Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nol
Hari-hari setelah kejadian aneh itu berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, sampai Jemima hampir yakin semuanya hanyalah mimpi panjang yang dibuat otaknya sendiri karena kelelahan.
Leon Shadow masih pulang larut. Bau alkohol masih memenuhi rumah. Teriakan masih sering terdengar dan lebam di tubuh Jemima masih bertambah satu demi satu.
Satu-satunya hal yang berbeda hanyalah rasa penasaran Jemima pada kalung opal pemberian nenek buyutnya itu.
Kalung dengan bandul kecil berwarna ungu cerah yang entah sejak kapan sudah melingkar di lehernya.
Jemima tidak ingat kapan terakhir kali dia memakainya. Yang dia tahu, saat bangun pagi setelah “mimpi” itu, kalung tersebut sudah ada di sana.
Rantainya dingin, bandulnya terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Namun, Jemima terlalu lelah untuk mempertanyakannya. Toh tidak ada yang memerhatikan apakah dia memakai kalung atau tidak.
Sayangnya, perkiraan Jemima meleset. Ashley, teman kerja Jemima memuji kalung warisan itu.
"Jemi, kalungmu cantik sekali. Apakah kalung itu warisan yang pernah kau ceritakan padaku?" tanya Ashley saat itu.
Seorang temannya yang lain ikut mendekat. "K-kau sangat cantik memakai kalung itu, Jem."
Jemima menoleh ke arah suara gagap dengan nada bariton itu dan tersenyum. "Terima kasih, Kai. Namamu Kai, kan?"
Pemuda pucat itu mengangguk, lalu pergi begitu saja.
"Aneh sekali dia," kata Ashley, lehernya mengikuti ke mana Kai pergi. Lalu, dia kembali menoleh kepada Jemi. "Tapi, aku suka kalungmu."
Jemima menunduk memandang kalungnya sambil memainkan liontin opal yang menggantung di kalung tersebut.
Gadis berusia 25 tahun itu tak pernah tahu kalau kalung opal itu menyimpan sebuah rahasia besar.
Hingga suatu sore saat Jemi baru saja pulang dari bekerja, dia memainkan liontin opal di kalungnya dengan pikiran kosong.
Saat itu, Leon belum pulang dan dunia terasa lebih damai dari biasanya.
Jemima berbaring di atas ranjang reyotnya dan tanpa dia sadari, ada rasa hangat yang samar ketika kulitnya menyentuh permukaan bandul itu.
“Malam ini dingin," gumam Jemi. Dia berdiri dan menutup jendela kamarnya sambil merapatkan jaket tipis yang dia kenakan.
Detik berikutnya, lantai di bawah kakinya menghilang.
Tidak ada tarikan kuat seperti sebelumnya. Tidak ada tangan dingin. Hanya sensasi ringan, seperti melangkah ke dalam air yang terlalu dalam dan dunia di sekelilingnya runtuh dalam satu kedipan mata.
Saat Jemima membuka mata, debu beterbangan menyambutnya lagi.
Dia terbatuk pelan, tapi kali ini tidak ada kepanikan dalam dirinya.
Jemi sudah berada di ruangan aneh itu lagi. Namun, kali ini berbeda. Jemima berdiri terpaku berusaha mengingat kali terakhir dia meninggalkan ruangan itu.
Ruang sempit nan ajaib itu tidak lagi sepenuhnya kosong.
Di tengah ruangan itu, ada sebuah meja berwarna putih sederhana dan satu kursi kecil berwarna senada.
Tak hanya itu, ada sebuah sofa panjang berwarna ungu cerah. Sama seperti warna liontin yang dia kenakan.
Ruangan itu seakan-akan bernapas dan berkembang dengan sendirinya.
“Ini aneh sekali,” Jemima melangkah pelan, menyentuh permukaan meja yang dingin dan berdebu.
Dia menoleh ke sekeliling. Kaca oval itu masih ada, berdiri anggun di seberang pintu. Namun kali ini, pantulannya tidak bergerak sendiri dan tidak berkedip atau berbicara.
Jemima mengembuskan napas panjang. “Oke, Jemi kau tidak gila dan ini bukan mimpi. Tapi, ruangan apa ini?"
Entah kenapa, ada dorongan kecil di dada Jemima yang menyuruhnya untuk membersihkan ruangan kecil dan aneh itu.
Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja apa yang ada di otaknya bermunculan satu per satu.
Dia menemukan kain lap tua di lantai. Keningnya berkerut. "Huh, ini aneh sekali."
