NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Dreven memutar stik golf di tangannya dengan santai dari kursi rodanya. "Sederhana saja. Jika aku berhasil memasukkan bola dalam sekali pukul, kau harus menuruti satu permintaanku."

Elara menyipitkan mata, menimbang tawaran itu. "Dan jika kau gagal?"

Dreven tersenyum, menatapnya penuh percaya diri. "Kau yang boleh meminta sesuatu dariku."

Elara terkekeh. "Baiklah. Ayo lihat seberapa hebat suamiku ini."

Dreven mengambil posisi di kursi rodanya, mengatur keseimbangan stik golf dengan tangannya. Namun, gerakannya terbatas karena posisinya yang duduk. Dia menarik napas dalam sebelum mengayunkan stik golf dengan sekuat tenaga.

TAK!

Bola itu melesat, tapi tidak sekuat dan setepat yang dia harapkan. Bola itu terbang rendah dan mendarat jauh dari lubang target, bergulir ke samping sebelum berhenti di tengah rumput.

Elara mengikuti bola itu dengan pandangannya, lalu menoleh ke Dreven dengan ekspresi datar. "Sepertinya kau gagal."

Dreven menggerutu pelan, menggenggam stik golfnya lebih erat. "Itu hanya pukulan pertama. Aku bisa mencoba lagi."

"Aturan mainnya sekali pukul, bukan?" Elara mengangkat alisnya dengan senyum tipis. "Jadi, aku yang menang."

Dreven mendesah kesal. Dia tidak suka kalah, apalagi di depan Elara. Tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa kakinya yang lumpuh membuat pukulannya tidak sempurna.

Elara mendekat, menarik stik golf dari tangan Dreven dengan santai. "Jadi, permintaanku adalah—jangan pernah lagi membuat taruhan bodoh yang melibatkan tubuhmu. Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar, apalagi memukul bola golf dengan sempurna."

Dreven mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Kau merendahkanku."

"Aku hanya realistis," jawab Elara dingin. "Kau lumpuh, Dreven. Untuk mandi pun kau masih butuh bantuan asisten pribadimu. Kau pikir kau bisa mengalahkanku dalam permainan fisik? Jangan membuatku tertawa."

Kata-kata Elara menusuk seperti pisau. Dreven menatapnya dengan tatapan tajam, tapi dia tidak bisa membantah. Semua yang dikatakan Elara adalah kenyataan pahit yang selama ini dia coba abaikan.

"Kau benar-benar wanita yang menyebalkan," gerutunya, tetapi suaranya tidak sekuat biasanya.

Elara tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi kau yang menikahiku, jadi kau harus menerimanya."

Dreven menghela napas panjang, mencoba meredakan emosinya. Dia tidak suka diingatkan tentang keterbatasannya, tapi Elara selalu punya cara untuk membuatnya sadar akan kenyataan.

"Ayo sarapan," kata Elara, berbalik dan berjalan menuju mansion tanpa menunggunya.

Dreven menatap punggung istrinya yang menjauh, lalu menggerakkan kursi rodanya perlahan mengikuti. Di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan—antara kekesalan, kekaguman, dan sesuatu yang lain yang bahkan dia sendiri tidak ingin mengakuinya.

---

Di meja makan, suasana masih terasa tegang. Elara duduk dengan anggun, menyantap sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Dreven masih memasang wajah cemberut, sesekali melirik ke arah Elara dengan ekspresi kesal.

Semua pelayan menahan tawa saat melihat tuan mereka yang masih terlihat kesal akibat kekalahannya di lapangan golf.

Dreven yang melihat itu langsung menatap tajam para pelayannya. Seketika para pelayan pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka, meskipun beberapa masih berdeham menahan tawa.

Elara yang melihat itu hanya tersenyum kecil dan duduk di meja makan dengan santai. "Oh, kau masih di sana?" godanya sambil menuangkan teh ke dalam cangkirnya.

Dreven mengembuskan napas panjang, lalu mencoba bersikap lebih tenang di kursi rodanya. "Elara...," suaranya terdengar seperti peringatan.

Elara mengangkat bahu. "Kau yang mulai, ingat?"

Dreven hanya bisa menggerutu pelan, lalu mengambil cangkir kopinya. "Aku akan membalasnya suatu saat nanti," gumamnya.

Elara menyeringai sambil menyesap tehnya. "Aku tunggu, suamiku."

Para pelayan segera menyajikan sarapan untuk mereka dengan penuh kehati-hatian, berusaha tidak tertawa melihat ekspresi Dreven yang masih kesal.

Elara dengan anggun mengambil pisau dan garpunya, mulai memotong croissant di piringnya. "Makanlah, mungkin itu bisa mengalihkan kekesalanmu," katanya santai.

Dreven mendengus pelan, mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya perlahan. "Aku tetap tidak terima diperlakukan seperti ini oleh istriku sendiri."

Elara tersenyum kecil, memandangnya sekilas. "Anggap saja pelajaran agar tidak sembarangan mengajukan taruhan yang bodoh."

Dreven mendecak. "Kau tak seru, padahal kita sudah membuat kesepakatan untuk menjadi suami istri seutuhnya selama enam bulan."

Elara menyapu bibirnya dengan sapu tangan sebelum berbicara, "Aku bilang kita tes kesehatan lebih dulu baru aku memutuskan. Bayangkan jika kau mengidap penyakit HIV, bukankah aku sangat merugi?"

Dreven langsung terbatuk-batuk saat mendengar pernyataan gamblang Elara itu.

