Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Maya Kembali ke Kantor
Senin pagi kembali menyapa Gedung Lumina Group dengan ritme yang monoton. Bagi sebagian besar karyawan di Lantai 15, hari ini adalah awal dari siklus mingguan yang melelahkan: mengejar target penjualan, menghadapi revisi mendadak dari Pak Rudi, dan menahan kantuk sisa akhir pekan.
Nadinta duduk di kubikelnya yang terletak di sudut strategis—tempat di mana dia bisa mengawasi hampir seluruh ruangan tanpa terlihat mencolok. Meja kerjanya rapi, hanya ada laptop, tumpukan berkas prioritas, dan segelas teh hangat. Dia sedang berdiskusi pelan dengan Karina mengenai jadwal meeting minggu ini.
"Mbak, jadwal meeting sama vendor percetakan digeser ke jam dua siang ya? Soalnya Pak Rudi baru bisa hadir jam segitu," lapor Karina sambil mengecek tabletnya.
"Boleh, Rin. Atur aja. Yang penting draft-nya udah siap di meja saya sebelum makan siang," jawab Nadinta tenang.
Ketenangan produktif itu mendadak terusik sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit.
Pintu kaca utama divisi pemasaran terbuka lebar. Masuklah seseorang yang membawa aura liburan tropis yang sangat kontras dengan suasana kantor yang kaku.
Maya.
Setelah "cuti sakit" di minggu lalu (yang digunakannya untuk terbang ke Labuan Bajo) dan dilanjutkan roadtrip boros ke Bandung bersama Arga dan Nadinta di hari Sabtu, Maya akhirnya kembali bekerja. Namun, dia tidak terlihat seperti orang yang siap bekerja. Dia terlihat seperti orang yang siap melanjutkkan pestanya.
Penampilannya sangat mencolok. Kulitnya terlihat lebih gelap (tan) eksotis, hasil dari berjemur di kapal pinisi. Dia mengenakan blouse sabrina berwarna terracotta cerah yang memamerkan bahunya, dipadukan dengan rok span dan gelang-gelang etnik yang bergemerincing berisik setiap kali tangannya bergerak.
Di kedua tangannya, Maya menenteng tiga paperbag besar yang menggembung penuh. Dia berjalan melewati lorong kubikel dengan dagu terangkat, menebarkan senyum kepada siapa saja yang mau melihatnya.
"Pagi semua!" sapa Maya dengan suara cempreng yang dibuat manja.
Dia berhenti di meja Sinta, resepsionis lantai.
"Sin, nih aku bawain oleh-oleh. Kopi Flores asli, varian Arabika Bajawa. Enak banget lho, aku beli langsung di kebunnya pas di Bajo," ujar Maya sambil meletakkan bungkusan kopi itu.
"Sama ini ada keripik pisang, bagi-bagi sama anak-anak lain ya."
"Wih, makasih banyak Mbak Maya! Asik banget sih liburannya, jadi glowing banget kulitnya," puji Sinta, matanya berbinar menerima gratisan.
Maya tertawa renyah, mengibaskan rambutnya yang baru di-highlight. "Iya dong, healing itu perlu, Sin. Biar nggak stres kayak orang-orang yang kerjanya lembur mulu di sini."
Arga, yang duduk di kubikelnya tak jauh dari sana, hanya bisa menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk membaca dokumen terbalik. Jantungnya berdegup kencang.
Dia masih trauma dengan tagihan bensin dan makan siang kemarin lusa. Melihat Maya membagi-bagikan oleh-oleh yang dibeli dengan uang hasil paylater-nya membuat perut Arga mulas.
Setelah selesai sesi tebar pesona di area depan, Maya berjalan menuju kubikel Nadinta di sudut.
"Pagi, Nadin Sayang!" seru Maya.
Nadinta mendongak. Dia melihat Maya berdiri di samping kubikelnya dengan senyum lebar.
Nadinta meletakkan pulpennya, lalu membalas senyum itu dengan takaran yang pas—cukup hangat untuk terlihat bersahabat, namun cukup dingin untuk menjaga jarak.
"Pagi, May. Akhirnya masuk juga." Nadinta menyapa ramah.
Maya langsung menarik kursi dari meja kubikel di sebelah Karina, duduk tanpa permisi. Dia meletakkan tas belanjaannya di lantai.
Maya merogoh salah satu tasnya.
"Ini janji oleh-oleh yang kemarin," kata Maya, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berisi kain tenun ikat.
