NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mommy Jangan Pergi

"Azzam, sini, Nak. Mama ingin memeluk Azzam."

Serly membuka kedua tangannya, berharap putranya segera menghampiri.

Namun Azzam justru semakin erat menggenggam tangan Diandra. Tatapannya menunjukkan keraguan untuk mendekati Serly.

Bastian, Azzura, dan Abian yang berada di ruangan itu sontak memperhatikan Diandra. Tatapan mereka seolah meminta perempuan itu membiarkan Azzam bersama Serly.

Diandra menarik napas panjang.

Dia tahu, jika menolak, suasana akan semakin rumit. Akhirnya, Diandra berjongkok di hadapan putranya.

"Azzam, sana peluk Mama Serly."

"Tapi Mommy..."

"Mommy nggak apa-apa. Sana, Mama sudah menunggu."

Azzam masih terlihat berat hati. Namun akhirnya dia melepaskan tangan Diandra dan berjalan menghampiri Serly.

Begitu Azzam berada dalam pelukannya, Serly langsung memeluk erat tubuh kecil itu.

"Mama senang sekali Azzam datang menjenguk Mama."

Diandra tersenyum tipis, meskipun dadanya terasa sesak.

Dia tidak ingin melihat lebih banyak lagi. Tanpa mengatakan apa pun, Diandra memilih meninggalkan ruangan.

Bastian sempat hendak menyusul.

Namun Serly lebih dulu meraih tangannya.

"Mas Bastian..."

Bastian menghentikan langkah.

"Aku haus. Tolong ambilkan air di nakas itu."

Bastian menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Diandra. Ada keraguan di matanya.

Namun beberapa detik kemudian, dia mengangguk.

"Iya. Tunggu sebentar."

Diandra yang sudah berada di luar sempat memperlambat langkah.

Untuk sesaat, hatinya berharap Bastian akan mengejarnya.

Akan tetapi, suara langkah kaki yang dia tunggu tidak pernah terdengar.

Diandra tersenyum getir.

Dia sudah tahu harapannya mungkin akan kembali berakhir dengan kekecewaan. Namun entah mengapa, sebagian kecil hatinya masih terus berharap Bastian berubah.

Dia berharap Bastian memilihnya.

Mengutamakannya.

Membelanya ketika dirinya berada di posisi yang sulit.

Sayangnya, harapan itu selalu kandas pada kenyataan yang sama.

Diandra akhirnya duduk di sofa ruang keluarga. Dia mengeluarkan ponsel dan berpura-pura sibuk, berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian barusan.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Seseorang duduk di sofa single yang berada di sampingnya.

Diandra melirik sekilas.

Aretha.

Astaga. Drama berikutnya dimulai, batinnya.

Aretha tersenyum ramah.

"Diandra, bagaimana kabarmu?"

"Baik, Tante."

"Syukurlah. Tante ikut senang mendengarnya. Semoga kamu juga selalu sehat. Tante nggak mau kamu sampai sakit seperti Serly."

Diandra menahan ekspresinya.

"Iya, Tante. Terima kasih atas doanya."

Senyumnya tetap terpasang, meskipun dia mulai bisa menebak bahwa kedatangan Aretha bukan sekadar ingin menanyakan kabarnya.

Aretha mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari sikap Diandra.

Biasanya perempuan itu akan membantah, bahkan menuduh Serly sengaja membesar-besarkan penyakitnya agar mendapatkan perhatian Bastian. Namun kali ini Diandra justru terlihat tenang, seolah sudah tidak ingin memperdebatkan apa pun.

"Diandra, sebagai seorang ibu, Tante ingin memberikan sedikit nasihat."

Diandra menoleh dengan senyum tipis. "Nasihat apa, Tante?"

"Daripada kamu terus menyiksa diri dengan melihat suamimu masih begitu peduli pada wanita lain, menurut Tante lebih baik kalian berpisah saja."

Aretha berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

"Kamu perempuan baik. Tante yakin kamu masih punya kesempatan untuk menemukan kebahagiaan bersama pria lain."

Diandra mengangguk pelan.

"Oke, Tante."

Aretha langsung terdiam.

"O-oke?"

Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan jawaban sesingkat itu.

Selama ini Diandra selalu mempertahankan pernikahannya mati-matian. Bahkan ketika Bastian berkali-kali mengecewakannya, perempuan itu tetap yakin hubungan mereka masih bisa dipertahankan.

