Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Sengatan Kilat dan Hantaman Vital
Tanpa peringatan, sang Pemimpin Bandit menghentakkan pedang besarnya ke udara. Kilatan listrik biru berderit nyaring, memecah kesunyian gua yang pengap. Dengan satu ayunan cepat, ia meluncurkan rentetan bola sihir petir yang melesat liar membelah kegelapan.
Ctar! Ctar! Ctar!
Askara yang sudah bersiap segera merentangkan kedua telapak tangannya ke depan. Serap. Pusaran hampa di dalam jiwanya langsung berputar memotong jalur pergerakan energi listrik tersebut. Sebagian besar bola petir berukuran kepalan tangan itu membelok tajam, berputar di udara, lalu tersedot habis masuk ke dalam telapak tangan Askara.
Namun, sihir petir memiliki karakteristik yang berbeda dari sihir api atau angin yang biasa ia hadapi. Kecepatan dan daya tembus elemen ini sangat tinggi. Meskipun energinya berhasil terperangkap di dalam wadah kosong di dadanya, sisa gelombang kejutnya sempat merembes keluar, menyengat jaringan otot dan saraf di lengan Askara.
Argh! Askara menggeram rendah, tubuhnya bergetar sesaat akibat sensasi mati rasa dan sengatan panas yang menusuk hingga ke tulang.
Tepat di saat rasa sakit itu mulai mengacaukan fokusnya, sebuah pendaran cahaya hijau zamrud samar-samar melintas di balik dadanya. Air Mata Efrit merespon secara otomatis.
Item sihir penyembuhan mutlak yang tersimpan di dalam jiwanya itu langsung melahap sebagian kecil energi sihir api dan kegelapan sisa pertarungan terdahulu yang masih mengalir di tubuh Askara, mengubahnya menjadi bahan bakar pemulihan instan. Kehangatan sihir hijau itu mengalir cepat, meredakan mati rasa dan memperbaiki sel-sel ototnya yang sempat tegang.
"Ternyata begini rasanya elemen petir," gumam Askara sembari menggerakkan jemarinya yang kembali normal.
Melihat sang pengelana masih berdiri tegak, Pemimpin Bandit itu kembali menembakkan rentetan bola petir susulan. Namun kali ini, Askara tidak lagi terkejut. Ia sengaja membiarkan tubuh fisiknya menyerap serangan-serangan tersebut. Dengan bantuan pemulihan otomatis dari Air Mata Efrit yang terus bekerja di latar belakang, perlahan-lahan struktur tubuh fisik Askara mulai beradaptasi dan terbiasa dengan hantaman energi petir.
"Mustahil! Mengapa sihir petirku tidak bisa menghanguskan tubuhmu?!" teriak sang pemimpin bandit dengan wajah frustrasi, melihat semua serangan sihir terbaiknya lenyap tanpa meninggalkan bekas luka bakar sedikit pun di jubah hitam Askara.
Sebagai petualang berpengalaman, pemimpin bandit itu segera menyadari satu hal: bertarung menggunakan sihir melawan pemuda misterius ini adalah tindakan bodoh. Tanpa ragu, ia mematikan aliran listrik di pedang besarnya, lalu menyarungkan senjata tersebut ke punggung. Ia mengepalkan kedua tangannya yang berotot kekar, mengambil kuda-kuda bertarung jarak dekat.
"Kalau sihir tidak mempan, maka aku akan meremukkan setiap tulang di tubuhmu dengan tangan kosong!" meraung sang pemimpin.
Bugh!
Gerakan fisik pemimpin bandit itu ternyata luar biasa cepat dan terlatih. Sebelum Askara sempat menghindar, sebuah pukulan mentah menghantam rahang kirinya dengan telak. Askara terhuyung mundur. Belum sempat ia menyeimbangkan posisi, sebuah tendangan melingkar mendarat keras di rusuk kanannya, membuatnya terlempar sejauh beberapa meter dan jatuh menghantam lantai gua yang berbatu.
"Uhuk!" Askara terbatuk, dadanya terasa sesak. Pertarungan fisik murni jarak dekat seperti ini adalah keahlian sang pemimpin bandit yang bertubuh besar.
"Mati kau, Bocah!" Pemimpin Bandit itu melompat maju, berniat menghancurkan kepala Askara yang masih terduduk di tanah.
