NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ban 14

Di kediaman megah keluarga Arresta, suasana yang biasanya penuh dengan aura kekuasaan kini terasa menyesakkan dan suram.

Sudah berhari - hari sejak Queen menghilang, dan kediaman itu seolah kehilangan cahayanya, menyisakan ketegangan yang siap meledak kapan saja.

Louis Arresta berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap lurus ke taman depan dengan tangan yang terkepal di belakang punggung. Di hadapannya, seorang pria bersetelan hitam—kepala keamanan keluarga—menunduk dalam, tak berani menatap mata tuannya.

"Masih belum ada perkembangan, Tuan," suara pria itu bergetar. "Semua pelabuhan, bandara, dan perbatasan darat sudah kami pantau. Tim kami sudah menyisir setiap sudut kota, tapi tidak ditemukan jejak Nona, Queen. Tidak ada transaksi kartu kredit, tidak ada sinyal ponsel."

"Sampah!" Louis berbalik dengan gerakan kilat, menyapu vas bunga di atas mejanya hingga hancur berkeping - keping. "Satu gadis! Kalian kehilangan satu gadis di depan mata kalian sendiri! Jika Armand Chaleb membatalkan kontrak ini karena dia pikir kita sengaja menyembunyikan Queen, aku akan memastikan kepala kalian semua menjadi taruhannya!"

Di tengah amarah Louis yang meledak, pintu ruang kerja itu terbuka perlahan. Helena, melangkah masuk. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel yang masih menyala.

"Louis, cukup," ucap Helena kepada suaminya, tegas. "Anak buahmu tidak akan bisa menemukan Queen jika dia memang bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh tanganmu."

"Maksudmu apa, Helena?" Louis menyipitkan mata.

Helena tidak menjawab suaminya. Ia justru menatap layar ponselnya, di mana sebuah panggilan video internasional baru saja berakhir. "Aku sudah menghubungi Axel."

Mendengar nama itu, suasana di ruangan tersebut mendadak berubah. Bahkan pria suruhan Louis pun tampak menahan napas.

•••

"Aku harus ke Seattle pagi ini," ucap Nial tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun ada nada yang tidak biasa—seperti ada beban berat yang ia tinggalkan. "Ada proyek akuisisi yang tidak bisa ditunda."

"Berapa lama?" Tanya Queen.

"Aku akan kembali dalam satu minggu."

Queen yang sedang duduk di tepi ranjang tertegun. Jantungnya mencelos. "Satu minggu?"

Nial akhirnya berbalik, menatap Queen yang tampak kecil di atas ranjang besarnya. Ia berjalan mendekat, lalu mengusap puncak kepala Queen dengan gerakan lembut. "Jangan keluar jika tidak mendesak. Pengawal akan berjaga 24 jam. Jika terjadi sesuatu, hubungi Rayden atau aku langsung."

Queen menarik ujung kemeja Nial, menahan pria itu agar tidak segera beranjak. "Satu minggu itu lama, Nial," bisiknya dengan suara serak khas bangun tidur.

Nial terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dalam dada saat ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Queen. "Kau takut merindukanku, hm?"

"Bukan begitu. Aku hanya ... terbiasa ada orang yang mengaturku akhir - akhir ini." elak Queen dengan pipi yang mulai merona.

Nial menyeringai, ia mendaratkan kecupan lama di dahi Queen sebelum turun ke ujung hidungnya. "Jadilah gadis penurut selama aku pergi. Jangan membuatku harus pulang lebih awal hanya untuk menyeretmu kembali ke rumah jika kau berani nakal."

Nial kemudian menarik Queen ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu mendengarkan detak jantungnya yang berdegup teratur. "Aku akan membawakanmu sesuatu dari sana. Katakan, kau ingin apa?"

"Pulanglah tepat waktu. Itu saja," jawab Queen tulus sembari membalas pelukan Nial dengan erat.

"Baiklah, sayang," ucap Nial, nadanya begitu dalam hingga membuat perut Queen terasa melilit oleh sensasi aneh yang menyenangkan.

"Ulangi!" pinta Queen, sedikit manja dengan nada menantang.

Nial terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat seksi di telinga Queen. "Baiklah ... sayang."

"Sekali lagi, Nial!" Queen bersikeras, jemarinya kini memainkan kerah kemeja Nial, tidak membiarkan pria itu pergi begitu saja.

Nial menyipitkan mata, tatapannya mendadak berubah gelap dan intens. Dengan satu gerakan cepat, ia merengkuh pinggang Queen, menarik tubuh wanita itu hingga menempel sepenuhnya pada tubuhnya, tak menyisakan jarak sedikit pun.