Sekarang, ketika dirinya sendiri menyarankan perceraian, Diandra malah menyetujuinya?

"Maksud kamu apa? Kamu benar-benar mau bercerai dari Bastian?"

Diandra belum sempat menjawab ketika suara Bastian terdengar dari belakang.

"Diandra."

Perempuan itu menoleh. Anehnya, dia justru tersenyum.

"Iya, Mas. Aku dan Mas Bastian akan bercerai."

Aretha membelalakkan mata.

Diandra melanjutkan dengan suara tenang.

"Kalau begitu, Tante bisa menikahkan Mas Bastian dengan Serly."

"DIANDRA!"

Bastian langsung kehilangan kendali.

Dia menghampiri istrinya dan menggenggam pergelangan tangan Diandra, lalu menatap Aretha dengan tegas.

"Tante jangan salah paham. Saya dan Diandra tidak akan bercerai."

Setelah itu, Bastian menarik Diandra menjauh dari ruang keluarga.

"Ikut aku."

Dia membawa Diandra ke balkon rumah Serly sebelum akhirnya melepaskan tangannya.

"Apa-apaan kamu?" suara Bastian terdengar tertahan. "Kenapa kamu bilang kita mau bercerai di depan Tante Aretha?"

Diandra mengusap pergelangan tangannya yang memerah.

"Karena memang itu yang aku inginkan."

"Aku nggak akan pernah menceraikan kamu."

Diandra tertawa hambar.

"Kalau begitu, bunuh aku saja, Mas."

Bastian langsung terdiam.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada bentakan apa pun.

Kemarahan yang tadi memenuhi dadanya mendadak lenyap. Tatapannya berubah sendu saat melihat wajah istrinya yang tampak begitu lelah.

Diandra mengalihkan pandangan ke halaman.

"Mungkin kita memang nggak berjodoh."

Suaranya bergetar, tetapi dia berusaha tetap tenang.

"Mungkin orang yang seharusnya bersama kamu adalah mantan istrimu. Jangan dipaksakan lagi, Mas. Aku juga nggak mau terus menjadi penghalang kebahagiaan kamu."

Bastian mengepalkan tangannya.

"Kita harus berpisah demi kebahagiaan masing-masing."

Diandra menarik napas panjang.

"Aku mungkin akan selalu mengingat kamu. Kamu pernah menjadi orang yang paling aku cintai sekaligus orang yang paling aku benci."

Bastian menatapnya lama.

"Kalau begitu, benci aku sepuasmu."

Dia melangkah mendekat.

"Tapi jangan pergi."

Diandra akhirnya menatapnya.

"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, Mas?"

Bastian terdiam.

"Kamu menahanku untuk tetap di sisimu, tapi kamu sendiri yang terus membuatku merasa nggak diinginkan."

"Aku akan belajar."

"Belajar apa?"

"Belajar menjadi suami yang lebih baik. Belajar nggak mengabaikan kamu lagi."

Diandra tersenyum getir.

"Sejak kemarin kamu selalu mengatakan hal yang sama."

Dia menggeleng pelan.

"Tapi apa buktinya?"

Bastian tidak menjawab.

"Setiap kali aku mulai percaya sama kamu, Serly menelepon dan kamu langsung pergi."

Tatapan Diandra mulai berkaca-kaca.

"Berapa kali lagi aku harus menerima kenyataan bahwa ketika harus memilih antara aku dan dia, kamu selalu meninggalkanku?"

Bastian terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban yang bisa membantah perkataan istrinya.

Dengan langkah berat, Diandra meninggalkan kediaman keluarga Anton.

Kali ini, dia tidak menoleh ke belakang.

Sebab jika dia kembali menoleh, mungkin hatinya akan kembali berharap.

Dan Diandra sudah tidak ingin berharap lagi.

"Lepaskan aku! Aku mau sama Mommy!"

Azzam terus meronta dalam gendongan Anton. Kedua tangannya berkali-kali mendorong dada pria itu, tetapi tenaganya belum cukup untuk membuatnya terlepas.

Abian tetap membawanya masuk ke dalam kamar.

Dia tidak ingin Azzam semakin membuat suasana kacau. Terlebih lagi, dia tidak ingin Serly merasa sedih melihat Azzam begitu dekat dengan Diandra.

"Azzam, tolong jangan membuat keributan," ujar Bastian dari sisi ranjang.

