NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Nyala Api di Altar Jiwa

Kilatan cahaya dari ratusan bola api spiritual yang melayang di langit-langit aula memantulkan bayangan emas yang menari-nari di atas lantai marmer hitam legam. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat padat, dipenuhi oleh aroma dupa kuno yang bercampur dengan bau ozon dari konsentrasi tenaga dalam tingkat tinggi. Di ujung ruangan yang paling jauh, altar batu hitam berbentuk lingkaran memancarkan pendaran cahaya ungu tua yang berdenyut selaras dengan detak jantung siapa saja yang berdiri di dekatnya. Di atas altar tersebut, Grand Master Tian Guan berdiri dengan angkuh, jubah keemasannya berkibar pelan tertiup oleh angin spiritual yang berputar dari dalam lantai.

Kaelen dan Lyra melangkah masuk melewati ambang pintu gerbang emas, membiarkan pintu raksasa itu tertutup rapat di belakang mereka dengan suara hantaman berat yang menggema ke seluruh sudut menara. Suasana di dalam aula interior itu begitu sunyi, menyisakan deru napas pelan dan resonansi hampa dari pedang baja gelap yang terselip di pinggang Kaelen.

"Kau melangkah masuk ke dalam sarangku dengan begitu percaya diri, anak muda," suara Tian Guan menggelegar tenang, memecah keheningan aula. Penguasa absolut daratan tengah itu menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan arogansi berabad-abad. "Apakah esensi artefak di dalam dantianmu telah membuatmu lupa diri, hingga kau berpikir bahwa kekuatan seorang fana mampu meruntuhkan fondasi aliansi yang telah berdiri kokoh selama tiga ratus tahun?"

Kaelen berhenti berjalan, berdiri tegak berjarak sekitar dua puluh meter dari altar tempat Tian Guan berdiri. Matanya yang tajam mengamati setiap detail lingkaran formasi alkimia yang terukir di sekeliling altar batu hitam tersebut—sebuah formasi penyerapan jiwa tingkat tinggi yang dirancang khusus untuk merobek dantian seorang kultivator dan memindahkan inti energi kosmik ke dalam tubuh wadah lain.

"Fondasi yang kau banggakan itu dibangun di atas mayat orang-orang tak berdosa dan darah para leluhur yang dikhianati," jawab Kaelen datar, suaranya mengandung wibawa dingin yang langsung meredam getaran arogansi Tian Guan. "Kalian menyebut diri sebagai pelindung daratan tengah, padahal kalian hanyalah sekumpulan parasit yang mengais kekuatan dari sisa-sisa penderitaan masa lalu."

Wajah Tian Guan sedikit berkedut mendengar ucapan tersebut. Sorot mata setajam elang miliknya memancarkan kilatan kemarahan yang tertahan. "Sejarah ditulis oleh mereka yang bertahan hidup dan memegang kendali, bocah bodoh! Apa yang disebut sebagai pengkhianatan oleh para pecundang hanyalah langkah awal dari evolusi menuju tingkat keabadian yang mutlak. Dan hari ini, darah serta esensimu akan menjadi batu loncatan terakhir bagi pencapaian tertinggiku!"

Tanpa aba-aba lebih lanjut, Tian Guan mengibaskan lengan jubah keemasannya. Altar batu hitam di hadapannya mendadak bergetar hebat. Pilar-pilar api ungu yang mengelilingi altar tersebut menyembur liar, melesat ke udara membentuk kubah pelindung raksasa yang langsung mengurung Kaelen dan Lyra di dalam area pertempuran tertutup. Gelombang tekanan spiritual tingkat spiritual puncak meluncur turun bagai air terjun raksasa, menghantam pundak Kaelen dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang belulang manusia biasa dalam sekejap.

Lyra terhuyung ke samping, hampir kehilangan keseimbangan akibat hantaman tekanan spiritual yang begitu masif. Gadis itu segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mengaktifkan perisai alkimia di sekeliling tubuhnya, sementara tangannya dengan sigap merogoh kantung pinggang untuk menyiapkan penangkal racun dan api spiritual.

"Kaelen, formasi di sekeliling altar itu adalah Lingkaran Pemusnah Roh," seru Lyra di tengah deru angin api ungu. "Ia tidak hanya menyerang secara fisik, tapi juga mencoba menguras esensi Qi dari dalam dantian kita!"

Kaelen tidak bergeming. Ia merentangkan kuda-kidanya sedikit, membiarkan pedang baja gelap di pinggangnya merespons tekanan tersebut. Bilah transparan itu berdesing pelan, mengeluarkan pendaran cahaya biru keperakan yang langsung menyebar dan membentuk perisai hampa di

sekeliling Kaelen dan Lyra, menepis gelombang api ungu seketika.

"Tetaplah di belakangku, Lyra," ucap Kaelen tenang. "Biar aku yang menyelesaikan urusan dengan penguasa agung ini."

