NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 28 : Pencarian yang Terlambat

Kota ini, yang sebelumnya Arka anggap sebagai papan catur di mana ia bisa menggerakkan pion sesuai kehendaknya, kini berubah menjadi labirin yang menyesatkan. Pencarian Arka memasuki minggu kedua. Ia tidak lagi peduli dengan agenda perusahaan, rapat pemegang saham, atau reputasinya sebagai CEO yang efisien. Di mata para kolega, Arka tampak seperti pria yang kehilangan arah, namun di balik kemudi mobilnya yang melaju tanpa henti, Arka sedang melakukan perjalanan batin yang paling brutal dalam hidupnya.

Arka mendatangi gedung bimbingan belajar tempat Nadira terakhir kali melamar pekerjaan. Ia masuk ke kantor administrasi, menatap sang kepala sekolah dengan tatapan memohon yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Saya Arka Mahendra, suami dari Nadira," ucap Arka dengan suara serak. "Tolong, katakan padaku di mana dia. Dia tidak menggunakan nama belakang saya, dia tidak meninggalkan alamat, dia menghilang begitu saja."

Kepala bimbingan belajar itu menatap Arka dengan pandangan curiga, lalu menghela napas panjang sebelum memberikan sebuah kotak kecil yang tertinggal di loker loker karyawan. "Dia tidak pernah datang kembali setelah hari pertama, Pak Arka. Tapi, dia meninggalkan ini."

Arka membuka kotak itu. Isinya adalah beberapa buku tulis kumal dan catatan persiapan mengajar. Namun, saat Arka membalik halaman salah satu buku itu, ia menemukan slip pembayaran uang sekolah milik seorang murid yang ia kenal sebagai anak dari petugas kebersihan di perumahan lamanya. Di balik slip itu, ada sebuah catatan kecil: 'Jangan biarkan anak ini putus sekolah. Dia memiliki mimpi yang jauh lebih besar dari kemiskinan yang menjeratnya.'

Arka terpaku. Ia mengetahui anak itu—seorang bocah cerdas yang pernah ia lihat bermain bola di lapangan kompleks. Selama ini, Arka mengira anak itu mendapatkan beasiswa pemerintah. Ia tidak pernah tahu bahwa Nadira, dengan gaji paruh waktunya yang tidak seberapa, diam-diam menanggung biaya pendidikan anak itu agar mimpinya tidak terkubur.

"Dia melakukan ini sejak SMA," gumam sang kepala sekolah, seolah membaca pikiran Arka. "Dia tidak pernah mau dipuji. Dia selalu bilang bahwa dia hanya mengembalikan apa yang seharusnya diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Dia adalah wanita yang luar biasa, Pak Arka. Anda beruntung pernah memilikinya, dan saya rasa, Anda sangat tidak beruntung telah melepaskannya."

Arka keluar dari kantor itu dengan dada yang terasa dihimpit beban gunung. Setiap langkah yang ia ambil untuk mencari Nadira justru membawanya pada kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar mengenal wanita yang dinikahinya.

Ia melanjutkan pencariannya ke rumah orang tua Nadira yang sudah terbengkalai. Tempat itu kini dihuni oleh kenangan debu dan kesepian. Ia bertemu dengan tetangga lama yang mengenali Arka sebagai pria yang pernah membawa Nadira pergi di hari pernikahan mereka.

"Nadira itu anak yang tegar," ujar sang tetangga, seorang wanita tua yang duduk di kursi rotan reyot. "Saat ibunya sakit, dia tidak pernah mengeluh. Dia datang ke sini setiap minggu, membersihkan rumah ini, dan memberikan sisa uang tabungannya untuk membantu keluarga kami yang juga kesulitan. Dia bahkan pernah menjual cincin warisan ibunya hanya untuk membelikan obat bagi anak saya yang waktu itu sedang kritis. Dia tidak pernah menggunakan nama keluarga Mahendra, padahal kami tahu siapa Anda."

Arka menundukkan kepala. Ia merasa ditampar oleh fakta bahwa istrinya, wanita yang ia anggap sebagai pengkhianat perusahaan, adalah seseorang yang memiliki hati seluas samudra. Sementara ia sendiri? Ia menghabiskan hari-harinya di balik dinding kaca perusahaan, sibuk mengumpulkan triliunan rupiah sementara istrinya berjuang di lumpur untuk menyelamatkan hidup orang lain.

"Kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku?" bisik Arka pada angin.

"Mungkin karena Anda tidak pernah bertanya," jawab tetangga itu dengan nada yang tidak menghakimi, namun justru lebih menyakitkan daripada sebuah kutukan. "Atau mungkin karena Anda terlalu sibuk dengan dunia Anda sendiri hingga tidak menyadari bahwa ada malaikat yang sedang berusaha keras untuk sekadar bernapas di samping Anda."

Pencarian terus berlanjut. Arka mendatangi rumah sakit tempat ibu Nadira dulu dirawat. Ia menemui dokter yang dulu menangani ibunya. Sang dokter mengenali wajah Arka, bukan karena kekayaan suaminya, tetapi karena sosok Nadira yang begitu membekas dalam ingatan.

"Nadira?" Dokter itu tersenyum sedih. "Dia adalah satu-satunya pasien yang membuat saya belajar apa itu martabat. Dia pernah menolak bantuan dana dari yayasan kami karena dia merasa masih mampu bekerja untuk melunasinya. Dia melakukan pekerjaan mencuci piring di kantin rumah sakit ini di malam hari saat ibunya sedang menjalani perawatan. Dia tidak pernah meminta belas kasihan. Dia adalah simbol dari integritas yang sebenarnya."

Arka merasa dunianya runtuh. Setiap tempat yang ia kunjungi, setiap orang yang ia temui, selalu menceritakan hal yang sama: kebaikan Nadira yang tanpa pamrih, keteguhannya yang memukau, dan kesucian hatinya yang tidak pernah ternoda oleh kemiskinan yang menderanya.

Ia mulai bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia bisa begitu buta? Bagaimana mungkin ia membiarkan ibunya, Ibu Sarah, menghina Nadira dengan kata-kata keji tanpa melakukan apa pun? Ia ingat setiap sindiran yang dilontarkan di meja makan, setiap tatapan merendahkan dari teman-temannya yang menganggap Nadira hanyalah "wanita miskin yang beruntung". Ternyata, Arka-lah yang tidak beruntung. Ia memiliki berlian di tangannya, namun ia sibuk menghancurkannya karena mengira itu hanyalah batu biasa.

Malam itu, Arka kembali ke kantornya. Ruang kerjanya yang luas terasa hampa. Ia melihat tumpukan dokumen yang dulu ia gunakan untuk menuduh Nadira. Dokumen yang membuat Nadira pergi. Ia mengambil dokumen itu, membolak-baliknya dengan teliti. Kini, dengan pikiran yang lebih tenang, ia baru menyadari bahwa ada kejanggalan pada tanda tangan yang tertera di sana. Itu adalah pemalsuan yang sangat rapi—pemalsuan yang mungkin dilakukan oleh orang yang sangat dekat dengan manajemen perusahaan.

Selena.

Nama itu muncul dengan jelas di benaknya. Arka memukul meja dengan kepalan tangan yang berdarah. Ia begitu bodoh. Ia membiarkan Selena mendekatinya, membiarkan wanita itu masuk ke ruang kerjanya, sementara ia meragukan istrinya sendiri. Ia telah menukar kesetiaan Nadira dengan fitnah yang dibuat oleh wanita licik.

Arka berdiri, menatap gedung-gedung pencakar langit di luar sana dengan tatapan yang dingin dan mematikan. Ia tidak lagi mencari Nadira hanya untuk memohon maaf. Ia akan menemukannya untuk memberikan keadilan. Ia akan menghancurkan setiap orang yang telah menyakiti Nadira, dan ia akan membangun kembali kehormatan istrinya di atas reruntuhan karir Selena dan siapa pun yang terlibat.

Namun, di sela-sela kemarahannya, rasa penyesalan tetap menjadi tamu yang tidak diundang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Nadira. Wajah yang lelah namun tetap tegar. Wajah yang selalu tersenyum meski hatinya sedang diiris-iris oleh kenyataan pahit.

