NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suara ledakan cambuk masih terus menggema membelah keheningan lereng Pegunungan Sewu.

Pletar! Pletar! Pletar!

Setiap ledakan memekakkan telinga itu hampir selalu disusul oleh bunyi sobekan kain atau erangan pendek yang tertahan dari mulut Jangkrik. Lengan, bahu, pipi, hingga pinggang—hampir tidak ada lagi bagian tubuh bocah itu yang luput dari terkaman ujung Samandiman.

Namun, ada satu perubahan samar yang mulai disadari oleh Sang Warok. Jangkrik tidak lagi baru bereaksi setelah cambuk mengenainya. Kini, tubuhnya mulai bergeser sesaat sebelum ujung pecut itu tiba.

Sang Warok mendadak menghentikan ayunan tangannya. "Bagus."

Jangkrik yang tengah terengah-engah dengan dada naik-turun langsung mendongak. "Apa yang bagus?"

"Pendengaranmu."

Jangkrik mengernyitkan dahi, menyeka keringat yang bercampur darah di pelipisnya. "Aku tidak mengerti."

Sang Warok menggulung sebagian cambuknya ke lengan. "Kau mengira selama ini kau bisa menghindari cambukku karena mengandalkan mata?"

"Bukankah memang begitu?"

"Salah," Sang Warok menggeleng pelan. "Kecepatan cambuk ini jauh lebih tinggi daripada kecepatan reaksi matamu."

"Lalu?"

"Kau mulai belajar mendengar."

Jangkrik terdiam, mencerna ucapan gurunya.

Tanpa aba-aba, Sang Warok memungut sepotong ranting kecil lalu melemparkannya ke arah Jangkrik. Ranting itu melayang senyap tanpa suara. Jangkrik terlambat merespons dan membiarkannya lewat begitu saja.

Kemudian, Sang Warok mengambil sebutir batu kecil dan menjentikkannya ke tanah.

Ting..

Begitu suara batu memantul terdengar, tubuh Jangkrik secara spontan langsung menoleh tepat ke arah sumber bunyi.

Sang Warok tersenyum puas. "Itulah yang kumaksud. Kau mulai mendengar udara."

"Maksudmu... suara ledakan cambuk?"

"Bukan," Sang Warok berjalan memutari muridnya, langkah kakinya sengaja dibuat tak bersuara. "Suara angin yang robek. Cambuk ini bukan baru berbunyi ketika meledak. Tekanan udara itu muncul sesaat sebelum ledakan terjadi. Udara akan selalu memberi tahu kepadamu, dari mana arah bahaya akan datang."

Jangkrik perlahan memejamkan mata. Kalimat gurunya terngiang-ngiang di kepala. Udara memberi tahu...

Wus! Sang Warok tiba-tiba menyabetkan cambuknya.

Pletar!

Kali ini Jangkrik tidak membuka mata. Mengikuti instingnya, ia hanya memiringkan kepalanya ke samping.

Sreet!

Ujung cambuk melintas tipis, hanya menyapu beberapa helai rambutnya.

Sang Warok menghentikan ayunannya. Sepasang alis tebalnya terangkat sedikit, terkejut. "Lagi."

Pletar!

Jangkrik kembali menghindar dengan mata yang masih terpejam rapat. Kali ini, ujung cambuk bahkan hanya sempat menyentuh ujung bajunya.

Senyum Sang Warok kembali mengembang, melahirkan tawa rendah yang berat. "Hahaha... Bagus! Kalau begitu... mari kita buang matamu."

Jangkrik langsung membuka mata. "Maksudmu?"

Tanpa menjawab, Sang Warok melangkah masuk ke dalam gubuk. Tak lama kemudian ia keluar membawa selembar kain hitam panjang yang tebal, lalu melemparkannya ke depan Jangkrik. "Pasang."

Jangkrik menangkap kain itu dengan ragu. "Untuk apa?"

"Tutup kedua matamu sepenuhnya."

Jangkrik menatap gurunya lurus-lurus. "Kau bercanda."

Sang Warok tidak membalas dengan tawa. Sorot matanya justru meredup, berubah menjadi sangat serius dan dingin. "Aku tidak pernah bercanda saat sedang mengajar."

Melihat kesungguhan itu, Jangkrik perlahan mengikatkan kain hitam tersebut, membebat kedua matanya. Seketika itu juga, dunianya berubah menjadi gelap gulita.

