*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Anjing yang Menggonggong
Tiga hari setelah serangan Mo Xie, Kota Suci Tianyu akhirnya kembali tenang.
Racun yang sempat menutupi langit telah menghilang, sementara kristal-kristal raksasa yang menopang formasi pelindung kota kembali memancarkan cahaya keemasan. Meski sebagian wilayah kota masih dipenuhi reruntuhan, kehidupan perlahan kembali berjalan seperti biasa.
Di puncak Menara Penguasa, Shen Ziyue duduk di atas singgasana. Racun Tulang Surgawi yang sempat menggerogoti tubuhnya telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Tepat di belakangnya berdiri Lin Xuan dengan jubah putih berlambang Komandan Bintang. Wajahnya tenang, seolah serangan Mo Xie beberapa hari lalu tidak pernah terjadi. Tatapannya tertuju pada formasi komunikasi yang berdiri di tengah ruangan.
Tiba-tiba, cahaya emas memenuhi aula.
Empat sosok muncul dari dalam formasi.
Mereka adalah empat Jenderal Bintang dari Ibu Kota Suci Taichu. Aura mereka sangat kuat. Keempatnya telah mencapai puncak Kaisar Hukum Suci dan hanya selangkah lagi dari alam Dewa Leluhur.
Meski enggan, mereka tetap menundukkan kepala.
"Salam, Yang Mulia Putri Bintang."
Shen Ziyue menopang dagunya dengan satu tangan. Tatapannya dingin.
"Tak perlu basa-basi. Aku meminta pasukan dikirim untuk memperkuat Kota Suci Tianyu sekaligus memburu sisa Ras Tulang. Di mana mereka?"
Jenderal pertama, Lie Yan, mengangkat kepalanya. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Majelis Tetua telah menerima laporan mengenai keadaan Kota Suci Tianyu."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada menyindir.
"Separuh kota hancur hanya karena satu serangan Tuan Muda Iblis Kuno. Ini benar-benar memalukan bagi garis keturunan suci kita."
Mata Shen Ziyue menyipit. "Apakah kau sedang menyalahkanku?"
"Hamba hanya menyampaikan kekhawatiran para tetua."
Lie Ya kemudian mengalihkan pandangannya kepada Lin Xuan.
"Tetapi kami lebih heran dengan pilihan Yang Mulia." Ia menunjuk Lin Xuan. "Siapa dia?"
Jenderal lain tertawa mengejek.
"Qi-nya bahkan tidak dapat dirasakan. Apa dia benar-benar layak menyandang gelar Komandan Bintang?"
Lie Yan tersenyum semakin lebar.
"Apakah Kekaisaran Suci sudah kehabisan anggota hingga harus mengambil sampah dari pinggir jalan?"
Tawa kembali terdengar.
"Atau mungkin Putri Mahkota membutuhkan peliharaan baru setelah dipermalukan oleh Mo Xie?"
Suasana aula seketika berubah. Cahaya di mata Shen Ziyue menjadi dingin.
"Kalian berani menghina... "
Sebelum kalimatnya selesai, sebuah tangan menyentuh bahunya.
"Tenanglah, Yang Mulia." Suara Lin Xuan tetap datar. "Anjing yang hanya berani menggonggong dari balik pagar biasanya tidak akan berani keluar."
Shen Ziyue menoleh kepadanya.
Kemarahan di matanya perlahan mereda. Ia kembali duduk dan membiarkan Lin Xuan melangkah maju.
Lie Yan tertawa.
"Seekor manusia berani menggonggong kepada seorang dewa?"
Tatapannya penuh penghinaan.
"Kau pikir bersembunyi di belakang Putri Mahkota akan membuatmu..."
Lin Xuan mengangkat tangannya.
Jarinya perlahan mengepal.
Pada saat itu, Tungku Daging Kesepuluh di dalam tubuhnya mulai bergemuruh.
Tidak ada Qi yang keluar. Namun kehampaan di sekelilingnya perlahan bergetar.
Tekanan mengerikan menyebar dari tubuh Lin Xuan dan menembus ruang.
Itu bukan kekuatan hukum. Bukan pula kekuatan teknik.
Itulah kekuatan murni tubuh yang telah ditempa hingga melampaui batas kehidupan biasa.
Di Ibu Kota Suci Taichu, Lie Yan masih tertawa ketika tubuhnya tiba-tiba membeku.
Boom!
Tekanan mengerikan turun dari langit.
Kraak!
Kedua lututnya langsung menghantam lantai kristal.
Zirah emas yang membungkus tubuhnya penyok dalam sekejap. Darah emas menyembur dari mulutnya ketika tubuhnya ditekan ke bawah.
