Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jam dinding di ruang kerja Nadya menunjukkan tepat pukul lima sore.
Nadya mematikan layar komputernya, merapikan beberapa dokumen di atas meja, lalu mengambil tas mewahnya.
Ia melangkah keluar ruangan menuju area produksi untuk menghampiri sang suami.
Di sana, Armand terlihat sedang memberikan petunjuk terakhir untuk shift hari itu kepada kepala produksi.
"Mas, sudah jam lima. Yuk, kita pulang. Mas harus istirahat," ajak Nadya lembut seraya menghampiri dan merangkul lengan kiri Armand.
Armand menoleh dan tersenyum manis. "Yuk, Dek."
Sesampainya di area parkir, Armand berjalan menuju pintu kemudi. Nadya sempat menatapnya dengan alis terangkat.
"Mas yakin bisa menyetir? Tangan kanan Mas kan masih di-gips," tanya Nadya khawatir.
"Tenang saja, Dek. Mobil kita matic, dan Mas masih bisa mengendalikannya dengan tangan kiri dengan sangat aman," jawab Armand terkekeh pelan seraya membukakan pintu untuk Nadya.
Namun, alih-alih mengambil jalur menuju ke rumah mereka, Armand justru melajukan mobilnya ke arah pusat kota.
Nadya yang menyadari arah jalan yang berbeda langsung menatap suaminya heran.
"Lho, Mas, ini kan bukan jalan ke rumah? Kita mau ke mana?" tanya Nadya bingung.
Armand melirik istrinya dengan senyum misterius dan raut bangga di wajahnya.
"Hari ini Mas mau ajak kamu makan malam di luar. Kita ke rumah makan seafood langganan yang dulu pernah kamu sebutkan," sahut Armand mantap seraya tetap fokus memegang kendali setir dengan tangan kirinya.
Nadya menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura terkejut.
"Wah, dalam rangka apa nih tiba-tiba ajak makan seafood?"
Armand tertawa renyah, sorot matanya memancarkan kehangatan yang luar biasa.
"Kan, Mas baru saja dapat uang bayaran yang sangat fantastis dari Ibu CEO," goda Armand dengan nada bercanda namun penuh rasa syukur.
"Sebagai suami yang tahu diri dan baru dapat 'gaji', sekarang giliran Mas yang mentraktir istri tercinta makan malam mewah. Tidak boleh menolak, ya!"
Nadya tak bisa menahan tawa renyahnya mendengar kelakar Armand.
Dada Nadya meletup-letup oleh rasa bahagia. Bukan soal makanannya atau berapa banyak uang yang dikeluarkan, melainkan rasa dihargai dan keceriaan suaminya yang telah kembali sepenuhnya setelah melewati malam-malam mencekam.
"Baiklah kalau begitu, Pak Desainer. Aku akan pesan menu seafood paling mahal malam ini!" sahut Nadya tertawa seraya menyandarkan kepalanya di bahu kiri Armand yang sedang menyetir.
Mobil mereka pun membelah jalanan sore yang mulai dihiasi lampu-lampu kota, membawa pasangan itu menuju momen makan malam yang hangat dan penuh cinta.
Sesampainya di rumah makan seafood yang bernuansa hangat dengan aroma hidangan laut yang menggugah selera, seorang pelayan dengan ramah menyambut kedatangan Armand dan Nadya, lalu menuntun mereka menuju meja makan yang nyaman di sudut ruangan.
Pelayan memberikan dua buku menu kepada mereka. Armand dan Nadya pun mulai membuka dan membaca deretan hidangan lezat di dalamnya.
Tak butuh waktu lama, Nadya mendongak dan menyebutkan pilihannya.
"Saya pesan kepiting bakar lada hitam, cumi saus Padang, cumi goreng tepung, udang saus asam manis, cah kangkung, dan minumnya es jeruk dua," ucap Nadya seraya tersenyum manis ke arah pelayan.
Armand terkekeh pelan melihat banyaknya menu yang dipesan istrinya, lalu ikut memanggil pelayan.
"Saya pesan kepiting saus Padang, dan minumnya sama," tambah Armand.
Pelayan menganggukkan kepalanya dengan sigap setelah mencatat seluruh pesanan mereka dengan teliti.
"Baik, Pak, Bu. Mohon ditunggu sebentar ya, pesanan segera kami siapkan."
Setelah pelayan berlalu, Armand menatap Nadya dengan alis terangkat dan senyum menggoda.
"Banyak sekali pesannya, Dek? Yakin habis?" goda Armand seraya mengusap lembut jemari tangan kiri Nadya di atas meja.
Nadya tertawa renyah, matanya berbinar penuh kejahilan.
