NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Wanita Berjiwa Rapuh di Depan Gerbang Mansion

Pintu kayu ek tebal itu tertutup dengan bunyi berdebam pelan, mengunci Viona di dalam kamar yang luas namun terasa mencekam.

Di luar, tatapan mata elang Oliver yang sedingin es seolah masih menembus punggungnya.

Namun, Viona tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan sang CEO.

 Di sudut tempat tidur, ada jiwa kecil yang jauh lebih membutuhkan perhatiannya.

"Pergi! Aku bilang pergi!"

Sebuah boneka beruang rajut berukuran sedang melayang di udara, mendarat tepat di depan ujung sepatu flat Viona yang masih sedikit basah.

Yoyo, gadis kecil berusia lima tahun itu, memeluk lututnya erat-erat.

Wajahnya yang semula menggemaskan kini merah padam oleh amarah dan air mata.

Napasnya tersengal-sengal, mencerminkan benteng pertahanan emosional yang sengaja ia bangun untuk mengusir siapa pun yang mencoba mendekat.

Viona tidak terkejut, tidak juga mundur.

Sebagai seseorang yang telah melewati titik terendah dalam hidup dan akrab dengan rasa sakit psikologis, ia melihat pantulan dirinya sendiri dalam diri Yoyo.

Gadis kecil ini tidak sedang marah; dia sedang ketakutan. Dia sedang terluka.

Viona berlutut perlahan, memungut boneka beruang rajut itu dari lantai marmer yang dingin.

Ia menepuk-nepuk debu imajiner dari bulu boneka tersebut dengan gerakan yang sangat lembut, seolah benda mati itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

"Beruang ini pasti sedih karena dilempar,"

ujar Viona dengan suara yang lembut, tenang, dan tanpa nada menghakimi.

Ia tidak mencoba mendekati tempat tidur, melainkan duduk bersila di lantai, menjaga jarak aman agar Yoyo tidak merasa terancam.

"Dia tidak salah apa-apa, tapi dia harus jatuh ke lantai yang dingin."

Yoyo menghentikan tangisnya sejenak.

Mata bulatnya yang sembap melirik Viona dari balik sela-sela jarinya.

Biasanya, para pengasuh atau psikolog yang dikirim ayahnya akan langsung menghampirinya, membujuknya dengan kata-kata manis yang palsu, atau bahkan memaksanya berdiri.

Namun, wanita di depannya ini justru mengabaikan kekacauan dan memilih berbicara dengan bonekanya.

"Siapa kau? Kau pasti orang jahat yang dikirim Ayah untuk memaksaku makan obat pahit itu lagi!" tuduh Yoyo dengan suara serak.

Viona tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak ia perlihatkan kepada dunia.

"Namaku Viona. Dan aku tidak membawa obat apa pun. Aku ke sini karena aku mendengar ada seorang putri kecil yang sangat kuat, tapi perutnya sedang berdemo karena lapar."

Tepat saat kata-kata itu diucapkan, terdengar ketukan pelan di pintu.

Pelayan mengantarkan sepiring nasi hangat dengan sup ayam bening yang baru dibuat, sesuai permintaan Viona tadi.

Viona menerima nampan tersebut, meletakkannya di lantai di depannya, lalu mengucapkan terima kasih dengan sopan sebelum pintu kembali ditutup.

Aroma gurih kaldu ayam seketika menguar, memenuhi kamar yang pengap oleh emosi negatif.

Perut kecil Yoyo tanpa sengaja mengeluarkan bunyi keruyuk yang cukup nyaring.

Wajah gadis kecil itu memerah karena malu, dan ia kembali menyembunyikan wajahnya di lutut.

"Kau tahu, Yoyo?"

Viona memulai kembali pembicaraan, matanya menatap mangkuk sup dengan pandangan menerawang.

"Dulu, aku juga pernah berada di kamar yang gelap seperti ini. Aku merasa seluruh dunia membenciku, dan aku menolak untuk makan. Aku pikir, dengan menyakiti diriku sendiri, orang-orang yang menyakitiku akan merasa bersalah."

Kata-kata Viona membuat Yoyo perlahan mengangkat kepalanya lagi.

Rasa ingin tahu anak-anaknya mulai mengalahkan ego pertahanannya.

"Lalu? Apakah mereka merasa bersalah?"

Viona menggeleng pelan, senyumnya menyiratkan kepedihan yang mendalam.

"Tidak. Mereka tidak peduli. Mereka justru tertawa dan mengatakan bahwa aku wanita lemah. Saat itulah aku sadar, jika kita membiarkan perut kita lapar dan tubuh kita sakit, kita sedang membantu orang-orang jahat itu untuk menang."

Viona menyendok sedikit nasi yang telah disiram kuah sup hangat.

"Jadi, aku memutuskan untuk makan. Banyak-banyak. Biar tubuhku kuat, biar jiwaku tidak rapuh, dan biar aku bisa menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak bisa dihancurkan sepele itu."