"Apa ini?!"
Lie Yan berusaha mengerahkan Qi untuk melawan.
Namun semakin ia mengerahkan kekuatan, semakin jelas ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Tekanan itu tidak berasal dari hukum. Bahkan tidak berasal dari Qi. Itu adalah tekanan murni yang lahir dari tubuh Lin Xuan.
Seolah sebuah gunung tiba-tiba menimpa tubuhnya.
Krak!
Lantai kristal di bawah kedua lutut Lie Yan retak.
Tulang-tulangnya mulai berderak.
Tiga jenderal lainnya membelalakkan mata. Mereka dapat melihat Lie Yan berlutut melalui formasi komunikasi, tetapi di sekelilingnya tidak ada seorang pun.
Hanya Lin Xuan yang berdiri jauh di Kota Suci Tianyu.
"Bagaimana mungkin?" Salah satu jenderal berseru. "Dia bahkan tidak menggunakan Qi!"
Lin Xuan hanya menggerakkan jarinya sedikit. Tekanan kembali meningkat.
Krak!
Kedua lutut Lie Yan hampir hancur. Darah emas terus mengalir dari sudut bibirnya.
"Ampuni aku!"
Kesombongannya lenyap dalam sekejap.
Untuk pertama kalinya, Lie Yan benar-benar merasakan ancaman kematian.
Lin Xuan menatapnya tanpa ekspresi.
"Putri Mahkota tidak membutuhkan bantuan dari orang-orang yang hanya pandai bersembunyi di balik tembok istana."
Tekanan di tubuh Lie Yan semakin berat.
"Anggap ini sebagai peringatan."
Lin Xuan berhenti tepat sebelum tubuh Lie Yan benar-benar hancur.
"Kalau kalian masih ingin menghina Kota Suci Tianyu, aku akan datang sendiri ke Ibu Kota." Tatapannya menjadi dingin.
Keempat jenderal terdiam. Tidak ada seorang pun yang berani menjawab.
Lin Xuan kemudian mengangkat tangannya.
Retakan menyebar di permukaan formasi komunikasi.
Krak!
Formasi itu hancur. Empat bayangan jenderal lenyap bersamaan.
Aula kembali sunyi.
Lin Xuan berbalik dan berjalan menuju singgasana. Ia kembali berdiri di belakang Shen Ziyue seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Shen Ziyue masih terdiam.
Dadanya naik turun. Tatapannya tertuju pada Lin Xuan seolah baru pertama kali melihat sosok di hadapannya.
"Puluhan ribu li..." Suaranya hampir berbisik. "Kau mampu menekan tubuh seorang Kaisar Hukum Suci dari jarak sejauh itu?"
Lin Xuan tidak menjawab.
Shen Ziyue bangkit dari singgasana. Dalam sekejap, ia melangkah maju dan memeluk Lin Xuan.
Lin Xuan tetap tenang.
"Xuan..." Ziyue mendongak. "Mereka semua meremehkan kita." Matanya dipenuhi keyakinan yang semakin kuat.
"Biarkan mereka." Tangannya mencengkeram jubah Lin Xuan. "Denganmu di sisiku, aku tidak membutuhkan bala bantuan mereka."
Senyum perlahan muncul di wajahnya. "Suatu hari nanti, kita akan pergi ke Ibu Kota."
Tatapannya menjadi tajam. "Dan aku akan mengambil takhta itu."
Lin Xuan membiarkannya memeluknya tanpa berkata apa-apa. Namun jauh di dalam hatinya, sebuah senyum tipis justru muncul.
"Bagus."
Semakin besar ambisi Shen Ziyue, semakin jauh pula langkahnya dapat menumpang di atas ambisi itu.
Tawa kecil Hun Yuan terdengar dari dalam lautan rohnya.
"Tuanku, sang Putri semakin mudah diarahkan."
Lin Xuan tetap diam.
Tatapannya menembus jendela dan memandang langit keemasan Kota Suci Tianyu.
Di balik langit itu terdapat Ibu Kota Suci Taichu.
Di sana berdiri para Tetua Dewa Kuno, para Dewa Leluhur, serta rahasia terdalam yang tersembunyi di Alam Primordial.
Semuanya menunggu.
Lin Xuan perlahan mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu, biarkan mereka terus meremehkanku."
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Semakin tinggi mereka berdiri, semakin banyak yang akan jatuh ke tanganku."
Pijakannya di Kota Suci Tianyu kini telah kokoh.
Langkah berikutnya adalah menyentuh pusat Kekaisaran Suci.
Dan untuk melakukan itu, ia membutuhkan Shen Ziyue.