Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bukan Lagi Aynara yang Dulu
Aynara baru saja selesai melihat seluruh ruangan unit apartemennya ketika suara bel terdengar.
Ding dong.
Ia menoleh. Aynara berjalan mendekati pintu. Sebelum membukanya, ia melihat layar kecil di samping pintu yang menampilkan gambar dari kamera di depan unit.
Seorang petugas berdiri sambil membawa beberapa kardus.
Aynara membuka pintu.
"Permisi, Nona. Ini barang yang tadi dikirim dari butik."
"Oh, iya. Terima kasih."
Setelah menerima barang-barangnya, Aynara membawa beberapa kardus tersebut masuk ke kamar utama. Ia membuka satu per satu dan mulai menata pakaian barunya ke dalam lemari.
Wajahnya tampak begitu riang. Sesekali ia memandangi pakaian yang baru dibelikan ibu mertuanya sambil tersenyum sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Riva muncul di layar. Aynara segera mengangkatnya.
"Halo, Riv."
"Ra, kamu di mana? Jangan bilang kamu kabur ke luar negeri tanpa ngajak aku."
Aynara terkekeh. "Aku sudah punya tempat tinggal baru."
"Hah? Serius?" Suara Riva naik satu oktaf.
"Iya," sahut Aynara sambil mengaktifkan pengeras suara, lalu meletakkan ponselnya. "Aku dapat apartemen."
"HAH? Apartemen?" Suara Riva langsung meninggi. "Kamu habis dapat warisan atau nikah sama sultan?"
Aynara tertawa, namun tangannya terus bergerak menyusun pakaian. "Bukan dua-duanya."
"Terus? Jangan bilang kamu jadi simpenan om-om!" Riva terdengar khawatir.
"Sembarangan. Kamu pikir aku perempuan apaan?" Aynara pura-pura kesal. "Aku ditawarin tinggal di apartemen milik Mama Asti."
Riva terdiam beberapa detik. "Gratis?"
"Gratis," sahut Aynara menahan senyum.
"Termasuk listrik?" Riva makin kepo.
Tangan Aynara yang sedang menggantung pakaian berhenti sejenak. "Kayaknya."
"Air?" lanjut Riva. "Wi-Fi?"
Aynara tertawa. "Riv, kamu kepo atau mau audit aset?"
"Ya namanya juga kepo. Kalau gak lengkap 'kan masih penasaran."
Aynara menggeleng sambil tersenyum. "Riv, kalau kamu gak keberatan, aku mau kamu tinggal bareng aku."
Riva langsung berseru. "Serius?!"
"Dua rius," sahut Aynara sambil merapikan pakaian yang digantung.
"Tapi kenapa gak di kontrakanku aja, Ra? Itu sudah paling murah. Kelas elite."
Aynara langsung teringat istilah sahabatnya. "Elite ekonomi sulit?"
"Jangan menghina tempat tinggalku," protes Riva.
Aynara terkekeh. "Kalau kamu tinggal di sini, kamu gak perlu bayar kontrakan."
"Hah?"
"Kamu tinggal bareng aku. Cukup bantu bersih-bersih."
Riva menautkan alisnya. "Beneran?"
"Sangat yakin," jawab Aynara mantap.
"Jadi aku cuma tinggal gratis, makan kalau ada, tidur nyaman, terus bantu bersih-bersih?" Riva memastikan.
"Iya." Aynara menutup pintu lemari.
"Ra..."
"Hm?"
"I love you."
Aynara langsung tertawa. "Jangan lebay."
"Ini bukan lebay. Ini namanya menemukan sahabat yang membawa kesejahteraan."
Aynara melirik ponselnya. "Jadi setuju?"
"SETUJU!" Jawaban Riva begitu cepat sampai Aynara kembali terkekeh. "Kapan aku pindah?"
Aynara mengambil ponselnya. "Kalau kamu mau, sekarang aku jemput."
"SEKARANG?!" Suara Riva langsung melengking.
Aynara menjauhkan ponselnya. "Iya."
"Tunggu! Aku belum siap." Suara Riva terdengar panik. "Aku baru nyampe kontrakan ini."
"Katanya mau pindah sekarang," seloroh Aynara.
"Siap pindah beda dengan siap secara mental, Ra."
Aynara menahan tawa. "Ya sudah, siap-siap gih. Aku jemput."
"Oke! Aku tunggu. Jangan lama-lama. Takutnya aku berubah pikiran dan kembali mencintai kontrakanku."
"Riva..."
"Iya, iya. Aku siap!"
Panggilan berakhir.
Aynara menggeleng sambil tersenyum. "Dasar."
***
Riva baru saja selesai mengepak barang-barangnya ketika Aynara tiba di depan kontrakan.
Satu koper berukuran sedang sudah berdiri di dekat pintu, ditemani sebuah kardus yang tampaknya berisi barang-barang kecil.
Aynara mengangkat alis. "Cuma segitu?"
"Namanya juga anak rantau, Ra. Harta bendaku gak banyak." Riva kemudian menunjuk sebuah lemari plastik di sudut kamar. "Tapi ini ikut."
Aynara menatap lemari itu. "Ngapain?"
"Ya dibawalah," sahut Riva.
"Di apartemen sudah ada lemari."
Riva langsung menatap Aynara dengan ekspresi serius. "Sayang, ini bukan sekadar lemari. Ini saksi bisu perjuangan hidupku."