Bentrokan Energi Kosmik

Tian Guan melihat perisainya diabaikan begitu saja oleh pertahanan hampa Kaelen. Alis putih sang Grand Master berkerut dalam. Ia menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukanlah lawan sembarangan yang bisa diremehkan dengan trik-trik murahan. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, Tian Guan menarik keluar sebuah pusaka andalannya—sebuah pedang panjang bermata dua yang seluruh bilahnya terbuat dari kristal matahari murni, memancarkan cahaya menyilaukan yang menerangi seluruh sudut aula.

Syuuung!

Tian Guan melesat turun dari atas altar batu, meluncur bagai bintang jatuh menembus lautan api ungu. Pedang kristal matahari di tangannya menggores udara, melepaskan gelombang tebasan elemen cahaya murni yang berbentuk sayap garuda raksasa, mengarah langsung untuk memenggal kepala Kaelen dalam satu gerakan kilat.

Kaelen menyambut serangan itu tanpa rasa gentar. Ia menghunus pedang baja gelapnya dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata manusia.

Clang!

Benturan antara pedang kristal matahari dan pedang hampa menghasilkan suara ledakan sonik yang memekakkan telinga. Gelombang kejut astral menyapu lantai marmer hitam, meretakkan ubin-ubin di sekitar mereka hingga beterbangan ke udara. Percikan api kosmik dan cahaya putih menyilaukan menari-nari liar, menciptakan badai energi di dalam aula yang tertutup.

Tian Guan terkejut saat merasakan getaran balik yang luar biasa kuat menjalar melalui lengan kanannya hingga ke bahunya. Ia terdorong mundur tiga langkah di udara sebelum berhasil menstabilkan posisinya, sementara Kaelen tetap berdiri kokoh di atas lantai marmer tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya.

"Teknik pedang apa itu?!" seru Tian Guan takjub, matanya membelalak lebar menatap bilah transparan di tangan Kaelen yang tampak menyerap sebagian cahaya dari pedang kristalnya. "Bilahmu... ia tidak memiliki wujud fisik yang tetap! Bagaimana mungkin sebuah senjata mampu menelan energi seranganku tanpa cacat?"

"Senjata ini tidak diciptakan untuk memotong daging atau mengadu ketajaman," jawab Kaelen dingin, suaranya bagai gema dari dimensi lain. "Ia diciptakan untuk menghapus kepalsuan dari orang-orang sepertimu."

Tanpa memberikan kesempatan kepada Tian Guan untuk memulihkan diri, Kaelen melancarkan serangan balasan. Ia melangkah maju, memutar pergelangan tangannya, dan melepaskan Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa dalam bentuk tebasan horizontal penuh. Garis cahaya biru keperakan meluncur deras membelah ruang, menciptakan distorsi visual yang membuat udara di sekitar Tian Guan tampak bergelombang layaknya air mendidih.

Tian Guan merasakan ancaman kematian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dengan sisa-sisa tenaga dalamnya, ia menyilangkan pedang kristal matahari di depan dadanya, mengerahkan seluruh perisai spiritual tingkat puncaknya untuk menahan tebasan tersebut.

Bum!

Garis cahaya hampa itu menghantam perisai Tian Guan telak. Meskipun berhasil ditahan, kekuatan dorongan dari tebasan tersebut membuat sang Grand Master terpental jauh ke belakang, menabrak pilar batu altar hitam hingga hancur berkeping-keping. Tian Guan memuntahkan darah segar dari mulutnya, jubah keemasannya kini ternoda debu dan bercak merah, sementara rambut putihnya yang semula tersisir rapi kini tampak berantakan.

Puncak Pembalasan

Melihat pemimpin tertinggi mereka terpojok, kepanikan mulai menyusup ke dalam pertahanan mental Tian Guan. Ia menyadari bahwa jika pertarungan ini terus berlanjut dengan cara konvensional, ia akan kalah di tangan pemuda yang membawa esensi artefak tersebut.

Dengan napas tersengal-sengal, Tian Guan bangkit berdiri dari reruntuhan pilar altar. Ia menatap Kaelen dengan pandangan penuh kebencian yang mendalam, lalu mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah bola energi Jantung Bayangan yang masih berdenyut di tengah altar batu.

"Kau pikir aku tidak punya kartu truf lain, Kaelen?!" teriak Tian Guan histeris. Ia menggigit lidahnya sendiri dan memuntahkan darah segar langsung ke permukaan altar. "Jika aku harus menghancurkan seluruh menara ini untuk membunuhmu, maka jadilah!"

Darah segar itu terserap seketika oleh formasi alkimia Lingkaran Pemusnah Roh. Sontak, seluruh pilar api ungu di sekeliling aula berubah warna menjadi hitam pekat. Suara rintihan ribuan jiwa yang tersiksa mulai terdengar menggema memenuhi ruangan, menciptakan teror psikologis yang luar biasa kuat. Lantai marmer hitam di bawah kaki mereka retak terbuka, memperlihatkan aliran lahar spiritual panas yang mendidih di dalam perut bumi di bawah menara.

