Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Dua Ayah
Malam itu, setelah rumah Maheswara kembali sunyi dan Revan mengurung diri di kamar. Ardian Maheswara dan istrinya masih terjaga di ruang kerjanya. Lampu meja menyala temaram, menerangi rak-rak buku hukum yang tersusun rapi hingga menyentuh langit-langit. Judul-judul tebal tentang hukum pidana, perdata, dan arbitrase internasional berjajar seperti saksi bisu perjalanan hidupnya.
Firma hukum Maheswara & Partners adalah salah satu firma paling elit dan termahal di Jakarta. Nama Ardian Maheswara bukan sekadar papan nama, ia adalah simbol. Puluhan tahun menangani kasus-kasus besar, membela klien-klien berpengaruh, dan menorehkan kemenangan yang membuatnya disegani sekaligus ditakuti. Dunia mengenalnya sebagai pengacara dingin, tegas, dan nyaris tidak pernah kalah. Namun malam itu, Ardian tidak sedang memikirkan kasus apa pun.
“Apakah yang kita lakukan ini sudah benar, mas?” tanya Ratih, istrinya.
Ia memegang secangkir kopi yang sudah dingin, menatap kosong ke arah jendela. “Aku yakin sudah.”
“Semoga saja ya mas.” Ujar Ratih.
Ardian kembali mengingat masa lalunya, masa ia belum menjadi siapa-siapa. Ardian mengenal Surya sejak mereka masih anak-anak.
Mereka tumbuh di lingkungan yang sama, sebuah kawasan sederhana di pinggiran kota, tempat anak-anak berlari tanpa alas kaki dan pulang saat matahari tenggelam. Ardian kecil dikenal keras kepala dan ambisius. Sementara Surya, lebih tenang, lebih bijak, dan sering kali menjadi penyeimbang sifat Ardian yang meledak-ledak. Mereka sekolah bersama, berkelahi bersama, dan bermimpi bersama.
“Aku mau jadi pengacara,” kata Ardian suatu sore, ketika mereka duduk di pinggir lapangan, dengan kaki terayun santai.
Surya tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku mau kerja yang bisa bantu orang banyak. Biar seimbang.”
Ardian tertawa. “Kamu selalu begitu. Terlalu baik.”
Surya hanya mengangkat bahu. “Seseorang harus jadi penyeimbang.”
Persahabatan mereka bertahan melewati masa remaja, masa sulit, dan pilihan hidup yang mulai berbeda. Ardian melanjutkan pendidikan hukum dengan penuh ambisi, sementara Surya memilih jalan yang lebih sederhana, menjadi pegawai negeri sipil, lalu membangun keluarga dengan ketenangan yang tidak pernah Ardian miliki. Namun satu hal tidak pernah berubah, mereka saling percaya.
Janji itu terucap tanpa rencana. Suatu malam, ketika mereka sudah dewasa, duduk berdua di teras rumah Surya. Angin malam berhembus pelan, dan obrolan mengalir ringan tentang hidup, pekerjaan, dan keluarga.
“Aneh ya,” kata Ardian sambil tersenyum. “Kita dulu dua bocah ingusan, yang sekarang sudah jadi kepala keluarga.”
Surya tertawa kecil. “Waktu cepat sekali berlalu.”
Ardian menatap langit, lalu berkata setengah bercanda, “Kalau nanti aku punya anak laki-laki dan kamu punya anak perempuan, kita jodohkan aja. Biar persahabatan ini jadi keluarga.”
Surya terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Kalau memang begitu jalannya, kenapa tidak?”
Mereka tertawa, menganggapnya candaan. Namun di dalam hati, janji itu tersimpan tanpa disadari, tanpa disepakati secara resmi, tetapi nyata.
Waktu berjalan. Hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Ardian menikah dengan Ratih, membangun firma hukum dan tenggelam dalam dunia yang menuntut kekuasaan dan reputasi. Surya menikah dengan Wening, membesarkan anak-anaknya dengan kesederhanaan dan kehangatan. Mereka jarang bertemu, namun komunikasi tidak pernah putus.
“Waktu berjalan tidak terasa, akhirnya janji dulu yang pernah aku dan Surya ucapkan akan menjadi kenyataan.” Gumam Ardian.
