Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Tiga hari berlalu di dalam perawatan intensif rumah sakit swasta tersebut. Luka-luka di punggung Hazel mulai mengering berkat obat-obatan terbaik dan penanganan tim medis profesional yang dikerahkan Arlend. Hari ini, Hazel akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit.
Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam mewah berpelat khusus milik klan Victor telah bersiap di pelataran. Hazel tidak dipulangkan ke tempat tinggal lamanya, melainkan langsung diboyong menuju mansion megah milik Arlend yang berdiri kokoh dan terisolasi di kawasan elite atas bukit.
Begitu pintu ganda berukir emas di lantai dua dibuka oleh dua orang pelayan pribadi, Hazel melangkah masuk ke dalam kamar utamanya.
Kamar itu teramat luas dan mewah, didominasi oleh warna krem, putih, dan aksen emas yang elegan. Di tengah ruangan terhampar ranjang ukuran king-size berkanopi kain sutra yang sangat lembut, dilengkapi karpet bulu tebal yang menenggelamkan setiap pijakan kakinya. Lampu kristal gantung raksasa memantulkan pendar cahaya hangat yang memanjakan mata, sementara jendela kaca setinggi langit-langit menyajikan pemandangan lanskap kota dan hamparan pepohonan hijau dari ketinggian.
Hazel melangkah perlahan mengelilingi ruangan. Jemari halusnya mengusap permukaan meja rias berukir klasik dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa kulit yang sangat empuk. Ia benar-benar menikmati setiap sudut estetika kemewahan tempat ini. Ini adalah kenyamanan dan perlindungan mutlak yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun tinggal di tempat tinggal keluarga Adeline yang penuh intimidasi.
Ia berdiri dan berjalan menuju cermin hias berbingkai emas ukuran penuh. Hazel menatap bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Wajahnya yang dulu selalu menyiratkan kepasrahan kini tampak segar, dengan binar mata yang jernih namun memancarkan keangkuhan yang dingin.
Sebuah senyuman miring yang licik dan penuh kepuasan terukir perlahan di bibir rampingnya.
Semua berjalan sesuai porsinya... bisik Hazel di dalam hatinya, tatapannya berkilat tajam di balik pantulan cermin.
Berdiri di kamar sekelas istana ini mendadak melempar ingatan Hazel kembali ke masa empat tahun lalu, saat ia masih menempuh pendidikan di luar negeri.
Saat itulah kabar duka yang menghancurkan hidupnya datang: almarhumah ibunya meninggal dunia secara tragis. Yang membuat dadanya selalu terbakar oleh dendam yang tak padam adalah kenyataan pahit di balik kematian itu. Ibu Hazel adalah wanita sederhana yang teramat tulus. Beliau bahkan tidak pernah menginjakkan kaki atau mencampuri urusan rumah tangga keluarga Adeline. Ayah Hazel-lah yang secara sepihak terobsesi dan mengejar-ngejar cinta ibunya, meskipun pria itu sudah memiliki istri sah, yaitu Helena.
Namun Helena, dengan hati iblis dan cemburu buta yang picik, justru melacak keberadaan ibu Hazel yang hidup tenang di kota lain. Helena mengirim orang untuk mengintimidasi, merusak kehidupan ibunya, hingga memicu insiden berdarah yang merenggut nyawa wanita yang paling dicintai Hazel tersebut. Sejak hari di mana ia menggenggam nisak ibunya empat tahun lalu, Hazel telah bersumpah untuk menuntut balas atas setiap tetes air mata dan darah yang mengalir dari ibunya.
Helena... Cateline... kalian pikir bisa hidup tenang setelah membunuh Mamaku dan membuatku menderita? batin Hazel, mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga jarinya memutih. Kalian salah besar.
Membalikkan badan dari cermin, Hazel merapikan pakaian santainya yang terbuat dari bahan sutra halus. Merasa perutnya mulai lapar, ia memutuskan untuk turun ke lantai dasar.
Hazel menyusuri tangga melingkar berkarpet merah yang megah, menuju ke ruang makan utama. Di atas meja kayu jati raksasa, berbagai hidangan lezat beraroma menggugah selera sudah tertata rapi di dalam piring-piring porselen. Seorang pelayan paruh baya berseragam rapi langsung membungkuk hormat saat melihat Hazel mendekat.
"Selamat siang, Nona Hazel. Silakan duduk, kami sudah menyiapkan menu makan siang khusus sesuai arahan nutrisi dari dokter," ucap pelayan itu dengan nada yang teramat sopan dan santun.
Hazel menarik kursi utama dan mendudukkan dirinya. Ia memandang sekeliling ruang makan yang luas dan hening itu. Tak ada tanda-tanda keberadaan Arlend di sana.
"Terima kasih," sahut Hazel lembut. Ia mengambil sendoknya sejenak, lalu mendongak menatap pelayan di sampingnya. "Di mana Kak... maksudku, di mana Tuan Arlend? Apakah dia belum pulang?"
Pelayan itu kembali membungkukkan badannya sedikit sebelum menjawab.
"Tuan Besar Arlend sedang tidak ada di mansion sejak pagi tadi, Nona," terang pelayan tersebut dengan teratur. "Beliau saat ini sedang berada di markas utama klan Victor bersama Tuan Gideon untuk menyelesaikan pembersihan akhir aset keluarga Adeline dan mengurus beberapa urusan bisnis penting. Tuan Besar berpesan agar Nona fokus beristirahat dan makan dengan baik, dan beliau akan berusaha kembali sebelum makan malam."
Hazel manggut-manggut pelan. Sebuah kilatan licik melintas singkat di matanya sebelum ia menyunggingkan senyum manis yang nampak polos di hadapan pelayan.
"Begitu ya... Baik kalau begitu," gumam Hazel pelan seraya mulai menyantap hidangannya.
Di balik setiap suapan makanan mewahnya, otak cerdas Hazel kembali berputar cepat, menyusun skenario berikutnya untuk memanfaatkan kekuasaan Arlend yang sedang bergerak di luar sana demi meratakan sisa-sisa hidup Helena dan Cateline.
double up y thor 😄🙏