Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tradisi Lantai Dansa
Ayyana tertawa kecil—sebuah tawa halus dan tertahan yang terdengar amat memikat di dada Chester. Ia sengaja tidak langsung membetulkan posisinya, membiarkan bobot tubuhnya sedikit bertumpu pada dada bidang sang Kapten yang kini mengeras kaku bagaikan karang.
"Ternyata Komandan Team Eclipse bisa hilang fokus hanya karena satu kecupan?" bisik Ayyana jenaka, menatap lurus pada mata cokelat gelap Chester yang bergetar menahan gejolak emosi.
Chester berdeham keras, berusaha menetralkan rasa panas yang menjalar hingga ke belakang lehernya. Ia memutar tubuh mereka kembali mengikuti irama valsa, memoles kembali ketenangannya yang sempat runtuh total dalam hitungan detik.
"Itu... pelanggaran protokol lantai dansa, Nyonya Sinclair," balas Chester dengan suara bas yang amat rendah dan serak. Jarinya di pinggang Ayyana menyenggol lembut sutra navy blue gaun itu, menahan napas saat menyadari betapa tipisnya batas pertahanan dirinya malam ini. "Dan kamu sengaja membuat saya menginjak kakimu."
"Aku tidak menyuruhmu panik sampai hilang kendali, Kapten," goda Ayyana lagi. Langkah kakinya kembali selaras, gaun panjangnya mengayun anggun seiring gerakan mereka di bawah pendar lampu kristal aula. "Tapi reaksi tadi... membuktikan bahwa pria di depanku ini bukan lagi patung militer tanpa rasa."
Chester tidak menyangkalnya. Ia justru mengetatkan lingkaran tangannya di pinggang Ayyana, memangkas sisa jarak di antara mereka hingga aroma vanilla yang khas itu kembali memenuhi indranya.
Dari sudut mata sang Kapten, ia menyadari Flyn, Ocla, Zack, dan Rowan di tepi aula sedang menyaksikan momen tersebut.
Flyn tampak menahan tawa setengah mati di balik gelasnya sambil menyenggol bahu Rowan, sementara Zack membuang muka berpura-pura tidak melihat kebodohan komandannya.
"Cukup provokasinya, Ayyana," gumam Chester rendah, suaranya sarat akan peringatan posesif yang amat dalam. "Sebelum saya memutuskan untuk memotong acara gala ini lebih awal dan membawa kamu pulang ke rumah dinas."
Ayyana menengadah, menyunggingkan senyum paling manis yang membuat jantung Chester berpacu liar tak terkendali. "Siapa takut, Kapten?"
Namun, sebelum Chester sempat membimbing Ayyana keluar dari karpet lantai dansa menuju area meja VIP, sebuah suara wanita berintonasi hangat dan teratur menyela dari arah samping.
"Eksekusi langkah yang sangat mengesankan, Kapten Sinclair."
Chester menoleh, dan refleks militernya seketika membuat posturnya makin tegap kaku.
Di sana, berdiri Kendall Walts. Wanita itu tampil sangat anggun dan berkelas dalam balutan gaun malam formal berpotongan lurus warna charcoal gray.
Sebagai putri dari salah satu perwira petinggi militer paling berpengaruh di pangkalan sekaligus pejabat staf administrasi, Kendall memiliki posisi sosial yang sangat disegani di lingkaran elite ini.
Kendall tersenyam ramah—sebuah senyum akrab khas seseorang yang sudah lama mengenal Chester sejak masa-masa awal karier sang Kapten di kompleks pangkalan.
"Saya sempat khawatir laporan evaluasi Sektor Bravo kemarin bakal bikin kamu membatalkan Dansa Pembuka malam ini, Ches," ujar Kendall santai, mengabaikan ketegangan politik di sekitar mereka. Tangannya terangkat singkat, secara alami mengusap bahu seragam PDU Chester untuk merapikan sedikit lipatan kain yang tak presisi—gestur kebiasaan lama seorang putri petinggi yang sudah sangat biasa berinteraksi erat dengan para perwira muda. "Untung pemrosesan berkas timmu selesai tepat waktu tadi sore."
Chester menanggapi dengan anggukan formal yang amat kaku. "Laporan sudah bersih, Kendall. Terima kasih."
Meski wajah Chester tetap mempertahankan garis-garis dingin khas perwira, gestur tubuhnya tidak sewaspada atau setegang saat ia berhadapan dengan lawan politik seperti Harris. Ia merespons Kendall dengan ketenangan kaku seorang pria yang sedang berbicara dengan putri petinggi militer yang juga rekan kerja lamanya.
Namun, sentuhan singkat jemari Kendall di bahu seragam PDU Chester tadi tidak luput dari pandangan mata Ayyana.