Ia merunduk, membiarkan bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Queen. "Jangan mengujiku, atau aku akan membatalkan penerbanganku sekarang juga, menyeretmu kembali ke tempat tidur, dan memastikan kau tidak bisa berjalan keluar dari kamar ini sampai aku kembali nanti."

"Oh ... itu gawat." Untuk pertama kalinya, Queen tertawa lepas.

Nial tersenyum samar, menarik wajahnya kembali, lalu mengecup bibir Queen dengan cepat. "Tunggu aku pulang."

•••

Lima hari kemudian...

Mansion Nial begitu hening, hanya suara gesekan kertas dari majalah fashion ternama yang baru saja dibelikan pengawal Nial pagi tadi.

Queen merebahkan tubuhnya di sofa beludru, jemarinya yang lentik membalik halaman demi halaman dengan malas, hingga tiba-tiba gerakannya terhenti.

Matanya membulat sempurna. Di sana, terpampang koleksi limited edition dari merk favoritnya—sebuah tas tangan dengan aksen emas yang elegan dan gaun satin yang tampak sangat mewah.

"Ya Tuhan, ini cantik sekali!" serunya tanpa sadar.

Secara refleks, tangannya merogoh ke samping, meraih ponsel untuk menghubungi Clarisse—sepupu sekaligus teman setia yang selalu ia ajak untuk menyerbu koleksi terbaru seperti ini.

Jemarinya sudah menari di atas layar, hendak mengetik nama Clarisse, namun tiba - tiba gerakannya membeku di udara.

Layar ponsel itu bersih. Tidak ada kontak bernama Clarisse di sana. Tidak ada nomor teman - teman sosialitanya. Ponsel ini adalah perangkat baru yang diberikan Nial—ponsel yang hanya berisi jalur komunikasi untuk pria itu dan orang-orang kepercayaannya.

Queen tertegun, lalu perlahan menurunkan ponselnya. Ia menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sarat akan rasa rindu sekaligus realita yang pahit. Ia baru tersadar, dirinya bukan lagi Queen Lexian Arresta yang bebas berlari ke butik mana pun kapan saja ia mau.

"Aku hampir lupa kalau aku sedang 'menghilang' dari dunia," gumamnya lirih.

Rasa jenuh yang tadinya hanya samar, kini mendadak terasa mencekik. Ia menatap majalah itu lagi, lalu menatap ponsel di tangannya. Ia tidak bisa menghubungi Clarisse, tapi ia bisa menghubungi 'pemilik' ponsel ini.

Dengan keberanian yang dikumpulkan dari rasa bosan yang memuncak, ia mencari kontak Nial. Jemarinya ragu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara bariton yang berat dan maskulin menyapa indranya.

"Merindukanku?"

Suara Nial terdengar tenang, seolah pria itu sudah menunggu panggilannya di tengah kesibukan Seattle.

"Kau benar ... dan" suara Queen sedikit merajuk, ia menggulung ujung rambutnya dengan jari. "Aku bosan. Sangat bosan. Rasanya mansion ini terlalu luas dan sunyi saat kau tidak ada."

Terdengar kekehan rendah dari seberang sana, jenis tawa yang membuat perut Queen berdesir. "Lalu, apa yang diinginkan oleh wanitaku yang sedang kesepian ini?"

"Aku ingin keluar, Nial. Hanya sebentar. Aku baru saja melihat koleksi terbaru di majalah, dan rasanya aku bisa gila kalau hanya diam menatap gambarnya saja. Boleh, kan?"

Hening sejenak. Queen bisa mendengar suara langkah kaki Nial di kejauhan, mungkin pria itu sedang berjalan menuju jendela kantornya yang tinggi.

"Kau tahu aturannya, Queen," ucap Nial, suaranya kini berubah menjadi lebih dalam dan penuh otoritas. "Dunia luar masih mencarimu. Ayahmu tidak akan berhenti sampai ia menemukanmu kembali, dan aku tidak ada di sana untuk melindungimu jika terjadi sesuatu."

"Aku akan sangat hati - hati, Nial. Aku janji. Aku rindu udara luar," bujuk Queen dengan nada yang sulit ditolak.

Nial menghela napas panjang, seolah sedang menimbang risiko. "Baiklah. Kau boleh keluar. Tapi aku tidak ingin wajahmu tertangkap oleh satu pun kamera pengawas. Kau tahu apa yang harus dilakukan untuk menyamar, bukan? Aku ingin kau tak dikenali."

"Aku tahu. Wig, kacamata, dan pakaian yang tidak akan membuat orang menoleh dua kali," jawab Queen penuh semangat.

