Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Suara Elara itu membuat mereka baru menyadari jika ada orang lain selain kedua orangtuanya.
“Ma, dia siapa?” tanya Lionel.
“Masuk dulu, nanti mama jelaskan!”
Lionel menatap Faresta seolah meminta pendapat. Tapi pria itu justru masih menatap gadis yang berdiri di belakang orang tuanya dengan tatapan menyelidik.
Lionel segera menyenggol lengan Faresta. “Kak, gimana? Apa kita masuk dulu saja. Jujur saja aku capek banget, pengen istirahat.”
“Ya sudah kita masuk dulu saja!”
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah, dan menyisakan anak buah Faresta yang memilih menunggu dan beristirahat di luar, karena rumah itu tidak akan cukup menampung mereka semua.
Elara menyambut mereka dengan baik, memberi makanan dan minuman yang mungkin bagi mereka itu terlihat aneh tapi tidak ada pilihan lain untuk menolak karena kondisi mereka yang memang lelah dan kelaparan.
Setelah menghabiskan hidangan itu, Livia mulai menceritakan kejadian yang membawa mereka hingga ke tempat ini. Termasuk niat mereka yang ingin membawa Elara pulang bersama keluarga Halvar.
Keempat bersaudara itu saling bertukar pandang saat mendengar rencana kedua orang tua mereka yang ingin mengadopsi gadis itu.
“Apa ada opsi untuk kamu menolak keinginan Papa dan Mama?” tanya Faresta, seolah mewakili ketiga adiknya.
Mereka bukan tidak mau jika orang tua mereka ingin mengadopsi gadis itu. Mereka hanya takut jika Elara memiliki niat buruk terhadap keluarganya dan memanfaatkan kebaikan orang tuanya.
“Alasannya?” Danendra menatap putra-putranya dengan tegas. Ia memahami keresahan putra-putranya, tapi entah mengapa ia dan istrinya sangat yakin dengan keputusan ini.
“Papa tau sendiri kalau keluarga kita banyak musuh. Bisa saja gadis ini salah satu mata-mata yang memang sengaja dikirim untuk menolong kalian lalu memanfaatkan kesempatan ini untuk menghancurkan keluarga kita dari dalam,” jawab Leonard.
“Kita bukan tidak tahu berterima kasih karena gadis ini sudah menolong Papa dan Mama. Tapi untuk mengadopsi seseorang, kita juga perlu tau asal usulnya. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia justru membawa bencana untuk keluarga kita,” sahut Lucas.
“Ucapan kalian keterlaluan sekali,” kesal Livia. Wanita itu segera berdiri dan mendekati Elara yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan keluarga itu.
“Mama tidak peduli pendapat kalian. Keputusan Mama untuk membawa Elara pulang sudah bulat. Dia hanya seorang gadis yang terbiasa hidup di hutan. Apa kalian tidak kasihan melihatnya hidup sendirian di desa mati seperti ini? Sekarang mungkin dia masih baik-baiks aja, tapi apa kalian bisa menjamin kedepannya dia tidak akan celaka? Jika bukan celaka karena manusia, bisa saja karena hewan buas di hutan ini.”
Mereka berempat kembali menatap Elara dari atas hingga bawah. Matanya memindai penampilan gadis itu yang memang terlihat sangat sederhana. Pakaian yang dikenakan tampak kusam tapi cukup bagus tanpa koyakan atau lubang seperti orang yang hidup bertahan sendirian di tengah hutan.
Namun. ada satu hal yang mengganjal di pikiran mereka.
“Kak, apakah wajar kalau orang yang hidup di hutan kulitnya putih, bersih, dan mulus begitu? Bahkan kelihatan seperti habis perawatan ratusan juta,” bisik Lionel pelan, tapi masih cukup jelas untuk didengar ketiga kakaknya.
“Dasar otak mesum.” Leonard tanpa ragu memukul kepala saudara kembarnya itu. Meskipun dalam hati ia juga membenarkan ucapan Lionel.
Faresta diam-diam ikut mengangguk sebelum akhirnya menghela nafas pelan.
“Baiklah, kami setuju.”
Memang pada akhirnya mereka tidak ada pilihan selain menyetujui keinginan orang tuanya itu. Untuk saat ini, yang bisa mereka lakukan adalah mengawasi Elara, jangan sampai apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi.
Livia dan Danendra tersenyum puas mendengar jawaban itu.
“Nah, Elara. Anak-anak kami sudah setuju. Sekarang kamu mau pulang bersama kami, kan?”
Livia sama sekali tidak menyerah untuk membujuk Elara agar mau ikut bersama mereka. Keinginannya untuk memiliki anak perempuan tentu tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Ikut bersama mereka sepertinya tidak buruk. Keluarga ini cukup baik. Energi mereka juga sangat kuat. Mampu menarik keberuntungan besar, tapi disaat yang sama juga mengandung kesialan. Mungkin aku bisa mengarahkan mereka agar tidak jatuh ke dalam kehancuran.
“Aku ikut saja.”
***
Iring-iringan mobil yang membawa keluarga Halvar melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang mulai lengang.
Di barisan paling depan, Leonard dan Lionel mengendarai motor sport mereka, disusul mobil hitam milik Lucas yang mana Faresta juga ikut serta di dalamnya.
Sementara itu, mobil milik Faresta sendiri melaju pelan di belakang membawa kedua orang tuanya dan juga Elara.