Namun, Askara bukanlah pemuda lemah. Tahun-tahun yang ia habiskan untuk melakukan pekerjaan fisik ekstrem di bawah tekanan ayahnya telah membentuk daya tahan tubuh yang luar biasa. Dengan gerakan berguling yang gesit, Askara menghindari hantaman tinju yang membuat lantai batu di sampingnya retak.
Askara langsung bangkit berdiri dengan kecepatan penuh. Matanya berkilat dingin di balik tudung jubah hitamnya. Ia tidak lagi berniat menahan diri. Mengandalkan pengetahuan anatomi tubuh yang ia pelajari selama melatih fisiknya, Askara menerjang maju memotong jarak pandang musuh.
Bugh! Plak! BLAAM!
Askara melepaskan kombinasi pukulan yang sangat presisi. Pukulan pertamanya menghantam ulu hati sang pemimpin hingga membuat pria besar itu terengah-engah kehilangan oksigen. Tanpa memberi jeda, Askara memutar tubuhnya dan melayangkan hantaman siku yang sangat keras tepat di titik vital leher bagian samping, disusul dengan pukulan telak di dagu yang merontokkan beberapa gigi sang pemimpin.
Pertarungan fisik yang brutal itu berakhir seketika. Tubuh besar sang Pemimpin Bandit ambruk ke tanah dengan suara dentuman keras, matanya memutih, kehilangan kesadaran sepenuhnya setelah menerima runtunan serangan di titik vitalnya.
Askara kembali memenangkan pertarungan.
Tanpa membuang waktu, Askara segera melangkah masuk ke bagian dalam gua yang lebih dalam. Di sebuah ruangan kecil berjeruji kayu, ia menemukan Elena, putri dari wanita paruh baya kemarin, sedang meringkuk ketakutan dengan tangan terikat. Askara memotong tali pengikatnya dengan cepat.
"Ibumu menunggumu di bawah. Ayo pergi," ucap Askara tenang, menenangkan gadis yang masih gemetar tersebut.
Sembari menuntun Elena keluar, Askara menyeret tubuh pingsan sang Pemimpin Bandit dengan satu tangannya.
Sesampainya di alun-alun Desa Boa w, kehadiran Askara yang membawa pulang Elena selamat beserta sang pemimpin bandit yang sudah babak belur membuat seluruh penduduk desa dan para penjaga lokal melongo tidak percaya. Kesatria lokal yang kemarin meremehkan Askara kini hanya bisa berdiri mematung dengan wajah pucat pasi karena malu dan takut.
Askara melemparkan tubuh pemimpin bandit itu ke depan markas penjaga. "Serahkan orang ini kepada pasukan kerajaan untuk dihukum. Jangan biarkan dia lepas lagi," ucap Askara dingin kepada para penjaga.
Setelah tugasnya selesai, Askara membetulkan posisi jubah hitamnya, bersiap untuk langsung melangkah melanjutkan perjalanannya menuju utara. Namun, langkah kakinya tertahan ketika sang ibu tiba-tiba berlari memeluk putrinya, lalu berbalik memegangi ujung jubah Askara dengan mata yang berkaca-kaca penuh rasa syukur.
"Tuan Pengelana... Tolong, saya memohon dengan sangat, mampirlah ke rumah kami yang sederhana sebentar saja," usap sang ibu sembari menangis haru. "Kami tidak memiliki emas untuk membalas kebaikanmu, tapi setidaknya izinkan kami menyajikan makanan hangat di rumah sebagai bekal perjalananmu. Saya tidak akan membiarkanmu pergi dengan perut kosong setelah mempertaruhkan nyawa demi putri saya!"
Askara awalnya ingin menolak karena ia merasa perjalanannya ke Hutan Sihir Kegelapan sudah sangat mendesak. "Ibu, tidak perlu repot-repot. Aku harus segera bergerak sebelum matahari terlalu tinggi," jawab Askara mencoba menolak dengan halus.
Namun, sang ibu dan Elena terus memaksa dengan sangat tulus, bahkan beberapa penduduk desa di sekitar ikut membujuknya agar menerima penghormatan tersebut. Merasa tidak enak hati dan melihat ketulusan yang murni dari keluarga yang baru diselamatkannya itu, terpaksa Askara mengalah. Ia menghela napas pelan dan mengangguk setuju, mengikuti langkah kaki sang ibu menuju rumah kayu kecil mereka di sudut desa untuk menikmati jamuan makan bersama sebelum ia benar-benar melangkah menuju utara yang berbahaya.