Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
“Hei.”
“Lepas!”
Nadira mendorong Rayzan sekuat tenaga. Air matanya masih mengalir deras. Rasanya sakit sekali saat Meidra, orang dari masa lalunya menuduhkan hal yang sangat menyakitkan.
“Kamu lihat, kan? Kamu sudah dengar semuanya, kan? Aku memang sudah nggak suci.”
“Nadira—”
“Diam!” potong Nadira. “Aku dan Meidra pernah tinggal satu atap sewaktu kuliah. Sebenarnya, aku dan dia punya masalah pribadi. Cuma dia yang tahu kalau aku sudah nggak suci lagi.”
Wanita itu terisak, ia tidak menyangka Meidra akan mempermalukannya di hadapan Rayzan, sang suami.
“Dan gara-gara dia juga aku batal menikah dengan Daulat.”
“Kalau saja Meidra nggak cerita, mungkin Daulat akan menjadi suamiku sekarang.”
“Kamu pasti mau menertawakan aku, kan? Kamu senang, kan, karena tuduhanmu itu ternyata benar? Aku memang nggak suci seperti yang dibilang orang-orang.”
“Aku benci kalian!!!" teriak Nadira tepat di depan wajah Rayzan.
“Nadira!!!” teriak Rayzan ketika wanita itu berlalu pergi begitu saja.
Rayzan hanya berdiri terpaku. Penyesalan langsung memenuhi hatinya.
“Kenapa aku sejahat itu? Aku menghina istriku sendiri," ucapnya merasa sangat bersalah pada istrinya.
[] [] []
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan mulai turun. Sesekali suara petir terdengar menggema di luar rumah.
Rayzan baru saja selesai menyantap makanan hasil masakan istrinya. Setelah meneguk segelas air putih, lelaki itu masih duduk di kursi sambil menatap kosong ke arah depan.
Sementara Nadira sudah berpindah tempat tidak lagi bersama Rayzan saat kepulangan Meidra. Tiba-tiba suara petir menggelegar, membuatnya tersentak dari lamunannya.
“Rayzan!!!”
Rayzan segera berdiri dan menoleh ke arah kamar Nadira. Terlihat wanita itu berlari menghampirinya.
Dengan perlahan beranjak dari tempat duduknya. Rayzan juga merentangkan kedua tangannya menghadap ke arah wanita itu.
“Aku takut, hiks,” ucap Nadira setelah memeluk Rayzan.
Cup!
Rayzan mengecup pucuk kepala sang istri.
“Sudah, sudah ... Jangan takut. Aku ada di sini.”
“Aw!”
Nadira memejamkan matanya ketika suara petir kembali terdengar.
Rayzan masih berusaha menenangkan sang istri. Beberapa kali ia mengusap kepala Nadira, berharap wanita itu tidak ketakutan lagi.
“Sekarang kamu tidur ya. Aku temenin dari luar.”
Nadira menggelengkan kepalanya.
“Aku nggak mau, temenin aku.”
“Tadi kamu bilang aku nggak boleh tidur di kamar kamu.”
“Aku takut, Rayzan!” Nadira memukul pelan dada lelaki itu. “Jahat banget. Masa nggak mau nemenin?”
“Oke, oke ... Aku temenin kamu.”
[] [] []
Di tempat lain, tiga orang dewasa sedang menyantap makan malam. Mereka berada di luar hotel sambil menikmati suasana malam.
“Papa sama Mama yakin kalau rencana ini akan berhasil?” tanya Sultan setelah menyeruput teh panas.
“Papa sih nggak yakin. Kamu tahu sendiri kan bagaimana keras kepalanya Nadira. Tapi mungkin dengan cara ini Nadira akan belajar bahwa dia harus tinggal bersama suaminya.”
“Aku khawatir, Mas. Aku takut Nadira melakukan sesuatu lagi yang membuat Rayzan celaka.”
“Benar kata Mama, Pa. Kakak bisa saja melakukan hal di luar logika seperti kemarin. Nanti kalau Bang Rayzan kenapa-kenapa bagaimana?”
“Nggak mungkin ... Kalian harus tahu, walaupun Rayzan itu pendiam, Papa yakin dia tahu bagaimana caranya menghadapi Nadira.”
“Semoga saja, Mas. Jangan sampai Rayzan dalam bahaya. Kalau itu terjadi, semuanya salah kita karena sudah meninggalkan mereka berdua.”
[] [] []
Hujan masih turun. Suara petir pun masih terdengar, meskipun tidak sekeras sebelumnya. Seorang lelaki beberapa kali memukul dinding kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi di tengah cuaca malam yang dingin.