"Ini oleh-oleh dari Bajo, khusus buat kamu."
Maya meletakkan kotak itu di meja Nadinta, tepat di samping laptop.
"Ini tenun asli lho, Nad. Handmade. Pewarna alam. Bagus banget buat dijadiin outer atau pajangan. Spesial buat bestie aku yang paling sibuk," tambah Maya.
Nadinta menatap kain itu. Dia tahu persis, tiket pesawat Maya ke Bajo dibayar pakai paylater Arga dan kain ini pun dibeli menggunakan uang sisa belanja bulanan yang diberikan Arga secara diam-diam–yang sebagian besar berasal dari tabungan Nadinta.
"Wah, cantik banget motifnya. Makasih banyak ya, May," ucap Nadinta dengan nada apresiasi yang sopan. Dia mengelus kain itu. "Kamu repot-repot banget sih. Padahal kita baru ketemu Sabtu kemarin."
"Nggak repot kok! Kan buat sahabat sendiri." Maya mengedipkan mata.
Maya kemudian menoleh ke Karina yang masih berdiri memegang tablet. Dia tersenyum sekilas, senyum yang tidak mencapai mata.
"Eh, ada Karina. Sori ya Rin, aku nggak beliin kamu yang kayak gini. Soalnya ini mahal dan limited edition. Kamu ambil keripik aja ya di depan sama Sinta," kata Maya santai, tanpa rasa bersalah.
Karina hanya mengangguk sopan, sudah terbiasa dengan sikap Maya yang selalu mengintimidasi staff yang lebih muda, merasa superior. "Nggak apa-apa, Mbak Maya. Terima kasih."
Nadinta menangkap dinamika itu. Dia tidak menegur Maya, karena itu akan merusak perannya.
"Karina," panggil Nadinta lembut. "Tolong buatkan teh hangat dua cangkir ya. Satu buat saya, satu buat Mbak Maya. Pakai teh melati yang di laci saya."
"Siap, Mbak," Karina mengangguk hormat, lalu bergegas ke pantry.
Setelah Karina pergi, Maya memajukan kursi rodanya mendekati Nadinta, suaranya merendah menjadi bisikan konspiratif.
"Gila, Nad. Sabtu kemarin seru banget ya?" bisik Maya dengan mata berbinar. "Mobil barunya juga enak banget. Aku tidur pules sepanjang jalan pulang."
Nadinta mengangguk-angguk antusias. "Iya kan? Apa aku bilang. Itung-itung kita reuni bertiga, kamu happy kan?"
"Banget! Makanya aku butuh hiburan," Maya tertawa. "Eh, nanti siang makan bareng yuk? Di kantin aja nggak apa-apa deh. Aku mau cerita gosip terbaru soal temen angkatan kita yang katanya mau cerai."
Nadinta melirik jam dinding, lalu menatap tumpukan binder (map besar) berdebu yang sengaja dia tumpuk di rak belakang kursinya sejak pagi tadi.
Rencananya dimulai sekarang.
"Aduh, pengen banget sih, May. Tapi..." Nadinta memasang wajah pusing dan lelah, memijat keningnya.
"Kita lagi ada masalah data nih. Pak Rudi ngamuk-ngamuk tadi pagi di grup WhatsApp."
"Kenapa lagi si tua itu?" tanya Maya, meremehkan bosnya.
"Sistem cloud kantor lagi error parah kena virus. Data penjualan manual dari tiga tahun terakhir harus diverifikasi ulang satu per satu karena datanya corrupt. Bayangin, harus dicocokkan manual sama faktur fisik!" keluh Nadinta dramatis.
Nadinta berdiri, mengambil tiga binder tebal yang berdebu itu dari rak, lalu meletakkannya di depan Maya dengan bunyi gedebuk yang berat.
Debu tipis beterbangan. Maya terbatuk kecil, mengibaskan tangannya di depan hidung, menjauhkan wajahnya yang full makeup.
"Terus?" tanya Maya bingung, menatap tumpukan horor itu.
"Aku butuh bantuan kamu, May," kata Nadinta dengan tatapan memohon.
"Kamu kan Admin Sales. Kamu yang paling ngerti soal arsip dan input data di tim ini. Bisa tolong bantuin input ulang data di binder ini ke Excel nggak? Harus selesai hari ini, soalnya besok mau dipake buat bahan rapat evaluasi sama Pak Direktur baru."