Pria itu duduk di samping Serly yang masih terbaring. Tangannya menggenggam tangan perempuan tersebut dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Mommy pulang sendirian, Dad!" Azzam berseru. "Azzam mau nemenin Mommy!"

Dia kembali meronta.

Azzam merasa sangat kesal pada dirinya sendiri.

Kenapa dia tidak bisa melawan?

Kenapa tubuhnya masih begitu kecil?

Dia ingin cepat besar. Dia ingin menjadi kuat agar suatu hari nanti bisa melindungi Mommy dari siapa pun yang membuatnya menangis.

"Sudah, Azzam."

Aretha yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya ikut bicara.

"Mommy Diandra bisa pulang sendiri. Tadi dia juga membawa mobil."

Azzam menggeleng keras.

"Nggak! Aku mau sama Mommy!"

"Benar kata Aretha," sambung Abian. "Lebih baik kamu di sini menemani Mama Serly. Dia sedang sakit."

"Nggak mau!"

Azzam kembali memberontak.

"Aku mau sama Mommy Diandra! Lepaskan aku!"

Tangannya terus berusaha melepaskan diri dari pegangan Abian.

Namun Abian tetap menahannya.

Bukan karena ingin menyakiti Azzam, tetapi karena dia tahu bocah itu tidak akan mampu melawan orang dewasa dengan tenaga sebesar dirinya.

Azzam akhirnya hanya bisa menangis sambil memanggil nama Mommy-nya.

"Mommy..."

Di dalam hati kecilnya, hanya ada satu keinginan.

Dia ingin berlari mengejar Diandra.

Dia ingin memastikan perempuan yang selalu menjaganya itu tidak sendirian.

Namun untuk saat ini, Azzam hanya bisa berharap suatu hari nanti dirinya benar-benar menjadi cukup kuat untuk berdiri di depan Mommy dan berkata bahwa dia akan melindunginya.

"Lepaskan aku!"

Azzam terus meronta. Karena tidak kunjung dilepaskan, emosinya meledak.

Brak!

Sebuah vas bunga di atas meja jatuh setelah didorong tangannya. Pecahannya berserakan di lantai.

Semua orang tersentak.

Serly yang sejak tadi berpura-pura tidak sadarkan diri bahkan langsung membuka mata.

"AZZAM!"

Suara Bastian menggelegar.

Dia bangkit dari sisi ranjang dan menatap putranya dengan wajah penuh kemarahan.

"Apa yang kamu lakukan? Kalau pecahan kaca itu mengenai Opa bagaimana?"

Azzam terdiam, tetapi napasnya masih memburu.

Bastian mengusap wajahnya kasar. Belakangan ini putranya memang lebih mudah marah dan emosinya sulit dikendalikan.

Aretha langsung mengambil kesempatan.

"Lihat sendiri, Bastian. Inilah akibatnya kalau kamu membiarkan Azzam terlalu lama diasuh Diandra."

Bastian menoleh.

"Ma..."

"Diandra tidak becus mengurus anak. Kamu sendiri tahu bagaimana latar belakangnya. Dia tumbuh tanpa orang tua yang benar-benar membimbingnya, lalu kamu malah menikahinya dan menyerahkan anak-anakmu kepadanya."

"Ma, cukup."

Namun Aretha belum selesai.

"Selama ini Diandra selalu menjelek-jelekkan Serly dan menuduhnya sebagai perempuan yang merebut suami orang. Padahal Serly tidak pernah berhenti membela Diandra."

Serly yang sudah duduk bersandar di ranjang segera menyela.

"Ma, jangan begitu. Serly yakin Diandra sebenarnya sudah berusaha menjaga Azzam dan Azzura dengan baik."

Aretha menggeleng.

"Kamu terlalu baik, Serly."

Kemudian dia kembali menatap Bastian.

"Kamu harus membuka mata. Diandra tidak pantas menjadi istrimu. Kalau kamu masih punya sedikit pertimbangan, ceraikan dia."

"DADDY DAN MOMMY NGGAK AKAN CERAI!"

Teriakan Azzam membuat ruangan kembali sunyi.

Bocah itu menatap semua orang dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan pernah jelek-jelekkin Mommy!"

Dadanya naik turun menahan emosi.

"Azzam yang salah! Kalau kalian marah, salahkan Azzam! Jangan Mommy!"

Abian mencoba menenangkan suasana.

