damien, pria itu masih memegang kendali dan batasan moral yang tegas terhadap dirinya.
"A-apaan sih, Kak... Siapa juga yang main-main!" elak Clyrine salah tingkah, membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.
Damien mendengus pelan, meski sudut bibirnya sempat tertarik membentuk senyuman tipis yang sarat akan kelegaan sekaligus rasa gemas. Ia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Udah mau malam. Ayo pulang," kata Damien dengan nada normal kembali, berdiri dari kursinya. "Besok-besok jangan coba-coba uji kesabaran gue lagi."
Clyrine menggigit bibir bawahnya, merutuki kejahilannya sendiri sambil berjalan mengekori Damien menuju mobil. Kendati demikian, degup kencang di dadanya enggan mereda sepanjang perjalanan pulang malam itu.