Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 - Mila Pingsan
Bang Robi yang melihat itu dari pelaminan hanya bisa menghela napas panjang. Ia berbisik pada April, "Kayaknya mereka butuh 'ledakan' besar buat bisa baikan lagi, Sayang. Gengsi mereka berdua lagi setinggi langit."
Malam itu berakhir dengan Valen yang membantu membereskan beberapa perlengkapan sebelum pulang. Sebelum masuk ke mobil, ia melihat Mila berdiri di balkon gedung, menatap bintang. Valen ingin melambai, namun ia memilih untuk masuk ke mobil dan pergi.
_______
Satu minggu setelah pernikahan Robi dan April, suasana di kediaman Hardianto berubah menjadi "zona perang" akademis. Mila mengunci diri di ruang kerja, berkutat dengan revisi terakhir Bab 5 dan persiapan slide presentasi untuk sidang akhirnya yang tinggal menghitung hari.
April tampak sibuk di dapur bersama bunda Selfi dan juga Tante Dewi menyiapkan makan malam.
"April, tolong panggilkan suami kamu dan Mila untuk turun ke bawah ya. Biar bunda panggil ayah," ucap Bunda Selfi.
"Iya, Bunda, April ke atas dulu ya," balas April yang diangguki oleh Bunda Selfi.
"Kak Dewi, aku tinggal bentar gapapa ya, manggil Ayahnya anak-anak, sama mau manggil ibu sekalian." Bunda Selfi melepas celemek dan mendekat pada Tante Dewi.
"Gapapa kok, Cepi, kamu naik gih," ucap Tante Dewi yang memang memanggil bunda dengan panggilan kesayangan dari Tante Dewi sendiri, yaitu, "Cepi".
April tampak masuk ke dalam kamar, mendekat pada suaminya yang baru saja selesai mandi.
"Kak Obi, ayo turun, sarapan udah siap itu," ucap April.
Bukannya bergegas pakai baju dan turun, Robi malah memeluk pinggang istrinya. "Tapi aku kangen kamu."
"Kak ih, ayo buruan turun, bunda dan Tante Dewi nunggu di bawah loh, ntar kasian kalau Oma udah sampai turun dan malah nunggu kita," balas April membuat suaminya mencurutkan bibir.
"Kamu buruan pakai baju terus turun, aku ke kamar Mila dulu, mau manggil Mila buat makan," ucap April yang segera berlalu pergi.
Tok...Tok...Tok.
"Mila," panggil April.
"Masuk, Kak, gak dikunci," balas Mila dari dalam.
Ternyata Mila tengah sibuk dengan laptopnya. Tanpa pembimbing privatnya, Mila merasa jauh lebih sulit. Ia merindukan suara Keytar Valen yang biasanya membantunya fokus. Ia merindukan cara Valen menjelaskan variabel penelitian yang rumit menjadi sangat sederhana. Namun, harga dirinya masih terlalu tinggi untuk mengirim pesan singkat sekalipun.
"Mila, ayo turun semua udah nunggu buat makan," ucap April.
"Suruh duluan aja, Mila belum selera, masih sibuk juga ini, Kak," balas Mila yang tak mengalihkan pandangannya.
"Mil, Oma udah di bawah lagian, kamu pasti gak akan buat Oma mikir yang macam-macam ke Valen 'kan? Ntar dikira Oma, kamu kayak gini karena Valen jadi udah malas kumpul dengan keluarga," kata April dengan lembut.
"Huh! Iya deh, Mila turun, kamu duluan aja, Kak," ucap Mila yang diangguki oleh April.
Mila memegangi kepalanya yang terasa berat. Pandangannya mulai mengabur, dan huruf-huruf di layar laptopnya seolah menari-nari sebelum akhirnya berubah menjadi gelap. Tubuhnya yang lemas tak lagi mampu menopang berat beban di bahunya. Mila jatuh terkulai ke lantai, tepat sebelum ia sempat melangkah menuju pintu.
Di ruang makan, suasana tampak hangat namun penuh tanya.
"Mila mana, April? Kok belum turun?" tanya Oma Soimah sembari melirik kursi kosong di sebelah Robi.
"Tadi katanya mau nyusul, Oma. Lagi pusing ngerjain revisi Bab 5," jawab April pelan.
Makan malam pun berlangsung, namun perasaan April tidak tenang. Ia melihat piring Mila yang tetap bersih. Setelah selesai makan, April berinisiatif mengambilkan nampan berisi makanan dan segelas susu hangat. "Bunda, April antar makanan ke kamar Mila ya."
April menaiki tangga dengan cepat.
Sesampainya di depan pintu kamar Mila yang sedikit terbuka, ia mengetuk pelan. "Mil, ini aku bawain ..."
Kalimat April terputus. Matanya membulat saat melihat Mila tergeletak di samping meja kerjanya. "Mila! Oma! Bunda! Ayah! Tante! Kak Obi! Tolong!" teriak April histeris hingga nampan di tangannya jatuh berhamburan.
Seluruh penghuni rumah berlarian ke atas. Bang Robi segera menggendong adiknya yang pucat pasi itu menuju mobil. "Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Ayah Faul panik.
_______
Suasana IGD begitu tegang. Saat Oma sedang mengurus administrasi ditemani dengan Robi, ia hampir menabrak seseorang di koridor.
"Lohh, Oma, Ada apa? Oma sakit?" tanya Valen kaget. Ia di sana sedang menemani Tante Lesti yang baru saja selesai cek kandungan anak ketiganya yang kini berusia tiga bulan. Lesti yang tampak memegangi perutnya yang mulai membuncit ikut terkejut melihat wajah Robi yang berantakan.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️