Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.
Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlibur
Zara mulai mengerjap perlahan kala mentari pagi mengintip dari sela-sela jendela kaca dengan tirai yang menyibak sedikit terbuka. Ingin rasanya menggeliat, meregangkan otot tubuhnya namun sesuatu yang sangat berat terasa menyulitkan pergerakannya.
Kenapa tubuhku begitu sulit untuk bergerak.
Gadis itu pun mengerjap beberapa kali guna mengumpulkan kesadarannya, hingga netranya benar-benar terbuka sempurna, barulah sang gadis mulai menyadari keadaan.
Apa, tangan? Tangan siapa ini?
Sepasang tangan kokoh berotot dengan ukuran tiga kali lipat tangan mungilnya, melingkar kuat dan begitu melindungi. Gadis itu pun nampak kesulitan untuk berpaling dan memastikan siapa pemilik tubuh dari seseorang yang tengah mendekapnya erat.
Zara tertegun kala pandangannya tertuju pada benda yang melingkar di jari manis pria itu. Sebuah cincin yang tak asing lagi bagi Zara.
Cincin yang sama denganku. Mungkinkah Tuan Arka yang tengah tidur dan memelukku erat hingga terasa sesakseperti ini.
Zara menatap sofa yang kerap suaminya gunakan untuk melepas lelah dan terlelap, namun sofa itu kini kosong tak berpenghuni. Gadis itu pun menelan salivanya kasar, namun juga begitu menikmati dekapan hangat yang terasa sangat nyaman. Tak menyakiti namun melindungi.
Mengingat waktu yang terus berjalan dan beranjak siang, Zara mulai coba melepaskan kuatnya rengkuhan erat di tubuhnya dengan pelan dan hati-hati untuk tak membangunkan suaminya.
Tak disangka, pria itu begitu peka meski hanya sedikit pergerakan yang bersumber pada tubuh istrinya. Pria tampan itu terbangun saat Zara mulai mengeser tubuhnya.
"Zara, kau mau kemana?" tanyanya dengan netra masih terkatup rapat.
Gawat, ketahuan aku.
"Waktu sudah beranjak siang Tuan, saya harus mulai berkemas. Bukankah Tuan juga akan bekerja?" Masih mempertahankan posisinya dengan separuh badan terangkat.
"Kemarilah, ini akhir pekan. Aku masih ingin memelukmu," titah pria berkulit kuning langsat itu dan tak ingin mendapatkan penolakan.
Zara yang sudah hendak bangkit itu mengurungkan niatnya dan kembali dalam dekapan erat sang suami. Tak nyaman jika lagi-lagi memunggungi, gadis itu pun memilih menatap wajah suaminya yang masih setengah tertidur itu.
Arka mengusap punggung mungil Zara lembut kemudian mendekapnya lagi hingga wajah gadis itu pun terbenam di dada bidangnya.
"Zara, apa kau tau? Ini sangat menyenangkan." Arka dengan leluasa menciumi surai dan menggesekkan ujung hidungnya di kepala sang gadis dengan lembutnya.
Bagi pengantin baru sepertiku, ini memang menyenangkan. Tapi bagi Tuan yang sudah bertahun-tahun menikah, mungkin sudah sangat terbiasa merasakan hal semacam ini.
"Iya, Tuan," jawab gadis itu lirih meski sejujurnya malu untuk mengucapnya.
"Bagaimana jika kita menghabiskan akhir pekan dengan berlibur?" tanya Arka sembari menurunkan pandangan untuk menjangkau wajah istrinya.
Zara pun mendongak, menatap kearah suaminya hingga pandangan keduanya saling berpaut.
"Liburan?" Zara menautkan kedua alisnya tampak berfikir.
Arka tersenyum dan menyusap lembut pipi istrinya. "Ya, bisa dibilang semacam liburan kilat. Memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Aku sudah memiliki satu tempat sebagai tujuan liburan kita," ucap Arka lembut dan kembali membawa tubuh mungil Zara dalam dekapannya.