Dalam kegelapan, indra lainnya mendadak menajam. Ia bisa mendengar embusan angin yang menyapu ilalang, gesekan dedaunan, kicauan burung di kejauhan, dan... deru napas berat Sang Warok.

"Bagaimana?" tanya suara itu dari kegelapan.

"Aku tidak bisa melihat apa pun."

"Itulah yang kuinginkan," sahut Sang Warok. Langkah kakinya terdengar menjauh. "Sekarasg... cari aku."

Jangkrik memutar kepalanya perlahan, menajamkan telinga. Ia sempat mendengar langkah kaki gurunya, namun anehnya, suara itu tiba-tiba lenyap begitu saja.

Sunyi senyap. Atmosfer di halaman gubuk mendadak kosong.

"Warok?" panggil Jangkrik.

Tak ada jawaban. Jangkrik mulai merasakan bulu kuduknya berdiri. Ke mana pria tua itu pergi?

Tiba-tiba—

Pletar!

Ledakan cambuk muncul bertubi-tubi dari arah belakang. Secara refleks, Jangkrik melompat ke depan.

Srett! Cambuk itu tetap berhasil menggores kulit punggungnya.

"Gagal," suara Sang Warok kini terdengar dari samping kiri.

Jangkrik langsung menoleh ke arah kiri. Namun, instingnya mengatakan tempat itu kosong.

"Lagi!"

Pletar! Sabetan kini datang dari arah kanan.

Sreet! Kulit lengan kirinya robek lagi.

"Kau masih mencari dengan telingamu," tegur Sang Warok, suaranya kini berpindah lagi ke arah belakang. "Gunakan kulitmu!"

Jangkrik mengernyit di balik kain hitamnya. "Kulit?"

"Udara yang bergerak akan menyentuh kulitmu lebih dulu, sebelum senjata apa pun sempat merobek tubuhmu!"

Jangkrik menarik napas panjang. Ia mulai mengabaikan segala suara di sekitarnya. Ia membiarkan seluruh pori-pori tubuhnya terbuka, merasakan embusan angin alami yang menyapu lembut wajah, leher, dan lengan kirinya.

Lalu... ada sebentuk desiran halus, tipis dan dingin, yang mendadak menyapu pipi kanannya. Itu bukan angin alam.

Tanpa berpikir panjang, tubuh Jangkrik menjatuhkan diri ke arah kiri.

Pletar!

Cambuk Samandiman melintas gila hanya sejengkal dari bahunya, menghantam angin kosong. Tidak mengenai sasaran.

Sang Warok tidak langsung melanjutkan serangannya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara tawa rendah yang sarat akan rasa puas. "Hahaha... Baru pertama kali kulihat ada bocah yang berhasil melakukannya."

Jangkrik segera merenggut lepas penutup matanya. Napasnya memburu hebat, sementara keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya yang penuh luka.

Sang Warok berdiri tegap sekitar lima belas langkah di depannya. Sorot mata pria berjanggut itu kini benar-benar berbeda. Bukan lagi tatapan mengejek atau meremehkan, melainkan sebuah pengakuan.

"Kau tahu kenapa aku memaksamu belajar dengan cara gila seperti ini?" tanya Sang Warok.

Jangkrik menggeleng lemah.

Sang Warok mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah hutan lebat yang membentang di belakang gubuk mereka. "Karena musuh yang paling berbahaya di dunia ini... tidak akan pernah datang dari arah depan secara terang-terangan."

Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah rimba yang mulai menggelap ditelan malam. "Suatu hari nanti, kau akan melangkah masuk ke tempat yang jauh lebih mengerikan daripada hutan ini. Di tempat itu... mata justru hanya akan menjadi beban."

Jangkrik mengikuti arah telunjuk gurunya. Hutan Pegunungan Sewu itu tampak sunyi mati. Namun, entah mengapa, untuk sesaat Jangkrik merasakan sensasi aneh—seolah-olah ada sepasang mata gaib yang sedang mengawasi mereka dengan dingin dari balik kelebatan pohon.

Sang Warok ternyata juga merasakannya. Senyum puas di wajah tua itu perlahan memudar, digantikan oleh gurat ketegangan yang pekat. Tangannya secara tidak sadar bergerak turun, menggenggam erat gagang golok besar di pinggangnya.

"Menarik..." gumam Sang Warok pelan, suaranya seberat batu. "Sepertinya... kita kedatangan tamu yang tidak diundang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!