Mata Maya melotot. Dia menatap tumpukan kertas kusam itu dengan horor. Dia baru saja manicure kukunya dengan hiasan kristal mahal Sabtu kemarin.
"Hah? Semuanya? Sendirian?" pekik Maya. "Gila aja, Nad! Tangan aku bisa keriting! Kan ada si Karina? Atau anak magang lain?"
"Karina lagi aku suruh bantu Mas Arga buat materi lain yang lebih urgent. Anak magang lain lagi di gudang. Cuma kamu harapan aku, May. Please? Kamu kan sahabat terbaik aku," bujuk Nadinta, menggunakan kartu 'persahabatan' untuk menjebak Maya dalam permainannya sendiri.
"Lagipula," tambah Nadinta dengan suara pelan. "Pak Rudi lagi nyari-nyari kesalahan tim kita karena target bulan lalu turun. Kalau dia tahu kamu baru balik cuti tapi kelihatan santai-santai, nanti dia bisa marah lho. Mending kelihatan sibuk di depan dia."
Ancaman halus itu mengena. Maya paling takut dimarahi Rudi yang temperamental. Dia butuh pekerjaan ini untuk tetap dekat dengan Arga.
"Ih, nyebelin banget sih momennya!" gerutu Maya sambil menghentakkan kaki. Dia menatap binder itu dengan benci. "Yaudah deh. Tapi nanti siang kamu yang traktir makan ya? Sebagai kompensasi tenaga aku."
"Beres! Nanti aku pesankan makanan enak dari restoran bawah," janji Nadinta.
Maya berdiri dengan malas, memeluk binder-binder berat itu dengan enggan. Penampilannya yang glamour dengan baju sabrina dan gelang etnik langsung terlihat konyol saat dia harus membawa tumpukan berkas kusam seperti kuli panggul.
"Aku kerjain di meja aku ya. Awas kalau nggak ditraktir," ancam Maya bercanda, lalu berjalan keluar dari kubikel Nadinta menuju mejanya sendiri yang terletak di dekat mesin fotokopi yang bising.
Sepeninggal Maya, Nadinta kembali duduk di kursinya dengan tenang. Senyum manisnya lenyap seketika, berganti dengan tatapan dingin yang fokus.
Karina datang membawa nampan teh. Dia melihat Maya pergi membawa tumpukan binder dengan wajah masam.
"Mbak Nadin, tehnya..." Karina bingung karena tamunya sudah pergi.
"Taruh di sini saja, Rin. Dua-duanya buat saya," kata Nadinta. Dia mengambil kotak kain tenun di mejanya.
"Rin, kamu suka kain tenun?"
"Suka, Mbak. Kenapa?"
"Ini buat kamu saja. Hadiah karena sudah rajin datang pagi," Nadinta menyodorkan kotak kayu itu pada Karina.
Karina terbelalak. "Lho? Ini kan dari Mbak Maya buat Mbak Nadin? Katanya mahal?"
"Warnanya nggak cocok sama saya. Kamu pakai saja, atau kasih ke ibumu," jawab Nadinta datar. Dia tidak sudi menyimpan barang pemberian wanita yang menusuknya dari belakang, apalagi barang yang dibeli dari uang calon suaminya sendiri.
"Wah... makasih banyak, Mbak Nadin!" Karina menerima dengan senang hati. Dia memeluk barang itu kuat-kuat sambil melompat-lompat, selayaknya anak kecil yang senang karena diberi permen.
Nadinta tersenyum sejenak, kemudian berjalan sedikit mendekat.
"Satu lagi, Rin," Nadinta menatap Karina serius. "Tolong pantau kerjaan Maya hari ini. Pastikan dia tidak copy-paste sembarangan. Kalau ada salah input satu angka saja, lapor ke saya. Saya mau laporannya detail dan sempurna. Jangan kasih kelonggaran."
Mata Karina berbinar. Dia merasa diberi kepercayaan untuk mengawasi senior yang sombong itu.
"Siap, Mbak! Bakal saya pastikan datanya akurat."
Karina pergi dengan senyum lebar.
Nadinta menyesap teh hangatnya, menatap ke arah kubikel Maya di kejauhan. Maya sudah mulai membuka binder dengan wajah cemberut, sementara Arga di kubikel sebelahnya tampak gelisah karena tidak bisa membantu pacar gelapnya di jam kerja.
Selamat bekerja, May.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/