*******
Arka dan Zara tengah duduk disebuah sofa dan menikmati segelas jus buah beserta roti isi yang disiapkan para pelayan. Keduanya memilih untuk sarapan di dalam kamar sebelum menuju tempat untuk berlibur.
Arka yang tampan dengan kemeja non formal berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam membuatnya terlihat santai dan dewasa. Surainya yang masih setengah basah, tersisir rapi kebelakang, tentunya atas tatanan sang istri.
Sementara Zara terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna putih polos berlengan sabrina sebawah lutut.
"Tuan, anda tidak ingin mengajak Nona Anastasya?" Ragu Zara mengucapnya, hanya saja ini terlalu membuatnya tak nyaman sebab tak membawa Anastasya bersama mereka.
"Tidak, kita hanya akan berdua. Jika akhir pekan, anastasya akan menghabiskan waktunya untuk berbelanja dan memanjakan diri."
Apa ini? Bukankah mereka suami istri? Tetapi kenapa seperti tak saling perduli satu sama lain.
Gadis itu pun terdiam dan mulai menghabiskan sarapannya. Bi Surti pun tampak memasuki kamar dan menata semua perlengkapan dalam beberapa koper. Zara engan banyak bertanya, gadis itu memilih diam hingga sarapan dan segelas jus di hadapannya tandas.
******
Mobil yang dikemudikan Sam bergerak memejah hiruk pikuk jalanan kota. Kendaraan terus berpacu cepat mengejar waktu. Jalanan ramai kini berubah lenggang saat tiga puluh menit melaju. Pepohonan rindang dan udara segar dipagi menyapa mereka.
Entah tempat semacam apa yang sudah dipersiapkan Arka. Zara pun hanya menurut tanpa banyak bertanya.
"Apa kau lelah?" tanya Arka kala mendapati wajah istrinya yang tampak tak bersemangat.
"Tidak Tuan. Apa perjalanannya masih lama?"
Arka tersenyum hangat dan mengam tangan sang istrinya lalu menciumnya lembut.
"Tidak istriku, kita akan sampai tak lama lagi. Jika kau lelah, kemarilah. Aku bisa memelukmu," goda Arka dengan ucapannya. Zara merona malu, pasalnya Sam kini tengah mengatur kemudi di kursi depan. Sementara Arka tanpa rasa malu selalu saja mengoda dengan kata-kata lembutnya.
"Tidak Tuan, terimakasih. Saya tidak merasa lelah," tolak Zara seketika dan hanya ditanggapi senyuman oleh suaminya.
Mobil yang mereka tunggangi kian jauh meninggalkan perkotaan. Berganti dengan hawa sejuk dan pepohonan rindang. Zara yang tampak menikmati perjalanan, membulatkan netranya tak percaya.
"Tuan, apa kita akan kepantai," ucap Zara tak percaya saat jalan yang mereka lalui berada di tepian pantai dengan ombak yang saling berkejaran.
"Arka tersenyum dan mengangguk, " Apa kau senang?"
Zara tak mampu menutupi rasa bahagianya. Sesekali gadis mungil itu bertepung tangan senang sebagai luapan kebahagiannya.
"Sangat suka." Gadis itu pun membuka kaca mobil cukup lebar hingga angin pantai membelai kulit dan surai hitamnya.
Tak berapa lama mobil menepi di jajaran bangunan yang berada dekat dengan bibir pantai. Bangunan cukup luas bernuasa pedesaan yang menghadap langsung dengan pantai dan hamparan pasir.
"Tuan, kita akan berlibur di tempat ini?" ucap Zara sembari menikmati keindahan alam sekitar.
"Benar istriku. Kita pun akan bermalam di tempat ini." Arka mengengam tangan istrinya dan membimbingnya memasuki villa yang dengan cat berwarna putih tersebut.
Sam dengan cekatan menurunkan beberapa koper milik sang Tuan kedalam Villa. Seolah tak ingin menggangu, pria muda dengan kemeja biru muda panjang itu bergegas pergi selepas merampungkan tugasnya.