"Bukankah, tadi aku sudah bilang, Mas. Malam ini aku mau pesan banyak karena yang mentraktir desainer hebat yang baru dapat bayaran mahal!"
Armand tertawa lepas, merasai kehangatan yang begitu indah memenuhi dada mereka di tengah suasana makan malam yang tenang itu.
Armand menatap Nadya dalam-dalam, sorot matanya dipenuhi rasa haru dan cinta yang begitu mendalam.
Ia menggenggam jemari tangan kiri istrinya semakin erat di atas meja, mengabaikan denyut nyeri di tangan kanannya yang masih terbalut gips tebal.
"Dek, Mas bahagia sekali," bisik Armand dengan suara hangat dan tulus.
"Karena Mas tidak hanya mendapatkan istri seorang CEO, tapi Mas juga mendapatkan bidadari seperti kamu."
Nadya yang mendengar tutur kata penuh kehangatan itu seketika merona.
Kedua pipinya memerah hangat, dan tawa renyahnya kembali menyembur pelan menutupi rasa terharunya.
"Aduh, Mas ini ngegombal terus ya!" sahut Nadya seraya memukul pelan bahu kiri Armand dengan wajah tersapu malu-malu.
Armand tertawa lepas melihat reaksi manis istrinya.
"Mas tidak sedang ngegombal, Sayang. Mas serius. Di saat Mas kehilangan segalanya dan berada di titik terendah, kamu hadir bukan cuma buat angkat derajat Mas, tapi juga jadi pelindung dan penenang jiwa Mas. Kalau bukan bidadari, lalu sebutan apa lagi yang pas?"
Nadya membalas genggaman tangan Armand, menatap pria yang sangat dicintainya itu dengan sorot mata yang penuh kelembutan.
"Mas itu pria yang luar biasa," tutur Nadya pelan namun mantap.
"Mas punya kebaikan hati, bakat yang hebat, dan keteguhan yang bikin aku bangga berdiri di samping Mas. Jadi, aku yang beruntung bisa punya suami seperti Mas."
Sebelum suasana haru menyelimuti lebih jauh, pelayan rumah makan kembali menghampiri meja mereka seraya membawa nampan besar berisi pesanan hidangan laut yang aromanya sungguh menggugah selera.
Kepiting bakar lada hitam, kepiting saus Padang, cumi goreng tepung, udang asam manis, hingga cah kangkung yang masih mengepul hangat ditata rapi di atas meja.
"Silakan, Pak, Bu. Hidangannya sudah lengkap," ujar pelayan dengan ramah.
"Terima kasih," balas Armand dan Nadya kompak.
Melihat aroma lezat dari hidangan laut di depan mereka, Nadya menyingsingkan sedikit lengan bajunya dengan bersemangat, lalu menatap Armand seraya menyunggingkan senyum jahil.
"Nah, bidadarinya sekarang mau tugas lagi nih," goda Nadya seraya mengambil alat pemecah cangkang kepiting.
"Karena tangan kanan Mas belum bisa dipakai, siap-siap aku suapi kepiting saus Padang-nya ya, Mas!"
"Siap, Bu Bos!" sahut Armand terkekeh pelan seraya membuka mulutnya pasrah namun bahagia.
Nadya dengan penuh ketelatenan mengambil daging kepiting saus Padang yang sudah ia pisahkan dari cangkangnya, lalu menyuapkannya perlahan ke mulut Armand.
Armand mengunyahnya dengan tatapan berbinar, merasai perpaduan bumbu yang gurih dan kehangatan rasa cinta yang menyelimuti mereka.
Tanpa mereka sadari, kemesraan dan perhatian tulus yang ditunjukkan pasangan itu mencuri perhatian banyak pengunjung di rumah makan tersebut.
Beberapa pengunjung di meja lain saling berbisik kagum melihat sosok wanita anggun bertampilan berkelas yang dengan begitu telaten dan tanpa ragu menyuapi suaminya—seorang pria tampan yang tangan kanannya masih terbalut gips tebal.
Tatapan mata mereka dipenuhi rasa iri sekaligus terharu melihat keharmonisan yang begitu terpancar nyata dari pasangan tersebut.
Setelah memastikan Armand kenyang dan suapan demi suapan masuk dengan lancar, barulah Nadya mengambil sendoknya sendiri.
Ia mulai menikmati kepiting bakar lada hitam dan cumi goreng tepung pilihannya dengan lahap, diselingi tawa renyah dan obrolan hangat bersama sang suami.
Malam itu, di bawah pendar lampu rumah makan yang hangat dan kelezatan hidangan laut di depan mereka, segala trauma dan ketegangan masa lalu seolah menguap tanpa sisa—menyisakan kebahagiaan manis yang menjadi milik mereka berdua sepenuhnya.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,