"Bagus. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar sendirian," tambah Nial dingin. "Dua orang kepercayaanku akan mengikutimu. Mereka tidak akan menempel padamu seperti bayangan agar kau tidak merasa terganggu, tapi mereka akan berada cukup dekat untuk memastikan tidak ada tangan kotor mana pun yang menyentuhmu. Mengerti?"

"Mengerti, Tuan posesif." goda Queen, senyumnya kini mengembang lebar.

Nial berdeham. Ia pun kini menyadari ada sikap posesif yang sangat kental dalam dirinya. "Dan satu hal lagi ... tetap aktifkan ponselmu. Aku ingin bisa menjangkaumu dalam tiap detik kalau mau."

"Iya, Nial. Aku janji."

Setelah sambungan terputus, Queen segera bangkit dengan perasaan riang yang tak terbendung. Ia menuju walk-in closet, mulai merencanakan penyamaran yang paling sempurna.

•••

Queen melangkah anggun di dalam pusat perbelanjaan kelas atas. Wig cokelat pendek dan kacamata hitam besar menutupi wajahnya dengan sempurna.

Di belakangnya, dua pengawal Nial menjaga jarak, memastikan privasi Queen tetap terjaga namun dalam jangkauan proteksi.

Ia memasuki sebuah butik eksklusif dengan pencahayaan temaram yang elegan. Queen, jemari lentiknya menelusuri deretan gaun satin yang halus. Setelah memilih dua gaun yang menarik perhatiannya, ia bergerak menuju sudut butik yang lebih sepi, dekat dengan barisan manekin.

Merasa area tersebut cukup tersembunyi dari pandangan pengunjung lain, Queen berhenti sejenak. Ia melirik waspada ke arah kanan dan kiri, memastikan tidak ada mata yang tertuju padanya.

Karena merasa gerah setelah berjalan cukup lama, ia mengangkat kacamata hitamnya ke atas kepala. Tangan kanannya merayap ke tengkuk, memperbaiki letak wignya yang sedikit miring dan terasa gatal.

Dia tidak menyadari, dari balik pilar besar di seberang rak pakaian, sepasang mata memperhatikannya dengan saksama. Mata itu menyipit, mencoba memastikan sosok di balik rambut pendek cokelat tersebut.

Saat Queen sedikit mendongak untuk mematut diri di cermin kecil di depannya, cahaya lampu jatuh tepat di wajah aslinya.

"Queen?"

Suara itu pelan, namun sanggup membuat Queen membeku seketika.

Sebelum ia sempat bereaksi atau menurunkan kembali kacamatanya, sebuah bayangan bergerak cepat. Sebuah tangan kokoh mencengkeram lengannya dengan tenaga yang cukup kuat, menariknya menjauh dari area terbuka menuju lorong privat di dekat ruang ganti yang sunyi.

"Zavier?!" Queen terengah, menatap pria di depannya. Zavier Vante, sahabat lamanya yang juga merupakan pengusaha muda dari kalangan elit.

"Demi Tuhan, Queen! Ini benar-benar kau!" Zavier mencengkeram kedua bahu Queen, seolah memastikan wanita itu bukan sekadar ilusi. "Seluruh keluarga Arresta sudah gila mencarimu. Paman Louis menutup semua akses, bahkan Axel ... dia sudah pulang dari Prancis."

"Zav, pelankan suaramu," bisik Queen panik, melirik ke arah pintu keluar di mana pengawalnya berada. "Aku tidak bisa pulang. Mommy dan Daddy akan 'menjualku' pada Armand Chaleb. Aku lebih baik mati daripada menikah dengan pria tua itu!"

Zavier tertegun, lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. "Queen ... kau tidak tahu?"

"Tahu apa?"

"Armand Chaleb sudah menikah, Queen. Dua hari yang lalu," ucap Zavier mantap. "Dia menikahi seorang gadis muda, putri dari rekan bisnisnya yang lain. Pernikahannya digelar tertutup tapi informasinya sudah tersebar di kalangan kita. Kau bebas, Queen. Ayahmu tidak akan lagi memaksamu menikah dengannya."

"Apa?"

Dunia Queen seolah berhenti berputar. Air mata haru yang telah lama tertahan kini menyeruak keluar.

"Kau serius?"

"Aku bersumpah."

"Jadi, aku ... aku benar - benar bebas, Zav?"

"Iya, kau bebas." Zavier langsung menarik Queen ke dalam pelukan hangat, sebuah dekapan persahabatan yang tulus. Queen menangis sesenggukan di dada Zavier, merayakan berakhirnya mimpi buruk yang selama ini menghantuinya.

"Sangat menyentuh."

Sebuah bayangan gelap muncul di ambang pintu lorong. Suaranya dingin, tajam.

Nial Percy berdiri di sana. Ia baru saja tiba dari bandara, ingin memberikan kejutan pada Queen dengan menyusulnya ke mall ini. Namun, kejutan itu justru berbalik padanya.

