Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : Indentiras Rahasia Sang Putra Mahkota
Malam di kompleks Istana Kekaisaran Roma menyelimuti dinding-dinding marmer putih dengan kesunyian yang mencekam. Di balik kemegahan arsitektur kuno yang dihiasi patung-patung pahlawan dan dewa mitologi, terdapat sisi gelap yang jarang dijamah oleh cahaya lampu minyak. Di sebuah paviliun pelayan rendahan yang sempit, lembap, dan berbau asap dapur arang, Callista duduk meringkuk di atas ranjang jeraminya yang kasar.
Penerangan di ruangan itu sangat minim, hanya mengandalkan nyala api kecil dari pelita tanah liat yang memancarkan cahaya kekuningan remang-remang. Di telapak tangan kanannya yang kasar dan penuh goresan, Callista menggenggam erat sebuah benda kecil yang baru saja diberikan oleh Marcus di taman tadi sore: sebuah cincin perunggu tanpa permata, dingin, namun terasa begitu menghangatkan relung jiwanya.
Pikiran Callista berkecamuk hebat. Di dalam dunia para budak, berurusan dengan seorang bangsawan tinggi saja sudah merupakan bentuk bunuh diri sosial, apalagi jika orang tersebut adalah Marcus—sang Putra Mahkota Kekaisaran yang memegang kendali atas garis suksesi takhta mutlak. Selama ini, para budak di istana hanya mengenal nama Marcus dari desas-desus para pengawas dan kasim istana: seorang pemimpin muda yang dikenal jenius dalam strategi militer, namun memiliki sifat dingin, tidak tersentuh, dan jarang menunjukkan emosi di hadapan publik. Tidak ada seorang pun di istana yang tahu sisi lain sang pangeran—sisi lembut yang baru saja ditunjukkannya di balik pilar marmer taman istana.
"Kau melamun lagi, Callista," sebuah suara parau memecah kesunyian ruangan.
Callista terperanjat kecil, buru-buru menyembunyikan cincin perunggu itu ke dalam lipatan kain tunik abu-abunya yang paling dalam, tepat di dekat debaran jantungnya. Ia menoleh dan mendapati Nenek Rhea, wanita tua yang telah bekerja di dapur istana selama puluhan tahun, sedang melangkah mendekat sambil membawa mangkuk kecil berisi sup kacang encer dan sepotong roti gandum keras.
Rhea duduk di tepi ranjang jerami, menghela napas panjang sambil menatap wajah pucat Callista dengan pandangan penuh kekhawatiran seorang ibu. Sebagai wanita tua yang telah lama makan asam garam kehidupan istana, Rhea tahu betul betapa rapuhnya nasib orang-orang kecil di tempat ini.
"Aku melihatmu kembali terlambat dari jadwal pembersihan taman sore tadi," ucap Rhea pelan, matanya menyipit penuh selidik namun sarat akan peringatan. "Dan wajahmu... wajahmu memancarkan sesuatu yang sangat berbahaya, anakku. Kau sedang menyembunyikan sesuatu."
Callista menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia tahu ia tidak bisa membohongi Nenek Rhea, wanita yang selama ini melindunginya bagaikan cucu kandung sendiri di tengah kerasnya aturan kekaisaran. Namun, menceritakan kebenaran tentang siapa pria yang menemuinya di taman sama saja dengan menyeret Nenek Rhea ke dalam bahaya besar.
"Tidak ada apa-apa, Bibi," cicit Callista berdusta, suaranya terdengar ragu-ragu. "Aku hanya... merasa lelah dengan pekerjaan hari ini."
Rhea meraih tangan Callista yang gemetar, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Jangan coba-coba berbohong padaku, Callista. Di istana ini, tembok pun memiliki telinga. Tadi sore, ada kasim istana yang berbisik-bisik di dekat dapur umum. Mereka bilang, Panglima Decimus dan beberapa pengawal melihat bayangan seorang pria berjubah merah tua mendekati area pelataran pelayan. Dan yang lebih mengerikan... mereka bilang Putra Mahkota Marcus sedang diawasi ketat oleh Dewan Senat karena sikapnya yang dianggap mulai membangkang pada aturan perjodohan politik."
Mendengar nama Panglima Decimus disebut, darah Callista seolah berhenti mengalir. Ketakutan yang luar biasa merayapi seluruh tubuhnya. Panglima Decimus terkenal sebagai sosok yang kejam, dingin, dan tidak memiliki belas kasihan kepada siapa pun yang berani mengganggu stabilitas kekaisaran atau mencoreng kehormatan keluarga bangsawan.
"Panglima Decimus..." bisik Callista terbata-bata, tenggorokannya terasa kering.
"Ya," lanjut Rhea dengan suara semakin berbisik, memastikan pintu kayu paviliun tertutup rapat. "Dengar baik-baik nasihatku, Callista. Apapun hubungan yang coba dibangun oleh pria itu denganmu, potonglah sebelum semuanya terlambat. Identitas rahasia seorang putra mahkota bukanlah mainan. Bagi mereka, kaum ningrat dan para senator, kita hanyalah alat politik. Jika mereka tahu pangeran mereka menaruh hati pada seorang budak rendahan, nyawa kita berdua tidak akan tertolong bahkan dalam waktu semalam."
Nasihat itu masuk akal dan sangat rasional. Setiap kata yang diucapkan Nenek Rhea adalah kebenaran mutlak yang sudah sering disaksikan oleh wanita tua itu sepanjang hidupnya di istana. Namun, bayangan senyuman tipis Marcus, kehangatan sentuhan jemarinya di pipi, dan tatapan mata hazel yang penuh ketulusan di balik pilar marmer tadi sore terus berputar di kepala Callista, menolak untuk dihapus begitu saja.
