NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Misi Yurika

Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah‑celah jendela kayu toko Karya Baja, menyinari butiran‑butiran debu yang berputar di udara. Bunyi denting palu besi berhenti sejenak. Kakashi baru saja meletakkan palu besarnya ke atas landasan, keringat tipis membasahi pelipisnya, saat suara langkah kaki ringan terdengar dari depan pintu.

Pintu toko didorong terbuka dengan bunyi berderit pelan. Berdiri di sana adalah Yurika, pemanah yang kerap datang berkunjung ke toko ini. Di bahunya tergantung busur kayu kuat yang dibuat Kakashi tempo lalu — lengkungan yang halus namun kokoh, hasil berhari‑hari pengrajinan di bawah tangan pandai besi itu. Di pinggangnya tergantung tabung anak panah yang penuh, ujung besinya berkilau tertimpa sinar matahari. Wajahnya tampak tegas, mata bersinar penuh tekad, meskipun ada jejak kelelahan dari perjalanan jauh yang baru saja ia lalui.

“Kakashi,” panggilnya dengan suara jelas, melangkah masuk ke dalam toko. “Aku datang membawa kabar sekaligus permintaan.”

Kakashi berbalik perlahan, tatapannya tenang seperti biasa, namun ada sedikit perubahan saat ia melihat busur yang digendong gadis itu. Ia mengusap debu besi dari telapak tangannya. “Ada apa?”

“Aku mendapat misi dari kepala desa wilayah selatan,” jawab Yurika, sambil meletakkan ujung busurnya ke lantai dengan hati‑hati. “Para bandit telah berkeliaran di hutan perbatasan. Mereka merampok pedagang yang lewat, mengganggu ladang warga, bahkan ada yang berani mendatangi pemukiman kecil di kaki gunung. Tugas ku adalah memburu mereka dan mengusir geng itu dari sana.”

Saat itu, Guru Kara yang sedang menyusun alat‑alat kecil di rak kayu belakang toko, segera berjalan mendekat. Wajah tua itu tampak khawatir, matanya menatap Yurika dari atas ke bawah. Semua orang di daerah ini tahu bahwa Yurika adalah pemanah terbaik di wilayah selatan — jarak tembaknya jauh, bidikannya jarang meleset, dan ia sudah berhasil mengusir kelompok perampok kecil sebelumnya. Namun bagi Kara, yang sudah menganggap gadis itu seperti anak sendiri, keberanian saja tidak cukup untuk menghadapi bahaya besar.

“Yurika… aku tahu seberapa mahir engkau menarik busur itu,” ujar Kara dengan suara pelan namun penuh kegelisahan. “Tetapi kelompok bandit ini dikatakan jumlahnya banyak, dan mereka tidak segan‑segan menyerang siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Banyak orang di sini masih berpikir bahwa menjadi perempuan berarti engkau lebih rentan — meskipun aku tidak berpikir begitu. Tetapi bahayanya tetap ada, jangan meremehkannya.”

Yurika mengangkat dagunya sedikit, tidak tampak gentar. “Aku tahu risikonya, Guru Kara. Bukan karena aku tidak takut, tetapi warga di sana sudah terlalu lama menderita. Jika tidak ada yang pergi menghadapi mereka, kapan mereka akan berhenti?” Ia lalu menoleh kembali ke arah Kakashi. “Busur yang engkau buatkan ini telah membantuku berkali‑kali. Kali ini aku akan membawanya ke hutan perbatasan. Aku datang bukan hanya untuk memberitahu, tetapi juga untuk meminta nasihatmu — bagaimana cara menjaga busur ini tetap kuat saat bertemu musuh yang banyak, dan tanda apa yang harus kuperhatikan agar tidak terjebak jebakan mereka.”

Kakashi diam sejenak, matanya menatap busur itu — teringat saat ia membentuk lengkungan kayu dan memaku besi ujungnya, berharap senjata itu hanya digunakan untuk melindungi, bukan untuk pembunuhan yang sia‑sia. Ia berjalan mendekat, lalu menyentuh permukaan busur dengan ujung jari yang kasar karena pekerjaan pandai besi.

“Busur ini kuat, tetapi tidak tahan terhadap kelalaian,” katanya dengan suara rendah. “Jangan biarkan hujan membasahi bagian tengah lengkungannya, serat kayunya akan melunak. Dan ingat — kecepatan menarik anak panah tidak sama dengan ketepatan. Jika dikelilingi, jangan terburu‑buru menembak semua sekaligus. Pilih siapa yang paling berbahaya terlebih dahulu.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang hampir tidak terdengar: “Para bandit itu biasanya memiliki penjaga yang mengintai dari semak sebelum mereka muncul. Periksa bayangan di balik pohon besar terlebih dahulu, sebelum melangkah lebih dalam ke hutan.”

Kara menghela napas panjang, lalu mengambil sebungkus kecil berisi ramuan luka dan perban dari saku jubahnya, lalu memberikannya kepada Yurika. “Bawa ini. Jika terluka, segera obati. Dan… pulanglah dengan selamat. Kami akan menunggu engkau kembali ke sini.”

Yurika menerima bungkusan itu dengan tangan terima kasih, lalu mengencangkan kembali tali pengikat busur di bahunya. “Aku akan berusaha sebaik mungkin.” Ia menatap kedua orang itu bergantian, lalu berbalik menuju pintu. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh lagi. “Jika nanti ada kabar buruk atau baik, aku akan kembali ke toko Karya Baja untuk memberitahu kalian.”

Sinar matahari semakin tinggi saat ia berjalan keluar ke jalan desa, langkahnya tegas menuju arah hutan perbatasan. Kakashi berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung gadis itu hingga hilang di balik kelokan jalan. Di dalam hatinya, bayangan malam di kediaman Kenzaburo muncul kembali — rahasia yang masih tersembunyi di bawah lantai toko ini, pedang wajah iblis yang tertutup rapat. Ia tahu betapa berbahayanya kelompok perampok yang berani mengganggu pemukiman. Ada sesuatu yang terasa tidak biasa dengan geng bandit itu — seolah‑olah mereka bukan hanya sekadar perampok biasa, melainkan bagian dari sesuatu yang lebih besar. Namun untuk saat ini, ia hanya bisa berharap nasihat yang diberikan cukup untuk melindungi Yurika.

Kara berdiri di sampingnya, menatap ke arah jalan yang sama. “Dia benar‑benar berani,” bisiknya.

“Keberanian saja belum cukup,” jawab Kakashi pelan. “Tetapi dia sudah membawa apa yang ia butuhkan — kesiapan dan hati yang tulus.”

Lalu ia berbalik masuk kembali ke dalam toko, mengambil kembali palu besinya. Dentingan logam kembali terdengar di bawah sinar pagi, meskipun di balik bunyi itu tersembunyi kekhawatiran yang tidak diucapkan dengan suara. Di kejauhan, di balik pepohonan lebat hutan perbatasan, mata‑mata tak dikenal sudah mulai mengintai ke arah jalan yang baru saja dilalui Yurika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!