"Azzam, bicara yang sopan. Kamu tidak boleh berteriak kepada orang yang lebih tua."

Pria itu mengulurkan tangan, berniat menenangkan Azzam.

Namun Azzam justru mundur.

Serly turun dari ranjang dan mendekatinya.

"Azzam, sini sama Mama."

Azzam langsung menggeleng.

"Kenapa Mama datang lagi?"

Serly terdiam.

"Kita sudah bahagia sebelum Mama datang," lanjut Azzam dengan suara bergetar. "Azzam, Azzura, Daddy, dan Mommy sudah bahagia bersama. Kenapa Mama harus datang dan mengubah semuanya?"

Wajah Serly seketika berubah sedih.

"Azzam... kamu tega mengatakan itu kepada Mama?"

Air matanya mulai jatuh.

"Mama cuma ingin bersama Azzam dan Azzura sebelum Mama pergi."

Aretha segera memeluk Serly.

"Kamu dengar sendiri, Serly? Anakmu sudah tidak menginginkanmu."

Kemudian Aretha menatap tajam ke arah Azzam.

"Keterlaluan kamu. Serly itu ibu kandungmu. Tapi kamu justru lebih membela ibu tirimu."

Azzam mengusap air matanya.

"Azzam tahu mana yang baik dan mana yang buruk."

Aretha langsung melotot.

"Jadi secara tidak langsung kamu bilang Mama Serly itu buruk?"

Azzam membuka mulut untuk menjawab.

Namun sebelum satu kata pun keluar, Bastian akhirnya bersuara.

"Sudah. Jangan ada yang bicara lagi."

Tatapan Bastian beralih kepada putranya.

"Azzam, kemarilah."

Namun Azzam tetap berdiri di tempatnya, masih menggenggam erat ujung bajunya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Bastian menyadari bahwa masalah ini bukan sekadar tentang seorang anak yang sedang marah.

Ada luka yang selama ini tidak pernah benar-benar dia perhatikan.

"Azzam, sudah cukup. Sekarang kamu minta maaf kepada Mama Serly."

Azzam menggeleng kuat.

"Nggak mau."

Abian menghela napas panjang, lalu menatap cucunya dengan wajah kecewa.

"Setelah melakukan kesalahan, kamu bahkan tidak mau meminta maaf?"

Azzam tetap bungkam.

Abian menggelengkan kepala.

"Apa yang sebenarnya kamu dan Diandra ajarkan kepada anak ini sampai dia menjadi begitu keras kepala?"

Bastian yang sejak tadi diam langsung menjawab.

"Aku juga nggak tahu, Om. Aku selalu mengajarkan Azzam untuk bersikap baik."

"Kalau begitu sudah jelas."

Aretha langsung menyela.

"Diandra yang membuatnya seperti ini."

"AKU BILANG MOMMY NGGAK SALAH!"

Azzam berteriak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kenapa kalian terus menyalahkan Mommy? Jangan jelek-jelekkin Mommy!"

Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Azzam berbalik dan berlari menuju pintu.

Namun baru beberapa langkah, tubuh kecilnya menabrak seseorang.

Azzam mendongak.

Begitu mengenali siapa yang berdiri di hadapannya, pertahanannya langsung runtuh.

Air mata mengalir membasahi pipinya.

"Grandpa..."

Anton segera membungkuk dan mengangkat tubuh cucunya.

"Kenapa, Sayang? Kok menangis?"

"Mereka jahat, Grandpa..."

Azzam terisak di bahu Anton.

"Mereka jelek-jelekkin Mommy. Azzam nggak suka. Azzam mau pulang. Mau ketemu Mommy."

Anton mengusap punggung cucunya dengan lembut.

Helena yang baru tiba bersama Anton juga mendekat dan mengusap kepala Azzam.

"Sayang, kamu salah dengar kali. Nggak mungkin Opa, Oma, Mama, dan Daddy kamu menjelek-jelekkan Diandra."

Helena sempat melirik Aretha dan Anton seolah meminta mereka membenarkan perkataannya.

Namun Azzam sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.

Dia hanya menyembunyikan wajah di dada Anton.

Di antara semua orang di rumah itu, hanya Anton yang membuatnya merasa aman.

"Grandpa, Azzam mau pulang."

Anton menepuk punggung cucunya.

"Iya, Nak. Kita pulang sekarang."

Kemudian tatapan Anton beralih kepada Bastian.