Ayyana berdiri bersandar anggun di samping Chester.
Gaun sutra navy blue berpotongan rendah yang mengekspos tulang selangkanya seketika memancarkan aura dingin yang teramat tajam.
Senyum di bibirnya tetap mengembang sempurna—elegan, berkelas, namun sarat akan ancaman tak kasat mata.
Kendall kini berpaling sepenuhnya menatap Ayyana.
Tatapannya meneliti keanggunan Ayyana sebelum menyunggingkan senyum diplomatis yang matang.
"Nyonya Ayyana Sinclair," sapa Kendall ramah, dengan intonasi percaya diri khas putri petinggi pangkalan. "Suatu kehormatan akhirnya bisa menyapa istri dari Kapten terbaik di pangkalan ini secara langsung untuk kedua kalinya."
Ayyana memiringkan kepalanya sedikit, menyambut sapaan itu dengan dagu terangkat anggun. "Senang bertemu denganmu lagi, Kendall."
Tanpa diduga, Kendall melangkah setengah tapak lebih dekat.
Dengan gestur yang sangat tenang namun menyiratkan posisi tawar yang kuat, Kendall menatap Ayyana lurus-lurus sebelum menyampaikan sebuah permintaan yang mengejutkan.
"Kalau Nyonya Sinclair tidak berkeberatan..." ujar Kendall halus, suaranya terdengar ramah namun sarat akan ketegangan terselubung, "...bisakah saya meminta izin untuk meminjam Kapten tim khusus ini sebentar? Hanya untuk satu putaran dansa berikutnya. Sekadar menyambung tradisi lama para putri petinggi pangkalan dengan para komandan tim."
Permintaan izin yang dilontarkan Kendall secara terbuka di tengah aula VIP itu mendadak membuat suasana di sekitar mereka membeku.
Chester mendadak merasa udara di sekitar mereka menjadi sangat tipis dan beracun.
Rahang sang Kapten mengetat keras seketika. Binar mata Ayyana yang tenang saat mendengar permintaan izin tersebut terasa jauh lebih berbahaya daripada provokasi politik apa pun di aula malam ini.
Ayyana menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin.
Tangannya yang melingkar di lengan berotot Chester makin mempererat genggamannya, secara tidak langsung menegaskan kepemilikan mutlak sebelum ia memberikan jawaban atas permintaan sang putri petinggi militer.
Sebelum Ayyana sempat membalas ucapan Kendall, langkah kaki tegap membelah kerumunan.
Jenderal Jacob Sinclair melangkah mendekati lingkaran kecil itu, membawa aura komando mutlak yang seketika menghentikan pembicaraan.
"Sepertinya tradisi pangkalan harus tetap berjalan, Kendall," potong Jenderal Jacob dengan suara basnya yang berat dan berwibawa, secara tidak langsung memberikan lampu hijau atas permintaan putri rekannya tersebut.
Jenderal ber bintang empat itu mengalihkan pandangannya pada Ayyana.
Tatapan matanya yang sekeras batu kini memancarkan perintah tak tersirat yang amat jelas—sebuah pergerakan politik di tengah aula yang tak bisa ditolak di depan publik.
"Dan untuk Nyonya Sinclair..." Jenderal Jacob mengulurkan tangannya secara formal pada Ayyana, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kalkulasi. "...biarkan mertuamu ini yang meminta kehormatan untuk berdansa di putaran berikutnya."
Chester membeku seketika. Rahangnya mengetat keras hingga otot lehernya menegang kuat. Binar mata keabuan gelapnya memancarkan protes dan naluri kepemilikan yang amat pekat, tak rela membiarkan Ayyana lepas dari jangkauannya—apalagi menyerahkan istrinya ke dalam dansa politik bersama ayahnya sendiri, sementara ia dipaksa berada di lantai dansa bersama Kendall.
Namun, Ayyana tetap tenang.
Dengan keanggunan seorang putri bangsawan yang tak pernah gentar, ia menyambut uluran tangan Jenderal Jacob dengan senyum tipis yang amat memikat.
Sebelum membiarkan sang Jenderal membimbingnya melangkah, Ayyana berpaling menatap Chester.
Jarinya secara perlahan meluncur turun dari lengan PDU Chester, meninggalkan sentuhan menyapu di dada sang Kapten seraya berbisik halus yang hanya bisa didengar oleh Chester:
"Ingat instruksimu sendiri, Kapten... jaga jarakmu di lantai dansa."
Ayyana lalu berbalik dan melangkah bersama Jenderal Jacob menuju tengah arena, meninggalkan Chester yang berdiri mematung di samping Kendall dengan rahang mengetat kaku dan binar mata abu gelap yang membakar dingin.
Alunan musik valsa putaran kedua mulai mengudara di seluruh penjuru aula Markas Besar.