Tian Guan bermaksud menggunakan seluruh energi sisa menara dan kutukan altar untuk memicu ledakan bunuh diri massal—sebuah teknik terlarang yang mampu meratakan seluruh wilayah daratan tengah dalam radius puluhan kilometer demi memastikan Kaelen ikut musnah bersamanya.

"Grand Master sudah gila!" seru Lyra cemas, melihat perubahan warna api menjadi hitam legam dan merasakan ketidakstabilan energi yang luar biasa di dalam ruangan. "Kaelen, hentikan dia sekarang juga! Jika ritual itu mencapai puncaknya, akibatnya akan fatal bagi seluruh kota!"

Kaelen menatap tajam ke arah Tian Guan yang kini dikelilingi oleh pusaran bayangan hitam pekat. Tidak ada keraguan di dalam matanya. Ia mengangkat pedang baja gelapnya tinggi-tinggi ke udara. Kali ini, Kaelen tidak lagi menahan kekuatannya. Ia menyatukan seluruh kesadarannya dengan esensi kosmik dari Jiwa Artefak Reruntuhan Langit, memanggil kekuatan penuh dari alam semesta untuk membersihkan noda terakhir di daratan tengah.

Seketika itu juga, atap kubah menara emas yang menjulang tinggi di atas mereka mendadak terbuka secara magis, memperlihatkan langit malam yang bertaburan bintang terang. Berkas cahaya keemasan dan biru keperakan turun menembus atap menara, menyelimuti tubuh Kaelen sepenuhnya hingga ia tampak bagaikan dewa perang yang turun dari surga.

"Teknik Jiwa Pedang Hampa: Pembersihan Semesta!" seru Kaelen lantang.

Ia mengayunkan pedangnya ke depan dalam satu tebasan vertikal yang sangat anggun namun mematikan. Sabit cahaya kosmik berukuran raksasa meluncur deras, bukan menargetkan tubuh fisik Tian Guan, melainkan menembus langsung ke dalam inti formasi Lingkaran Pemusnah Roh di atas altar batu hitam.

Syuuung...

Tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga ketika tebasan itu mendarat. Yang ada hanyalah keheningan mutlak yang menyelimuti seluruh ruangan seketika. Seluruh api hitam pekat, rintihan arwah penasaran, dan lahar spiritual yang mendidih di lantai mendadak membeku, lalu lenyap tanpa jejak ditiup angin hampa yang diciptakan oleh tebasan Kaelen.

Tian Guan terpaku di tempatnya. Pedang kristal matahari di tangannya terlepas dari genggaman, jatuh berdenting ke atas lantai marmer yang kini telah bersih kembali. Ia menunduk, menatap dadanya yang perlahan-lahan mulai memancarkan retakan cahaya biru keperakan dari dalam.

"Kekuatan ini... melampaui... segalanya..." bisik Tian Guan terbata-bata, sebelum akhirnya tubuh pria paruh baya itu terbelah menjadi partikel-partikel cahaya murni yang melayang ke udara dan menyatu kembali dengan alam semesta, menghapuskan keberadaannya untuk selama-lamanya dari muka bumi.

Fajar Baru di Atas Reruntuhan Menara

Sesaat setelah lenyapnya Tian Guan, seluruh formasi pertahanan di dalam Menara Utama Aliansi runtuh secara total. Bola-bola api spiritual di langit-langit aula berangsur-angsur padam, digantikan oleh masuknya cahaya matahari pagi yang mulai merekah menembus atap menara yang terbuka.

Kaelen menarik napas panjang, menurunkan pedangnya perlahan. Cahaya kosmik di tubuhnya meredup, kembali masuk ke dalam dantian dan menyatu dengan damai. Pedang baja gelap di tangannya mengeluarkan resonansi terakhir yang menenangkan sebelum kembali bersarang di dalam sarungnya dengan bunyi klik yang mantap.

Lyra berlari kecil menghampiri Kaelen, memeluk lengan pemuda itu erat-erat dengan mata berkaca-kaca penuh kelegaan. "Kita... kita berhasil, Kaelen," bisiknya lembut.

Kaelen merangkul bahu Lyra, membalas senyuman hangat gadis itu. Di luar jendela besar menara, kerumunan kultivator dari berbagai penjuru kota tampak berkumpul di lapangan pualam, menyaksikan runtuhnya wibawa menara emas penguasa aliansi dengan campuran rasa terkejut, kagum, dan harapan baru. Era tirani yang selama ini mencengkeram daratan tengah telah resmi berakhir.

Bersama Lyra, Kaelen melangkah keluar menuju balkon tertinggi menara, menatap hamparan dunia kultivasi yang kini terbentang luas di bawah sinar matahari pagi. Perjalanan panjang mereka telah menuntaskan takdir yang digariskan, dan lembaran sejarah baru yang penuh kedamaian siap diukir untuk generasi masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!