Viona mengarahkan sendok itu ke mulutnya sendiri dan mengunyahnya dengan nikmat.

"Wah, sup di rumah ini enak sekali. Koki di sini hebat."

Yoyo menelan ludah.

Kehangatan cerita Viona dan pendekatan yang tidak memaksa membuat pertahanan mentalnya yang rapuh perlahan runtuh.

Ditambah lagi, rasa lapar yang tertahan sejak kemarin kini terasa semakin menyiksa.

"Apakah... apakah sup itu benar-benar enak?" tanya Yoyo dengan suara cicit yang sangat kecil.

"Sangat enak. Tapi kurasa, sup ini akan terasa jauh lebih enak jika dimakan bersama teman,"

Viona menatap Yoyo, matanya memancarkan ketulusan yang murni.

"Mau mencoba satu sendok?"

Yoyo ragu-ragu selama beberapa detik. Ia melirik pintu kamar, seolah takut ayahnya akan masuk dan memarahinya.

Namun melihat tatapan Viona yang begitu teduh dan protektif, Yoyo perlahan merangkak turun dari tempat tidur besar itu.

Dengan langkah kecil yang ragu, ia mendekati Viona yang masih setia duduk di lantai marmer.

Viona dengan sabar menunggu hingga Yoyo duduk di hadapannya.

Ia meniup sesendok sup hangat dengan hati-hati sebelum menyodorkannya ke depan mulut Yoyo.

Gadis kecil itu membuka mulutnya, menerima suapan pertama.

Kunyah demi kunyah, air mata Yoyo kembali menetes, namun kali ini bukan karena marah, melainkan karena rasa nyaman yang tiba-tiba melingkupi hatinya.

Rasa hangat dari sup itu seolah mencairkan kebekuan di dalam dadanya.

Tanpa terasa, suapan demi suapan berpindah, dan dalam waktu kurang dari dua puluh menit, sepiring nasi dan sup itu habis tak bersisa.

Sementara itu, di koridor luar, Oliver berdiri bersedekap dada.

Jam tangan mewah di pergelangan tangannya menunjukkan waktu dua puluh lima menit telah berlalu.

Di sampingnya, Pak Pelayan berdiri dengan cemas, sesekali melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.

"Tuan Besar, apakah kita harus memeriksa ke dalam?"

tanya Pak Pelayan hati-hati.

Sebelum Oliver sempat menjawab, pintu kamar terbuka.

Viona melangkah keluar sambil membawa nampan berisi piring dan mangkuk yang benar-benar kosong.

Di belakangnya, Yoyo tampak berdiri sambil memegangi ujung kemeja putih Viona yang pudar, wajahnya yang tadi pucat kini memiliki sedikit rona merah kehidupan.

Melihat pemandangan itu, mata elang Oliver sedikit melebar karena terkejut, walau ekspresi wajahnya dengan cepat kembali mengeras seperti batu.

Pak Pelayan bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.

Selama berbulan-bulan, tidak ada satu pun pelayan atau psikiater yang mampu membuat Yoyo menghabiskan makanan tanpa drama tangisan berjam-jam.

"Aku sudah menyelesaikan tugasku dalam waktu tiga puluh menit, Tuan Oliver,"

ujar Viona, suaranya tetap tenang meski di bawah tatapan intimidasi sang CEO.

Oliver berjalan mendekat, menatap bergantian antara piring kosong di nampan Viona dan putrinya yang kini bersembunyi di balik tubuh wanita asing itu.

Sikap Yoyo yang mendadak bergantung pada Viona adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Bagaimana kau melakukannya?"

tanya Oliver, nadanya datar namun menuntut jawaban.

"Saya hanya berbicara dengannya sebagai sesama manusia yang tahu rasanya terluka, bukan sebagai orang dewasa yang mendikte seorang anak,"

jawab Viona berani, menatap langsung ke dalam manik mata Oliver.

Oliver terdiam. Ada kilatan ketertarikan yang sangat tipis di matanya, sebelum akhirnya ia berbalik memunggungi Viona.

"Pak Pelayan, bawa dia ke ruang kerja saya untuk menandatangani kontrak. Dan Nona Viona..."

Oliver menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.

"Mulai hari ini, kau resmi menjadi Ibu Tiri Kontrak di rumah ini. Jangan buat aku menyesali keputusan ini."

Satu jam kemudian, Viona duduk di dalam ruang kerja Oliver yang super mewah.

Lembaran kertas hitam di atas putih terhampar di depannya.

Kontrak pernikahan legal dan hak asuh anak selama satu tahun. Nilai kontrak tertulis dengan jelas:

2.400.000 Yuan untuk satu tahun, dengan pembayaran di muka sebesar 200.000 Yuan yang langsung ditransfer ke rekening Viona setelah tanda tangan dibubuhkan.

Tangan Viona bergetar saat memegang pulpen.

Uang ini... uang ini adalah kebebasannya dari bayang-bayang Lin. Ini adalah biaya untuk

menyembuhkan jiwanya yang rapuh.

