Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pergi
Pemakaman sudah dilaksanakan pagi tadi, dan sekarang tersisa Rea dan beberapa keluarga di rumah duka.
Gadis itu hanya duduk diam di sofa pojok ruangan, dengan wajah sembab dan pandangan kosong.
Air mata sudah berhenti mengalir, namun ia masih mengunci mulutnya.
Revin menatap sendu menantunya. Ingin menghampiri, namun ia takut membuat gadis itu kembali menangis. Tabiatnya yang sangat mudah menangis, membuat ia takut jika tangisannya nanti mengundang Rea untuk menangis kembali.
Revin beralih pada Gala yang tengah mengobrol dengan Saka dan beberapa tetangga rumah Rea.
Revin menghampiri laki-laki itu, menepuk pundaknya.
Gala menoleh dan tersenyum tipis pada sang Ibu. "Kenapa, Bu?" tanya Gala dengan suara pelan.
Revin bergerak mendekatkan bibirnya ke telinga Gala. "Rea sendirian, kamu temui dia ya. Dia belum makan."
Gala mengangguk mengerti, kemudian berpamitan pada Saka dan Revin, juga berucap permisi pada para tetangga.
Setelahnya, Gala berjalan mendekati Rea yang masih berada di posisi yang sama.
Gala duduk di sebelah gadis itu, mengusap puncak kepalanya.
Rea menoleh, tatapannya masih kosong dan tanpa ekspresi. Gadis itu menggeser tubuhnya, sebelum kemudian memeluk pinggang Gala dari samping, menyandarkan kepalanya di dada cowok itu.
Gala mengusap kepala Rea, mengecupnya singkat. "Lapar?"
Rea menjawabnya dengan gelengan.
"Makan, ya?"
Lagi, Rea menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Makan dulu, nanti perutnya sakit."
"Gak mau," jawab Rea pada akhirnya, dengan suara lirih.
Gala menghela nafas pelan. "Mau ke kamar?"
Rea mengangguk, yang segera dituruti oleh Gala.
Gala lebih dulu bangkit, sebelum mengulurkan tangannya untuk membantu Rea berdiri.
Mereka berjalan ke lantai atas, dimana kamar Rea berada. Gala merangkul istrinya, yang masih lemas karena terus menangis sejak meninggalnya sang Ayah.
Sampai di kamar, Gala membantu Rea untuk duduk bersandar di atas ranjang. Ia kemudian duduk di depan gadis itu, menatapnya lekat.
"Makan, ya? Mau gue masakin apa?"
Rea menggeleng dengan kening berkerut, tanda jika ia tidak suka dipaksa.
"Nanti perutnya sakit, lo belum makan dari semalam, Re."
"Gue gak mau!" ucap Rea dengan suara sedikit meninggi.
Gadis itu merebahkan tubuhnya, membelakangi posisi Gala.
Gala berdecak pelan, susah memang jika harus memaksa seseorang yang keras kepala.
Ia mengusap kepala Rea dengan sayang. "Ya sudah istirahat aja, nanti kalau lapar bilang gue."
Gala menunduk mencium singkat pelipis Rea, sebelum bergerak bangkit dari duduknya.
Rea menoleh, menatap punggung Gala yang hampir menghilang di balik pintu kamar.
"Mau kemana?" tanyanya.
Gala kembali berbalik, menatap Rea dengan alis terangkat. "Mau keluar, ngobrol sama yang lain."
Rea memajukan bibirnya, kembali memunggungi Gala yang kini menatapnya bingung.
Gala mengurungkan niatnya untuk keluar, ia memilih kembali menghampiri Rea.
Ia duduk di sisi yang ada di hadapan Rea, menunduk untuk menatap lekat wajah gadis itu.
"Lo kenapa?"
Rea hanya menjawabnya dengan gelengan pelan. Tangannya bergerak memegangi perut, lalu tampak bibir bawahnya juga digigit. Matanya terpejam dengan kerutan di dahinya.
Gala sedikit khawatir. Ia mengusap kening Rea pelan, sembari berbisik, "Kenapa? Ada yang sakit?"
Rea membuka matanya, menatap mata teduh Gala yang ada di hadapannya. Hatinya menghangat mendengar suara lembut cowok itu.
Gala tersenyum tipis. Senyum yang sangat jarang ia perlihatkan, kecuali bersama orang-orang terdekatnya.
"Kenapa, sayang?"
Rea mematung, merasakan gelenyar aneh di dada dan dalam perutnya. Seperti banyak kupu-kupu beterbangan dan detak jantungnya sedikit melemah, mendengar panggilan Gala untuk pertama kalinya.
Ditambah suara lembut yang sangat menggelikan di telinga. Namun, ia menyukainya.
"Rea?"
"Hah?"
Gala mendengus menyadari jika Rea melamun sejak tadi. "Lo kenapa?"
Rea menggelengkan kepala, menetralkan kembali perasaan yang sempat porak-poranda karena panggilan sayang dari Gala.
"Perut gue sakit, PMS kayaknya."
"Terus?" Gala mengangkat sebelah alisnya.
Rea mengembungkan pipi. "Bantuin kek."
"Bantu apa? Pasang pembalut?"
Rea melebarkan matanya tak percaya. Ia mencubit perut rata Gala, membuat cowok itu berjengit.
"Ya kali."
Gala terkekeh pelan, kemudian bergerak bangkit untuk keluar kamar.