Sementara itu, di tempat yang sangat kontras dengan paviliun pelayan—di dalam kamar pribadi sang putra mahkota di sayap timur istana yang megah—suasana tidak kalah tegang.
Marcus berdiri di dekat jendela kaca patri yang besar, menatap keluar ke arah hamparan lampu-lampu obor Kota Roma yang berkilauan di kegelapan malam. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu ek tua, terbentang gulungan peta militer dan beberapa surat resmi dari Dewan Senat yang menuntut agar ia segera meresmikan tanggal pertunangan politik dengan Lady Claudia dari wilayah utara.
Namun, bukan urusan strategi perang atau aliansi politik yang memenuhi pikiran Marcus saat ini. Di dalam genggaman tangan kanannya, ia memutar-mutar sebuah liontin kecil berbentuk singa perunggu—simbol kekuasaan keluarga kekaisaran. Pikirannya terus melayang pada sosok gadis berambut legam dengan tunik abu-abu kusam yang ia temui di taman tadi sore.
Bagi seluruh penghuni istana, Marcus adalah lambang kesempurnaan seorang calon penguasa: tegas, tanpa celah, dan selalu mendahulukan kepentingan negara di atas segalanya. Tidak ada seorang pun yang pernah berani membantahnya, dan tidak ada seorang pun yang berani menatap matanya terlalu lama. Namun, di hadapan Callista tadi sore, Marcus merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya: sebuah kejujuran murni yang tidak tercemar oleh intrik kekuasaan, suap, atau ambisi tahta.
Pintu kamar tiba-tiba diketuk tiga kali dengan ketukan tegas yang berirama militer.
"Masuk," ucap Marcus dingin, suaranya kembali berubah menjadi datar dan tanpa emosi dalam hitungan detik.
Pintu terbuka, dan sosok Panglima Decimus melangkah masuk dengan postur kaku, mengenakan zirah besi lengkap dengan pedang terselip di pinggangnya. Decimus membungkuk hormat sekadarnya, lalu menatap sang pangeran dengan pandangan penuh selidik.
"Maaf mengganggu istirahat Anda malam-malam begini, Yang Mulia," ucap Decimus dengan nada suara yang tenang namun bernada memperingatkan. "Ada laporan dari para pengawal patroli sektor barat. Mereka melaporkan melihat bayangan seseorang berkeliaran di dekat taman larangan menjelang senja tadi. Mengingat situasi politik yang sedang sensitif menjelang kedatangan utusan aliansi utara, keamanan di sekitar istana diperketat."
Marcus tetap membelakangi Decimus, menatap lurus ke arah kegelapan malam di luar jendela. Wajahnya tetap tenang, menyembunyikan badai emosi yang sedang bergolak di dalam dadanya.
"Tidak ada apa-apa di sana, Decimus," jawab Marcus datar. "Hanya angin malam dan beberapa pelayan yang menyelesaikan tugasnya."
Decimus menyipitkan matanya, menatap punggung sang pangeran dengan curiga. Sebagai panglima pengawal pribadi yang telah melayani keluarga kekaisaran selama bertahun-tahun, Decimus sangat mengenal gerak-gerik Marcus. Ia tahu ketika sang pangeran sedang menyembunyikan sesuatu.
"Semoga benar begitu, Yang Mulia," balas Decimus dengan penekanan di setiap suku katanya. "Karena Senat dan Kaisar tidak akan mentolerir segala bentuk gangguan... atau kelengahan kecil yang dapat mencoreng nama baik keluarga kekaisaran. Terutama yang melibatkan orang-orang dari kasta rendah yang tidak memiliki tempat di lingkaran kekuasaan kita."
Sebuah ancaman terselubung yang sangat jelas. Decimus sedang memperingatkan Marcus bahwa gerak-geriknya diawasi.
Marcus perlahan membalikkan badan, menatap tajam ke arah Panglima Decimus dengan tatapan mata hazel yang memancarkan aura dominasi mutlak seorang calon kaisar. Suhunya di dalam ruangan itu seolah turun beberapa derajat seketika.
"Ingat batas tugasmu, Decimus," ucap Marcus tajam, suaranya merendah namun penuh tekanan wibawa yang membuat sang panglima mau tidak mau meneguk ludahnya sendiri. "Aku adalah putra mahkota negeri ini. Aku tidak membutuhkan pengingat dari seorang pengawal tentang siapa yang pantas berada di istana ini dan siapa yang tidak."
Decimus terdiam sejenak, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan formal yang dipaksakan. "Hamba mengerti, Yang Mulia. Selamat malam."
Panglima Decimus berbalik dan meninggalkan ruangan, menutup pintu kayu berat itu di belakangnya.
Begitu ruangan kembali sunyi, Marcus menghela napas panjang, melepaskan ketegangannya. Ia kembali melangkah ke dekat meja kerja, memandangi liontin singa perunggunya, lalu meraba saku jubahnya untuk memastikan bahwa cincin perunggu pasangannya masih tersimpan aman. Di dalam keheningan malam istana Roma itu, tekad Marcus semakin bulat. Identitas rahasianya sebagai seorang putra mahkota bukan lagi sebuah kebanggaan baginya, melainkan sebuah sangkar emas yang harus ia hancurkan demi melindungi gadis yang telah mencuri hatinya—sebuah awal dari jalan panjang penuh duri yang akan menguji kesetiaan cinta mereka hingga batas akhir kehidupan pertama.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*