"Di mana kau, Nadira?" bisik Arka, suaranya kini pecah. "Aku tahu aku tidak pantas untuk mendapatkanmu kembali. Tapi biarkan aku menebus dosaku. Biarkan aku melindungimu, sekali saja."

Arka mengambil ponselnya. Ia tidak menelepon detektif swasta. Ia menelepon asisten pribadinya yang paling dipercaya. "Lacak semua rekening atas nama Selena dalam lima tahun terakhir. Cari tahu ke mana dia mentransfer dana operasional yang hilang itu. Dan dengarkan, jika kau menemukannya, jangan beritahu siapa pun. Aku sendiri yang akan menangani ini."

Setelah itu, Arka duduk di kursi kerjanya, menatap gelapnya malam. Ia merasa seperti seorang raja yang telah kehilangan kerajaannya. Ia memiliki harta yang melimpah, namun ia merasa miskin karena kehilangan sosok Nadira.

Tiba-tiba, ingatannya melayang ke momen-momen kecil di kediaman Mahendra. Ia teringat bagaimana Nadira selalu menunggunya pulang, meski seringkali ia pulang dalam keadaan mabuk atau emosi yang tidak stabil karena pekerjaan. Ia teringat bagaimana wanita itu diam-diam menaruh secangkir teh hangat di meja kerjanya tanpa suara, lalu pergi seolah tidak ingin mengganggu.

Betapa bodohnya dia. Ia selalu menganggap Nadira sebagai wanita yang menginginkan hartanya, padahal Nadira adalah satu-satunya orang yang tidak pernah meminta apa pun darinya selain sedikit rasa hormat. Dan ia bahkan gagal memberikan itu.

Arka berdiri dan berjalan ke jendela. Kota Jakarta yang gemerlap tampak seperti lautan bintang. Namun, di antara jutaan lampu itu, ia tahu satu cahaya yang ia cari tidak akan pernah bersinar dengan mudah untuknya. Nadira telah memutuskan untuk pergi, dan kepergiannya adalah hukuman yang paling pantas bagi pria seperti Arka.

Namun, Arka tidak akan menyerah. Ia telah melewati fase marah pada dunia, marah pada takdir, dan sekarang ia berada di fase di mana ia harus menerima konsekuensi dari pilihannya sendiri. Ia harus menjadi pria yang lebih baik, terlepas dari apakah Nadira akan kembali atau tidak. Ia harus menjadi pria yang layak, pria yang bisa berdiri di hadapan Nadira tanpa harus menundukkan kepala karena rasa malu.

Arka meraih jasnya dan melangkah keluar dari kantor. Malam ini, ia akan mengunjungi setiap panti asuhan di pinggiran kota. Ia mendapat kabar bahwa mungkin, hanya mungkin, ada seseorang yang mirip dengan deskripsi Nadira yang sering membantu di sana.

Sepanjang perjalanan, Arka mendengarkan musik klasik yang dulu sering diputar Nadira di ruang tamu. Musik itu kini terdengar seperti doa yang menyedihkan. Setiap alunan piano mengingatkannya pada jemari Nadira yang lentik, jemari yang dulu ia abaikan, jemari yang kini ia rindukan untuk ia genggam.

Jika takdir memang mempermainkannya, maka ia akan memaksa takdir itu tunduk. Ia akan mencari Nadira sampai ke ujung dunia. Ia tidak akan membiarkan istrinya menderita sendirian lagi. Tidak akan.

Setiap panti asuhan yang ia datangi memberikan harapan palsu. Namun, Arka tidak pernah merasa lelah. Setiap kegagalan adalah pengingat akan apa yang telah ia sia-siakan. Ia mulai menyumbangkan dana besar bagi setiap panti asuhan yang ia kunjungi, bukan sebagai bentuk pamer, melainkan sebagai bentuk penghormatan atas apa yang selama ini Nadira lakukan.

Ia ingin mengikuti jejak Nadira. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya memberikan sesuatu tanpa mengharapkan timbal balik. Dan di tengah setiap pemberian itu, ia selalu meninggalkan satu pesan untuk para pengurus panti: 'Jika Anda melihat seorang wanita bernama Nadira, tolong beritahu dia bahwa ada seorang pria yang sedang berusaha mati-matian untuk menjadi pantas baginya.'