Nial menatap tangan Zavier yang melingkar di pinggang Queen dan wajah Queen yang basah karena air mata.

"Nial?!" Queen melepaskan pelukannya dengan gemetar. "Kau ... kau sudah pulang?"

"Sepertinya aku pulang di waktu yang salah," desis Nial, langkahnya mendekat dengan aura predator yang sangat dominan.

"Nial, dengarkan aku, ini Zavier, dia sahabatku!"

Sementara itu, Zavier terpaku. Ia tidak langsung menjauhi Queen, namun matanya terkunci pada Nial Percy dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya besar.

Sebagai pria yang tumbuh di lingkaran elit yang sama, Zavier tentu mengenal siapa Nial—pria yang dikenal tak tersentuh, dingin, dan tidak pernah membiarkan wanita mana pun masuk ke dalam radar pribadinya.

Kehadiran Nial di lorong butik yang sepi ini, dengan aura yang begitu protektif dan tatapan yang seolah ingin menguliti Zavier hidup-hidup, mengirimkan sinyal yang sangat membingungkan bagi Zavier.

"Dia ... siapamu, Queen?" Bisik Zavier, dekat.

"Dia...?" Queen ragu. Ia menatap Nial, seolah bertanya, apakah ia boleh membeberkan hubungan mereka?

Nial tidak meledak. Ia tidak berteriak seperti Louis Arresta atau memaki seperti pria kasar lainnya. Ia justru terdiam, menatap pemandangan di depannya dengan sorot mata yang perlahan mendingin—begitu dingin hingga membuat suhu di lorong itu terasa membeku.

Kemudian, tanpa sepatah kata pun, Nial berbalik. Langkah kakinya yang mantap terdengar bergema, menjauh dari butik itu dengan kecepatan yang tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas.

"Nial! Nial, tunggu!"

Queen tersentak. Ia mendorong Zavier dan berlari mengejar Nial. Jantungnya berpacu liar, ketakutan yang ia rasakan saat ini jauh lebih besar daripada saat ia melarikan diri dari keluarganya dulu. Ia tidak ingin kehilangan Nial dengan cara seperti ini.

"Nial, tolong dengarkan aku!" Queen berhasil meraih lengan jas Nial tepat sebelum pria itu mencapai pintu keluar pribadi.

Nial berhenti. Ia tidak berbalik, namun bahunya yang tegap tampak sangat kaku.

"Nial, Zavier hanya sahabatku. Dia baru saja memberitahuku bahwa Armand sudah menikah. Aku menangis karena aku merasa bebas, aku merasa tidak perlu takut lagi—"

"Bebas?" Nial akhirnya berbalik. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras, rahangnya terkatup rapat menahan kecemburuan yang membakar dadanya. "Itu yang kau inginkan sejak awal, bukan? Kebebasan?"

"Bukan begitu, maksudku—"

"CUKUP!" Nial memotong dengan suara rendah yang bergetar. "Aku melihat bagaimana kau memeluknya. Aku melihat bagaimana kau menangis di dadanya seolah dia adalah pahlawan yang paling kau nantikan. Selama aku di Seattle, apa itu yang kau rencanakan? Menunggu kabar ini agar kau bisa kembali ke duniamu?"

"Nial, demi Tuhan, tidak!" Queen mencoba menggenggam tangan Nial, namun pria itu menyentakkannya dengan kasar.

"Kau benar. Armand sudah menikah. Kontrak itu sudah tidak berguna sekarang," Nial tertawa sinis, matanya berkilat penuh luka yang tersembunyi di balik amarah. "Dan karena kau sudah merasa 'aman', maka tugasku selesai. Aku tidak butuh wanita yang hatinya tertinggal pada pria lain di saat tubuhnya berada di bawah kendaliku."

Nial memberi isyarat pada pengawalnya agar menjauh. Ia menatap Queen dengan tatapan paling asing yang pernah wanita itu lihat.

"Pulanglah, Queen." ucap Nial, setiap katanya seperti belati yang menghujam jantung Queen. "Kembalilah pada keluargamu. Kau tidak perlu lagi tinggal di mansionku."

"Nial, k–kau ... mengusirku? Setelah semua yang terjadi di antara kita?!" suara Queen pecah oleh tangis.

"Aku melepaskanmu," koreksi Nial dingin. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu. "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Karena saat aku melihatmu lagi, aku tidak akan menjamin bisa menahan diri untuk tidak menghancurkan pria yang kau peluk tadi."

Brukkk!

Pintu mobil tertutup dengan dentuman keras. Queen berdiri mematung di pinggir jalan, menatap mobil hitam itu melesat pergi meninggalkannya.

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!