“Nanti setelah sampai dirumah, Mama akan mengenalkan kamu lagi dengan kakak-kakak kamu. Tadi kalian belum sempat berkenalan secara resmi, baru saling melihat wajah saja,” ujar Livia lembut.
Hati wanita itu tengah dipenuhi kebahagiaan karena setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki seorang anak perempuan. Meski Elara tidak lahir dari rahimnya sendiri, Livia merasa sangat yakin bahwa gadis itu adalah jawaban dari keinginannya selama ini.
“Kamu tenang saja, Nak. Mereka memang terlihat kaku seperti itu, tapi sebenarnya mereka baik. Mungkin karena situasi keluarga kita yang selama ini penuh dengan ancaman membuat mereka jadi lebih waspada,” sambung Danendra.
Elara mengangguk singkat. “Em… aku mengerti.”
Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, mereka akhirnya tiba di kediaman Halvar.
Bangunan bergaya modern yang megah itu berdiri kokoh dengan tiga lantai dan halaman luas yang dihiasi berbagai tanaman bonsai.
Elara mengangguk-anggukkan kepala pelan, sepertinya keluarga ini cukup menyukai dan merawat tanaman dengan baik.
Satu-persatu dari mereka mulai turun dari kendaraan dan masuk ke dalam rumah.
Saat Elara melangkah memasuki rumah, keempat putra keluarga Halvar itu sudah duduk di ruang keluarga dengan tatapan dingin.
“Tidak bisakah kalian pasang muka sedikit lebih ramah. Jangan sampai membuat Elara merasa tidak nyaman,” tegur Livia.
Wanita itu terkadang cukup lelah melihat ekspresi kaku putra-putranya. Biasanya hanya Lionel yang terkadang bertingkah absurd, tetapi kali ini pemuda itu pun terlihat sama persis dengan Leonard.
Danendra hanya bisa menghela nafasnya saat putranya tidak bereaksi terhadap omelan Livia barusan.
“Elara, sini.”
Elara duduk di sofa tepat di depan keempat putra Danendra dan diapit oleh kedua pasangan itu. Bahkan Livia masih menggenggam lembut tangannya, seolah ingin memberi rasa nyaman dan meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
“Nak, mereka semua anak-anak kami… yang sekarang juga menjadi kakak-kakakmu. Pria yang duduk tepat di depan mu memakai jas hitam yang sudah nampak lusuh itu adalah putra pertama kami, Faresta Halvar. Saat ini dia yang memimpin perusahaan papa, termasuk perusahaan utama.”
Iris mata hijau milik Elara yang terlihat cantik menatap Faresta. Pria itu masih setia mendekap tangannya, tidak tertarik dengan sesi perkenalan ini.
Salah satu sudut bibir Elara terangkat tipis seakan baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
“Nah, kalau yang di sebelahnya yang pakai kemeja abu-abu, dia Lucas Halvar. Dia salah satu putra papa yang sama sekali tidak tertarik mengurus perusahaan, dan lebih memilih menjadi dokter.”
Kali ini tatapannya beralih pada Lucas. Wajah rupawan pria itu terkesan lebih lembut dibanding Faresta, bahkan yang paling terlihat mirip dengan Livia dibanding ketiga saudaranya yang lain.
“Lalu yang kembar itu, Leonard dan Lionel. Leonard lahir lebih dulu, sifatnya hampir sama dengan Faresta, kaku. Sedangkan Lionel dia yang paling usil dari ketiga saudaranya. Nanti kalian juga sekolah di tempat yang sama.”
“Memangnya dia lebih muda dari Lio? Padahal udah enak-enak jadi bungsu, kenapa sekarang malah punya adek,” keluh Lionel.
“Elara satu tahun lebih muda dari kalian, dia masih tujuh belas tahun,” jawab Livia. “Justru bagus kalau kamu punya adek. Jadi kamu bisa lebih tahu apa itu tanggung jawab, dan tugasmu mulai sekarang adalah menjaga Elara. Paham Lio!”
“Iya, Ma!”
Livia beralih menatap putra sulungnya. “Faresta, kamu antar Elara ke kamarnya. Mama mau bantu Bibi Tun menyiapkan makan siang!”
Tanpa membantah, Faresta segera berdiri lalu berjalan melewati Elara begitu saja.
“Sana, ikuti kakak kamu. Bersih-bersih dan istirahat dulu. Nanti mama panggil kalau makan siang sudah siap.”
Elara mengangguk pelan. “Iya, Ma.”
Saat berdiri dan berbalik, Faresta ternyata sudah menunggunya di tengah anak tangga. Tatapannya sama sekali tidak berubah, tetap dingin dan tajam.
Namun, Elara tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya diterima atau tidak itu bukan masalah. Ia bukan seseorang yang berharap diakui oleh orang lain. Selama ini Ia sudah terbiasa hidup sendiri.
“Ini kamarmu.”
Elara menatap pintu kayu berwarna putih lalu membukanya pelan.
Ruangan yang cukup luas tanpa interior berlebihan. Penataan ruang yang masih sangat sederhana namun terlihat mewah dan nyaman.
“Terima kasih.”
Faresta mengangguk singkat lalu melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah berjalan suara Elara menghentikannya.
“Tunggu!”
“Ada apa?”
“Sebaiknya segera ganti orang yang paling dekat denganmu di perusahaan sebelum masalah besar benar-benar menghancurkanmu.”
Elara mengatakan itu dengan santai. Mata hijaunya terlihat sedikit lebih terang dari biasanya.
“Maksudnya?”