Pencarian yang terlambat ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Arka. Ia telah menyia-nyiakan waktu selama pernikahan mereka. Ia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal Nadira lebih dalam. Ia telah menyia-nyiakan cinta yang murni hanya demi egonya yang dangkal.

Namun, Arka tahu bahwa hidup tidak selalu memberikan kesempatan kedua. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia berhenti sekarang. Jadi, ia terus berjalan. Melalui debu, melalui peluh, melalui penyesalan yang membakar, Arka Mahendra terus bergerak.

Setiap sudut kota Jakarta kini memiliki cerita tentang Arka yang mencari Nadira. Para sopir taksi, pedagang kaki lima, hingga satpam gedung kini mengenal wajah Arka—bukan sebagai CEO yang dingin, tapi sebagai pria yang sedang mencari cintanya yang hilang.

Dan di tengah semua itu, Arka akhirnya menyadari satu hal yang paling penting: Nadira bukan hanya istrinya. Nadira adalah cerminan dari jiwanya yang selama ini tersembunyi. Dan dengan mencari Nadira, Arka sebenarnya sedang mencari dirinya sendiri.

Pencarian yang terlambat, itulah yang ia rasakan. Namun bagi Arka, tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebenaran. Ia akan terus mencari, sampai ia menemukan Nadira, atau sampai ia menemukan kedamaian di dalam hatinya yang telah hancur. Karena bagi Arka, ini bukan lagi tentang memenangkan kontrak atau memperluas imperium. Ini adalah tentang memenangkan kembali martabat manusiawi yang sempat ia lupakan.

Malam itu, Arka berhenti di sebuah bangku taman di tepi sungai. Ia menatap air yang mengalir tenang. Ia teringat kata-kata Nadira di meja makan malam itu, suaranya yang lembut namun penuh ketegasan: 'Kesulitan hidup telah mengajarkan saya untuk menghargai setiap butir nasi... Dan yang paling penting, kesulitan itu mengajarkan saya untuk tidak pernah mengambil apa pun yang bukan menjadi hak saya.'

Arka menutup matanya. Ia merasakan air mata jatuh di pipinya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun. Ia tidak peduli siapa yang melihatnya. Ia hanya seorang pria yang kehilangan arah, seorang pria yang sedang mencari jalan pulang kepada satu-satunya orang yang pernah mencintainya dengan tulus.

"Nadira," bisiknya di tengah sunyi malam. "Aku akan menemukanmu. Aku berjanji."

Dan di balik kegelapan yang pekat, Arka Mahendra memantapkan langkahnya. Ia tidak akan berhenti. Ia tidak akan menyerah. Ia akan terus mencari, sampai ia menemukan wanita yang telah mengubah dunianya, wanita yang telah mengajarkannya bahwa cinta bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang berjuang dengan sepenuh hati.

Pencarian itu mungkin terlambat, namun itu adalah satu-satunya jalan menuju penebusan. Dan Arka siap untuk menjalani setiap detik dari perjalanan itu, tidak peduli seberapa berat harganya. Karena di ujung jalan ini, ia yakin ia akan menemukan Nadira. Dan ia akan berlutut di hadapannya, bukan untuk memohon, tapi untuk berterima kasih karena telah menyadarkannya bahwa ia masih memiliki hati.

Esok adalah hari baru. Dan Arka sudah siap untuk melanjutkan perburuannya. Perburuan paling penting dalam hidupnya. Perburuan untuk mendapatkan kembali Nadira, sang pemilik hatinya. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan ego atau kesombongannya menghalangi jalannya. Ia akan menjadi pria yang pantas. Pria yang akan selalu menjaga Nadira, di mana pun ia berada.

Karena sekarang Arka tahu, bahwa Nadira adalah harta yang paling berharga yang pernah ia miliki, dan kehilangan harta itu adalah pelajaran yang harus ia bayar dengan seluruh sisa hidupnya. Dan Arka bersedia membayar harga itu, setiap sen, setiap tetes keringat, dan setiap detak jantungnya. Untuk Nadira. Selalu untuk Nadira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!