NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tap.

Tap.

Langkah kaki Natasya bergerak dengan sangat hati-hati dan tanpa suara di atas jalanan tanah yang berdebu.

Gadis kecil itu terus menjaga jarak sekitar lima puluh meter di belakang dua pria utusan dari Desa Karang tersebut.

Matahari siang bersinar dengan sangat terik seolah ingin memanggang ubun-ubun siapa saja yang nekat keluar rumah.

Namun Natasya sama sekali tidak mempedulikan peluh yang mulai membasahi dahi dan lehernya.

"Aku harus tahu seberapa parah kondisi desa mereka sampai paman itu mau meminjamku."

Natasya membatin di dalam hatinya sambil sesekali bersembunyi di balik semak-semak kering saat kedua pria itu berhenti.

Di depan sana, langkah kedua pria dewasa itu terlihat semakin gontai dan tidak beraturan.

"Karto, bagaimana caranya kita menjelaskan kegagalan ini pada Kepala Desa nanti?"

Pria yang lebih muda bernama Maman bertanya dengan suara yang sangat serak dan putus asa.

"Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi pada warga, Maman."

Pria tua bernama Karto itu menjawab sambil mengusap wajahnya yang kotor oleh debu dan keringat.

"Arga benar-benar mengusir kita mentah-mentah dan menolak tawaran kita."

"Padahal kita hanya ingin meminjam anak perempuannya itu untuk mencari letak mata air."

Maman menendang batu kerikil di jalanan dengan perasaan frustrasi yang luar biasa.

"Sekarang istri dan anak-anakku pasti sedang menunggu di rumah dengan tenggorokan yang kering kerontang."

"Kita hanya bisa pasrah dan berdoa menunggu hujan turun dari langit, Maman."

Karto menepuk pundak temannya itu dengan lemah mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri tidak punya.

"Ayo kita percepat langkah kita, bukit perbatasan desa sudah terlihat di depan sana."

Natasya yang mendengarkan percakapan itu dari kejauhan merasa dadanya semakin sesak oleh rasa kasihan.

"Ayah memang harus bersikap galak untuk melindungiku dari orang-orang ini."

"Tapi kalau aku tidak menolong mereka, bayi-bayi di desa itu bisa benar-benar mati kehausan hari ini juga."

Perjalanan melewati bukit tandus itu memakan waktu hampir satu jam lamanya.

Ketika mereka akhirnya melewati puncak bukit dan menuruni jalan setapak, pemandangan Desa Karang mulai terlihat.

Mata Natasya langsung membelalak lebar melihat kondisi desa yang jauh lebih parah dari bayangannya.

Desa Karang benar-benar terlihat seperti desa mati yang sudah ditinggalkan penghuninya.

Tanah di seluruh penjuru desa itu retak-retak membentuk celah yang sangat besar dan dalam.

Tidak ada satu pun pohon atau rumput hijau yang tersisa, semuanya berubah menjadi cokelat dan mati mengering.

Srek.

Srek.

Maman dan Karto berjalan memasuki pelataran desa dan langsung disambut oleh tatapan kosong puluhan warga.

"Bagaimana hasilnya, Karto?"

Seorang pria tua yang merupakan Kepala Desa Karang berjalan mendekat dengan langkah tertatih-tatih.

"Apa kalian berhasil membawa anak pembawa keberuntungan itu ke desa kita?"

Karto langsung menjatuhkan dirinya berlutut di depan Kepala Desa dengan air mata yang menetes pelan.

"Maafkan kami, Pak Kepala Desa, kami sudah gagal membujuk ayah dari anak itu."

"Dia marah besar dan mengusir kami dari halamannya tanpa mau mendengarkan penjelasan kita lebih lanjut."

Mendengar laporan kegagalan itu, tangisan pilu langsung pecah dari kerumunan warga desa.

Banyak ibu-ibu yang memeluk anak balita mereka sambil menangis meraung-raung meratapi nasib.