Para pelayan yang ada di sekitar meja sarapan menundukkan kepala, berusaha menahan tawa mereka. Sementara itu, Dreven menatap Elara dengan tatapan tak percaya.

"Apa-apaan pertanyaan itu?!" katanya setelah berhasil menelan makanannya dengan susah payah.

Elara mengangkat bahu santai. "Aku hanya realistis. Kau punya sejarah percintaan yang panjang sebelum menikah denganku, jadi aku harus berhati-hati."

Dreven menyandarkan tubuhnya ke kursi roda, menatapnya dengan ekspresi campuran antara kesal dan kagum. "Aku sudah melakukan tes kesehatan rutin, dan hasilnya bersih. Puas?"

Elara tersenyum tipis. "Tentu, kalau begitu kau bisa tunjukkan hasilnya nanti."

Dreven mengusap wajahnya frustasi. "Sungguh, kadang aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang memegang kendali dalam pernikahan ini?"

Elara menyesap tehnya dengan anggun sebelum menjawab, "Tentu saja aku."

Dreven mendengus lalu memakan makanannya meskipun tak berselera.

Setelah selesai makan, mereka pergi ke ruang keluarga dimana semua hadiah yang dibelikan oleh Dreven diletakkan disana.

Pria yang sebelumnya itu kesal kini kembali bersemangat karena berpikir pasti Elara akan memeluknya dan mengucapkan kata betapa dia bahagianya memiliki pasangan sepertinya.

Tapi...

"Untuk apa kau beli sampah sebanyak ini?"

Dreven yang awalnya duduk dengan penuh percaya diri di kursi rodanya, langsung membeku di tempat. "S-Sampah?"

Elara melipat tangan di dada, menatap tumpukan kotak belanjaan mewah yang memenuhi meja dan sofa di ruang keluarga. "Iya, sampah. Aku tidak butuh ini."

Dreven berkedip beberapa kali, mencoba mencerna kata-kata istrinya. "Tapi... aku memilih semuanya dengan hati-hati. Semua barang ini dari merek-merek terkenal. Ini tas limited edition! Perhiasan dari koleksi terbaru! Sepatu, parfum—bahkan aku menyewa desainer pribadi untukmu!"

Elara berjalan mendekati salah satu tas belanjaan, membuka kotaknya, dan mengeluarkan gaun berwarna merah menyala yang terlihat mahal. Dia mengangkatnya, lalu menatap Dreven dengan ekspresi datar. "Lalu, kau pikir aku akan memakai ini ke mana? Ke dapur? Ke taman belakang? Atau mungkin kau pikir aku akan memakainya saat membantumu mandi?"

Dreven membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Dia benar-benar tidak memikirkan hal itu.

Elara menghela napas panjang, lalu menepuk pundaknya. "Aku menghargai niatmu, tapi lain kali, belikan sesuatu yang lebih berguna."

Dreven menatap Elara dengan mata berbinar, seolah mendapat harapan baru. "Jadi... kalau aku belikan sesuatu yang berguna, kau akan bahagia?"

Elara mengangkat alis. "Tentu. Belikan aku saham, atau mungkin sebuah perusahaan kecil. Itu lebih masuk akal daripada tumpukan barang ini."

Dreven terdiam, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. "Baik. Aku akan membelikannya."

Kini giliran Elara yang sedikit terkejut. "Hah?"

Dreven mengangkat dagunya dengan bangga dari kursi rodanya. "Kau ingin saham? Aku akan belikan. Biar kau tidak bisa menyebut sampah lagi."

Elara menatapnya dengan curiga. "Kau tidak bercanda?"

"Aku Dreven Dastan, pria yang disegani oleh banyak orang. Tak mungkin hal sekecil itu tak bisa kuberikan pada istriku."

Elara yang mendengar itu memutar matanya dengan malas, rasanya ingin mual jika mendengarnya sekali lagi.

"Sekarang, barang-barang ini akan dikemanakan jika kau tak menyukainya?" Tanya Dreven serius, jika dijual tak mungkin karena bisa menodai citranya.

"Tenang saja, ada yang akan menampungnya," kata Elara dengan santai.

"Emma!" Panggil Elara pada pelayan pribadinya.

Emma segera masuk dengan langkah cepat dan sopan. "Ya, Nyonya?"

Elara menunjuk tumpukan barang mewah di ruang keluarga. "Bagikan ini pada para pelayan dan staf mansion. Mereka pasti lebih menghargainya daripada aku."

Mata Emma melebar. "T-Tapi, Nyonya... ini semua barang mahal—"

"Dan aku tidak membutuhkannya." Elara menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai. "Jadi lebih baik diberikan kepada orang-orang yang bisa menggunakannya."

Dreven menatap Elara seolah dia baru saja mengatakan hal paling gila di dunia. "Kau serius? Tas seharga ratusan juta, sepatu limited edition, dan perhiasan koleksi terbaru... kau ingin memberikannya begitu saja?"

Bersambung...

1
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Siapa yang wanita ini maksudkan? Elara?🤔
🦋Little Butterfly🦋
sadis banget...
Arni Arlinawati Pratiwi💃
iya tau kok emak.. dia lagi cemburu, hanya saja dia sendiri pun gak sadar sama perasaan nya, ego nya aja yang di duluin.. kan ngenes, makin mnedihkan aja lu drev! udah lum*** juga!!! coy.. coy.. takut kualat emak, 🗿😭
naws
bodo amat. elara juga cuma manfaatin lu biar lepas dari keluarga palsunya kok /Smug/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
cembukur nih pasti perkara elara sama leo.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!