NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 - MAAF YANG TERLAMBAT

Nalendra adalah orang pertama yang menyadari perubahan itu. Sebelum tangis apa pun pecah, bahu kurus di hadapannya sudah bergetar lebih dulu, dan napas gadis itu berubah pendek-pendek seperti orang yang mempertahankan banjir di balik bendungan tipis.

Lalu bendungan itu pun runtuh. Tangis meledak tiba-tiba — keras dan tumpul sekaligus — disertai dorongan kecil ketika Wulan menceburkan dirinya ke dalam pelukan Nalendra, mengguncang-guncang bahunya dengan isakan yang tidak tertahan. Seolah seluruh beban yang selama ini ia simpan sendirian menemukan pintu keluar pada malam yang sama.

Nalendra tertegun. Di medan perang ia jarang sekali kehilangan kata; malam ini, sepucuk pelukan pun mampu membuatnya lengah. Ada apa ini? Bukankah gadis ini sudah baik-baik saja barusan? Kenapa tiba-tiba menangis seperti ini? Wulan yang selama ini tegar dan menjaga jarak kini menguncinya erat-erat seolah takut ia akan menghilang jika dilepas. Ada kegetiran yang tak biasa mengalir di suara isaknya — bukan tangisan manja, melainkan tangis seseorang yang menyimpan penyesalan terlalu lama.

"Maafkan aku, Nalendra, maafkan aku..." Wulan memeluk lengannya erat-erat dan tidak bisa menahan tangisnya. Di sela-sela isak yang tersendat-sendat, ia memohon maaf dengan putus asa, "Maaf, Nalendra... maafkan aku yang dulu, maafkan aku yang terlalu keras kepala dan buta." Ia bahkan tidak bisa menghitung lagi berapa banyak pertengkaran yang pernah ia picu hanya karena kemarahan yang tidak beralasan, berapa sering ia menolak tangan yang selalu terbuka untuknya, dan berapa kali ia membiarkan pria ini terluka diam-diam hanya karena ia terlalu sibuk mengejar bayang-bayang yang keliru.

Nalendra sedikit terkejut mendengar kata-katanya. Kemudian ia menurunkan bulu matanya yang panjang, dan tangan putih rampingnya jatuh dengan lembut ke atas kepala Wulan. Ia tidak bertanya apa-apa, hanya mengusap rambutnya pelan-pelan dengan jemari yang hangat, lalu melunakkan suaranya yang biasanya dingin, "Tidak masalah." Suaranya tenang seperti biasanya, tetapi tidak ada satu pun dendam atau amarah di dalamnya — hanya ketenangan yang anehnya justru membuat hati Wulan semakin hancur.

Apa pun yang menjadi penyebabnya, tidak apa-apa. Bagi pria ini, selama Wulan masih hidup dan berada di sisinya, apa pun yang telah terjadi di masa lalu bukanlah sesuatu yang perlu ia pertanggungjawabkan.

Mendengar kata-kata itu, Wulan justru menangis semakin keras. Air matanya mengalir deras seperti hujan yang tak kunjung henti, karena semakin ia dimaafkan, semakin dalam pula penyesalan yang menusuk dadanya. Ia pernah membayangkan seribu kali bagaimana cara ia akan membayar utangnya kepada pria ini — dan semua bayangan itu hancur ketika pria yang ia lukai justru mengucapkan maaf lebih dulu. Semakin lembut pria itu, semakin berat pula beban yang ia rasakan.

Setelah berusaha keras menenangkan suasana hatinya, Nalendra hendak membaringkannya kembali di pembaringan. Tetapi Wulan menolak melepaskannya, apa pun kata-kata yang ia dengar.

"Ini sudah larut malam, apa kau belum juga mau beristirahat?" Mungkin terpengaruh oleh emosinya, nada tawa yang jarang terdengar itu ikut menyelinap di suara Nalendra. Hanya Wulan yang tahu betapa anehnya pria ini. Biasanya suara itu dingin tanpa ekspresi, tetapi malam ini terdengar hangat, seolah tawa yang selama ini ia pendam ingin ikut mengalir.

Wulan memutar-mutar tubuhnya sambil mengerang, tetapi tetap tidak mau melepaskan pelukannya.

"Paduka Pangeran Cendana, Paduka! Nona muda sudah beristirahat, mohon kembali!" Dari luar pintu, terdengar suara Intan yang cemas, mencoba sekuat tenaga menghadang seseorang yang nekat mendekat di malam larut. Gadis itu berusaha menahan gerak sang pangeran dengan sopan, tetapi jelas kewalahan menghadapi kedatangan yang tidak diduga di tengah malam begini.

Alis Wulan bergerak tanpa sadar. Ia mengangkat kepalanya perlahan untuk melihat ekspresi Nalendra — tetapi pria itu tampak acuh tak acuh, seolah sama sekali tidak mendengar keributan di luar. Seperti biasa, tidak ada satu pun emosi yang bocor dari wajahnya. Hanya ada ketenangan yang justru membuat siapa pun tidak bisa membaca pikirannya sama sekali.