Rea hanya diam melihat kepergian Gala. Ia menghela nafas, mengambil posisi telentang, menatap langit-langit kamarnya.
Matanya kemudian tertutup, memikirkan hal apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah ini.
Ia sudah tidak memiliki siapapun, kecuali Gala sebagai suaminya. Ayah dan Bundanya sudah pergi menghadap sang ilahi.
Bella, entah dimana gadis itu berada saat ini. Sejak terakhir kali ia bertamu ke apartemen Gala, Rea tidak pernah lagi melihatnya. Bahkan, dalam prosesi pemakaman tadi, pun ia tidak melihatnya.
Rea tidak peduli tentu saja. Ia justru sangat lega dengan ketidakberadaan gadis itu. Mungkin, sekarang masih sibuk dengan liburannya.
Tentang kecelakaan Althan, entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang Rea tahu, Ayahnya ikut berlibur bersama Bella, tetapi kenapa ia justru mendapat kabar demikian.
Mungkin ada sesuatu yang terjadi sebelum keberangkatan mereka. Namun, jika memang benar demikian, seharusnya Bella pun ikut dalam kecelakaan itu. Tetapi, entah bagaimana kabar gadis itu sekarang. Ada dimana dia, pun Rea sangat amat tak peduli.
Gala kembali dengan membawa segelas teh hangat dan juga minyak kayu putih.
"Minum dulu kata Ibu."
Rea bangkit untuk meneguk minuman yang Gala sodorkan padanya.
Setelah meneguk beberapa tegukan, Rea kembali merebahkan tubuhnya.
Gala meletakkan gelas itu di atas nakas, sebelum beralih menghadap Rea, tepatnya di bagian perut.
"Dibuka?" tanya Gala sebagai isyarat meminta izin.
Rea mengangguk pelan, sedikit ragu namun biarkan saja.
Gala membuka pelan baju yang Rea kenakan, sembari berucap, "Permisi."
Rea menatap Gala lekat. Tampak cowok itu terdiam sejenak melihat permukaan perutnya untuk pertama kali.
Rea memegang tangan Gala, membuat cowok itu tersadar.
Gala segera membuka minyak kayu putih, untuk membubuhkannya di permukaan perut Rea yang putih mulus.
Gala mulai mengusapnya dengan sangat pelan, lalu memberikan sedikit pijatan.
Rea memejamkan mata, ia teringat dengan Bundanya dulu saat pertama kali ia haid. Perlakuan yang Gala lakukan hampir sama dengan wanita itu.
Rea menikmati setiap pijatan dan usapan lembut yang Gala berikan, terasa hangat dan nyaman.
"Habis ini makan, ya?"
Tanpa membuka mata, Rea menggelengkan kepalanya.
"Makan atau gue gak mau pijitin lagi?"
Rea membuka matanya dan memasang wajah cemberut, sebelum menganggukkan kepalanya pelan.
Gala tersenyum tipis, melanjutkan aksinya.
"Lo kok bisa pijit begini?" tanya Rea.
Gala menatap mata gadis itu. "Diajarin Ibu tadi."
Rea menatap Gala yang fokus dengan kegiatannya.
Rea menarik tangan cowok itu, membuat Gala menoleh bingung.
"Tiduran sini," kata Rea seraya menepuk bantal di sisi kepalanya.
Tanpa bantahan, Gala merebahkan tubuhnya di sisi samping Rea.
Dengan segera, Rea memeluk Gala dan menyembunyikan wajah di dada bidang Gala.
"Usapin pinggangnya."
Gala mengangguk dan bergerak mengusap pinggang Rea dengan lembut.
Ia membiarkan Rea bersikap sebagaimana inginnya. Selama dia tidak terganggu, Gala akan menurutinya.
"Sering kayak gini?" tanya Gala yang diangguki oleh Rea.
"Kalau lagi kayak gini, siapa yang usap sama mijit?"
Rea membuka matanya yang sempat terpejam. "Dulu Bunda. Waktu Bunda sudah enggak ada, gue biarin aja. Paling cuma bisa nangis doang."
Gala mengusap kepala Rea, membuat gadis itu kembali memejamkan mata. Satu tangan masih terus mengusap pinggang hingga ke perut Rea tanpa henti.
"Mulai sekarang, kalau lo butuh sesuatu, bilang sama gue atau Papa sama Ibu. Kita keluarga, Re. Keluarga gue, keluarga lo juga. Jangan sungkan," kata Gala mengingatkan.
Rea menganggukkan kepalanya. "Gue ngantuk."
"Tidur aja."
Rea membuka mata untuk menatap Gala. "Tapi lo jangan tinggalin gue, ya?"
Gala mengangguk mengiyakan. "Gue di sini."
Rea menyamankan posisinya, untuk bersiap masuk ke alam mimpi.
"Kak?"
"Hm?" Gala menatap Rea yang tengah menikmati usapannya.
"Kalau nanti gue manja, jangan marah ya?
"Hm."
"Kalau gue banyak mau, gak apa-apa, kan?"
"Hm, gue turuti, selama gue mampu."
"Makasih ya, Kak?"
"Buat?"
"Makasih karena sudah hadir di hidup Rea. Mungkin, lo bukan cinta pertama gue. Tapi, gue harap lo akan menjadi yang terakhir buat gue."
"Kenapa?"
Rea membuka mata, membuat tatapan mereka terkunci.
"Karena gue mau sama lo terus. Lo terlalu berharga untuk gue lepas."
.
.
.
To be continue ...