NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Ruang konsultasi itu terlalu putih.

Terlalu putih, terlalu dingin, dan terlalu sunyi sampai suara pendingin ruangan terdengar seperti dengungan lebah di dalam kepala. Dindingnya putih, mejanya putih, bahkan map di atas meja itu pun putih. Tidak ada warna lain yang bisa mengalihkan perhatian.

Arhan Hamid duduk dengan punggung yang tidak menyentuh sandaran kursi. Tubuhnya condong ke depan, tegang. Tangannya menggenggam lututnya sendiri begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mengatur napasnya, tapi napasnya terasa pendek dan berat.

Di depannya, Dokter Rendra membuka map cokelat tipis dengan gerakan yang sangat hati-hati. Dokter itu menatap hasil di dalamnya cukup lama, lalu menatap Arhan lama sebelum akhirnya bersuara.

"Pak Arhan," kata dokter itu pelan.

Arhan mengangguk. Tenggorokannya kering. Ia sudah menunggu kalimat ini sejak dua jam yang lalu.

"Kita sudah melakukan semua pemeriksaan lanjutan. Hasil biopsi dan CT scan terakhir mengkonfirmasi apa yang kita takutkan. Kanker serviks istri Bapak, Ibu Anya, sudah berada di stadium lanjut. Penyebarannya cukup agresif."

Arhan tidak menjawab. Ia hanya menatap garis-garis kayu di atas meja, mencoba mencerna kata demi kata yang jatuh seperti batu satu per satu. Agresif. Stadium lanjut. Kata-kata itu terasa asing tapi menghantam tepat di dadanya.

Dokter Rendra menghela napas. Ia sudah dua puluh tahun menjadi dokter onkologi, ia sudah melihat ratusan keluarga hancur di ruangan putih ini, tapi bagian ini tidak pernah menjadi lebih mudah.

"Secara medis, kami sudah melakukan yang terbaik. Kemoterapi paliatif yang kemarin kita berikan... respons tubuh Bu Anya tidak sebaik yang kita harapkan. Badannya terlalu lemah untuk menerima dosis yang lebih tinggi. Dengan kondisi saat ini, saya harus jujur kepada Bapak."

Jeda itu terasa menggantung sangat lama di antara mereka.

"Usia Ibu Anya... mungkin tidak akan lama lagi. Kami memperkirakan sekitar tiga puluh hari."

Tiga puluh hari.

Angka itu tidak terdengar seperti angka. Terdengar seperti vonis. Seperti pintu yang dibanting tutup dengan keras di depan wajahnya.

Arhan mengerjap. Sekali. Dua kali. Ia merasakan sesuatu yang panas mendesak di belakang matanya, sesuatu yang ingin keluar, tapi ia menahannya mati-matian. Ia tidak ingin menangis di sini. Tidak di depan dokter ini. Tidak di ruangan yang terlalu putih ini.

"Tiga puluh hari?" suaranya akhirnya keluar, serak dan hampir tidak terdengar. Ia mengulanginya seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Tiga puluh hari, Dok?"

Dokter Rendra mengangguk pelan, dengan rasa bersalah yang tulus. Ia melepas kacamatanya.

"Saya tahu ini sangat berat, Pak Arhan. Saya sangat menyayangkan harus menyampaikan ini. Saya tahu Bapak dan Ibu Anya masih sangat muda."

Arhan menatap lantai. Pandangannya kosong.

"Apakah tidak ada... pilihan lain, Dok? Operasi? Obat dari luar negeri? Terapi yang baru? Saya bisa usahakan. Saya bisa pinjam, saya bisa jual rumah, berapapun biayanya. Tolong, Dok."

Nada suaranya mulai bergetar. Keputusasaan itu terdengar jelas.

"Pak Arhan, jika ada satu persen saja kemungkinan, saya akan menjadi orang pertama yang menyarankannya," jawab Dokter Rendra dengan suara yang tetap tenang tapi tegas. "Tapi pada titik ini, tindakan invasif, operasi besar, justru hanya akan menambah penderitaan Bu Anya. Tubuhnya tidak akan kuat. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjaga kualitas hidupnya. Membuat sisa waktunya senyaman mungkin, tanpa rasa sakit yang berlebihan."

Arhan menunduk. Air mata yang ia tahan akhirnya lolos satu tetes, jatuh ke punggung tangannya yang masih menggenggam lutut. Ia cepat-cepat menghapusnya dengan kasar, dengan punggung tangan.

"Lalu... apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya harus gimana?"

"Untuk kasus seperti Bu Anya, kami biasanya menyarankan perawatan di rumah. Home care," kata Dokter Rendra. "Di rumah, dikelilingi orang-orang yang dicintai, pasien biasanya jauh lebih tenang. Rasa sakitnya bisa kita kelola dengan obat-obatan yang akan kami siapkan. Perawat kami bisa datang setiap hari untuk memantau kondisinya. Rumah sakit... kadang terlalu dingin untuk perpisahan."

Kata 'perpisahan' itu menghantam Arhan lebih keras daripada kata 'kanker' itu sendiri.