Zara tak hentinya berdecak kagum. Bangunan Villa tersebut tak terlalu mewah namun tetap elegan dan terasa nyaman. Jendela kaca yang tertutup tirai tipis itu pun tampak meliuk indah seirama angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Gadis itu pun berdiri di antara jendela yang terbuka, menikmati suasana pantai dari kejauhan. Arka yang menyadari pun lekas mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Kau terlihat sangat menyukainya," gumam Arka dan menundukan pandangan menatap wajah sang istri.
Zara yang terkesiap pun sempat membeku beberapa saat. Dirinya masih belum terbiasa dengan perlakuan spontan suaminya.
"I-iya Tuan. Pantainya terlihat begitu indah," jawabnya sedikit terbata.
"Bagaimana jika kita duduk di teras. Di sana kita bisa memandang lautan lepas dan ombak saling berkejaran," tawar Arka dengan telunjuk mengarah pada dua kursi rotan yang terletak di teras depan.
Gadis itu pun tak menolak dan mengikuti langkah Arka dengan tangan saling bertautan.
Seorang pelayan perempuan yang menunggu membawa nampan berisikan dua buah kelapa muda tanpa diminta kala keduanya sudah berada di teras sembari menatap laut lepas.
"Terimakasih," ucap Zara pada pelayan tersebut.
Pelayan itu pun tersenyum dan menundukan kepala sebelum berlalu pergi.
Kelapa muda yang tersaji begitu terasa nikmat dan menyegarkan kala mulai menyapa tenggorokan yang nyaris kering. Jika Zara terlihat menikmati panorama sekitar dan kelapa mudah yang tengah diteguknya, namun tidak pada Arka, suaminya. Pria itu justru tak tertarik pada apa pun di sekitar, selain pada wajah istrinya. Tanpa berkedip, pria dengan jambang tipis itu menatap istrinya lekat.
"Zara, apa kau tau apa alasanku menikahimu?" Masih tak berkedip.
Gadis itu mengalihkan pandangan dan menatap suaminya.
"Tentu saya tau Tuan."
"Karna apa?" tanya Arka.
"Karna permintaan Nona Anastasya. Tuan pun pasti tau itu." jawab Zara enteng, meski jujur hatinya terasa teriris saat gadis itu membeberkan kenyataanya.
Arka tergelak, "Ternyata kau begitu polos dan tak peka."
"Maksud Tuan?" Zara menautkan kedua alisnya, tampak berfikir sekaligus tak terima dengan ucapan suaminya.
Pria itu menghela nafas dalam, "Sejujurnya aku sudah lebih dulu menyimpan rasa padamu, sebelum ancaman Anastasya itu terjadi."
Zara terdiam, dia tak mudah percaya akan ucapan seorang pria yang menikahinya hanya karna terpaksa.
"Tuan, bisakah saya menanyakan sesuatu hal pada anda?" Rasa penasaran yang begitu besar, rupanya tak mampu lagi ia pendam.
"Tanyakan saja. Aku akan menjawabnya."
Baik. Inilah saatnya.
"Saya tanpa sengaja menemukan foto pernikahan Tuan dan Nona Anastasya di perpustakaan." Arka tampak serius dan menjadi pendengar yang baik. "Akan tetapi ada satu hal yang ingin saya ketahui."
"Tentang apa?" Arka justru meraih jemari Zara dan menggengamnya erat.
"Perut Nona terlihat membuncit, apakah Nona menikah dengan Tuan dalam keadaan hamil?"
Arka mengangguk seolah membenarkan.
"Apakah bayi itu anak Tuan?" ragu Zara menanyakannya.
"Iya, dia anakku." jawab Arka lantang tanpa ragu.
Deg...
Kenapa kenyataan ini terlalu menyakitkan. Justru aku mampu mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan seperti ini. Sadarlah kau Zara, dirimu hanyalah benalu dalam hubungan pernikahan sakral sepasang suami istri yang dengan terpaksa menyeretmu masuk dalam kehidupan mereka.