Dengan gerakan canggung, Jemima mulai membersihkan meja. Debu beterbangan dari meja dan membuatnya bersin kecil.
Tak hanya meja, dia juga membersihkan debu dari kursi yang berada di dekat meja tersebut.
Saat otaknya berpikir akan lebih kalau ada sapu atau alat pel, tak lama apa yang dia butuhkan muncul secara ajaib di ruangan itu.
"Wow! Apa ini?" pekik Jemi kebingungan.
Dia segera mengambil sapu itu dan menyingkirkan lapisan debu tebal sedikit demi sedikit.
Tanpa terasa, tangan Jemi menjadi kotor, kukunya menghitam, dan wajah manisnya dipenuhi peluh.
Ketika dia selesai membersihkan ruang itu, entah bagaimana hatinya perlahan terasa lebih ringan dan dia merasa lebih hidup.
Jemima duduk di satu-satunya kursi yang ada di situ sambil menatap cermin. "Hai, ini aku lagi."
“Aku hanya ingin istirahat sebentar,” kata Jemi pelan, seolah ruangan itu bisa mendengar. "Kau bisa mendengarku? Bagaimana kalau kita berteman? Aku tidak punya siapa-siapa untuk aku ajak berbicara "
Namun, belum sempat dia melihat reaksi dari pantulan di cermin atau bahkan mendengar jawaban pantulan itu, dia sudah ditarik lagi oleh kekuatan aneh seperti sebelumnya.
Tarikan itu terlalu cepat dan sangat cepat. "Aarrggghhh!"
Ruangan itu memudar, dan dalam satu tarikan napas, Jemima sudah kembali berdiri di kamarnya.
Dia terhuyung, hampir jatuh.
“A-apa itu tadi?” Jemima menatap sekeliling. Jam dinding masih menunjukkan waktu yang sama seperti sebelum dia pergi. Tidak ada perubahan.
Jemima berlari ke arah cermin di kamarnya dan menampar kedua pipinya dengan kencang. "Auch! Sakit! Berarti bukan mimpi, tapi ...! Kenapa dan apa itu tadi?"
Pengalaman ajaibnya itu dia ceritakan kepada Ashley.
"Kau yakin itu bukan mimpi?" tanya Ashley keesokan harinya.
Jemima menggeleng dengan yakin. "Yakin sekali, Ash!"
Lalu, dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Aku rasa, kalung warisan ini adalah kalung ajaib!"
Sontak saja, Ashley tertawa. "Hahaha! Tidak mungkin, Jemi Sayang! Kalau itu kalung ajaib dan kau bisa menemukan apa pun yang kau inginkan di ruangan itu, maka mintalah uang yang banyak dan rumah untuk dirimu sendiri."
Jemima mencibir dan berpikir. "Kenapa tidak terpikirkan olehku?"
"Paling tidak, aku senang karena kau mulai terbuka padaku, Jem. Sulit sekali berteman denganmu sebelum ini, karena kau selalu menutup diri dan menghindariku," kata Ashley sambil tersenyum.
Apa yang dikatakan oleh Ashley membuatnya tersentak dan sadar. Ya, dia memang sangat tertutup dan tidak ingin membuka diri pada orang lain.
"K-kalau begitu, apa kau mau menjadi temanku? Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa!" Jemima bertanya dengan cepat.
Kedua tangannya dia goyangkan ke kanan dan ke kiri bersamaan.
Ashley tertawa kembali. "Aku sudah menjadi temanmu sebelum kau memintaku, Jemi."
Jemima menghela napas lega. Senang sekali rasanya ketika ada seseorang yang akan selalu ada untukmu.
Setidaknya, orang yang selalu siap mendengarkan setiap ceritamu. Jemima tersenyum dan memeluk Ashley dengan sayang.
Sejak hari itu, Jemima tak lagi merasa sendirian. Tetapi, dia tidak melupakan kalung ajaib yang bisa membawanya masuk ke dalam ruangan aneh.
Dia terus mencoba menyentuh kalung opal itu, memakai dan melepasnya, lalu menutup mata atau menjatuhkan diri tiba-tiba.
Akan tetapi, dia tidak berpindah tempat. Sampai akhirnya, dia menyerah dan melepaskan kalung tersebut. "Aku akui kau cantik, tapi aku merasa aneh setiap kali memakaimu."
Dia menyimpan kalung itu dengan hati-hati ke dalam kotak beludru merah dan meletakkannya di tempat yang tersembunyi di atas meja kamarnya.
Malam itu, Leon pulang dalam keadaan lebih buruk dari biasanya.