"Di rumah saja," ulang Arhan lirih. Suaranya hampir hilang.

"Iya. Biarkan dia di tempat yang paling dia cintai. Lakukan hal-hal yang dia suka. Jangan habiskan waktunya dengan selang infus dan bau obat kalau memang tidak perlu. Biarkan dia pulang, Pak Arhan."

Arhan terdiam cukup lama. Di dalam kepalanya, ia membayangkan rumah mereka. Rumah kecil dengan taman samping yang selalu dirawat Anya dengan penuh cinta. Kursi rotan di teras tempat Anya suka membaca di sore hari sambil menunggu dia pulang. Dapur yang selalu wangi kayu manis karena Anya suka sekali membuat kue kering setiap akhir pekan.

Rumah itu adalah dunia mereka.

"Baik, Dok. Saya setuju. Kami pulang. Saya rawat di rumah," kata Arhan akhirnya. Suaranya sudah lebih bulat, meski masih serak.

"Keputusan yang bijak, Pak. Saya akan siapkan semua surat jalan, resep obat anti nyeri, dan semua keperluannya. Perawat akan saya jadwalkan mulai besok pagi untuk datang ke rumah. Semua akan saya atur."

"Terima kasih, Dok."

Dokter Rendra berdiri dan mengulurkan tangan. Arhan menyambutnya. Genggaman dokter itu hangat dan erat, seolah ingin menyalurkan sedikit kekuatan yang tersisa padanya.

"Pak Arhan, satu lagi. Bu Anya belum tahu detail prognosis ini, kan?"

Arhan menggeleng cepat. "Belum. Saya... saya belum sanggup bilang. Tadi pagi dia masih tanya kapan bisa pulang dan berkebun lagi."

"Sampaikan dengan cara Bapak sendiri. Tapi jangan terlalu lama ditunda," kata Dokter Rendra pelan. "Dia berhak tahu, dan dia butuh waktu untuk bersiap juga. Bicarakan baik-baik di rumah."

Arhan hanya mengangguk. Kata-kata itu terasa sangat berat untuk dicerna saat ini.

"Permisi, Dok. Saya... saya ingin bicara dengan istri saya."

"Tentu. Silakan, Pak Arhan. Kalau butuh apa-apa lagi, panggil saya."

Arhan pamit. Ia keluar dari ruang konsultasi dengan langkah yang terasa bukan miliknya. Kakinya seperti melayang. Koridor rumah sakit itu panjang, berbau antiseptik yang menyengat, dan lampu neonnya berdengung pelan tanpa henti. Setiap langkah sepatunya memantul di lantai yang licin dan mengkilap.

Ruangan Anya ada di ujung lorong, nomor 302.

Semakin dekat ia melangkah ke pintu itu, semakin pelan kakinya. Bukan karena lelah, tapi karena kenangan itu tiba-tiba datang tanpa permisi, menyerbu kepalanya begitu saja.

Ia ingat Anya.

Bukan Anya yang pucat dengan selang infus di tangannya seperti sekarang. Tapi Anya yang sehat. Anya yang tiga bulan lalu masih tertawa lepas di dapur sambil mengaduk adonan kue, dengan tepung menempel di ujung hidungnya.

"Han, cicipin deh, kurang gula nggak? Ayo, cicipin!"

Anya yang cantik dan ceria. Rambutnya yang panjang dan hitam selalu ia ikat asal-asalan dengan karet. Matanya yang berbinar setiap kali bercerita tentang bunga-bunga barunya yang mekar di halaman samping. Suaranya yang selalu memanggilnya dengan manja di setiap pagi, "Arhan ku... udah bangun?"

Anya yang memeluknya dari belakang ketika ia sedang mencuci motor di halaman, tanpa peduli bajunya akan basah terkena cipratan air.

Wanita itu adalah seluruh rumahnya. Seluruh dunianya.

Dan sekarang dokter bilang rumah itu hanya punya waktu tiga puluh hari lagi sebelum runtuh selamanya.

Dada Arhan sesak. Sesak sekali sampai ia harus berhenti tepat dua langkah di depan pintu nomor 302. Tangannya gemetar hebat. Ia mengangkat tangan untuk menghapus air mata yang kini mengalir deras tanpa bisa ia tahan lagi. Ia menyeka wajahnya dengan kedua telapak tangan, menarik napas panjang, dalam, dan bergetar.

Ia tidak boleh masuk dengan wajah hancur seperti ini. Anya pintar sekali membaca wajahnya. Anya akan tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Kuat, Han. Kamu harus kuat. Di depan Anya, kamu harus jadi kuat. Kamu nggak boleh hancur sekarang," gumamnya dalam hati.

Ia mengatur napasnya lagi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Ia memaksakan sebuah senyum kecil, senyum yang ia latih khusus untuk Anya. Senyum yang berkata, "Semua baik-baik saja, aku di sini, kamu tidak usah khawatir."

Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Arhan meraih gagang pintu yang dingin itu.

Ia mendorongnya perlahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!