Pria tua itu tidak habis pikir bagaimana putranya bisa membiarkan Diandra pulang sendirian dalam keadaan seperti tadi.

Sebenarnya Anton datang ke rumah itu bukan karena ingin.

Helena yang mengajaknya setelah mendapat kabar Serly mengalami kecelakaan. Awalnya Anton enggan ikut karena sudah bisa menebak akan ada keributan.

Dan ternyata dugaannya benar.

Dia kembali menemukan drama yang sama.

Anton menghela napas, lalu berkata kepada Bastian,

"Kamu ikut pulang bersama Azzam."

Aretha langsung menyela.

"Bastian baru saja datang. Serly juga masih membutuhkan dia."

Anton menatap Aretha dengan sorot mata tajam.

"Serly membutuhkan Bastian?"

Dia terkekeh pendek.

"Memangnya Bastian itu siapa bagi Serly sekarang?"

Aretha terdiam.

"Dia mantan suaminya."

Anton mengusap punggung Azzam yang masih berada dalam pelukannya.

"Hubungan mereka sudah berakhir. Bastian tidak lagi punya kewajiban untuk mengurus kehidupan Serly."

Tatapan Anton kemudian beralih kepada putranya.

"Yang punya tanggung jawab atas Bastian sekarang adalah istrinya."

Bastian terdiam.

Anton melanjutkan dengan suara tegas.

"Dan istrinya adalah Diandra. Bukan Serly."

Suasana ruangan seketika membeku.

"Pa, sudah. Jangan memperkeruh keadaan. Serly sedang sakit."

Bastian menoleh ke arah Serly yang masih menangis dalam pelukan Aretha. Wajah perempuan itu terlihat pucat dan lemah. Bastian merasa tidak tega jika pertengkaran terus berlanjut dan membuat kondisinya semakin buruk.

Anton justru mengembuskan napas kesal.

"Terus kenapa kalau dia sakit?"

Bastian terdiam.

"Kenapa kamu masih merasa bertanggung jawab atas dirinya? Ingat, Bastian. Serly itu mantan istrimu."

Anton menunjuk ke arah pintu.

"Yang seharusnya kamu khawatirkan sekarang adalah istri sahmu. Diandra."

"Aku tahu, Pa."

"Kalau tahu, kenapa kamu masih berada di sini?"

Bastian mengusap wajahnya.

"Pa, jangan marah-marah di depan semua orang."

Anton menatap putranya dengan kecewa.

"Papa benar-benar tidak habis pikir denganmu. Papa tidak pernah mengajarkan kamu menjadi laki-laki pengecut."

"Pengecut?" Bastian langsung menatap ayahnya. "Aku bukan pengecut, Pa."

"Kalau bukan pengecut, lalu apa namanya seorang suami yang membiarkan istrinya pergi sendirian demi menemani perempuan dari masa lalunya?"

Bastian terdiam.

Anton kemudian menoleh kepada Serly.

"Dan kamu, Serly. Cobalah sadar diri. Kamu sudah bukan istri Bastian lagi."

Serly menggigit bibir.

"Bastian sudah memiliki keluarga. Jadi berhentilah membuat keadaan semakin rumit."

"Aku nggak pernah bermaksud mengganggu pernikahan Bastian dan Diandra, Om."

Serly menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.

"Aku justru selalu berharap mereka bahagia. Aku hanya ingin menggunakan waktu yang tersisa untuk bersama anak-anak."

Suaranya semakin bergetar.

"Aku cuma ingin dekat dengan mereka sebelum..."

Serly tidak sanggup melanjutkan. Tangisnya pecah dan dia kembali menyandarkan tubuh pada Aretha.

Anton menghela napas.

"Sudahlah."

Namun Abian justru melangkah maju.

"Anton, cukup."

Tatapan keduanya bertemu.

"Daripada kamu terus menyakiti putriku, lebih baik kamu pulang saja."

Anton mendengus.

"Tenang saja. Aku juga tidak berniat berlama-lama di sini."

Dia berbalik dan berjalan menuju pintu sambil menggendong Azzam.

"Grandpa!"

Azzura yang sejak tadi berada di dekat ranjang segera turun dan berlari menyusul.

"Azzura ikut!"

Anton berhenti dan menunggu cucunya.

Helena yang melihat suasana semakin tidak nyaman segera menghampiri.

"Abian, Aretha, maafkan sikap suamiku."

Dia kemudian menatap Bastian.