“Rayzan, Rayzan ... Bodoh kamu!” ucap lelaki itu pada dirinya sendiri. “Tuduhan itu benar-benar menyakiti hati Nadira.”
“Kamu sudah membuktikan sendiri, kan? Ternyata Nadira masih menjaga dirinya selama ini. Kenapa kamu malah menghina dia?”
“Argh!!!”
Sementara itu, di dalam kamar, seorang wanita duduk di tepi ranjang sambil termenung. Ia masih memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan sang suami.
“Kenapa aku sebodoh ini? Aku sudah kalah.”
“Rayzan pasti menganggap ucapannya selama ini benar-benar menjadi kenyataan.”
Nadira meremas sprei hingga kusut.Ia merasa kesal sekaligus malu ketika mengingat dirinya yang akhirnya meminta Rayzan tetap berada di sisinya karena ketakutan akibat suara petir. Malam itu membuat hubungan mereka menjadi jauh lebih dekat dari sebelumnya.
"Kamu sangat tampan, Ray." Kata-kata itu terus teringiang ditelinga Nadira. Karena dia sendiriyang menggoda suaminya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Rayzan keluar dan menghampiri Nadira. Wanita itu merasa sangat malu hingga menundukkan pandangannya.
“Nadira ... Hmm, a-aku minta maaf.”
Nadira hanya diam. Ia mengerti arah pembicaraan lelaki itu.
“Aku nggak tahu apa maksud tuduhan orang-orang terhadap kamu. Ta-tapi yang jelas, aku menyesal karena sudah menuduh kamu yang macam-macam.”
“Sekarang kamu sudah membuktikan sendiri, kan?” ucap Nadira. “Sekarang kamu sudah sadar kenapa tuduhan itu membuat aku menangis?”
Rayzan berjongkok di hadapan Nadira yang masih duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan wanita itu.
“Maafin aku ... Aku nggak menyangka ternyata tuduhan orang-orang itu nggak benar. Aku benar-benar menyesal," ucapnya sekali lagi.
Rayzan menundukkan kepalanya.
Nadira mengembuskan napas panjang.
“Rayzan ... Sebenarnya aku pernah mengalami kejadian buruk. Aku pernah diperkosa. Tapi orang itu nggak berhasil melakukan lebih jauh kepadaku.”
Rayzan terdiam. Wajahnya berubah ketika mendengar pengakuan tersebut.
“Ja-jadi ... Selama ini kamu mengalami trauma itu?”
“Iya.”
Kembali Rayzan menundukkan pandangannya. Ia mengecup telapak tangan Nadira dengan penuh penyesalan.
“Aku memang jahat seperti yang kamu bilang. Aku menghina kehormatan istriku sendiri.”
Nadira mengusap kepala Rayzan dengan lembut.
“Bukan salah kamu, Rayzan. Aku juga pantas mendapatkan itu karena aku sering membuat kamu marah.”
“Terus kenapa kamu nggak membantah tuduhan itu?”
“Percuma, Rayzan. Nggak akan ada yang percaya juga. Bahkan kamu sendiri, yang katanya cinta sama aku, nggak percaya.”
“Iya ... Aku menyesal. Ternyata kamu masih—”
Rayzan menghentikan ucapannya.
“Kamu senang, kan?” tanya Nadira dengan suara lirih. “Kamu sekarang tau semuanya. Pasti kamu mau balas dendam, kan? Aku nggak akan heran kalau kamu akhirnya menceraikan aku. Apalagi itu juga yang selama ini aku inginkan.”
“Berapa kali aku harus bilang? Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu!”
“Jangan bohong, Rayzan. Nggak ada orang di sini. Cuma kita berdua. Kamu nggak perlu memasang dua wajahmu itu.”
“Maaf,” lirih Rayzan.
Cup!
Setelah mengecup telapak tangan istrinya, Rayzan berdiri dan membalikkan badan.
“Kamu mau ke mana? Aku belum selesai ngomong!”
“Aku lapar.”
“Lho ... Kamu nggak jadi makan tadi?” tanya Nadira.
“Sudah ... Tapi sekarang aku lapar lagi.”
“Ya sudah, aku ikut. Enak saja kamu makan masakan aku. Aku capek-capek masak.”
Nadira lebih dulu berlalu pergi.
Bukan karena ingin segera makan, melainkan karena ia sedang berusaha menyembunyikan rasa malunya di hadapan suaminya sendiri.
Rayzan mengusap wajahnya kasar.
“Aku yang pertama ...” ucapnya sambil terus mengingat perkataan Nadira.