"Sret. Sret."

Viona membubuhkan tanda tangannya di atas meterai.

Detik itu juga, sebuah notifikasi masuk ke ponsel layarnya yang retak.

Saldo rekeningnya yang semula hanya menyisakan beberapa belas Yuan, kini berubah menjadi angka dengan deretan nol yang panjang.

"Pernikahan ini akan didaftarkan secara hukum besok.

Kau tidak perlu menghadiri pesta apa pun karena tidak akan ada pesta.

Statusmu di depan publik adalah istriku, namun di dalam rumah ini, kau adalah pengasuh Yoyo,"

ucap Oliver yang duduk di balik meja kerjanya yang besar, memandang Viona dengan tatapan bisnis murni.

"Pak Pelayan akan mengantarmu kembali ke tempat tinggalmu untuk mengemas barang-barangmu. Mulai malam ini, kau tinggal di sini."

"Terima kasih, Tuan Oliver. Saya mengerti aturan mainnya," jawab Viona.

Ia berdiri, membungkuk hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan yang dingin itu.

Sore harinya, hujan gerimis telah berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur kota.

Mobil mewah Rolls-Royce milik keluarga Oliver berhenti di depan gerbang kompleks perumahan tempat mantan suami Viona tinggal.

Sesuai kesepakatan, Viona diberi waktu dua jam untuk mengambil sisa barang-barangnya yang tertinggal di pos satpam atau di rumah kontrakan lamanya.

Namun, nasib buruk tampaknya belum sepenuhnya bosan mempermainkan Viona.

Ketika Viona turun dari mobil dengan membawa sebuah payung hitam besar yang dipinjamkan oleh Pak Pelayan, ia melihat dua sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri di depan gerbang mansion mantan suaminya.

Itu adalah Lin, mantan suaminya, dan Cindy, wanita selingkuhannya yang kini sudah resmi menempati rumah yang dulu dibangun dengan air mata Viona.

Lin sedang memayungi Cindy yang tampak anggun dengan gaun desainer mahal.

Ketika mata mereka bertemu dengan Viona yang berjalan mendekat dengan pakaian sederhananya, kilat penghinaan langsung terpancar dari wajah Lin.

"Oh, lihat siapa yang datang,"

cibir Lin dengan suara keras, sengaja memancing perhatian beberapa tetangga yang lewat.

"Mantan istriku yang gila ternyata belum mati kelaparan di jalanan. Ada apa, Viona? Apa obat penenangmu sudah habis sehingga kau kembali mengemis ke rumahku?"

Cindy tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Lin dengan manja.

"Sayang, jangan ketat begitu pada wanita stres. Viona, kalau kau butuh uang untuk beli obat di rumah sakit jiwa, bilang saja. Lin punya banyak uang receh untuk pengemis sepertimu."

Kata-kata itu bagaikan sembilu yang menyayat kembali luka yang baru saja mulai mengering di hati Viona.

Tubuhnya bergetar hebat. Rasa trauma, penghinaan, dan ketakutan akibat manipulasi psikologis yang dilakukan Lin selama bertahun-tahun mendadak bangkit kembali.

Jiwanya yang rapuh seolah dipaksa bertekuk lutut di depan gerbang yang pernah mengusirnya tanpa ampun.

Viona mencengkeram gagang payungnya erat-earat, bibirnya memucat, dan matanya mulai berkaca-kaca.

Ia merasa begitu kecil, begitu tidak berdaya di hadapan orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.

"Kenapa diam? Apa penyakit gilamu sedang kambuh?"

Lin melangkah maju, hendak mendorong bahu Viona untuk mengusirnya dari depan gerbang.

Namun, sebelum tangan Lin sempat menyentuh helai pakaian Viona, sebuah suara klakson mobil yang sangat nyaring dan berwibawa membelah keheningan hujan.

Sebuah mobil Rolls-Royce hitam dengan plat nomor khusus yang hanya dimiliki oleh petinggi nomor satu kota ini perlahan bergerak maju, memotong jalan dan berhenti tepat di antara Viona dan Lin.

Pintu penumpang belakang terbuka otomatis.

Dari dalam mobil, seorang pria dengan aura dominan yang menekan keluar membawa payung hitamnya sendiri.

Langkah kakinya yang tegas membuat Lin dan Cindy seketika terpaku.

Oliver melangkah maju, menempatkan tubuh tegapnya tepat di depan Viona, memblokir pandangan menjijikkan dari Lin.

Pria sedingin es itu melirik sekilas ke arah Viona yang sedang gemetar, lalu mengalihkan tatapan matanya yang mematikan dan penuh otoritas langsung ke arah Lin dan Cindy.

"Siapa yang baru saja kau sebut pengemis?"

suara Oliver terdengar rendah, namun getaran kekuasaan di dalamnya sanggup membuat nyali Lin menciut seketika.

Di depan sang raksasa bisnis kota, Lin tak lebih dari sebutir debu yang tidak berarti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!