"Tapi aku harus pulang menjaga anak-anak."

Bastian mengangguk.

Helena melanjutkan,

"Kalau kamu masih ingin tinggal di sini menemani Serly, silakan. Biar anak-anak ikut Mama."

Bastian langsung menggeleng.

"Nggak, Ma. Aku ikut pulang."

Dia sempat menatap Serly.

Untuk beberapa detik, ada keraguan dalam tatapannya.

Namun akhirnya Bastian berkata,

"Serly, cepat sembuh."

Dia menghela napas.

"Aku pulang dulu."

Bastian kemudian berbalik dan menyusul keluarganya.

Kali ini, dia memilih pulang bersama anak-anaknya.

"Iya, Mas. Maaf sudah merepotkan."

"Nggak usah minta maaf. Kamu nggak pernah merepotkan Mas."

Bastian tersenyum tipis, lalu mengusap rambut Serly sebelum meninggalkan kamar.

Dia berjalan keluar bersama ibunya menuju halaman.

Helena masuk ke mobil milik suaminya, sedangkan Bastian memilih membawa mobilnya sendiri.

Begitu tiba di rumah, Azzam langsung berlari masuk.

"Mommy! Mommy di mana? Azzam pulang!"

Wajahnya terlihat begitu ceria. Setelah kejadian di rumah Serly, satu-satunya hal yang dia inginkan hanyalah bertemu Diandra.

Di belakangnya, Bastian masuk bersama Azzura, Helena, dan Anton.

Bi Lastri segera menghampiri.

"Den Azzam, Bu Diandra belum pulang."

Azzam langsung mengerutkan dahi.

"Hah? Belum pulang?"

Dia menatap sekeliling.

"Mommy sudah pulang duluan, Bi."

Tanpa menunggu jawaban, Azzam berlari menaiki tangga.

Dia membuka pintu kamar utama.

Kosong.

Azzam segera beralih ke kamarnya sendiri.

Kosong juga.

"Mommy..."

Dengan wajah mulai cemas, dia kembali turun.

Bastian sedang berdiri di ruang tengah sambil memegang ponsel. Dari raut wajahnya, terlihat jelas dia sedang berusaha menghubungi seseorang.

Azzam langsung menghampirinya dan menarik ujung kemeja ayahnya.

"Daddy..."

Bastian menunduk.

"Kenapa, Sayang?"

"Mommy nggak ada."

Bastian terdiam sesaat.

"Tunggu sebentar. Daddy telepon Mommy dulu."

Dia kembali menghubungi Diandra.

Satu kali.

Tidak dijawab.

Dua kali.

Masih sama.

Tiga kali.

Tidak ada respons.

Bastian mulai mondar-mandir dengan gelisah.

Lima kali dia mencoba menghubungi istrinya, tetapi panggilannya tetap tidak mendapat jawaban.

"Diandra, kamu di mana?"

Dia menatap layar ponselnya.

"Angkat teleponnya."

Kecemasan mulai terlihat jelas di wajah Bastian.

Helena yang duduk di sofa justru mendengus pelan.

"Diandra itu masih seperti anak kecil. Ada masalah sedikit langsung pergi begitu saja."

Bastian menoleh.

"Ma."

"Apa? Mama memang tidak pernah setuju dengan pernikahan kalian sejak awal."

Helena menyilangkan tangan di dada.

"Diandra terlalu muda ketika menikah denganmu. Waktu itu usianya bahkan baru dua puluh tiga tahun, sementara kamu sudah tiga puluh dua."

Anton yang duduk di samping Helena ikut angkat bicara.

"Kalau Papa ada di posisi Diandra, Papa bukan cuma pergi."

Bastian menatap ayahnya.

"Papa akan minta cerai."

Helena mengangguk setuju.

"Kalau memang begitu, ya sudah. Cerai saja."

Bastian langsung terdiam.

"Mama malah lebih senang kalau kamu kembali bersama Serly."

Azzam yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba mengepalkan tangannya.

"MOMMY SAMA DADDY NGGAK AKAN CERAI!"

Suara bocah itu menggema di seluruh ruang keluarga.

Azzam menatap Helena dengan mata berkaca-kaca.

"NGGAK AKAN PERNAH!"

Bastian menatap putranya.

Ada sesuatu dalam tatapan Azzam yang membuat dadanya terasa sesak.

Bocah itu benar-benar takut kehilangan keluarganya.

1
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!