Aynara menahan tawa.
"Dan kalau ditinggal, siapa yang mengganti uang belinya? Kamu?" Riva mengusap permukaan lemari itu dengan dramatis. "Aku beli pakai duit. Bukan pakai daun jambu."
"Riv."
"Kalau memang gak mau dibawa, minimal ucapin selamat tinggal yang layak. Kasihan dia."
"Riv..."
"Atau kita bisa bongkar dulu, nanti dirakit lagi di apartemen. Lumayan, 'kan? Gratis dekorasi."
Aynara akhirnya menghela napas. "Kalau kamu mau bawa lemari itu, kamu tinggal di sini saja."
Riva langsung terdiam. "Serius?" tanyanya.
Aynara mengangguk santai. "Aku pergi."
"Eh, jangan!" Riva buru-buru meraih koper. "Nih, kamu bawa koper. Aku bawa kardus."
Aynara terkekeh. "Tadi katanya mau bawa lemari."
Riva menunjuk pelipisnya. "Setelah kupikir-pikir, kenangan itu cukup disimpan di hati."
Aynara menggeleng. "Dasar."
Mereka akhirnya keluar dari kontrakan. Riva mengunci pintu sebelum berjalan mengikuti Aynara menyusuri gang. "Ra, kamu udah pesan taksi?"
"Sudah ada kendaraan."
Riva mengangguk tanpa curiga. "Oke."
Begitu mereka sampai di ujung gang, Riva langsung berhenti. Matanya menyapu jalan di depan mereka.
Tidak ada taksi. Tidak ada mobil dengan tulisan perusahaan taksi.
Yang terlihat hanya sebuah Mercedes-Benz C-Class berwarna putih mutiara terparkir di seberang jalan.
"Mana taksinya, Ra?"
Aynara tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan sebuah remote dari dalam tasnya.
Klik.
Lampu mobil putih mutiara itu berkedip, disusul bunyi kunci otomatis yang terbuka.
Riva membeku. Matanya berpindah dari remote di tangan Aynara ke mobil di seberang jalan. "Jangan bilang..."
Aynara sudah berjalan menyeberangi jalan sambil menarik koper.
"Ra!" Riva buru-buru menyusul. "Jangan bilang itu taksinya!"
Aynara tetap diam. Begitu sampai di samping mobil, ia menekan tombol pada remote sekali lagi. Bagasi belakang terbuka secara otomatis.
Riva semakin melongo. "Ra..."
Aynara memasukkan koper Riva ke dalam bagasi.
Riva menunjuk mobil itu dengan wajah tidak percaya. "Ini bukan taksi, 'kan?"
"Bukan," jawab Aynara.
"Terus?" desak Riva.
"Mobilku."
Riva menatap Aynara beberapa detik. Kemudian ia menepuk dahinya sendiri. "Ya ampun..."
"Kenapa?" Aynara mengambil kardus di pelukan Riva, memasukkannya ke dalam bagasi, lalu menutupnya.
Riva mendekat sambil berbisik seolah takut mobil itu mendengar. "Ra, sejak kapan kamu punya mobil beginian?"
Aynara tersenyum tipis. "Baru hari ini."
"Baru hari ini?!" Riva menatap mobil itu lagi dari depan sampai belakang.
"Berarti kemarin aku masih punya teman yang hidupnya pas-pasan, hari ini aku punya teman yang punya Mercedes!"
Aynara terkekeh. "Masuk."
Riva masih berdiri di tempat. "Ra..."
"Hm?"
"Ini beneran bukan mobil pinjaman?"
"Bukan."
"Rental?"
"Bukan."
"Undian?"
Aynara menggeleng.
"Warisan?"
"Riva..."
"Ya?"
"Kalau kamu gak masuk sekarang, aku tinggal."
Riva langsung membuka pintu penumpang. "Baik, Nyonya Pemilik Mercedes. Hamba siap mengabdi."
Aynara tertawa kecil sebelum masuk ke kursi pengemudi.
Riva menyusul dan menutup pintu. Namun baru beberapa detik duduk, ia kembali menoleh kepada Aynara. "Ra..."
"Apa lagi?"
"Kalau aku tinggal sama kamu, aku masih boleh bawa pulang galon kosong dari apartemen gak?"
Aynara menatapnya datar. "Kenapa?"
"Ya siapa tahu kehidupan elite ternyata punya fasilitas galon kosong."
Aynara akhirnya tertawa. "Dasar aneh."
Riva ikut terkekeh. "Yang penting sahabatmu ini tetap sederhana, Ra. Mobil boleh Mercedes, tapi jiwa tetap merakyat."
***
Di kediaman Wicaksono...
"Aksa," panggil Asti saat putranya melewati ruang keluarga.
Aksa menghentikan langkah dan menoleh. "Ada apa, Ma?"
"Hari ini Mama ketemu Nara." Asti tersenyum tipis. "Kamu bakal kaget kalau lihat dia."
Aksa mengernyit. "Kaget kenapa?"
"Ikut Mama ketemu dia." Asti tersenyum penuh arti. "Besok."
...🔸🔸🔸...
...“Jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena keadaan yang sedang ia jalani. Hidup bisa berubah kapan saja, dan orang yang hari ini kita anggap tidak berarti mungkin saja menjadi seseorang yang jauh lebih berharga daripada yang pernah kita bayangkan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.