"Jemima! Jemima! Ayahmu pulang, Jemi! Sambut aku!" teriak Leon dengan suara parau.
Langkah kaki pria itu berat saat memasuki rumah. Bau alkohol dengan serta merta menyeruak memenuhi rumah kecil itu.
"Jemima! Woi, Jemima!" teriaknya lagi.
Jemima segera menghampiri ayahnya. "Maaf, Ayah, aku baru saj-! Aaauuucchh!"
“Sibuk? Tak mendengar? Apalagi alasanmu kali ini, huh!” bentak Leon sambil memukul pipi Jemima dengan tangannya yang besar.
Jemima terjatuh, punggungnya menghantam meja. "S-sakit."
Leon mengerutkan keningnya. "Kau bisa berbicara? Katakan lebih keras, apa yang baru saja kau ucapkan! Kau berani melawanku?"
Dengan bersandar pada sofa reyot, Jemima bangkit perlahan dan menghadapi amarah Leon. "Sakit, Ayah! Kenapa Ayah selalu memukulku?"
Leon menyeringai lebar, memamerkan deretan gigi kuning karena rokok dan alkohol. Dia menjambak rambut Jemima sehingga kepala putri tunggalnya itu mendongak ke arahnya. "Kau berani melawanku sekarang, huh?"
"Uangku! Mana uangku? Aku mau berkencan dengan wanita, hahahaha!" Dengan kasar, Leon melepaskan tangan yang tadi menarik rambut Jemima. "Dia sudah mau datang!"
Jemima menatap ayahnya dengan tatapan kebencian. "Aku tidak akan memberikan uangku pada Ayah kalau hanya untuk mabuk dan judi!"
Dalam hitungan detik, Leon kembali menyerang kencang. Tangan ayahnya mendarat di pipinya yang sudah kembali lebam.
"Anak sialan! Anak kurang ajar! Tidak tau diri!" Dia terus menghujani Jemima dengan pukulan dan tendangan.
Kali itu, Jemima tidak mengerang. Dia berteriak kencang dan membalas pukulan Leon. "Hen-hentikan, Ayah! Sakit!"
Leon tertegun. Wajah pria itu dipenuhi murka dan amarah yang tidak dapat didefinisikan. "Kau! Kau sudah berani melawanku?"
Tangan Leon sudah bersiap-siap menghajar Jemima lagi, tetapi ketukan di pintu rumah mereka membuat Leon menundanya.
Dia berpikir sejenak, lalu merapikan rambut ala kadarnya dan tersenyum mengerikan. "Itu kekasihku!"
Benar saja, ketika Leon membuka pintu, seorang wanita dengan wajah penuh riasan, gaun murahan motif macan tutul, dan tubuh berisi tersenyum kepada Leon. "Hai, Sayang. Aku mendengar suaramu dari ujung jalan, jadi aku yakin ini pasti rumahmu."
Leon memeluk wanita itu dan mencumbunya dengan penuh nafsu. "Hehehe, biasalah, aku sedang mendidik anak sialanku supaya menjadi wanita sepertimu, Sayang."
Wanita itu membalas ciuman Leon dengan tak kalah liar. Setelah puas melampiaskan hasratnya, dia melihat ke arah Jemima.
"Itu anakmu? Anak tak tau diri yang tidak pernah memberimu uang?" tanya wanita itu sambil berjalan mendekati Jemima.
Dia memerhatikan Jemima dari ujung rambut sampai ujung kaki gadis itu. Lalu, tanpa perintah, dia menampar pipi Jemima.
Kuku panjang wanita itu menggores pipi Jemima dan membuat gadis itu memekik kesakitan. "Aduh!"
"Sakit, kan? Itulah yang dirasakan oleh ayahmu! Berikan dia uang! Kau harus berbakti pada orang tua yang sudah mengurus dan merawatmu!" ucap wanita itu.
Tangannya bermain tak kalah kasar dengan Leon. Kali ini, dia menghajar Jemima tanpa belas kasihan.
Jemima tak tahan, entah kekuatan darimana, dia membalas pukulan wanita itu.
"Dia bukan ayahku! Jadi, jangan menasihatiku dengan ucapan seperti itu! Aku tau apa yang har-! Ugghh!" Jemima memegangi perutnya sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
Ayahnya meninju perut Jemima hingga gadis itu membungkuk dan perlahan terjatuh.
Dalam hitungan detik, suara Leon dan kekasihnya menjauh. Kedua mata Jemima terasa berat dan dia melihat sinar putih menyilaukan dari balik pintu rumah mereka.
Jemima tersenyum. "Kali ini, aku pasti mati."
***