Di tengah lantai dansa, Jenderal Jacob membimbing Ayyana dengan gerakan yang amat presisi dan formal.
Satu tangan sang Jenderal berada kaku di punggung Ayyana, sementara tangan lainnya memegang jemari menantunya dengan ketegasan seorang pimpinan tertinggi.
Ayyana berdansa dengan keanggunan mutlak.
Gaun sutra navy blue-nya mengayun indah menyapu lantai, menarik perhatian banyak pasang mata. Namun, terlepas dari posturnya yang anggun, binar mata cokelat Ayyana berkilat dingin.
"Kamu bertindak sangat berani malam ini, Ayyana," ujar Jenderal Jacob rendah, suaranya hampir tenggelam di antara denting instrumen gesek. "Menolak gertakan Harris, dan membalas ucapan saya tentang masa lalu di Florida."
Ayyana menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi kelas atas. "Saya hanya berdiri di posisi yang seharusnya, Jenderal. Sebagai Nyonya Sinclair, saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan martabat suami saya—atau pernikahan kami."
Jenderal Jacob menyipitkan matanya sedikit, menangkap perlawanan halus namun berkelas dari menantunya. "Chester adalah seorang prajurit. Emosi dan rasa posesif hanya akan melemahkan kalkulasi taktisnya di pangkalan."
"Rasa protektif seorang suami bukan kelemahan, Jenderal," balas Ayyana halus namun tajam, menatap lurus mata keras mertuanya. "Itu adalah alasan kenapa Chester berdiri jauh lebih kuat daripada pria mana pun di keluarga ini."
"Jangan terlalu cepat berpuas diri, Ayyana," bisik Jenderal Jacob dengan nada datar yang teramat dingin dan tajam. "Chester hanya menggantikan kakaknya. Saat Haikal kembali nanti... posisinya tetap sama. Haikal adalah suamimu yang sebenarnya."
Ayyana mematung sejenak di tengah putaran dansa.
Pengakuan terang-terangan dari Jenderal Jacob bahwa Chester hanyalah pemegang posisi sementara hingga Haikal pulang menusuk atmosfer di antara mereka seketika.
Namun, bukannya gentar atau gentar, binar mata Ayyana justru makin membeku tajam. Ia menatap lurus ke dalam manik mata pimpinan tertinggi markas itu dengan keberanian yang tak tergoyahkan.
Sementara itu, hanya beberapa meter dari mereka, suasana di lantai dansa terasa teramat janggal dan mencekam.
Kendall Walts melangkah anggun mengikuti alunan musik, meletakkan jemarinya di bahu seragam PDU Chester. Namun, Kapten Komandan Team Eclipse itu berdiri amat kaku.
Tangan Chester di pinggang Kendall memegang kain gaun charcoal gray wanita itu dengan jarak ekstra—sebuah batas fisik kaku yang secara terang-terangan diperlihatkan Chester untuk menjaga regulasi pribadi.
"Kamu kaku sekali, Ches," gumam Kendall pelan sambil terkekeh halus, mencoba mencairkan suasana. "Ini cuma dansa tradisi pangkalan, bukan inspeksi pasukan."
Chester tidak menyahut. Rahangnya mengetat keras hingga garis mukanya tampak sangat tajam di bawah pendar lampu kristal.
Pandangan mata abu gelapnya sama sekali tidak tertuju pada Kendall; matanya terkunci total pada sosok Ayyana yang sedang diputar secara anggun oleh ayahnya sendiri di tengah lantai dansa.
Setiap kali gaun sutra navy blue berpotongan rendah itu bergerak, dan setiap kali garis leher serta tulang selangka Ayyana terpapar di bawah sorotan lampu VIP, dada Chester bergejolak hebat oleh rasa cemburu dan naluri kepemilikan yang teramat pekat.
"Chester?" panggil Kendall lagi, menyadari pikiran pria di depannya sama sekali tidak berada di tempat itu.
"Empat puluh detik lagi alunan lagu ini selesai, Kendall," potong Chester kaku, suara basnya keluar begitu rendah dan dingin tanpa cela. "Dan saya punya tugas komando yang harus diselesaikan."
Kendall tertegun sejenak menatap wajah dingin Kapten di hadapannya, menyadari sepenuhnya bahwa ruang di hati dan pikiran Chester Sinclair sudah terkunci rapat tanpa sisa untuk wanita mana pun.
Begitu nada terakhir lagu valsa bergema dan tepuk tangan tamu undangan riuh terdengar, Chester langsung menghentikan langkahnya secara instan.
Tanpa menunggu jeda protokol, ia membungkuk singkat pada Kendall, lalu membalikkan badannya—melangkah lebar dan tegas membelah lantai dansa langsung menuju ke arah Ayyana.