"Air di tempayan rumahku sudah benar-benar kering sejak kemarin sore."

"Anakku terus menangis kehausan dan badannya mulai terasa sangat panas."

"Lalu kita harus minum dari mana lagi sekarang, sumur desa juga sudah dipenuhi oleh lumpur kering."

Sahut-sahutan keputusasaan itu menggema di udara panas Desa Karang membuat suasana terasa sangat mencekam.

Natasya bersembunyi di balik sebuah gerobak kayu yang rusak di pinggir desa.

Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang ikut mendesak keluar.

"Aku tidak boleh ikut menangis sekarang, aku datang ke sini untuk mencari solusi dan mencari air."

Natasya mengedarkan pandangannya ke sekeliling desa mencari tempat yang paling sepi dan aman.

Matanya tertuju pada sebuah area bekas aliran sungai yang sudah benar-benar kering di sudut barat desa.

Dasar sungai itu hanya dipenuhi oleh batu-batu kali yang retak dan pasir putih yang berdebu.

Dengan langkah mengendap-endap, Natasya berlari melipir menghindari pandangan para warga yang sedang berkumpul.

Sesampainya di dasar sungai kering itu, Natasya mencari sebuah batu yang cukup besar untuk bersembunyi.

Ia berjongkok di balik batu itu dan mulai menempelkan telinganya ke atas permukaan tanah yang retak.

Tuk.

Tuk.

Tuk.

Natasya mengetukkan buku-buku jarinya ke tanah dengan ritme tertentu yang berulang-ulang.

Itu adalah sandi ketukan khusus yang sering ia perhatikan dari cara tupai memanggil teman-temannya di dalam tanah.

"Ayo keluarlah, siapa pun yang ada di bawah sana."

Natasya bergumam pelan sambil terus mengetuk tanah berdebu itu dengan sabar.

"Aku sangat butuh bantuan makhluk bawah tanah sekarang juga."

Srasak.

Krusuk.

Terdengar suara gesekan tanah dari bawah bebatuan yang berjarak sekitar dua meter dari tempat Natasya berjongkok.

Tanah kering itu perlahan bergerak dan retakannya semakin membesar seolah didorong dari bawah.

Bruk.

Seekor hewan bersisik keras dengan bentuk tubuh memanjang muncul dari dalam lubang tanah tersebut.

Hewan itu adalah seekor trenggiling raksasa yang usianya sudah sangat tua, terlihat dari sisiknya yang kusam.

"Siapa yang berani mengganggu waktu tidur siangku dengan ketukan bising di atas tanah?"

Trenggiling tua itu mengendus udara dengan moncongnya yang panjang dan runcing.

"Baunya seperti bau anak manusia, tapi kenapa manusia tahu sandi panggilan bangsa penggali tanah?"

"Halo Tuan Trenggiling, namaku Natasya."

Natasya langsung melambaikan tangannya dan keluar dari balik batu tempatnya bersembunyi.

"Maaf kalau aku mengganggu waktu tidur siangmu yang berharga."

Trenggiling tua itu memutar kepalanya dan menatap Natasya dengan mata hitamnya yang kecil.

"Anak manusia yang bisa berbicara bahasa roh hutan?"

"Ternyata rumor yang kudengar dari burung-burung pipit yang cerewet itu memang benar adanya."

"Burung-burung pipit sudah menceritakan tentangku padamu ya?"

Natasya tersenyum malu-malu mendengar dirinya ternyata cukup terkenal di kalangan hewan.

"Kalau begitu urusannya akan lebih mudah karena aku datang ke sini untuk meminta tolong."

"Minta tolong apa lagi, anak manusia?"

Trenggiling itu membersihkan sisa debu dari sisiknya dengan kibasan ekornya yang keras.

"Tanah di daerah sini sedang sangat keras dan kering, aku sama sekali tidak berminat menggali lubang untukmu."

"Aku justru datang ke sini untuk menanyakan soal air, Tuan Trenggiling."

1
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!