Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
" Jadi Bu Arista rencananya mau buka butik lagi." tanya Anjas saat mereka sudah ada di restoran.
" Rencananya begitu, mas. Lagian saya di rumah juga mau ngapain. Anak-anak udah pada besar, pulang sekolah sore, kalau weekend mereka pada kabur." kata Anisa sambil tertawa.
" Jadi total ada berapa butik yang sudah Bu Arista kelola." tanya Anjas sambil tersenyum.
Setahu Anjas, butik punya Arista sudah lebih dari 5 cabang. Dan itu adalah murni usaha Arista. Mungkin anak-anaknya nggak ada yang tahu, kalau ibu mereka punya usaha butik.
Bahkan Pramono , suaminya pun nggak tahu kalau istrinya punya usaha butik.
" Lantas perusahaan mau di ke manakan?." tanya Anjas sambil menatap Arista.
" Perusahaan yang sekarangg di pegang mas Pram itu kan nantinya Dirga yang akan meneruskan. Semua udah ada akta dan akadnya di notaris. Mas Anjas udah tahu sendiri."
" Sebagai cucu pertama Dirga berhak atas perusahaan itu." Arista mengaduk air minumnya.
Anjas mengangguk tanda mengerti.
" Kenapa Bu Arista memilih punya usaha sendiri, apa selama ini nafkah dari pak Pram kurang ?Bu Arista kurang dana. Maaf kalau pertanyaan saya agak pribadi." kata Anjas.
Arista menghela nafas.
" Awalnya saya buka butik karena iseng, ingin mengisi waktu luang saja. Setelah saya lihat anak-anak makin besar, sudah bisa ngurus diri mereka sendiri, waktu luang saya semakin banyak."
" Alhamdulillah..butik yang saya dirikan berkembang pesat. Akhirnya saya merasa kecanduan, dan merasa kalau saya mampu."
"Hingga suatu hari saya di nyatakan hamil lagi. Padahal waktu itu saya masih konsumsi pil KB. Mungkin saya lupa jadwal, atau memang sudah takdir dari sang Khalik. Akhirnya saya istirahat dari aktivitas, butik saya pantau dari rumah. Ada orang kepercayaan saya membantu menghandle semua kegiatan butik.'
Arista berhenti sebentar, dan menarik nafas.
" Dari situ drama di mulai. Mas Pram kurang setuju kalau saya hamil lagi, karena dia udah merasa enjoy, anak-anak udah besar dan mandiri, nggak merepotkan lagi."
"Tapi saya tetap mempertahankan janin itu. Hingga mas Pram marah dan mengatakan, kalau nanti yang lahir anak perempuan dia akan mengakui dan memang itu yang di harapkan mas Pram."
"Tapi kalau lahir anak laki-laki lagi, dia nggak akan mengakuinya. Dan selama anak itu ada di rumah dia nggak mau pulang, dia tinggal di rumah ibunya."
" Waktu mau lahiran pun Anisa yang mengantar dan menemani, hingga pulang ke rumah, mas Pram benar-benar membuktikan omongannya."
" Dan... akhirnya kamu lebih memilih suamimu, dari pada memilih anakmu." tanya Anjas dingin.
Anisa menghembuskan nafas kasar.
" Kalau boleh memilih saya lebih rela melepaskan mas Pram dari pada harus melepaskan anak yang baru aku lahirkan." tanpa Arista sadari air mata yang sudah dia tahan sejak tadi akhirnya lolos juga.
Anjas terdiam , hanya itu yang bisa ia lakukan. Ingin dia merengkuh, membawa Arista dalam pelukannya, mengelus punggungnya agar tenang.
Tapi apa daya, status mereka yang tak mengharuskan itu terjadi. Anjas tahu posisi, dia harus bisa menjaga marwah wanita yang ada di depannya.
Anjas mengambil sapu tangan dalam kantong celana dan memberikannya pada Arista.
Sesaat Arista menatap tangan kekar yang mengulurkan sapu tangan ke arahnya. Pelan sapu tangan dia ambil, di usapnya pipi yang sudah banjir air mata.
" Terima kasih."
Anjas hanya mengangguk pelan.Di angsurkannya gelas berisi oranye jus pada Arista.
" Minumlah, tarik nafas pelan-pelan. Biarkan beban itu berkurang sedikit." saran Anjas.
Arista menerima gelas itu dan meminumnya. Rasa segar perpaduan es dan jeruk melewati kerongkongannya.
" Anisa bercerita, kalau Restu suaminya , akhir -akhir ini sering menginap di rumah orang tuanya." Arista melanjutkan ceritanya.
" Anisa berpikir , mungkin karena mereka belum punya momongan, jadi Restu merasa kesepian. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya anak itu di asuh dan di rawat Anisa."
" Lantas bagaimana dengan Dirga dan adik-adiknya. Apa mereka nggak keberatan?"
" Awalnya mereka keberatan. Dimas dan Dityan bahkan sampe sekarang tidak tahu alasan sebenarnya, kenapa adeknya di bawa tante mereka."
"Apalagi Dirga tahu." tanya Anjas .
" Aku menduga , anak itu tahu, tapi dia tak mau cerita sama saya."
" Kenapa kamu bisa menebak Dirga tahu?"
" Pagi itu saya di meja makan, Dirga sama Hanif di kamar. Sikapnya berbeda , saat dia baru keluar kamar,bahkan saat Dityan menanyakan ayahnya, anak itu bilang ke ke dua adiknya , kalau mulai saat itu nggak boleh terlalu menggantungkan diri pada orang."
" Harus bisa mengurus diri sendiri, harus bisa mandiri. Jadi kalau apa-apa bisa sendiri, kita tak perlu takut lagi resiko kehilangan."
Anjas menganggukan kepala. Dia teringat saat Dirga ulang tahun, dia bilang , sebentar lagi jadi CEO.
" Dan waktu saya memeriksa handphone, di history ada panggilan dari mas Pram. Mungkin mas Pram menyangka saya yang angkat, dan langsung ngomong ke pangkal masalah. Itu dugaan saya sementara."
" Maaf mas, saya jadi curhat." Arista mengelap pipinya kembali dengan sapu tangan Anjas.
" Kalau bisa meringankan beban di hati di Arista,aku siap mendengarkannya. Berapa lama dan berapa panjang cerita bu Arista." kata Anjas sambil menyeruput minumannya.
" Terima kasih, mas. Tak seharusnya aku membuka masalah keluargaku." Arista menunduk.
" Apa yang mau di bahas sekarang?"
" Saya ingin butik saya di alihkan atas nama Hanif. Agar dia nanti tak di remehkan orang. Walaupun saya yakin, ke tiga kakaknya agek menjaga dia dengan baik."
" Bukankah Anisa juga punya perusahaan, apa ada kemungkinan Hanif nanti mewariri perusahaan yang di kelola suami Anisa."
" Saya nggak mau terlalu berharap dengan orang mas. Kadang harta bisa bikin buta mata buta hati. Kalau untuk Anisa saya percaya, tapi Restu suaminya saya nggak yakin." ungkap Arista.
Dan sekarang Arista merasa lega, setelah mengungkapkan keinginan hatinya. Dia yakin dengan keputusannya.
Untuk perusahaan yang di pegang Pram, dia masih membiarkan suaminya yang mengelola. Belum saatnya dia bertindak.
" Hmmm...enak ya, suami lagi kerja, istri enak-enakan ketemuan sama laki-laki lain."
Arista dan Anjas serentak menoleh ke arah suara. Mereka saling berpandangan.
Si empunya suara tersenyum menyeringai..