"Wulan, aku dengar dari kakakmu bahwa kau terkena angin dan kedinginan..." Tatapannya menebar ke seisi kamar, seolah berusaha menangkap setiap detail yang tak semestinya, hingga akhirnya mendarat pada sosok berjubah hitam di tepi pembaringan. Kata-kata Pangeran Cendana tiba-tiba terhenti ketika ia melihat dua orang di dalam ruangan itu, dan raut wajahnya berubah menjadi sedikit terkejut.

"Pangeran Senja?" Ia menatap Nalendra dengan mata menyipit, seolah berusaha memastikan bahwa orang yang dilihatnya itu benar-benar sedang duduk di kamar Wulan.

Nalendra meliriknya, mengangguk ringan, dan tidak berkata apa-apa.

Melihat postur intim keduanya yang tak bisa lebih jelas lagi, senyuman di wajah Pangeran Cendana membeku. "Wulan, apakah kau sakit parah?" tanyanya, dengan nada suara yang terdengar dipaksakan.

Wulan mengerucutkan bibirnya dan bahkan tidak sudi meliriknya. Dari maksud perkataannya itu, apakah ia mengira Wulan sakit begitu parah hingga salah mengira penampilan sang pangeran sebagai kekasihnya? Menggelikan sekali. Kalau saja ia tahu, orang yang selama ini ia kejar justru sedang bersikap sebaliknya. Dulu ia mengejar pria ini sampai menghancurkan segalanya, bahkan menolak masa depan yang sudah dijanjikan kepadanya sejak kecil. Sekarang, melihat pria yang ia kejar itu berdiri kaku di ambang pintu dengan wajah yang berusaha terlihat prihatin, Wulan hanya ingin tertawa. Betapa bodohnya dirinya yang dulu.

Wulan semakin mendekat ke dada Nalendra seolah ingin bergantung sepenuhnya padanya, mengabaikan orang yang berdiri di ambang pintu. Ia menatap pria itu dengan sendu, lalu berbisik genit, "Aku kedinginan."

Nalendra menatapnya beberapa saat tanpa berkata apa-apa, lalu meraih jubah hitam tebal di belakangnya dan menyelimutkan ke tubuh Wulan. Wulan menyipitkan mata dengan puas, lalu melingkarkan pergelangan tangannya yang ramping di leher Nalendra. Pria itu membiarkannya, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Di bawah sinar lampu yang redup, sosoknya tampak begitu tenang menghadapi segala ulah gadis di pelukannya.

Mata Pangeran Cendana menajam menatap pemandangan itu. Seolah merasakan pandangan itu, Nalendra tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menarik ujung jubah besarnya, menutupi seluruh tubuh Wulan — termasuk kepala dan wajahnya. Gerakannya begitu halus dan natural, seperti kebiasaan yang sudah dilakukan berkali-kali, seakan melindungi sesuatu yang paling berharga dari mata-mata yang tidak berhak memandangnya.

Kegelapan yang tiba-tiba menyelimutinya membuat Wulan terkejut, tetapi ia segera bereaksi. Ia mengerucutkan bibirnya, tersenyum diam-diam, dan bersandar tanpa suara di dalam pelukan Nalendra.

"Wulan?" Mata Pangeran Cendana membeku melihat tindakan Nalendra itu. Ia memanggil namanya lagi, tidak menyerah. Suaranya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya, menahan sesuatu yang menggelegak di dadanya. Namun di dalam pelukan jubah yang hangat, Wulan tidak menggerakkan satu pun anggota tubuhnya.

Wulan terus menutup telinga, pura-pura tidak mendengar apa-apa.

"Paduka Pangeran Cendana, nona muda sudah beristirahat. Mohon kembali." Melihat sikap tuannya yang diam, Intan segera mengambil langkah maju dan dengan sopan namun tegas menghadang pandangan Pangeran Cendana. Sebagai dayang yang setia, ia tahu persis kapan harus bersikap hormat dan kapan harus berdiri teguh. Malam ini, ia memilih yang kedua.

Intan sudah lama bersama Wulan dan paling memahami isi pikiran nona mudanya. Meskipun ia masih belum mengerti mengapa tuannya tiba-tiba berubah seperti ini, karena tuannya kini tidak menyukai Pangeran Cendana, ia hanya perlu meminta sang pangeran untuk pergi.

Pangeran Cendana mengalihkan wajahnya dari Wulan dan menatap Nalendra ragu-ragu untuk waktu yang lama dengan mata yang menyipit. Akhirnya, tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan meninggalkan halaman Puri Ardani dengan langkah yang jauh lebih berat daripada langkah kedatangannya. Bayangan dua orang yang saling berpelukan itu seakan menempel di punggungnya, membuat tiap langkahnya terasa semakin jauh dari apa yang ia incar.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!