Ardian tersenyum mengingat masa lalu, ketika Revan lahir. Ia mengabari Surya dengan rasa bangga. Sebaliknya ketika Aruna lahir, Surya mengirim foto bayi kecil dengan senyum lembut. Mereka tertawa mengenang janji lama. Lalu kembali pada kehidupan masing-masing. Janji itu terlupakan, tertimbun oleh kesibukan, jarak, dan waktu.
Hingga enam tahun lalu, ketika Ardian mendengar kabar sekilas tentang Aruna dan Revan di kampus yang sama. Ia tidak menanggapi serius. Menganggapnya sebagai kebetulan kecil yang tidak perlu dipikirkan.
Kini, Ardian duduk di ruang kerjanya dengan pikiran yang jauh lebih berat. Revan telah dewasa. Seorang pengacara muda yang bekerja di firma hukum miliknya, cerdas, ambisius, dan keras kepala. Revan mewarisi banyak sifatnya. Terlalu banyak dan itulah yang membuat Ardian khawatir.
Ardian mengusap wajahnya, kemudian menarik napas. “Bagaimana pun caranya, aku harus bisa memisahkan Revan dengan perempuan bernama Viona itu.” Ujar Ardian pada dirinya sendiri.
Ia tahu Revan hidup dalam hubungan yang tidak jelas. Ia tahu putranya belum benar-benar menemukan ketenangan. Dan di balik semua keberhasilan profesional Revan, Ardian melihat kegelisahan yang ia kenali, kegelisahan yang dulu juga ia miliki.
Ratih pernah berkata, “Revan butuh seseorang yang bisa menerima dia apa adanya.”
Nama Aruna muncul di benaknya, sebagai anak Surya, anak dari sahabat yang selalu menjadi penyeimbang hidupnya.
Ardian meraih ponselnya malam itu dan menghubungi Surya setelah bertahun-tahun jarang berbicara panjang.
“Halo Sur,” ucap Ardian saat panggilan terhubung.
“Iya, Di?” suara Surya terdengar hangat, sama seperti dulu.
“Kamu sudah sampaikan pada Aruna, kan?” tanya Ardian tanpa basa-basi.
Di seberang sana, Surya terdiam cukup lama. Lalu ia menjawab pelan, “Sudah.”
Tidak ada tawa. Tidak ada candaan.
Hanya kesadaran dua pria paruh baya, bahwa hidup telah membawa mereka ke titik ini.
“Kita tidak memaksa,” lanjut Ardian. “Tapi mungkin, ini saatnya mereka untuk mempertimbangkannya.”
Surya menghela napas panjang. “Anak-anak kita sudah dewasa, Di. Keputusan ini akan mengubah hidup mereka.”
“Aku tahu.” Jawab Ardian.
Namun Ardian juga tahu satu hal, janji itu bukan sekadar tentang perjodohan. Ini tentang melaksanakan janji. Tentang janji yang pernah dibuat di masa lalu. Janji antara dua orang yang bersahabat sejak kecil.
Ardian berdiri dari kursinya, menatap kembali rak buku hukumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kasus terberat dalam hidupnya bukanlah kasus di pengadilan, melainkan keputusan sebagai seorang ayah.
Di sisi lain kota, Surya Pramesti duduk di ruang tamunya, menatap foto keluarga kecilnya. Ia tahu Aruna telah tumbuh menjadi wanita kuat. Ia tahu putrinya pernah terluka dan justru karena itu, Surya ragu.
Dua ayah. Dua sahabat lama dan satu janji yang kembali menuntut jawaban. Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, keputusan mereka akan menyeret hati Aruna yang pernah terluka, kembali ke jalan yang sama.
Malam itu, Surya duduk lama sambil melihat layar ponsel yang sudah lama gelap. Pesan itu telah ia kirimkan. Tidak ada yang bisa ia tarik kembali. Yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan harapan bercampur menjadi satu.
Sementara itu, Aruna yang telah membaca pesan-pesan itu berbaring terjaga di apartemennya. Matanya menatap langit-langit, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Dan saat pagi menjelang, Aruna akhirnya menyadari satu hal pahit. Masa lalu yang selama ini ia coba lupakan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menuntut tempatnya.